Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kecemasan Rafli.


__ADS_3

Rafli keluar dari ruangannya hingga terburu-buru hingga tanpa sengaja menabrak seorang wanita.


'' Auuuwww , bokongku '' ucanya meringis. Rafli hanya menoleh tanpa ingin bicara apalagi menolongnya .... Sementara Zizi hanya diam , sama hal nya seperti Rafli , tangannya tak akan terulur untuk menolong sembarangan orang .


'' Zi , batalkan seluruh rapat hari ini '' ucap Jimmy tegas.


'' Baik tuan " jawab Zizi datar.


'' Oh kau nona , meeting kita tunda hari ini . Maaf saya sibuk " ucap Jimmy berlalu pergi.


'' Hei " teriak wanita itu , ia masih di posisinya. Viona menatap tajam Zizi yang tidak mau membantunya berdiri.


'' Sakit sekali '' rintis Viona .


'' Mereka kenapa wajahnya begitu cemas " ucap Viona ingin tahu.


'' Oke....oke..... jika kau enggan menjawab " jawab Viona kesal yang akhirnya berlalu pergi.


'' Aku akan membalas kematianmu Baco , meski tuan menolak melakukan balas dendam " lirih Zizi , tubuhnya terduduk lemas . Saat mendapat kabar dari Devan tentang Baco yang tewas terbunuh saat menjalankan tugasnya. Baco seseorang yang di cintai Zizi harus kembali kehadapan yang maha kuasa . Zizi menangis pilu , lagi-lagi ia merasa sendiri . Bekerja bersama keluarga Wijaya begitu beresiko , demi majikannya yang tetap aman mereka mempertaruhkan nyawanya , apalagi anggota Devan kesetiannya tak perlu di tanyakan lagi.


Seseorang tersenyum saat mobil Rafli melesat kencang dan di ikuti dua mobil yang berisi beberapa pengawal yang siaga.


'' Keluar juga kau " ucap pria yang langsung turun mengamatinya.


'' Aku harus segera mengikutinya " imbuh Eric , ia melajukan mobil sportnya yang tak kalah mewah. Jimmy yang melihatnya segera menghubungi Alexa segera menjemput Dewa , Alexa tanpa bertanya segera melakukan nya . Jimmy sendiri mengejar laju mobil Eric dengan cukup kencang .


'' Habis kau '' geram Jimmy .


Rafli berhasil memasuki jalan khusus untuk terhubung kerumahnya berbeda dengan Eric yang tertahan... Ia tak ingin memaksa masuk kedalam yang ia yakini menjadi mansion Rafli .. Orang yang berhilir kesana kemari pun ia yakini anak buah Rafli , meski penampilan mereka seperti warga biasa , tersimpan persatuan kekuatan di dalamnya untuk menembus jalan itu.


Eric pun memutar mobilnya , mobil Jimmy pun berhasil berada di depan mobil Eric . Jimmy keluar tanpa ragu , ia mengambil satu buah pistolnya dah mengaktifkan GPS di jam tangannya . Eric tersenyum smirik mengetahui Jimmy yang menghadang jalannya .


'' Keluar '' suara bariton Jimmy , seseorang yang kekuatannya tak ada tanding . Perisai perlindungan Rafli yang paling sulit di hilangkan bagi rival bisnis Rafli , ntah apa yang melindungi Jimmy masih tetap menjadi misteri bahkan Devan yang mempunyai julukan monster pembunuh pun mempunyai julukan untuk Jimmy yaitu Jin Abadi membuat Jimmy memukul pelipisnya karena sesungguhnya ia manusia biasa bukan Jin abadi.


'' Aku kembali '' ucap Eric dengan wajah imutnya namun begitu memuakkan bagi Jimmy.


'' Beraninya kau membunuh Baco " ucap Jimmy berjalan santai menuju Eric namun Eric tak bergeming.


'' Dia mengganggu privasi ku '' ucap Eric.


