Takdir Cinta

Takdir Cinta
End


__ADS_3

'' Izinkan aku merawat Rayana selama kalian berbulan madu " ujar Eric membuat Rafli menatapnya tajam.


" Pergilah , kau hanya bermimpi " ujar Rafli kembali fokus pada pekerjaannya.


" Ayolah Rafli , tidak ada salahnya biar Rayana dekat dengan putraku " ujar Eric .


'' Jika kau memaksa , maka Rayana selamanya tak akan bertemu denganmu bahkan keluargamu " ucap Rafli tegas tak ingin di bantah.


'' Kau tidak pikun kan karena umur mu yang begitu tua itu . Mama ku dan mama mu hingga saat ini mereka tak baik-baik saja. Bahkan Mama ku begitu over protektif terhadap cucu perempuannya " ujar Rafli mengingatkan pria sok imut di depannya .


'' Jangan lupa , Minggu yang lalu mereka bertengkar karena mama mu memaksa bertemu Rayana dan ketahuan oleh mamaku " imbuhnya membuat bibir Eric mengatup seketika.


" Pergilah , aku sedang sibuk " ucap Rafli karena Eric tak beranjak pergi .


'' Baiklah aku akan pergi . Bekerjalah dengan semangat agar aku mempunyai besan yang kaya raya " ucap Eric tergelak dan segera beranjak pergi sebelum secangkir kopi mengenai dirinya.


'' Dasar sialan , aku tak akan mau mempunyai besan sepertimu " ucap Rafli , kedatangan Eric membuat moodnya mendadak rusak.


'' Kau .... " ucapan Rafli terhenti dan hampir saja menyiram kopi panas terhadap wanita cantik di hadapannya ini .


'' Kenapa mas '' ucap Ana setelah mencium pipi sang suami yang menghampiri nya ...


'' Apa kau bertemu dengan Eric , sayang " ucap Rafli hatinya tetap saja di hantui rasa cemburu.


" Tidak " ujar Ana karena ia memang tak bertemu dengan Eric .


'' Syukurlah " gumam Rafli dan Ana hanya tersenyum simpul mendengarnya . Ana begitu sangat memahami sang suami yang tetap saja cemburu padahal kekuatan mereka tak perlu di ragukan lagi , bahkan Ana sendiri menyadari setiap gerakannya begitu di awasi oleh suaminya ini .


.


.


.


Momen yang di nantikan Rafli selama ini pun tiba . Ia telah mempersiapkan segalanya dengan begitu sempurna , mulai dari perlengkapan dirinya dan sang istri , tak masalah baginya jika Ana mengancamnya tak memberikannya jatah malam ini sementara Ana hanya mengerucutkan bibirnya . Tawar menawar yang Ana lakukan pun percuma , karena Rafli enggan bernegosiasi dengannya , bahkan dengan alasan anak pun suaminya sudah mempersiapkan semuanya.


'' Jika tidak percaya tanyakan saja dengan anak-anak kita besok pagi " ucap Rafli dengan yakin lalu menarik tubuh istrinya untuk ikut berbaring .


'' Jangan cemberut sayang , dari pada mas berbulan madu dengan wanita lain " ucap Rafli , ia begitu gemas dengan sang istri.


'' Coba saja kalau kau berani , akan ku kebiri punyamu dan aku akan mencari pria lain " ujar Ana ketus membuat Rafli membelalakkan matanya..


" Awas saja jika mencari yang lain , tamat riwayatmu dan pria itu " sahut Rafli mendengus kesal .


'' Aku akan merayu anak-anak besok " ucap Ana , enggan mencari ribut karena hal sepele.


'' Ya sudah ayo tidur " imbuh Ana dan Rafli merapatkan tubuhnya memeluk sang istri dari belakang. Bola mata Ana melebar dengan sempurna saat merasakan sesuatu yang keras di area belakang nya


'' Masa bodoh " batin Ana , ia memilih tidur dan tak memperdulikan sang suami yang terus memberikan kecupan halus di punggungnya.


