Takdir Cinta

Takdir Cinta
306


__ADS_3

Finlandia


Terlihat Vanya sudah membersihkan kamarnya, mengganti seprei agar terlibat bersih karena mengingat sang suami akan kembali dari Italy. Wanita itu begitu gembira sampai menyiapkan sambutan tuk Wiliem dirumahnya, Vanya juga tak lupa memanjakan tubuhnya ke salon kecantikan.


"Ah, rasanya aku semakin merindukan dirinya. Padahal tinggal menunggu beberapa jam lagi," ucap Vanya tersenyum.


Di tatapnya foto pernikahannya yang tergantung di atas dinding tempat tidurnya, di sana terlihat Wiliem begitu tampan. Vanya mengingat pertama pertemuan dirinya dengan Wil saat di Amerika dulu.


"Hemm, aku tak menyangka jika jodohku itu dengan lelaki yang dulu mencuri ciuman pertamaku," gumam Vanya dengan wajah memerah karena malu.


Vanya sungguh merasa sangat beruntung bisa menikahi Wiliem, walaupun dia harus kehilangan sang buah hatinya. Vanya yakin, ada suatu kebahagiaan di depan sana yang menantinya.


"Kenapa jam itu sangat lambat sekali? Atau memang jam itu sudah berhenti berdetak?" ucap Vanya cemberut melihat jarum jam yang terlihat lama olehnya.


Di negara lain, berbeda dengan Vanya yang sedang menunggunya dengan penuh kebahagiaan, Wiliem semakin di buat kesal dan bimbang harus bagaimana, apa yang harus dia lakukan. Siang itu, Alex kembali ke area hotel itu tanpa Zidan. Alex melihat secara seksama apa yang terjadi karena di sana pun ada polisi yang sedang menyelidikinya.


"Bagaimana, apakah ada yang kalian temukan?" tanya Alex.


"Tidak ada, Pak. Ini real kecelakaan, karena kami melihat besi itu memang sudah berada di situ, dan karena kemarin ada angin kencang tanpa kita ketahui, besi itu terus bergerak dari tempatnya dan akhirnya terjatuh ke bawah," jawab Polisi.


Alex melihat ke atas, tempat besi itu terjatuh tak terlihat ada sesuatu yang mencurigakan di sana. Alex percaya dengan analisa Polisi karena di sana juga ada tim penyelidik yang dia cari sendiri.


"Baiklah, terimakasih Pak. Atas kerjasamanya," ucap Alex seraya berjabat tangan dengan polisi itu.


Tim penyelidik dari Alex pun memberikan analisanya dan semuanya sama dengan laporan Polisi itu. Alex menelpon Zee jika dirinya dan Alex tak akn pulang hari ini, Alex memberitahukan semuanya dan membuat Zee menjadi khawatir pada Alex dan Wiliem.


"Tidak, sayang kau tetap di sana. Tugasmu itu sekarang menyakinkan Vanya, jika aku dan Wil sedang bekerja mungkin sampai satu pekan ke depan," ucap Alex.


"Apa yang kau katakan? Bagaimana aku bisa yang mengatakan itu. Dimana, Wiliem?" tanya Zee.


"Mungkin sekarang, dia sedang menemui Laudya. Kau tahu bukan seperti apa sifat Wil," jawab Alex.


"Lex apa kau tak salah membiarkan Wiliem bersama dengan mantan kekasihnya? Kau tahu sendiri jika Laudya begitu licik," ucap Zee kesal.


"Aku tahu itu, tapi tolong percayalah pada Wiliem, sayang! Aku juga belum tahu, separah apa luka yang di alami oleh Laudya," balas Alex.


Zee merasa cemas dengan keadaan Wiliem di sana, apalagi hatinya memang sangat baik di tambah lagi mereka dulu sepasang kekasih. Setelah berbicara banyak dengan Alex, Zee bergegas tuk menemui Vanya di rumahnya.


"Apa aku harus berbicara dengan Mommy? Tentang masalah ini, tapi Mommy sudah sangat renta jika harus mengetahui soal Wil dan Laudya," ucap Zee.


Zee pun memutuskan tuk pergi ke rumah Vanya, terlihat rumah itu sangat sepi. Namun, pintunya terbuka lebar, Zee memasuki rumah itu terlihat Vanya sedang berada di dapur.


"Ehem, bau apa ini. Sangat harum aromanya," ucap Zee.