'' Kau mengganggu istri orang " decak Jimmy mencengkram erat kerah kemeja Eric.


'' Lepaskan " ucap Eric dingin menatap tangan Jimmy dan mata Jimmy dengan tak kalah tajam.


'' Lepaskan " sarkas Eric.


'' Jauhi dia , dan carilah kebahagiaan lain. Jangan sampai aku bertindak untuk membunuhmu .. Aku Jimmy tidak pernah takut meski kau mempunyai geng mafia asal Italia karena kau menolong ketua mafia itu saat dalam pengejaran polisi dan dua bisnis haram mu yang buktinya ada di diriku serta Devan " ucap Jimmy dingin namun mampu membuat raut wajah Eric sedikit berubah walaupun ia telah berusaha tenang.


'' Kematian Baco tak sia-sia , dan bersiap-siaplah menghadapi Devan dan anak buahnya karena orang mu telah membunuh anak buahnya " ucap Jimmy , ia tak akan melukai Eric , ia akan membiarkan Ana melukai Eric lebih dalam jika Eric tidak bisa disadarkan secara baik-baik, karena selama penyelidikan orang suruhan Jimmy mengatakan bahwa sifat Eric lebih bijak dan tidaklah egois namun sayang lingkungan seseorang dan cinta a mampu merubah sifat seseorang dalam sesaaat .


'' Kau terlihat banyak bicara Jim " ucap Eric datar lalu menepis kasar cengkraman Jimmy yang sengaja ia biarkan.


'' Aku tidak punya masalah denganmu tapi dengan Rafli Abdi Wijaya , karena Ana berada disisinya dan untuk pembunuhan Baco itu bukan urusanku " ucap Eric ketus . Pernyataan Eric membuat tawa mengejek Jimmy pecah.


'' Ana berstatus istri Rafli saat ini dan Rafli memang bersalah merebut tunanganmu atau lebih tepatnya mantan tunanganmu , jangan lupakan pernikahan mu dengan Laurent penyebab kandasnya hubunganmu dan Ana. Kau berniat merebut Ana , maka hadapi dulu aku dan yang membunuh Baco anak buahmu , maka kau juga terlibat di dalamnya " ucap Jimmy namun Eric malah hendak masuk kedalam mobil.


'' Ana sangat mencintai suaminya dan aku akan memastikannya. Bahkan disetiap doa nya terselip nama suaminya Rafli Abdi Wijaya bukan nama mantan tunangannya. Kau tak berarti apapun karena telah mengkhianatinya . Dengan bisnis harammu maka Ana akan membencimu " ucap Jimmy .


Bugghh


Eric memberi bogem mentah kepada Jimmy namu Jimmy bisa menghindar membuat bogem itu terasa biasa saja. Eric terpancing emosinya yang mengatakan bahwa Ana begitu mencintai Rafli


'' Pergilah atur rencana mu " ucap Jimmy berlalu pergi. Meninggalkan Eric yang pikirannya kacau.


'' Tenangkan dirimu Eric , kau tidak boleh kacau di depan Ana " gumam Eric .


Sementara mobil Rafli menerobos masuk gerbang mansionnya . Rafli memakirkan mobilnya secara asal dan segera berlari menuju pintu mansion. Nur dengan sigap membuka pintu mansion saat mendengar bunyi bel kesetanan itu .


'' Dimana istriku " ucap Rafli ...


'' Diatas tuan .... di kamar .... " ucapan Nur terhenti karena majikannya itu segera berlari menaiki tangga.


'' Ana " teriak Rafli.


'' Ana , dimana kau sayang '' imbuhnya membuka semua ruang yang ada.


Ceklek

__ADS_1


Ana melihat Rafli yang begitu kacau.


'' Mas " panggil Ana membuat Rafli berlari kearahnya .


'' Kau dari mana saja hmmmm " ucap Rafli lirih memeluk Ana dengan erat ...


'' Mas , kau kenapa " ucap Ana berusaha melepaskan tubuh Rafli yang memeluknya erat namun tidak bisa.