Setelah cukup lama memberikan rangsangan terhadap sang istri , namun sungguh di sayangkan ternyata Ana benar- benar telah tertidur pulas membuat Rafli segera menuju kamar mandi untuk meredahkan alat tempurnya . Ia pun merutuki dirinya sendiri di kamar mandi , kenapa ia tak bisa menahan hasrat nya bila dekat dengan istrinya , makin tua makin menjadi .


" Yang sabar , besok kita akan sepuasnya . Karena yang punya sangkarmu tak akan bisa kabur " gumam Rafli.


.


.


.


Pagi ini adalah hari yang mendebarkan bagi Ana , saat terbangun dari tidurnya ia telah mendapatkan pemandangan sang suami yang terlihat mempesona dengan pakaian casualnya .


'' Mandilah , mas sudah mempersiapkan air mandimu " ujar Rafli dan memberi satu kecupan singkat di bibir istrinya membuat Ana tersadar dari lamunannya .


'' Setelah itu segeralah kebawah , mereka pasti menunggu kita untuk sarapan bersama " ujar Rafli dan diangguki Ana.


Setelah Rafli pergi , Ana melihat isi koper miliknya . Ana bernafas lega karena semua perlengkapan lengkap dan pakaian dinas yang biasa ia gunakan tidak berada di dalam kopernya . Ana sempat heran , mengapa sang suami tidak memasukkan pakaian dinasnya yang begitu sexy , tapi Ana tidak ingin membahasnya karena ia merasa tak perlu untuk di bahas.


Terlihat para keluarga Wijaya dan Gunawan berada disana dan juga ada Devan yang kebetulan turut hadir . Mereka makan dengan tenang dan sesekali di warnai gelak tawa , berbeda dari suasana makan sebelumnya dan yang menjadi bahan obrolan mereka otomatis Ana sang permaisuri di mansion Rafli Wijaya , Ana hanya cemberut berusaha menahan malu sebisa mungkin apalagi ucapan absurd suaminya makin membuatnya menahan malu .


'' Kenapa di injak kaki mas sayang " ucap Rafli protes .


'' Apa kalian tidak berfikir . Lihat , Arjuna begitu menyimaknya " bisik Ana dan benar saja ucapan Ana , meski Arjuna terlihat makan dengan tenang tapi telinga dan fikirannya sedang mencerna segala yang ia dengar . Tak ingin otak anak-anak nya tercemari lebih , membuat Rafli memberi kode kepada mama nya untuk berhenti membicarakan hal itu dan diangguki oleh Lia yang paham .


Rafli terlibat pembicaraan serius oleh para pria yang bakal membantunya menangani perusahaan yang seharusnya ia memegang kendali . Sementara Ana membujuk anak-anak nya untuk membuat kepergian bulan madunya tertunda , namun usahanya sia-sia …

__ADS_1


'' Apa yang mereka janjikan pada anak-anakku. Bahkan Dewa terkesan mengizinkan ku untuk jauh darinya kali ini " batin Ana


" Bu.... " ucap Ana dengan tampang memelasnya .


" Tidak ada salahnya sayang , pergilah berbulan madu . Nikmati waktu kalian , selama ini selalu saja ada masalah yang mengganggu kebahagian kalian . Waktunya kalian untuk bahagia yang sempurna , jangan mengecewakan suamimu. Ikuti perintahnya selagi itu benar , dimana suami mu berada disitulah seorang istri juga berada . Kau sangat beruntung memiliki suami seperti Rafli . Nikmatilah waktu kalian " ujar Laras memberikan saran pada sang anak pertamanya , dan Ana hanya menganggukkan lemah kepalanya .


" Tapi Bu , bulan madu selama satu tahun itu tidaklah wajar " ujar Ana kembali protes.


