Takdir Cinta

Takdir Cinta
Ericana Sakit


__ADS_3

" Tapi aku minta maaf mbak , Eric sudah menunggu kami " ucap Vini membuat Rafli mengepalkan tangannya .


"Brengsek , apa maksud Eric dengan mendekatkan Ana dengan istri serta anaknya itu. Cara yang begitu murahan " batin Rafli jiwa cemburunya membara dan telah siap siaga.


" Sayang biarkan lah mereka pergi. Apa peduli mu " ucap Rafli tak suka . Sementara Ericana matanya telah berkaca-kaca.


" Mas , kau tak boleh berbicara kasar seperti itu pada anak kecil " bisik Ana.


" Apa peduliku . Dia bukan anak kita Ana , dia anak Eric. Ingat itu Ana " bentak Rafli , membuat wajah Ana pias , perasaan sedih memasuki relung hatinya.


" Uncle minta jangan mendekati Aunty lagi ya " ucap Rafli membuat Ericana seketika menangis dalam dekapan Vini .


" Mas " ucap Ana lirih .


" Tuan , sebaiknya jangan kasar terhadap anak kecil atau tuan ingin menyesal nantinya " ucap Vini lirih .


" Menyesal , aku tak akan pernah menyesal mengatakannya . Pergilah kalian " ucap Rafli ketus dan seketika langsung menarik pergelangan Ana.


" Aunty....hiks....hikss...Aunty.... " teriak Ericana menangis sementara Ana hanya mampu melihat Ericana menangis karenanya.


" Ericana ...." ucap Ana pelan dengan suara hanya terdengar sayup.


Rafli masih dengan wajah dinginnya menatap Ana yang masih terisak , tak peduli. Pikiran Rafli melayang kemana-mana . Pekerjaan membuatnya pusing , Bunga meminta yang aneh-aneh dan sialnya istrinya menyetujui tanpa memikirkan perasaannya serta anak-anak nantinya , ditambah bertemu istri dan anak Eric yang membuat moodnya begitu jelek.


" Mas tak ingin kau bertemu lagi dengan anak itu , apalagi begitu dekat . Sungguh membuat mata mas sakit " ucap Rafli ketus dan segera menjalankan laju mobilnya .


" Apa kau mendengar ucapan mas , Ana " tanya Rafli , Ana masih membungkam mulutnya.


" Ana apa kau mendengarnya " ucap Rafli meninggikan suaranya .


" Aku mendengarkan nya mas , tak perlu berteriak padaku dan selalu itu yang kau ucapkan . Kau tak mengerti perasaanku mas , kehadiran Ericana cukup mengobati rasa rinduku kepada Zilva dan Kanya , kehadiran Ericana dan Vini juga mampu menghiburku saat aku tau suamiku pernah menyentuh wanita lain bahkan wanita itu hamil " ucap Ana menatap nanar suaminya.


" Cukup Ana " ucap Rafli menambah laju kecepatan mobilnya hingga mampu memangkas waktu dengan cepat menuju mansion .


'' Kenapa kau marah , itu kenyataanya '' gumam Ana , Rafli mencengkram stir kemudian ya kuat demi melampiaskan amarahnya , jika bukan karena cintanya dipastikan Ana akan dilemparnya keluar .


" Dasar suami sakit jiwa " ketus Ana dan menutup pintu mobil dengan cukup kuat.


"**** .... ! " decak Rafli kesal .


.


.


.


Sementara di kantor cabang Permana yang baru saja di buka , Ericana tengah menangis dalam pelukan Eric. Ericana mengadukan semuanya membuat wajah Eric memerah menahan amarah .


'' Aku akan buat perhitungan denganmu Rafli . Jika bukan karena Ericana anak Ana dan hanya anakmu saja maka tak sudi aku menyayanginya sepenuh hatiku , bahkan rasa sayang ini bisa melebihi anak dalam kandungan Vini " batin Eric.


" Ericana yang tenang ya sayang . Mama janji , Ericana akan tetap bisa bertemu dengan aunty " ucap Vini lembut membelai surai hitam Ericana .


" Mama boong " ucap Ericana masih terisak.


" Mama gak bohong kok " ucap Vini .


" Iya kan dad " imbuhnya mencari pembelaan .