'' Biarkan seperti ini sayang '' ucap Rafli menghirup aroma tubuh istrinya yang selalu bisa membuatnya jauh lebih baik... Ana mengusap punggung suaminya dengan penuh kasih sayang .


'' Maaf , apa mas menekan anak kita " ucap Rafli ...


'' Tidak mas " ucap Ana tersenyum.


'' Ayo duduk , kita bicara " imbuh Ana...


'' Katakan ada apa mas " ucap Ana mengusap surai indah suaminya .


" Berjanjilah untuk tetap disampingku , bersamaku hingga kita menua bersama " ucap Rafli lirih , meski telah jutaan kali Ana mendengarnya namun ia tetap menjawab .


" Iya mas , aku akan bersamamu apapun yang terjadi " ucap Ana yang masih setia menatap Rafli yang kini menatapnya . Ana ingin mencium bibir sexy suaminya namun belum bibir itu mendarat sempurna ucapan Rafli menghentikannya .


" Dia kembali Ana " ucap Rafli membuat Ana bingung.


" Siapa " tanya Ana.


" Selingkuhan mu " imbuhnya menatap Rafli kesal.


" Pria masa lalu mu , ia ingin mengambil mu kembali " ucap Rafli lirih.


" Mas , pria masa lalu ku itu kamu yang kini menjadi suami ku . Ayah dari anak-anakku. Hanya dirimu yang akan menjadi ayah dari anakku , bukan pria lain. Aku pastikan itu mas " ucap Ana tegas. Sebenarnya Ana mengerti pria itu adalah Eric.


" Iya , mas juga akan memastikannya " ucap Rafli.


" Ana , Eric kembali ingin merebutmu dari mas " ucap Rafli pada inti masalahnya .


Ana membangunkan Rafli dari pembaringan empuk itu.


'' Disini ada anak kita " ucap Ana tegas menunjuk kearah perutnya.


'' Ada Dewa dan Arjuna ... Jangan berfikir yang aneh . Itu semua tidak benar jika ia ingin merebutku kembali. Apa di tempat ia berada tidak ada wanita disana " geram Ana.


'' Kenapa , Dewa sekolah disini . Ada usahaku disini , terlebih lagi keluarga ku berada di negeri ini . Bagaimana dengan semuanya " ucap Ana .


'' Kenapa kita harus pindah , bukan kah selama ini kau tak takut akan hal apapaun. Aku berada di pihakmu mas " ucap Ana menggebu .


'' Masalahnya tidak semudah itu Ana . Eric yang sekarang berbeda " ucap Rafli ...


'' Mas akan jelaskan jika sudah ada Jim " imbuhnya.


Ana dan Rafli memilih menuju ruang tamu dimana Arjuna berada . Rafli tak pernah menjauh dari Ana bahkan Ana ingin ke kamar mandi Rafli temani .


'' Mas keluarlah " geram Ana , ia butuh konsentrasi penuh saat ini.


'' Keluarkan lah mas disini saja " ucap Rafli santai tanpa jijik sedikitpun tapi Ana lah yang jengah dengan keadaan .


'' Ck " Ana macebikkan bibirnya tanda tak suka .


'' Kenapa mas Rafli jadi paranoid.. Aku kan butuh fokus penuh. Jika ada ia disini konsentrasi penuhku malah hilang semua. Mana kebelet lagi. Menyebalkan " batin Ana mengumpat Rafli karena rasa nanggung dirinya.


Byurrr


Rafli terkejut karena disaram Ana dengan air tiba-tiba , saat ia sedang berbalas pesan dengan Devan.


" Pergi " teriak Ana yang hampir memecahkan gendang telinga Rafli . Rafli yang takut melihat kemarahan istrinya begitu menyeramkan pertama kali segera keluar dan menutup pintu rapat namun ia masih di depan pintu kamar mandi dimana istrinya sedang bertambang emas .


" Kan jadi susah keluarnya " gumam Ana , ia sungguh kesal pada suaminya.