" Pergilah semua akan baik-baik aja mbak , Anggap saja liburan " seloroh Rahma membuat mood Ana rusak seketika sementara Laras beranjak menemui besannya .


'' Jangan cemberut mbak , kau terlihat menggemaskan " ujar Rahma membuat Ana melempar bantal yang berada di dekatnya .


'' Aku aja gak akan menolak jika Jimmy yang memintanya . Andai saja " ujar Rahma penuh khayalan sengaja menggoda sang kakak .


'' Rahma " bentak Ana membuat Rahma segera berlari karena puas menggoda sang kakak .


'' Sudah punya banyak anak masih aja pemalu , kakak ipar mungkin memang begitu buas melebihi Jimmy dan aku yakin itu " batin Rahma , tiba-tiba dirinya bergidik ngeri membayangkan keganasan kakak iparnya , tapi ia kagum pada tubuh kakak perempuannya yang begitu pandai melakukan perawatan dengan biaya yang tak sedikit pastinya .


'' Dewa serius gak apa jika bunda pergi . Ini selama setahun loh " ujar Ana memasang mimik muka sedih .


'' Gimana dengan makannya Dewa " imbuhnya , anaknya itu sangat susah makan jika bukan masakan yang ia masak .


'' Gak apa kok bunda . Ada nenek " ucap Dewa memeluk Laras .


'' Sebulan lagi juga kakek Gun mau ajak Dewa ke kebun teh '' ujar Dewa tersenyum bahkan binar kebahagiaan di matanya tampak jelas.


'' Arjun juga gak apa bunda . Arjun juga ingin ikut kakek Gun dan kak Dewa " seloroh Arjuna sebelum sang bunda berbicara padanya .


'' Dasar anak ini " batin Ana , sedangkan Rafli menahan senyum saat melihat tingkah Ana yang begitu banyak drama . Rafli sabar menanti meski keberangkatan mereka kurang dari dua jam lagi .


" Rava , apa tidak apa bunda tinggal pergi . Rava tak ingin ikut bunda " tanya Ana kepada anak lelaki yang paling manja di keluarganya.


" No bunda , Rava akan jalan-jalan ke New York dengan nenek Lia . Iya kan nek " ujar Rava dan diangguki semangat oleh Lia membuat Rava berjingkrak senang.


" Jelita , gimana. Ingin ikut bunda dan ayah " tanya Ana .


" Jelita gak mau ikut bunda . Jelita takut laut " ujar Jelita , anak ini memang fobia dengan laut membuat Ana menghela nafasnya kasar , meski di paksa pun tak akan Jelita mau ikut.


Ana menatap harapan terakhirnya yaitu Rayana yang kini tengah menunduk menahan tangisnya .


" Tidak bunda . Bunda pergilah bersama ayah , nanti tiga bulan sekali kita pasti bertemu bunda . Saatnya bunda dan ayah bahagia " ucap Rayana dengan suara seraknya dan terbata-bata . Sesungguhnya ia ingin ikut namun saat mendengar cerita masa lalu orang tuanya yang penuh dengan tragedi membuat Rayana meredam ke inginannya , ia tak ingin egois dan memilih menahan rindu dan saat mereka semua menjanjikan akan mengunjungi Rafli dan Ana saat berbulan madu membuat Rayana yakin untuk melepaskan kepergian bunda dan ayahnya untuk bersenang -senang .


" Bunda jangan menangis " ujar Rayana menghapus air mata Ana. Ana segera memeluk tubuh Rayana dan di sertai kecupan.


'' Bunda pasti merindukanmu Rayana " ucap Ana memeluk tubuh sang anak yang bergetar.


'' Bunda akan merindukan kalian semua " ucap Ana saat dipeluk oleh anak-anak nya.


Abdi pun menghampiri sang putera yang terlihat menghapus air matanya .


'' Kenapa ingin bulan madu rasanya terharu begini '' gumam Rafli .