Vanya terkejut dengan suara Zee, Vanya tersenyum memeluk Zee setelah melepas apronnya.


"Kenapa tak bilang ingin ke sini?" tanya Vanya.


"Hemm, Kakak cuman sebentar di sini hanya ingin memberitahukan dirimu tentang Wil," jawab Zee.


Vanya menarik Zee tuk duduk di ruang tengah, terlihat Vanya sudah sangat khawatir pada sang suami.

__ADS_1


"Katakan, Kak. Ada apa dengan Wil?" tanya Vanya.


"Anh, Alex dan Wil tak bisa pulang hari ini. Karena masalah pekerjaan mereka yang sangat padat di sana, apalagi di sana barulah turun salju. Penerbangan di sana, di tutup sampai akhir pekan," jawab Zee.


Vanya terlihat langsung bersedih, karena ternyata Wil tak bisa pulang malam ini. Zee merasa tak enak telah membohongi sang adik, namun ini demi kebaikan Vanya dan Wil sendiri.


Vanya mencoba tuk tersenyum, menatap Zee agar sang kakak tak merasa khawatir pada dirinya.


"Hem,, baiklah, Kak. Ini kan demi perusahaan, aku bisa memahami itu. Kau tak usah khawatir padaku!" ujar Vanya tersenyum.


"Kau bisa menginap di rumah Kakak, jika kau mau. Sebentar lagi musim dingin tak baik sendiri di rumah," ajak Zee.


"Hemm, ku benar. Aku akan ke rumah Kak Abi saja, menemani dia dan Kak Sam di sana," balas Vanya.


"Baiklah, kau juga harus mengabariku jika terjadi sesuatu. Aku pamit pulang," ucap Zee.


"Baiklah, kau hati-hati di jalan," balas Vanya memeluk Zee.


Setelah kepulangan Zee, Vanya menangis menatap semua makanan dan kamar yang sudah dia rapikan. Sungguh, Vanya merasa sangat sedih karena Wil tak bisa pulang. Air matanya tak berhenti mengalir karena rasa sesak di dadanya.


"Kau kemana? Kenapa tak bisa di hubungi, Bukankah Kak Zee baru saja bertukar kabar dengan Kak Alex?" ucap Vanya yang kesal.


Wanita itu terus menghubungi sang suami, namun tak ada jawaban dari Wiliem. Vanya semakin sedih sore itu, kenapa dia tak bisa berbicara dengan Wiliem.


Milan, Italia.


Dokter dan suster datang melihat keadaan Laudya dan sudah mengganti ranjangnya dengan lebih rendah agar Laudya bisa langsung berpindah tanpa mengangkat tubuhnya. Laudya merasa jika Wiliem memang masih peduli padanya, walaupun kata-katanya begitu menyakitkan dirinya.


"Baiklah, terimakasih," balas Laudya.


Lissa kembali membawa baju ganti dan juga makanan, di belakangnya terlihat Zidan datang dengan seorang wanita muda yang terus bergelayut di tangannya.


"Bagaimana keadaanmu, Lau?" tanya Zidan.


"Seperti yang kau lihat, aku cacat dan tak secantik hari kemarin," jawab Laudya.


"Cih, kau terlalu naif Laudya. Apa kau tak tahu jika kau tak bisa lagi berjalan tuk selamanya?" tanya Zidan.


"Aku tahu, sangat tahu bagaimana keadaanku saat ini. Lalu, apa maksudmu kemari hanya untuk menghinaku?" tanya Laudya.


"No,no, kau masih berharga tuk ku, Lau. Aku masih membutuhkanmu, jadi aku ingin kau sembuh dengan cepat!" seru Zidan dengan seringainya.


"Ok, pergilah! Aku ingin istirahat, jika kau ingin aku cepat sembuh dan berguna lagi tuk dirimu!" ujar Laudya.


Lissa hanya bisa menunduk takut akan kehadiran Zidan. Dia sebagian wanita merasa sakit hati dengan ucapan Zidan yang seperti membuang Laudya yang sudah cacat itu.


Zidan keluar setelah mengatakan itu, Laudya masih memalingkan wajahnya. Lissa mendekati Laudya dan memeluknya, Laudya hanya bisa menangis dalam diamnya menyembunyikan semua perasaannya yang sungguh begitu hancur.


"Menangislah, Nona! Aku akan pura-pura tidak tahu, jika menangis membuat perasaanmu lebih tenang," ucap Lissa.


