
Rindu...
Rindu... Rindu... Rindu..
Suatu rasa yang tak terlihat namun bisa kita rasakan...
Rasanya menyesakkan jiwa
Rasa yang membuat luka
Rasa yang datang dalam kesepian
Rindu...
Tak bisa kita genggam
Namun bisa sangat menyakitkan
Apakah ada obat tuk rindu
Selain bertemu
Sudah dua purnama sudah lelaki itu tertidur semenjak kecelakaan tersebut, tak ada lagi tanda-tanda dia akan kembali sadar.
Vanya melihat Sam yang terbaring di ranjangnya, tatapannya kosong menerawang jauh ke belakang.
"Kak, apa yang kau lihat di sana? Siapa yang kau di temui di alam mimpimu? Kembalilah, kami menunggumu di sini," lirih Vanya menunduk sedih membuat air matanya menetes tepat di telapak tangannya dengan bebas.
"Da-dadadada," terdengar suara Yuan dari belakang.
Putra dari Sam itu sudah berjalan dengan sangat lincah, berjalan menghampiri Vanya yang duduk di dekat Sam.
Tangan kecilnya, mengapai baju sang tante. Vanya tersenyum menatap Yuan, putra kecil itu menatap polos sang tante.
"Ada apa sayang? Apa, kau mau melihat ayahmu?" tanya Vanya seraya memangku Yuan.
Yuan terus mengoceh memanggil sang ayah dengan bahasanya. Vanya mendekatkan balita itu di samping wajah sang ayah, tanpa di diduga Yuan menyentuh wajahnya dan mencium begitu saja Sam.
"Yuan rindu ayah?" tanya Abigail.
Seakan mengerti apa yang di bicarakan ibunya balita itu terus mengoceh memberi jawabannya, Yuan bermain menepuk-nepuk dada sang ayah.
"Jangan sayang, nanti ayah sakit!" ucap Vanya gemas kembali memangku Yuan.
"Ya,,, yayah," oceh Yuan begitu menggemaskan.
"Apa? Yayah, ah kau anak pintar. Benar, dia ayahmu yang senang tertidur pulas," ucap Vanya.
Abigail tersenyum melihat Vanya dan Yuan, Abigail sudah pasrah dengan keadaan Sam yang koma. Tapi, dia akan bertekad selalu bersamanya sampai kapan pun. Sampai lelakinya itu bisa kembali membuka matanya dan terbangun dari ranjang kesakitan itu.
"Kau tak dengar, Sam? Anakmu memanggil dirimu, apakah kau tak ingin mengendongnya, memeluknya dan melihat putra kita? Yuan sangat lucu," batin Abigail.
"Kak, ini siang. Aku harus segera ke kantor Wil, Kak Kiara akan datang sebentar lagi menjemput Yuan. Kau tidak apa kan?" tanya Vanya.
"Ada Diana yang membantuku, biarkan saja Yuan lebih lama di sini menemani aku dan Sam," jawab Abi tersenyum.
"Baiklah, aku pergi ke kantor Wil sekarang. Dan kau pangeran kecil, jangan makan dan diamlah sebentar saja," ucap Vanya menatap Abigail, setelah itu mencium pipi Yuan sebelum keluar ruangan.
"Te' ,, ****,," oceh Yuan melihat Vanya yang keluar dari sana.
Terlihat langkah kecilnya berjalan ke arah pintu, Diana menggendong Yuan dan melihat kepergian Vany. Yuan melambaikan tanganya pada Vanya.
"Oh, Tuan muda. Kau begitu pintar di usia kecilmu ini," ucap Diana.
Vanya mengemudikan mobilnya dengan kecepatan sedang menuju kantor Wil, saat berhenti di lampu merah mobilnya berada tepat di samping mobil yang sangat dia kenali.
"Itu mobil Wil, mau kemana dia? Bukannya dia berada di kantor, siapa yang memakai mobilnya?" tanya Vanya.
Tanpa berpikir panjang, Vanya mengikuti mobil itu dan melupakan tuk mengunjungi kantor suaminya. Vanya tak ingin berpikir buruk pada Wil, maka dari itu Vanya terus mengikuti mobil itu.
__ADS_1
"Ini bukan jalan ke kantor, tapi ini jalan menuju club itu," gimana Vanya.
Vanya yang semakin khawatir pun menelpon Zee dan memberikan dia, jika dirinya sedang mengikuti mobil Wil dan menuju ke club.