" Iya sayang … Benar kata mama. Apapun yang terjadi kau akan tetap bertemu dengan aunty " ucap Eric dan membuat Ericana berbinar senang .


" Karena ia ibu mu " batin Eric.


" Tapi , uncle itu jahat daddy bahkan ia malah-malah ma aunty " ucap Ericana cemberut .


" Mungkin uncle sedang ada masalah sayang . Jadi uncle tadi marah-marah " ucap Vini memberikan pengertian , akan sulit di terima Ericana suatu saat nanti saat mengetahui jika Rafli ayah kandungnya , jika dari awal pertemuan kesan buruk yang di torehkan Rafli .


" Ericana tak ingin ketemu uncle itu " celoteh Ericana .


.


.


.

__ADS_1


'' Mas ingin bicara dengan mu sayang " ucap Rafli menghampiri Ana yang tengah merangkai bunga bersama Jelita serta Victoria disana.


'' Uncle " sapa Victoria tersenyum.


" Hai sayang , tolong bawa Jelita main kesana sebentar ya " ucap Rafli mengacak gemas Victoria .


'' Iya uncle " ucap Victoria


" Ayo Je " ajak Victoria .


'' Ah ... ayah menyebalkan " ucap Jelita sedikit kesal karena hobinya harus terhenti .


'' Sebentar saja sayang " ucap Rafli mencium gemas Jelita.


'' Sayang , Jangan ngambek lagi dong " ucap Rafli memeluk Ana , ini hari libur membuat Rafli bisa meluangkan waktunya untuk bersantai dirumah.


'' Aku gak ngambek kok mas " ucap Ana tersenyum.


'' Bagaimana dengan permintaanku semalam mas " ucap Ana membuat Rafli seketika melepaskan pelukannya .


" Mas tak akan menikahi Bunga " ucap Rafli berlalu hendak meninggalkan Ana.


'' Ingat waktu terus berjalan mas . Hanya sebulan waktu mu menangkap dalang semua masalah ini " ucap Ana lantang .


'' Ini baru satu Minggu Ana dan jangan terus memaksa mas . Atau kau ingin melihat semua ini hancur " ucap Rafli berlalu .


'' Kau tak mengerti perasaanku Ana , betapa sakitnya hatiku karena dengan mudahnya kau menyuruhku menikah dengan wanita lain . Kau tak ingin di madu tapi sekarang terus memintaku menikahi Bunga . Apa kau ingin pergi dariku Ana " batin Rafli.


.


.


.


Zumi alias Viona masih bekerja di perusahaan besar milik Abdi Wijaya . Pekerjaannya sangat memuaskan membuatnya tak berurusan dengan Rafli dan juga Bianca. Viona tak mengusik Bianca karena akan membuat posisinya tersebut terdesak. Kematian Willy hingga kini tak mengusiknya membuat dirinya merasa diatas awan .


'' Dan tinggal beberapa langkah lagi giliran kau dan anakmu Bunga dan setelah itu maka giliranmu Ana yang akan begitu menyakitkan , setelah itu Rafli milikku karena aku yang lebih dulu mengenalnya " gumam Viona , ingatannya kembali ke masa sekolahnya dahulu , ia menyatakan cintanya berkali-kali saat Rafli tidak peka terhadap perhatian yang selama ini ia berikan namun kehadiran Ana secara perlahan membuat Rafli menjauhinya .


.


.


.


Minggu tengah berganti , tak bertemu Ana membuat Ericana tak bernafsu makan , Daddy dan mama nya hanya bisa berkata iya tanpa bisa mengabulkannya . Ingin video call pun tidak bisa karena Rafli telah memblokir nomor tak di kenal di handphone istrinya .


'' Aunty.... apa aunty tak ingin berteman denganku lagi...hiks...hiks... " tangis Ericana pilu menangis sendiri di dalam kamar bak seorang princess. Bahkan kedatangan Eric pun tidak di dengar oleh Ericana. Hati Eric begitu sakit saat ini , saat mengetahui jika Ericana begitu merindukan Ana namun Ana malah memblokir nomor Vini .


'' Ana tak mungkin sekejam itu . Apalagi kata Vini , Ana begitu menyayangi Ericana . Ini pasti perbuatan manusia satu itu. Kau akan menyesal telah menjaga jarak dari anakmu Rafli " batin Eric , mencoba menstabilkan emosinya dan menghibur Ericana.