Ceklek


Ana hampir saja terjatuh saat kaget Rafli berdiri di depan pintu , beruntung Rafli sigap menangkap punggungnya agar tak terjatuh.


'' Mas bilang juga apa , kalau tadi terjatuh bagaimana dengan mu dan anak kita " seloroh Rafli . Sementara Ana mendecih saja melihat Rafli seperti seorang wanita yang datang bulan.


Sementara Dewa sedang menangis dan memukuli Jimmy saat ini . Om Jin kesayangannya ini memaksanya untuk pulang saat Dewa sedang asyiknya belajar , Rahma yang dekat dengan Dewa pun tak mampu menahan bocah itu saat mengamuk.


'' Aku benci Paman . Dewa akan melapor ke bunda " ucap Dewa dengan jurus andalannya , meski itu tak berpengaruh pada Jimmy.

__ADS_1


'' Bibi Ra Rahma juga jahat , Dewa lapor pada kakek " ucap Dewa terisak.


'' Jangan ya Dewa , nanti bibi kena marah " ucap Rahma merinding bulu kuduknya.


'' Tidak , kalian semua jahat... huhuhuhu bunda ....hiks...." ucap Dewa menangis kencang dalam mobil .


'' Tolong bantu diamkan Dewa " pinta Jimmy , ia tak menyangka jika Dewa menangis hingga begini.


'' Perasaan di dalam kandungannya anteng aja. Dasar Rafli sialan ngidamnya buah durian itu " batin Jimmy .


" Kau tidak lihat , sedari tadi aku membujuknya ... malah aku di ancamnya balik... Pakai ngadu ke bapak lagi. Bapak dan anaknya sama aja ancamannya " seloroh Rahma.


" Kenapa mau protes " ucap Rahma saat Jimmy baru saja ingin menjawabnya.


" Ya Tuhan " batin Jimmy.


Kini mobil yang di tumpangi Dewa sudah tiba di mansion sang ayah. Dewa keluar masih menangis tersedu membuat Alexa yang kebetulan melintas menghampirinya .


'' Kenapa Dewa '' tanya Alexa lembut .


'' Aunty lihat , Paman dan bibi itu jahat. Memaksa Dewa untuk pulang ...hiks..hiks.. " Adu Dewa pada Alexa yang sudah dekat dengannya sedari bayi ... Alexa menggaruk tengkuknya yang tidak gatal , bila sudah begini bundanya lah yang mampu menenangkan Dewa.


'' Ayo kita melapor ke bunda " ajak Alexa dan disambut semangat oleh Dewa...


'' Bunda " isak Dewa membuat Ana segera menghampiri anak kesayangannya.


'' Kenapa sayang " ucap Ana memeluk sang bunda dan menatap Alexa namun Alexa hanya mengangkat bahu tanda ia tak tahu.


'' Om Jin jahat " ucap Dewa mengadu.


'' Om Jin dan Tante bar-bar memaksa Dewa pulang , padahal Dewa lagi belajar...hiks...hiks.... Dewa kan ingin menjadi anak yang pintar " Isak Dewa lirih. Ana menatap tajam Jimmy dan Rahma yang baru saja masuk.


'' Kalian tidak ada hak membawa Dewa pulang dengan paksa apalagi Dewa sedang belajar " suara Ana terdengar dingin.


'' Tapi Ana ... " ucapan Rafli terhenti.


'' Dewa anakku , kau jangan lupa itu mas " ucap Ana dingin , perkataan Ana membuat Rafli kembali dalam jurang kesalahannya beberapa tahun yang lalu. Jika menyangkut pembahasan Dewa , Ana menjadi begitu sensitif sama hal sebaliknya yang terjadi.


'' Sekarang Dewa mandi dan makan. Jangan pikirkan mereka. Biar bunda akan hukum paman dan bibi " ucap Ana lembut.


'' Baik bunda " ucap Dewa menurut.


" Mudah sekali menenangkannya " batin Jim.


