Takdir Cinta

Takdir Cinta
End


__ADS_3

Angin...


Berhembuslah, dan sejukkan semua jiwa yang membara..


Sapulah kesedihan, hapuslah segala derita..


Dan sampaikanlah, rasa rindu dalam hati,,


Terbanglah rasa sayang dan cintaku pada dirinya..


Malam harinya semua berkumpul dan mengadakan memanggang bersama. Kiara dan Zyan terus saja menempel seperti perangko, sedangkan Zee dan Alfa diam duduk membisu, tapi tidak dengan hati mereka.


Alfa terus menggengam tangan Zee, dan memasukkannya kedalam kantong jaketnya.


Ara dan Ken sedang membakar daging bersama, Vanya asyik dengan Rio dan Rino bersama dengan para orangtua.


"Via, tolong bisakah kau ambilkan buah di dapur!" pinta Ara.


"Baik kak, akan ku ambilkan sekarang!" seru Zyvia.


Zyvia pun masuk kedalam rumah, Ara berbisik pada Ken, Ken hanya bisa tersenyum mengangguk penuh arti.


"Zee," panggil Alfa lirih.


Zee hanya menengok tanpa menjawab, entah kenapa Zee malas berbicara pada Alfa. Ya walaupun, sore tadi terjadi adegan panas dari keduanya.


"Kau, masih marah? Jangan diamkan aku!" pinta Alfa dengan wajah memelas.


Alfa menciumi tangan Zee, tapi tidak membuat Zee luluh begitu saja. Terlihat kesedihan dimata Alfa, Alfa begitu sangat takut kehilangan Zee.


"Mau sampai kau menciumi tanganku?" tanya Zee.


"Sampai kapan pun, Zee. Berhenti mendiamiku! Aku ingin mendengar ocehan dan tawamu!" pinta Alfa dengan nada memelas.


"Aku tak mendiami dirimu!" seru Zee singkat.


Alfa malah memeluk erat tubuh Zee dari samping, dan itu membuat Zee risih tak nyaman. Karena banyak pasang mata yang melihat ke arah mereka.


"Al, lepaskan ah! Kau membuat kehebohan tau!" seru Zee kesal.


"Tak ada orang lain disini, mereka bukannya sudah tahu dengan hubungan kita," balas Alfa enteng.


Zee hanya memutar bola matanya dengan malas, dan membiarkan Alfa terus memeluknya. Saat itu pula Zyvia keluar, melihat pemandangan yang membuatnya kesal, membuat hatinya terbakar api cemburu. Zee melihat sekilas pada Zyvia, entah kenapa didalam hatinya ada sedikit rasa senang melihat Zyvia kesal dan terlihat begitu cemburu seperti itu.


"Jangan salahku aku! Jika kau akan terus merasakan banyak kemarahan dan kecemburuan. Karena memang Alfa itu milikku! Lelakiku!" seru Zee dalam hati.


Zee dengan sengaja mengusap pipi Alfa, dan membuat lelakinya semakin nyaman memeluk dirinya.


"Haish, apa apa mereka! Tidak tahu malu, ada banyak orangtua disini?" hardik Ars kesal.


"Hahahha, jangan mengomel seperti itu! Alfa itu imitasi dirimu Ars," sindir Intan.


Azura dan Tia hanya bisa tertawa mendengar ucapan Intan, sudah sangat lama mereka tak mendengar Intan dan Ars berdebat.


"Lihat, ini akan menjadi malam yang panjang. Karena Ars dan Intan akan mulai pertunjukkannya," ledek Bumi.


"Ya ampun! Dasar kalian kurang ajar!" hardik Intan kesal sembari melempar buah pada Bumi dan Aldo.

__ADS_1


"Terimakasih sayang," balas Aldo yang tersenyum sambil mengigit buah apel.


"Tak ada sayang! Yang ada kau ku usir keluar kamar!" tegas Intan.


Dan kali ini Ars, Bumi dan Leo yang terbahak bahak menertawakan Aldo yang terkena getahnya.


"Haish, no baby! Kau akan terjaga semalaman karena tak bisa tidur tanpa memelukku!" seru Aldo, yang membuka rahasia Intan.


Bluusshhh,,,


Wajah Intan merah merona, menahan malu. Karena Aldo membuka rahasianya, dengan kesana Intan melotot penuh pada sang suami.


"Jadi, kebiasaan lama Intan masih sama kah?" tanya Ars.


"Aahhh, sudah kau diam! Aku akan kena hukuman dari dirinya," jawab Aldo sembari melirik pada Intan.


"Sudah, sudah kalian ini akan lupa dengan umur jika sudah berkumpul seperti ini!" seru Azura menengahi.


Dan ajaibnya mereka langsung diam, Azura itu seperti penyihir dan memantrai mereka semua, dengan sekali ucapan semuanya menurut.


Intan kembali mengupas apel di tangannya, Tia juga membantu menyiapkan cemilan lainnya. Cessi sedang asyik bercanda dengan Rio dan Rino.


Sam dan Zyvia yang bertugas membakar daging dan menyiapkan, setelah bergantian dengan Zyan dan Kiara lelah mengipasinya.


"Kenapa aku merasa merekalah yang menjadi pengantin baru disini," ucap Zyan sembari menatap Alfa dan Zee.


"Hihihihi, apa kau cemburu melihat kembaranmu di peluk seperti itu?" tanya Kiara.


"Hemm, tidak sayang! Hanya saja, aku merasa Alfa mengambil Zee, merebut setengah jiwaku," jawab Zyan.


"Emmm, jika kau merasa seperti itu, apakah Zee juga sama? Saat melihatku berada ada di dekatmu, dan dengan tiba tiba mengatakan kalau aku ini istrimu?" tanya Kiara.