" Ericana " ucap Eric lirih.


" Daddy , kini aunty Ana sombong sekali sama Ericana . Apa aunty Ana tidak sayang padaku lagi... hiks...hiks... Ericana hanya ingin bertemu dengan aunty saja ta... tapi.... tak bisa dad " Isak Ericana...


" Ericana sayang , aunty Ana mungkin sedang begitu sibuk. Aunty Ana pasti juga sangat sayang pada Ericana , Ericana tak boleh meragukannya " ucap Eric memberikan penjelasan ...


" Aunty Ericana juga banyak , ada aunty anggel , ada aunty Laurent , ada aunty Maya " ucap Eric menyebut semua yang dianggap aunty oleh anaknya .


'' Ericana hanya ingin aunty Ana .... hiks ...hiks.... " Isak Ericana ..


Tiba-tiba Vini masuk membawakan Ericana makan saat itu , sudah sekian kalinya Vini membujuk Ericana makan namun tak berhasil sekalipun .


'' Ericana ayo makan sayang, Daddy suapi '' ucap Eric menyambut piring yang berisi makanan untuk Ericana . Ericana menutup mulutnya saat Eric menyuapinya. Eric paham aksi mogok makan Ericana ..


'' Jika Ericana telah makan , lusa sebelum kita kembali ke Italia , Ericana akan menemui Aunty Ana bersama mama '' bujuk Eric dan langsung sukses membuat Ericana membuka mulutnya.


Malam harinya Ericana tengah tertidur dengan tenang namun hal yang tak di duga pun terjadi , Ericana pun mengalami panas tinggi ...


'' Aunty Ana.. '' ucapnya lirih.


'' Aunty... Ana '' imbuhnya .


'' Ericana rindu Aunty ''

__ADS_1


Ericana yang meracau nama Ana membuat pengasuh yang mendengarnya tanpa segan menggedor kamar dimana Eric dan Vini berada.


Tok...tok....tok....


'' Tuan Eric ... '' panggilnya .


'' Nyonya Vini '' imbuhnya ...


'' Ericana .... panas tinggi tuan ... ''


Ceklek


'' Ada apa bi '' ucap Vini yang baru saja tertidur namun telah terganggu .


'' Non , Erica panas dan mengigau nama Ana '' jawabnya membuat Vini segera menuju kamar Ericana.


'' Ya Allah , Ericana sayang '' ucap Vini saat menyentuh dahi Ericana yang panas tinggi , kata Aunty Ana selalu keluar dari bibir pucat bocah mungil tersebut .


'' Bi , apa sudah di kasih obat tadi '' tanya Vini .


'' Sudah non , tadi sempat reda namun naik kembali demamnya '' jawabnya sedih .


'' Tolong kompres Ericana terus bi . Aku dan mas Eric akan segera kerumah Ana '' ucap Vini dirundung kesedihan .


'' Ericana kenapa '' ucap Eric yang ternyata terbangun saat mencari Vini tak berada di sampingnya .


'' Mas . Ayo kita kerumah Ana malam ini. Demi Ericana mas ...hiks...hiks... aku takut sesuatu terjadi padanya .... hiks...hiks... '' ucap Vini kini menangis .


'' Biar mas saja . Kau sedang hamil Vini jadi disini saja dan bibi segera panggil supir bawa Ericana kerumah sakit . Aku akan segera kerumah Ana dan Rafli , apapun caranya aku akan bawa Ana untuk menemui Ericana '' lirih Eric . Butiran bening dari matanya jatuh juga saat melihat Ericana meracau memanggil Ana.


'' Mas aku harus ikut , jangan lupa jika suaminya selalu berfikir negatif padamu '' ucap pinta Vini dan akhirnya Eric menyetujui nya karena mengingat sifat Rafli yang cemburunya tak bisa di toleransi lagi .


'' Baiklah Ayo '' Ucap Eric dan segera menggendong Ericana agar supir dan pengasuhnya membawa Ericana kerumah sakit terdekat di kawasan apartemen elit itu.