" Kita keruangan kerja sekarang " perintah Rafli dan dituruti Ana dan Jimmy dan tak lupa Rahma juga ikut karena ini akan menyangkut semua keluarga Gunawan. Rafli berharap Gunawan nanti juga menyetujuinya agar berhasil membujuk Ana untuk ikut pindah ke Berlin.


Kini mulai terhubung video call melalui laptop yang tersambung dengan Devan langsung . Terlihat mata Devan sembab karena ini hal pertama ia kehilangan anak buahnya dan ini pukulan terberat bagimya. Jika tau begini ia akan turun langsung. Rafli merasa paling bersalah disini namun ia memendamnya sendiri.


Jimmy mulai menanyakan secara terperinci tentang Eric hingga kronologi Baco yang ketahuan oleh orang-orangnya Eric hingga tewasnya Baco kerena ia berusaha mempertahankan sumpah setianya hingga maut menjemput nya bahkan sebelum tewas Baco berhasil memberi bukti tentang usaha haram nya Eric yang tak tercium aparat karena para petinggi pun terlibat. Devan menceritakan semuanya dengan detail meski terlihat suara pria itu berubah menahan tangis bahkan ujung mata Rafli pun telah basah.


Ana menangis terisak mendengar semua ucapan Devan , ia tak menyangka Eric masuk ke jalan yang salah , Ana mulai menyalahkan dirinya sendiri.


'' Sabar mbak , ini bukan salah mbak " ucap Rahma ia pun menangis seraya memeluk kakak perempuannya.


'' Ini semua salahku " Isak Ana yang ia tahan , namun pecah saat tak mampu menahan tangisnya lagi. Bahkan anak buah Devan tewas karena tugas yang suaminya beri demi mempertahankan dirinya.


'' Ini bukan salahmu Ana , bukan salahmu " ucap Rafli lirih tanpa permisi air matanya membasahi rahang tegasnya .


'' Ini salahku mas , semua sumber masalah berasal dariku. Aku tidak tau dosa apa yang ku perbuat mas di kehidupan sebelumnya hingga melibatkan takdir hidupmu dan Eric yang tak berkesudahan saling bermusuhan. Hingga kini kau harus berurusan dengan mafia , yang di pastikan ada tumpahan darah di setiap nafas mereka .... hiks....hiks.... " ucap Ana menangis di dekapan suaminya sementara Jimmy memeluk Rahma yang terlihat bersedih melihat Ana selalu menyalahkan diri.


'' Sayang ini semua sudah takdir , mas sebisa mungkin akan menghindar dari namanya mafia . Mas juga tidak mau berurusan dengan mereka namun jika takdir memaksa mas , mas harus bergabung Ana demi mempertahankan mu dan anak-anak kita . Percayalah semua akan baik-baik saja '' ucap Rafli lirih.


'' Jangan menangis mas mohon '' imbuhnya mencium pipi Ana yang telah basah dengan air mata..


'' Jadi ini alasan yang sebenarnya mas mengajakku pindah ke Berlin '' tanya Ana dan diangguki Rafli.


'' Aku tidak setuju mas , itu melibatkan keluarga besar mu juga mas . Bahkan itu melibatkan banyak orang jika kita ke sana '' ucap Ana.


'' Jadi mas harus apa Ana , mas belum menyusun rencana yang matang saat ini . Jika kita tidak menghindar , maka kita akan terpisah dan mas tidak mau itu terjadi '' ucap Rafli , sungguh pikirannya lelah saat ini.


Hening , semua orang sibuk dengan pemikirannya begitu juga Devan yang sedari tadi mengamati keadaan.


Hingga ucapan Ana membuat mereka mengarahkan tatapan nya pada Ana. Apalagi Rafli yang terlihat sangat tidak setuju.


Jangan lupa like dan komentar nya ya .


Untuk konflik belum berat kok , ntar ada konflik beratnya.

__ADS_1


Selamat membaca 😊


__ADS_2