Zyan menyadari apa kata yang di ucapkan sang istri. Dengan cepat Zyan memeluk Kiara, dan mengecup keningnya.


"Jangan berfikir yang aneh aneh. Zee tak seperti itu sayang!" seru Zyan.


Kiara menatap mata Zyan dengan sedikit berkaca kaca, namun di wajah ayu nya itu juga terlihat senyuman yang begitu manis.


"Kau tak pernah merebut Zyan dariku! Karena memang kau pantas mendapatkan," ucap Zee yang sudah berdiri didekat mereka.


"Cepat, buatkan kami ponakan yang baru!" perintah Alfa, sembari mengajak Zee pergi dari sana.


"Huh, sial! Mereka membuatku mati kutu," ucap Zyan merasa malu.


Senyum di wajah Kiara semakin mengembang indah. Karena melihat Zyan salah tingkah dan merasa malu.


"Zyan!" panggil Bumi dengan setengah berteriak.


"Ya, pah!" sahut Zyan seraya berdiri mengandeng tangan Kiara mendekati yang lainnya.


"Waktunya makan! Kita puaskan perut kita malam ini!" seru Bumi heboh.


Semuanya pun akhirnya makan bersama dengan riang, gelak tawa terdengar begitu membahagiakan, meledek dan menyindir satu smaa lain membuat mereka semakin erat dan mengerti satu sama lain.


Waktu sudah menunjukkan tengah malam,, hanya tertinggal Sam, Zee dan Alfa yang sedang duduk di bawah pohon. Di depan mereka masih menyala perapian sisa memanggang.


"Sam, apa Abi sudah membalas suratmu?" tanya Zee.

__ADS_1


"Tidak, belum ada balasan dari dia," jawab Sam.


"Kalian ini sudah seperti hidup di jaman penjajah saja, ada ponsel internet kenapa tak di gunakan?" tanya Alfa.


Sam hanya tersenyum mendengar ucapan Alfa, tak ada rasa marah karena memang benar apa yabg di katakan Alfa. Namun, inilah Sam dan Abigail yang mempunyai kelainan dalam hubungan dengan anak muda yang lainnya.


"Kapan kau akan menjemputnya? Atau akan mendatanginya?" tanya Zee.


"Belum saatnya Zee, dan jika sudah tiba waktunya. Aku dan Abi akan bertemu dan akan bersama selamanya," jawab Sam sembari menatap langit malam hari itu.


"Teruslah bertahan Sam! Buktikan padanya, jika kau memang pantas di perjuangkan!" seru Alfa.


"Jadilah benteng yang kuat dan kokoh Al. Dan lindungi semuanya dari terpaan angin, dan rintikan hujan," balas Sam.


Alfa berkesiap mendengar ucapan Sam, dan dia sangatlah paham dengan semua arti itu.


"Kalian ini berbicara apa? Aku tidak mengerti!" seru Zee.


"Bicara apa? Tidak ada apa apa bukan, Sam?" tanya Alfa.


"Ya, Alfa benar. Zee pergilah tidur sudah sangat larut!" perintah Sam.


Zee yang memang sudah menguap berapa kali itu pun akhirnya mengangguk ia. Dengan segera Alfa membawa Zee ke dalam, mengantarnya smapai di depan kamarnya.


"Good night, Princess," ucap Alfa sembari mencium kening Zee.


"Good night, Al," balas Alfa.


Sebelum masuk, Zee memeluk Alfa terlebih dahulu. Alfa menangkup wajah Zee dan mencium kilas bibir Zee.


"Masuklah! Tidur dengan nyenyak," ucap Alfa.


"Bye, Al. Love you," ucap Zee.


"Love you to baby," sahut Alfa.


Zee menutup pintu kamar itu dan terdengar suara pintu di kunci, Alfa juga memilih tuk kembali kekamar. Karena tubuhnya sudah sangat lelah, apalagi sore tadi Zee meminta di gendong sampai di villa.


"Abi, sedang apakah kau disana?" tanya Sam.


"Abi, aku yakin jika malam ini kau juga sedang memandang langit yang sama denganku. Melihat bintang bulan yang sedang menertawakan kita berdua," sambung Sam dengan senyum tipisnya.


"Gelapnya langit tak membuat bintang dan bulan menyerah tuk menunjukkan sinarnya, sama seperti diriku, yang akan terus bertahan menunggu dirimu," ucap Sam.


Hembusan angin malam menerpa wajah cantik gadis itu, membuat anak rambutnya melambai indah di wajahnya menutupi sedikit mata jernih yang basah itu, mata yang begitu sendu.


"Sam, bagaimana jika nanti takdir tak menyatukan kita? Bagaimana jika cinta dan sayang ini tak lagi bisa menyatukan kita? Harus kemanakah, aku berlabuh dan menyimpan segala kesakitan ini?" isak Abigail dengan menggenggam bunga sakura yang sudah layu.


Abi menjadi gadis yang sangat penurut, dia begitu berubah menjadi gadis yang lemah gemulai. Sosok Abigail yang dulu sangat tomboy dan begitu apa adanya, berbicara sesuka dirinya. Namun, tidak dengan Ae Ri gadis yang begitu lembut.


"Aku akan terus memakai topeng ini, sampai waktu itu berakhir. Dan aku bisa kembali pada paman, dan pastinya Sam yang selalu menunggu diriku disana," ucap Abigail mantap.


Kesepakatan Ken dan Kim Bum yang memberikan waktu pada Abigail/Aeri tuk memilih setelah setahun, hidup dengan sang ayah akan menjadi jawaban Abigail tuk Ken dan Kim Bum.


Selamat membaca dan semoga suka.


Terimakasih 💞💞💞.

__ADS_1


__ADS_2