"Berhenti, Vanya! Jangan ikuti mobil itu, sekarang kau bisa kembali ke kantor. Kakak tunggu kamu!" pinta Zee dengan suara tegas.
"Tapi, Kak. Wil pergi ke club itu," balas Vanya.
"Kau percaya padaku bukan? Jika ia, kembalilah sayang!" perintah Zee.
Vanya pun membelokkan mobilnya dan menancapkan gas dengan sangat kencang. Terdengar decitan ban mobil di atas aspal.
"Kenapa Kak Zee, terlihat cemas dan terkejut saat aku mengatakan melihat mobil Wil," gumam Vanya.
Zee yang berada di ruangannya pun merasa cemas, jika Vanya tak menurutinya. Wanita cantik itu terus mondar-mandir sambil terus menatap pintu.
"Kenapa dia begitu lama? Apakah dia masih terus mengikuti mobil itu," gumam Zee.
Ceklek...
Terlihat Vanya masuk dengan wajah penuh tanya dan mungkin kesal, terlibat dari tatapan matanya itu.
"Aku kira kau masih tetap mengikutinya," ucap Zee.
Vanya masih diam, tapi tetap memeluk Zee karena sudah menjadi kebiasaan di keluarga itu.
"Siapa yang memakai mobil itu? Kemana Wil dan Kak Alex?" tanya Vanya.
"Duduklah dulu, kenapa kau begitu serius. Mobil itu tak ada suamimu atau suamiku," jawab Zee.
"Apa maksudmu? Lalu siapa yang berada di dalam mobil itu?" tanya Vanya.
"Mobil itu di pakai oleh teman Alex dan dia meminta mobil Wil. Untung saja, kau menelponku jika tidak kau bisa dalam bahaya," jawab Zee.
"Astaga, kenapa aku begitu ceroboh. Lalu dimana mereka?" tanya Vanya.
"Hufh, kenapa menemui dirinya saja begitu sulit," ucap Vanya cemberut.
Zee hanya bisa tertawa kecil, kenapa jika melihat Vanya, Zee merasa melihat dirinya saat muda.
"Memang ada apa, kau mencari Wil?" tanya Zee.
"Tak ada, hanya ingin makan siang saja."
Vanya duduk di sofa besar itu sambil memainkan ponselnya sedangkan Zee kembali bekerja di mejanya.
Terlihat Cory masuk ke dalam ruangan membawa makanan dan minuman tuk mereka.
"Terimamsih, Nona Cory," ucap Vanya sembari tersenyum.
"Ya, Nona. Silakan, sebelum makanannya menjadi dingin," balas Cory.
Zee menghentikan kerjaannya dan duduk di samping Vanya, siang itu mereka milih makan di kantor dan menghabiskan waktu berdua di dalam ruangan Zee.
"Aku akan langsung pulang saja, maaf tak bisa mampir. Sampaikan salamku tuk Alya," ucap Vanya.
"Baiklah, kau hati-hatilah! Ini sudah malam," pinta Zee.
Vanya mengangguk ia dan kembali menyalahkan mobilnya pergi dari rumah Zee. Setelah tak melihat mobil Vanya, Zee menelpon snah suami.
"Kau dimana? Apakah urusanmu belum selesai?" tanya Zee.
"Apa kau berada di rumah? Sayang, masuknya di luar udaranya sangat dingin," jawab Alex.
Zee tersenyum karena mendengar ucapan Alex, bagaimana dia bisa tahu jika dirinya berada di luar rumahnya.
"Kabari aku jika smeuanya sudah selesai! Aku akan masuk dan istirahat," ucap Zee.
"Tidurlah, kau tahu bukan kita tak akan bisa bertemu selama tiga hari. Jaga kesehatanmu dan jangan dekat-dekat dengan lelaki lain," balas Alex.
__ADS_1
"Huh,,, kau kira siapa yang berani mendekati aku?" tanya Zee.
"Jangan menggodaku, Zee. Kau itu wnaita cantik dan para kaum adam sangat suka tipe wanita seperti dirimu. Kau tahu, selama ini aku selalu waspada menjagamu," jawab Alex.
"Baiklah, Tuan Alexander! Aku patuhi semua perintahmu dan kau juga harus mematuhi peraturanku! Jangan sampai milikku tersentuh oleh wanita-wanita nakal itu," ucap Zee dengan nada dingin.
Glek, Alex mendengar suara Zee yang dingin, membuat jantung berdegup kencang.
"Kenapa, dia terdengar menakutkan jika bicara seperti ini?" batin Alex.