Diperjalanan Eric melajukan mobilnya cukup kencang. Ia terpaksa pergi kemansion Rafli pukul satu malam . Perasaan Eric begitu gelisah , ia takut jika Rafli tak mengizinkan Ana keluar untuk membesuk Ericana . Untuk mengungkapkan Ericana anak kandung Rafli pun , Eric sendiri tak bisa melepasnya . Bisa saja Rafli membuatnya mendekam di penjara atas kasus penculikan . Eric menyadari jika caranya salah , demi melindungi Ericana dan rasa cintanya pada Ana membuat Eric membawa Ericana saat bayi demi bisa memiliki salah satunya .


'' Mas tenang dan yakinlah . Kita bisa mempertemukan Ericana dan mbak Ana malam ini . Aku juga akan bantu kau bicara nantinya '' ucap Vini lembut dan memberi ketenangan pada Eric , Eric hanya mengangguk sebagai jawaban.


Sementara di mansion Rafli , Ana telah tertidur nyenyak sedangkan Rafli berada diruang kerjanya mengurus beberapa perkerjaan yang sengaja ia bawa untuk dikerjakan di mansion .


Empat puluh lima menit kini Eric dan Vini telah tiba di sebuah mansion begitu megah dengan dinding menjulang tinggi bak penjara namun begitu elegan. Di depan pagar tinggi dengan ornamen khas Eropa lah Eric dan Vini berdiri.


Eric membunyikan klakson mobilnya membuat salah satu body guard melihatnya dari balik pagar tinggi tersebut .


'' Ada perlu apa tuan dan nyonya '' tanya body guard tersebut saat melihat Vini dan Eric.


'' Tuan , saya ingin bertemu dengan nyonya Ana. Apa bisa '' tanya Vini sopan membuat Bodygaurd itu heran , bukan karena kesopanan Vini namun mencari nyonya rumah itu tengah malam begini . Nyonya rumah yang bila terluka sedikit saja bisa membuat nyawa siapa saja melayang di tangan suaminya.


'' Maaf nona , ini sudah malam . Tidak sopan bertamu semalam ini '' ucap bodyguard yang benar perkataanya jika tak sopan bertamu di jam orang tengah tertidur pulas.


Eric yang tak terima pun berbicara lantang , jika bukan karena Ericana ia dan Vini juga tau tata krama .


'' Kami butuh bertemu Ana . Panggil kan nyonya rumah ini '' bentak Eric membuat bodygaurd itu pun berang melihatnya .


'' Apa kau tak mengerti sopan santun tuan . Bertamu ada jam nya dan mengenal waktu apalagi kau ingin bertamu menemui nyonya rumah ini '' ucap bodyguard mulai emosi.


'' Pergilah tuan . Jika tidak kami akan mengusir kalian secara kasar '' ucap bodyguard satunya lagi.


''Tuan... ku mohon ... anakku sakit dan ingin bertemu mbak Ana ....hiks...hiks... '' Vini terisak namun bodyguard tetap kekeh menolak permintaan Eric dan Vini .


'' Maaf nyonya . Mengertilah kami tidak bisa '' ucap bodyguard berbicara nada rendah kepada Vini. Vini yang mengerti kode dari Eric segera menjalankan rencananya meski mereka harus membuat keributan agar memancing Rafli dan Ana untuk keluar.


Keributan terjadi saat Eric terpaksa harus berkelahi dengan beberapa bodygaurd yang menyerangnya . Eric tak menyangka Rafli menyiapkan bodyguard begitu banyak di mansion itu. Terlihat empat orang bodyguard wanita yang begitu tangguh juga ikut ingin menyerangnya . Vini begitu panik melihat hal itu , mereka stop menyerang Eric saat Vini dengan perut buncitnya menghalangi para bodyguard menyerang Eric . Salah satu bodyguard wanita maju memastikan jika Vini beneran hamil dan bukan bohongan dan ternyata Vini benar hamil batinnya . Bodyguard yang bekerja pada Rafli selalu waspada tentang hal sekecil apapun .


Rafli yang mendengar keributan segera menuju halaman depan mansion untuk melihat keributan apa yang terjadi .


'' Rafli '' teriak Eric lantang saat Rafli terlihat di depan pintu mansion .


Jangan lupa like dan komentarnya ya....


Terimakasih yang sudah like dan komentar.


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2