'' Makanya , jangan terlalu lama pergi . Lihat anak dan istrimu . Satu bulan saja cukup '' ucap Abdi berusaha mempengaruhi anaknya .


'' Enak saja . Mereka masih bisa menemuiku dan Ana dalam jarak tiga bulan '' ucap Rafli kekeh.


'' Pa , sudahlah . Waktu nya Rafli dan Ana menikmati Memon mereka berdua . Bahagia tanpa ada gangguan apapun lagi '' ucap Lia membuat Abdi pergi dari ibu dan anak tersebut .


'' Ingat Rafli , berikan Ana waktu istirahat . Jangan sampai saat bulan madu menantu mama di bawa kerumah sakit karena kelelahan dan itu tidaklah lucu '' ucap Lia memperingati dan mengambil sesuatu di saku celananya .


'' Ambil ini , untuk Vitamin dan tenaga kalian . Sukses ya . Tapi ingat pesan mama '' ucap Lia dan mendapat pelukan dari sang anak .


'' Mama memang yang terbaik '' ujar Rafli.


'' Kan mama mu '' ujar Lia bangga.


'' Ternyata aku mempunyai istri begitu mesum " batin Abdi mengelus dadanya .


.


.


.


Diperjalanan menuju dermaga pun di iringi tangis Ana di perjalanan , lelah menangis namun tak juga merubah keputusan suaminya membuat Ana kelelahan dalam dekapan sang suami.

__ADS_1


'' Saatnya kita bahagia sayang , cukup sudah kejadian kelam yang menimpa rumah tangga kita . Mas tidak mungkin terus menghajar mu di ranjang , kau takut sekali dengan mas " gumam Rafli seraya memeluk sang istri yang tertidur , Rafli menghembuskan nafasnya kasar.


Rafli dan Ana kini tengah tiba di dermaga , terlihat kapal pesiar pengeluaran terbaru yang tampak begitu mewah serta canggih tengah menunggunya . Kapal pesiar kali ini tidak sebesar dulu namun mempunyai kisaran harga lebih mahal dibandingkan kapal siar mewah sebelumnya.


'' Bawa koperku " ucap Rafli seraya menggendong sang istri yang masih tertidur.


.


.


.


Ana mengerjapkan matanya saat hari telah petang .


'' ku kira tadi mimpi , ternyata benar-benar bulan madu untuk yang kesekian kalinya dan ini benar-benar paling lama " gumam Ana dan ia beranjak membuka jendela kamarnya yang langsung terpampang jelas lautan lepas di luar sana . Ana takut terjatuh namun pemandangan di hadapannya begitu indah .


" Sayang " ucap Rafli yang memeluk Ana dengan keadaan tubuh begitu segar , bahkan tetesan airnya mengenai wajah cantik istrinya .


'' Apa kau begitu berat pergi berbulan madu kali ini " tanya Rafli serius , selama berendam di dalam bathtub tadi Rafli terus merenung akan keputusannya memaksa istrinya untuk berbulan madu , ia ingin menikmati hari bahagia nya berdua dengan Ana namun ia tidak mau jika sang istri bersedih.


Tenggorokan Ana tercekat , terdengar pertanyaan kecewa yang suaminya lontarkan ...


'' Ah , tidak mas . Aku sangat menyukai pemandangan lepas pantai ini " ucap Ana secepat mungkin dan tetap menatap pemandangan di depannya ...


'' Mas tidak mau , kita pergi berlibur tapi kau bersedih " ucap Rafli.


'' Tidak mas . Aku tidak apa-apa . Aku hanya bersedih harus jauh dari putera dan Puteri kita. Aku tak biasa jauh dari mereka " ucap Ana meyakinkan suami nya meski tak berbohong karena alasan ini juga Ana berat untuk melangkah pergi .


'' Mereka akan menemui kita selama tiga bulan sekali " ucap Rafli membawa Ana duduk di pangkuannya .