"Tidak akan, kau biza percaya padaku. Aku merindukan dirimu," ucap Alex.
"Aku juga merindukan dirimu," balas Zee.
Sambungan telpon pun terputus, Zee merasa tenang dan bisa tidur nyenyak malam ini. Walaupun, tak ada Alex di sampingnya.
Ting...
(pesan) -Sayang, malam ini dan malam berikutnya kau harus tidur sendirian. Tanpa ada aku di sampingmu yang selalu memelukmu. Anh, aku begitu merindukan dirimu. Sejak pagi, aku tak bisa melihatmu, menyentuhmu dan tak bisa berada di sampingmh. Aku sungguh merasa menderita-.
"Kenapa dia memberikan pesan seperti ini? Apakah dia akan begitu melankolis jika sedang merasa rindu?" ucap Vanya sembari tersenyum.
(pesan) -Terimakasih sudah merindukan aku. Kau juga pasti tau, jika aku melebihi itu. Aku sangat merindukan suamiku.-
Vanya membalas pesan tersebut, setelah itu membersihkan tubuhnya dan tertidur. Karena dunia sudah menunjukkan tengah malam.
"Kau sudah mengirimkan depanmu?" tanyq Alex.
"Ya, tentu. Tolong selesaikan dengan cepat!" pinta Wil.
"Tentu, aku akan melakukannya dengan cepat. Setelah itu kita bisa bebas bernapas," balas Alex.
Terlihat langit Italy yang penuh cahaya dari balik jendela hotel, Wil dan Alex sedang berada di negara Italy. Mereka sedang melakukan perjalanan bisnis di sana, Zidan meminta mereka tuk datang.
"Aku akan gila jika ada Laudya di sini, wanita ular itu pasti akan mengincar salah satu dari kita," ucap Alex.
"Masalah itu kau jangan khawatir, kita akan bisa melakukannya bersama. Jadi, kita harus berhati-hati dengan Zidan," balas Wil.
Selama tiga hari ke depan mereka akan melakukan bisnis yang mungkin saja akan membuat mereka ke susahan.
"Zidan, are you sure? Wiliem dan Alex ada di sini?" tanya Laudya dengan sangat antusias.
Zidan memberikan ponselnya yang terdapat foto keduanya. Laudya begitu senang karena bisa kembali bertemu dengan mereka.
"Lakukan tugasmu dengan baik! Terserah bagaiamana caranya kau harus mendapatkan salah satu dari mereka!" perintah Zidan.
"Lalu, bagaimana dengan kau?" tanya Laudya.
"Aku rasa aku akan bermain dengan istri-istri mereka," jawab Zidan dengan seringainya.
"Ya, kau bisa sangat beruntung jika bisa mendapatkan mereka. Wiliem mempunyai istri yang masih muda, sedangkan Alex mempunyai istri yang sangat mempesona," ucap Laudya.
Zidan pergi dari kamar itu, Laudya masih santai dengan tubuh polosnya yang hanya bertutupkan selimut tebal. Zidan memilih membersihkan dirinya lalu pergi meninggalkan Laudya.
"Ahh, tubuhku bergetar hanya dengan melihat foto kalian," ucap Laudya.
"Bukan hanya satu, tapi keduanya. Aku harus bisa melakukan itu, apalagi itu kau Alexander. Kau akan menjadi target kedua setelah aku bisa membuat adikmu menggila oleh diriku lagi," sambung Laudya dengan senyuman jahatnya.
Laudya sosok wanita yang hypersex, dia seorang model ternama namun dengan segala dunia hitamnya di balik panggung. Dengan paras cantik dan tubuh yang seksi menjadikannya ratu yang di gilak banyak lelaki hidung belang para pejabat tinggi.
"Mencoba mengingat kembali kejadian itu membuatku semakin merindu kalian," batin Laudya sembari memeluk tubuhnya sendiri.
Bersambung 🍂🍂🍂
Pagi, siang, sore, malam sayang-sayangku semuanya. Semoga selalu sehat, bahagia dan selalu menantikan TAKDIR CINTA.
Saya selaku penulis novel TAKDIR CINTA mengucapkan banyak terimakasih karena sudah setia membaca novel ku. Saya sangat bersyukur karena TAKDIR CINTA sudah mencapai angka 300 bab.
Ini merupakan pencapaian terbaik bagi tuk saya. Sekali lagi saya ucapkan beribu Terimakasih tuk para readers ku 😘🙏😇
__ADS_1