
...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...
..."Berkata memang paling mudah, hanya modal merangkai dan mengeluarkan saja. Tidak seperti mengaplikasikannya yang begitu sulit nauduzbilah. Lidah memang tak bertulang, apa pun bisa dilontarkan dengan gampang."...
...°°°...
Takdir memang hal mutlak yang tidak bisa diganggu gugat. Semua kuasa berada di atas kendali-Nya. Tak mudah diubah kecuali memang tangan Allah sendiri yang bekerja. Kini aku hanya mampu berserah dan berpasrah diri, berharap kesakitan ini akan segera pergi.
Tapi sekuat tenaga aku mengenyahkan rasa tersebut, dada ini kian terasa sesak saja, terlebih kala melihat surat gugatan cerai dari pengadilan agama. Ya Allah kenapa bisa secepat ini berkas itu sampai di tanganku. Luka yang seminggu lalu Bagas torehkan saja belum sembuh total, dan kini malah semakin diperunyam.
"Tanda tangan, Btari, selebihnya biar pengacara Ayah yang handle," titah ayah tegas. Aku hanya mampu menatap nanar ke arahnya, untuk sekadar mengambil bolpoin saja aku tak memiliki tenaga.
"Gimana nasib anak aku, Yah? Aku gak mau dia tumbuh tanpa kasih sayang seorang ayah," lirihku sembari mengelus lembut perut, di sana ada kehidupan baru yang kelak akan menjadi penerusku.
Ayah membawa bahuku agar masuk ke dalam pelukannya. "Jangan pikirkan itu, ada Ayah yang akan menggantikan posisi tersebut," bisiknya tepat di ubun-ubunku.
"Ayah bisa rawat dan besarin kamu tanpa dampingan sosok Bunda, dan Ayah yakin kamu pun akan bisa melewati ujian ini," imbuh ayah malah semakin membuatku terisak.
Aku benci perpisahan, aku tak suka perdebatan, dan aku muak dengan perceraian. Tak ada yang namanya kebaikan jika ada anak yang harus dijadikan sebagai korban. Semua itu hanya kamuflase untuk menutupi kesakitan.
Aku tak sehebat, sekuat, dan setegar ayah. Aku lemah, aku rapuh, dan aku membutuhkan sosok pelindung yang mampu menutupi kekurangan itu. Aku tak ingin menjalani takdir yang memilukan ini, aku pun ingin menyecap manisnya kebahagiaan, bukan malah seperti sekarang.
"Dengerin, Ayah," pintanya seraya melepaskan rengkuhan dan menangkup wajahku penuh kelembutan, bahkan beliau pun mendaratkan sebuah kecupan di dahi serta pipiku.
__ADS_1
"Takdir cinta memang sedang tidak berpihak pada kamu dan Bagas. Gak papa, ikhlaskan. Semua yang terjadi saat ini mutlak atas kuasa Allah, kita gak boleh terus terpuruk dan meratapi nasib seperti ini. Harus bangkit, Ayah yakin kamu mampu melewati semua ujian ini," tuturnya begitu lembut dan tenang. Seakan beliau tak pernah memposisikan diri sebagai aku.
Berkata memang paling mudah, hanya modal merangkai dan mengeluarkan saja. Tidak seperti mengaplikasikannya yang begitu sulit nauduzbilah. Lidah memang tak bertulang, apa pun bisa dilontarkan dengan gampang.
"Tapi, Yah—"
Beliau menggeleng pelan lantas menghapus cairan bening yang menganak pinak di sekitar wajahku. "Putri Ayah hebat, kuat, dan gak mudah menyerah dengan keadaan. Apalagi ada calon buah hati kamu yang pasti akan menjadi permata paling berharga di dunia. Senyum dong, jangan nangis terus," hiburnya sembari menarik kedua sudut bibirku.
Dalam hati aku pun bertanya, apa aku mampu menjalani dua peran itu sekaligus? Di mana aku dituntut harus menjadi ibu serta ayah dalam waktu yang bersamaan. Ya Allah, jelas itu sangat menyulitkan.
"Kita buka lembaran baru, temani masa tua Ayah dengan sukacita dan rengekan manja dari calon cucu Ayah," katanya begitu riang.
Kupaksakan untuk tersenyum, tapi air mata kembali berjatuhan. Sekuat apa pun aku menyangkal rasa sakit, tetap saja tak bisa. Sebab hati ini masih belum kunjung menemukan obatnya.
Kurasakan elusan lembut tepat di puncak kepalaku. "Gak akan pernah, Ayah akan selalu mendampingi kamu, berada di sisi kamu, dan akan senantiasa melindungi kamu."
"Udah yah, sekarang waktunya kita untuk menata masa depan. Jangan menengok ke belakang lagi," tutur ayah yang kubalas anggukan pelan.