'' Tapi apa aku sanggup menahan rindu yang lama seperti itu mas " gumam Ana lirih ...


'' Kau tenang saja sayang , jika mereka merasakan rindu dengan mu , mas tidak akan melarang anak-anak untuk menyusul kita meskipun belum tiga bulan lamanya " ucap Rafli memandang bola mata istrinya yang berkaca-kaca.


'' Tapi jika kau begitu bersedih , maka kita akan kembali hari ini juga " imbuhnya.


'' Tidak ... tidak usah mas . Maaf " ucap Ana memeluk suaminya.


'' Maaf untuk apa . Seharusnya mas yang meminta maaf padamu karena memaksakan kehendak mas " ucap Rafli memeluk istrinya yang terlibat bahu Ana sedikit bergetar.


'' cup... cup... jangan menangis lagi . lebih baik sekarang segeralah mandi karena sebentar lagi akan magrib " ucap Rafli dan diangguki istrinya .


Sejarah terbentang di hadapan Rafli dan Ana dan mereka menjalankan kewajiban mereka dengan kusyuk... Setelah sholat tidak lupa Rafli dan Ana selalu berdoa , berdoa untuk orang yang mereka cintai dalam hidup mereka . Satu persatu tetes air mata Ana mulai membasahi pipinya teringat sang buah hati yang kini tengah bermain di surga. Ana selalu mengirimkan doa untuk sang buah hati tercinta , hal serupa juga dilakukan oleh Rafli namun ia berusaha menahan air matanya setiap mengingat saudara kembar Rayana.


.


.


.


Waktu makan malam telah usai dan malam pun sudah mulai larut .


'' Kemarilah " perintah Rafli kepada Ana untuk naik ke atas peraduan bersamanya ... Ana pun beringsut naik ... Rafli terkekeh melihat wajah cemberut sang istri .


'' Tenang saja , mas tidak mengerjai mu lagi " ujar Rafli memeluk erat sang istri dan sesekali menggigitnya gemas .


'' Sakit mas " ucap Ana ucap Ana masih saja kesal .


'' Oke ... oke... mas minta maaf dan malam ini mas libur deh gak ambil jatah mas " ucap Rafli masih tersenyum ...


'' Awas ya kalau bohong . aku lelah sekali mas... " ucap Ana .


'' mau mas pijit " ujar Rafli sambil tersenyum licik.


'' Gak usah '' tolak Ana cepat.


'' Tidur lah " ujar Rafli memberikan lengannya untuk menjadi bantal kepala Ana...


Ana tertidur dengan lelap dalam dekapan dan buaian suaminya ... Rafli tak henti-hentinya bersyukur dengan kebahagiaan keluarga nya kini .


'' Ya Allah , Ya Tuhan ku . Terimakasih telah engkau kirimkan sosok bidadari cantik untuk menjadi istri untuk orang pendosa seperti ku . maafkan aku jika aku melakukan berbagai cara untuk mendapatkan nya , biasa dikatakan aku begitu menggilainya , aku begitu sangat mencintainya melebihi apapun di dunia ini. Hanya satu pintaku berikanlah kebahagian yang hakiki pada keluarga kami meski aku yakin masih banyak badai di depan sana dan aku yakin pula kami mampu menghadapinya .... " ucap Rafli beroda dalam hatinya dan banyak lagi doa yang ia ucapkan .


'' Aku mencintaimu Ana , sangat mencintaimu melebihi yang kau tahu. Aku tak bosan berharap jika di kehidupan yang lainnya , aku ingin berjodoh dengan mu , hanya dengan mu . Semoga hari esok dan selamanya kita bersama , menua bersama hingga maut memisahkan kita . Aamiin " ucap Rafli .


'' I love you Ana " ucap Rafli dengan memberikan kecupan di kening Ana dan tidak lama Rafli mulai terlelap.

__ADS_1


......Tamat......


__ADS_2