Laudya semakin tersisa mendengar ucapan dari Lissa, entah kenapa sore itu dia menjadi wanita lemah setelah mengalami kecelakaan itu. Lissa setia memeluk dan menepuk lembut punggung Laudya yang menangis.

__ADS_1


"Aku tak menyangka jika wanita secantik dia menjadi simpanan dari lelaki tua yang jahat itu. Lihat saja tadi, Tuan Zidan begitu acuh setelah melihat keadaan Nona Laudya, sungguh aku tak menyangka mempunyai bos seperti dia," gumam Lissa yang sedang duduk di depan ruangan Laudya.


Alex baru saja pulang saat malam hari, terlihat Wil sedang duduk termenung sambil meminum anggur dekat jendela. Alex masuk begitu saja tanpa menyapa Wil, memilih mandi dengan air panas tuk menyegarkan tubuhnya.


Saat Alex keluar terlihat Wiliem menatapnya dengan terkejut, membuat Alex memutar matanya dengan malas.


"Kapan kau kembali? Aku tak tahu jika kau ada di kamar mandi?" tanya Wil.


Alex tak ingin menjawab pertanyaan dari saudaranya itu, karena dia tahu jika Wiliem hanya melamunkan hal-hal yang tak berguna saja.


"Apa yang kau pikirkan? Ini sudah malam, apa kau tak merasakan sesuatu terjadi di tempat lain, Wil?" tanya Alex.


"Sesuatu apa? Malam, apa maksudmu?" tanya Wil seraya melihat keluar jendela dan dia melihat langit sudah gelap.


"Astaga, Vanya," teriak Wil seraya mencari ponselnya dan benar saja ada sepuluh panggilan tak terjawab dari Vanya.


Wil menatap Alex, dan dengan santainya Alex mengangkat bahunya seraya merebahkan tubuhnya dan tidur.


"Sial, aku sampai melupakan istriku sendiri," umpat Wil pada dirinya sendiri.


Alex yang mendengar itu hanya bisa tersenyum jahil, membiarkan sang adik merasa bersalah karena terus memikirkan Laudya dan melupakan Vanya istrinya sendiri.


Wiliem menelpon Vanya dan beruntungnya, saat itu juga diangkat oleh Vanya. Wiliem meminta maaf sebelum sang istri berbicara pada dirinya.


"Maafkan, aku sungguh aku lupa mengabarimu sayang," pinta Wiliem memelas pada Vanya.


"Apa kau sudah makan? Aku di sini sedang makan omlete kesukaan mu, rasanya sangat enak," ucap Vanya.


Wiliem menghembus napas panjang, membayangkan jika sekarang Vanya sedang menangis dengan memeluk lututnya di atas ranjang.


"Kau marahlah, bentak aku, umpat aku sesuka dirimu, An. Aku pantas mendapatkan itu, karena telah membuatmu menunggu dan menangis, asal jangan diamkan aku seperti ini!" pinta Wiliem dengan lirih.


"Aku rindu padamu," ucap Vanya dengan menangis.


Sungguh Wiliem merasa bersalah pada dirinya sendiri, ingin rasanya dia berlari pergi menemui istrinya dan memeluknya dengan erat.


"Aku hanya rindu padamu, aku sangat merindukan dirimu, aku tak ingin dirimu saja," sambung Vanya masih terisak.


Wiliem meremmas rambutnya dengan kuat mengingat jika Vanya hanya sendirian dirumah.


"Sayang, kau ada dimana? Jangan menangis, pergilah kerumah Zee atau Kak Ara, jangan sendirian di rumah," pinta Wiliem.


"Aa-aku ada di rumah Kak Abi, aku sedang menemani dia. Kau jangan khawatir, jaga dirimu baik-baik! Aku dengar dari Kak Zee, jika di sana sedang turun salju," balas Vanya.


"Emm, ya benar. Salju di sini sangat lebat, aku lihat berita juga penerbangan akan di tutup sepekan kedepan," ucap Wiliem.


"Jangan lupa pakai mantelmu! Makan dan minumlah yang hangat. Jangan banyak keluar hotel," balas Vanya.


Malam itu, Vanya dan Wiliem menghabiskan malam musim dingin itu bersama walaupun hanya lewat telepon. Alex bersyukur karena tak ada pertengkaran antara Vanya dan Wiliem. Malam itu pun, Alex bisa tidur dengan nyenyak karena satu masalah sudah terselesaikan.


Bersambung🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2