Kuambil bolpoin yang tergeletak di meja lantas menandatangi surat gugatan cerai tersebut. Kuharap ini merupakan keputusan yang tepat, dan kupasrahkan semuanya pada Sang Maha Kuasa.
"Jangan datang ke pengadilan supaya proses perceraiannya cepat, percayakan pada lawyer Ayah," petuah ayah yang lagi-lagi kubalas anggukan. Menghindar, hanya itu yang saat ini kuperlukan.
"Apa boleh kita berpisah, sedangkan kondisi aku tengah mengandung?" tanyaku harap-harap cemas. Kuharap jawaban ayah bisa sedikit menjawab keresahan yang saat ini tengah kurasa.
__ADS_1
Ayah mengangguk kecil dan mengelus penuh sayang puncak kepalaku. "Boleh, hanya saja masa iddah kamu jatuh setelah melahirkan nanti. Bukankah biasanya kalau masa iddah hanya tiga kali haid saja? Kalimat talak itu sakral, gak bisa asal diucapkan, meskipun niatnya hanya bercanda tetap saja itu sudah jatuh talak pertama. Maka dari itu sebagai kepala keluarga harusnya para lelaki bisa mengontrol mulut dan dirinya. Perceraian bukan ajang mainan yang bisa dijadikan sebagai bahan lelucon."
Aku menunduk resah, perpisahan memang sudah sangat terbayang nyata di pelupuk netra. Seperti apa yang tadi ayah katakan, bahwa takdir cinta sedang tak berpihak padaku dan Bagas. Perpisahan memang menyakitkan, tapi bertahan dalam kesakitan pun tak dibenarkan. Mungkin dengan adanya perpisahan ini kami bisa sama-sama hidup tenang, dan mencari arti bahagia masing-masing.
"Kenapa Ayah bisa setenang ini menghadapi proses perceraian aku? Apa Ayah se—"
"Gak ada seperti itu, orang tua mana sih yang mau lihat rumah tangga anaknya bubar? Gak ada, kan? Tapi kalau Ayah mementingkan perasaan dan juga emosi, itu hanya akan memperunyam masalah saja. Kita memulai pernikahan dengan baik, dan pada saat akan memutuskannya pun harus degab cara yang baik pula," potongnya cepat, sunggingan tipis beliau berikan.
"Kelak jika anak kamu lahir, beritahu dia siapa ayahnya, siapa neneknya. Jangan disembunyikan, dia berhak tahu akan hal itu. Pesan Ayah hanya satu, jangan jelek-jelekkan Bagas di depan anak kamu, sebab itu takkan baik untuk tumbuh kembangnya. Kamu harus bisa dewasa dalam menyikapi masalah ini yah, Nak," nasihat ayah malah membuatku semakin sedih saja.
Membayangkan calon anakku lahir tanpa dampingan seorang ayah, tumbuh menjadi anak yang kurang merasakan arti keluarga utuh yang sesungguhnya. Aku harus bisa melimpahkan kasih sayang untuknya, sebab hanya aku yang bisa memberikan itu semua.
"Ayah gak marah dan membenci Mas Bagas?"
Beliau mengukir senyum tipis menenangkan. "Untuk apa Ayah marah dan membencinya, mau bagaimanapun, dia tetap berstatus sebagai ayah dari cucu Ayah. Mantan istri/suami mungkin ada, tapi yang namanya hubungan darah antara ayah dan anak gak ada."
Aku memeluknya dengan begitu erat, aku harus lebih bisa bersyukur lagi. Tak usah terlalu memikirkan takdir yang sudah Allah gariskan, ada ayah yang kini harus kujaga dan bahagiakan. Perpisahan di antaraku dan Bagas memang menyakitkan, tapi aku bisa menarik hikmah dari itu semua. Yakni menemani masa tua, hanya berdua, dan mungkin bertiga jika nanti anakku sudah lahir ke dunia.
Cukup, Btari. Tak usah terus meratapi nasib seperti ini. Bangkit. Terpuruk dalam kesakitan dan bergelung dengan kemelut hati yang tak berkesudahan hanya akan menghambat jalanmu saja. Kehidupan masih panjang, jangan sampai hanya karena Bagas masa depanku hancur berantakan.
Aku mendongak dan tersenyum selebar mungkin. "Mari kita buka lembaran baru, Yah," kataku yang langsung disambut anggukan mantap dan kecupan lembut dari beliau.
Allah Maha Baik. Di balik setiap kedukaan yang dirasa pasti Dia selalu menyiapkan penawar yang jauh lebih manjur. Aku memiliki ayah yang hebat, ayah kuat, dan tentunya pelindung nyata yang benar-benar menyayangiku. Tanpa pamrih dan tanpa meminta imbalan apa pun.
__ADS_1