Takdir Cinta

Takdir Cinta
Rumah kebun


__ADS_3

Para karyawan menunduk hormat saat Rafli memasuki lobi perusahaan miliknya... Senyum merekah juga terpancar menghiasi wajah tampannya.. Rafli membalas sapaan para karyawan dengan senyum , sedangkan para karyawan wanita di buat meleleh saat melihat pemandangan yang sempurna itu. Hingga menuju lift pribadinya senyumnya tak juga luntur saat masih mengingat dirinya menggoda Ana hingga wanita itu mengambek tapi wanita itu malah merayunya dengan pesona membuat Rafli terjatuh mencintai Ana lebih dalam.


" Tak ku sangka , jantung ini tetap berdebar saat bersamamu Nana . Apa ini rasanya cinta sejati hingga mati " batin Rafli tidak menyesal mencintai Ana selama ini bahkan selamanya. Walaupun terkadang Ana cerewet dan keras kepala membuat Rafli yang tak bisa di bantah rela menurunkan ego nya , karena kasih sayang Ana mampu mengubahnya ke sosok yang yang hangat dan penyayang. Ana cinta pertamanya , wanita yang sangat acuh padanya bahkan Ana menerima cintanya dulu karena terpaksa , seiring berjalannya waktu mampu membuat Ana membalas perasaannya. Rafli , pria pemaksa untuk mendapatkan cintanya , cintanya begitu egois terhadap Ana.


" Siang pak " sapa Dewi tersenyum ramah...


" Pak " batin Rafli heran tapi ia mengacuhkannya. Biarlah , ia akan menjadi seorang ayah nantinya jadi wajar saja Dewi memanggilnya bapak.


Memasuki ruang miliknya terlihat ruangan Jimmy kosong karena seminggu ini ia menempatkan Jimmy di Amerika.


Tok...tok....


Dewi memasuki rungan Rafli membacakan apa saja kegiatan Rafli hari ini. Rafli menghela nafas berat saat melihat jadwal yang begitu padat namun ia akan menjalankan tugasnya , dimana perusahaan miliknya telah menjadi milik Ana sang istri meski Ana masih belum mengetahuinya.


Rafli terlihat membaca beberapa berkas tanpa sengaja matanya melihat tumpukan amplop dan segera melihat yang penting saja. 1 2 3 4 dan terakhir 17 terlihat amplop tanpa nama pengirim dan hanya di tujukan olehnya.


" Dewi , amplop warna coklat tapa penulisan nama , sejak kapan datang " tanya Rafli disambungan telepon.


" Tiga hari yang lalu Pak , dan satpam depan yang mengantar " jelas Dewi , kemudian Rafli segera memutuskan sambungan telepon . Ia segera menghubungi ketua security.


" Panggil satpam yang bertugas tiga hari yang lalu " ucap Rafli yang terdengar begitu dingin di telinga kepala security.


" Baik pak " jawabnya tegas.


Kepala security menatap tajam anak buahnya yang di maksud bos besarnya membuat anak buahnya gugup.


" Segera menghadap keruangan tuan muda " ucapnya tegas membuat security yang bersangkutan menjadi pusat pasi , ia menyadari kelancangannya memasuki ruangan Rafli tanpa izin sementara kepala security berlalu pergi.


" Ada apa tuan muda memanggilku langsung mengahadapnya " gumamnya melangkah maju menjalankan suara panggilan dari Rafli. Keringat dingin bercucuran dan wajah memucat menghiasi setiap langkahnya.


Dewi membuka pintu ruangan Rafli saat yang di cari bosnya berdiri tepat di depannya.


" Minumlah dulu pak " ucap Dewi sopan melihat betapa gugupnya security berbakti itu gugup.


" Pak Rafli tidak memakan orang " imbuhnya menahan tawa.


" Kurang asem bu Dewi " batin Security.


Ceklek tanpa aba-aba Dewi membuka pintu ruangan Rafli.


Ceklek tanpa aba-aba Dewi kembali membuka pintu dan bertemulah tatapan tajam Rafli yang seolah mencincang jantungnya. Dewi pergi meninggalkan mereka berdua..


" Jelaskan " ucap Rafli dingin melempar amplop yang masih tertutup dengan rapat. Security mulai menjelaskan , kronologi menemukan amplop itu di pojok gedung saat patroli mengelilingi perusahaan saat malam hari. Tanpa nama , hanya sebuah box yang ia sangka berisi bom , dengan nyawa yang hanya sedikit itu , ia mencoba membukanya dan di temukan amplop yang di tujukan hanya untuk Rafli . Karena tak ingin terlupa saat malam itu ia masuk kedalam ruangan Rafli tanpa izin.


" Maafkan saya pak , telah lancang masuk kemari " ucapnya gugup.


" Pergilah " ucap Rafli , ia hanya butuh penelasan saja. Security pun menunduk hormat dan pergi.


Melihat security telah pergi , Dewi segera melangkah menuju ruang Rafli , mengingatkan ada meeting di hotel D dengan perusahaan asing. Dewi segera mempersiapkan semuanya dengan cekatan , Rafli sendiri urung untuk melihat isi amplop yah tak begitu penting namun cukup menarik untuk mengetahui isinya. Ia memasukkannya kedalam tas kerja miliknya...


Saat Rafli dan Dewi memasuki mobil miliknya , terlihat dua orang wanita mengawasi Rafli.


" Apa kau fikir rencana murahanmu akan berhasil " ucapnya kesal karena terlihat Rafli biasa saja.


" Kau tenang saja, kau tak tahu jika amarah Rafli meluap itu bagaimana mengerikannya " jawab sekutunya gergidik ngeri mengingat saat Rafli ingin melenyapkannya.


" Maafkan aku " batinnya...


" Jika tak berhasil , aku akan menghancurkan keluargamu " ucap Agnes mengancam wanita di sampingnya.


" Dan kau harus melindungi nyawaku " sahutnya kesal.


" Tak ku sangka kau penghianat Luna " sindir Agnes .


" Jika aku terbunuh , kau pun akan terbunuh Agnes , aku menjual persahabatanku dengan Ana karena kau menjebakku " sahut Luna kesal..


" Kau jangan munafik , kau sangat membenci Ana bukan " ucap Agnes.


" Tapi aku punya rasa sayang untuk Ana " ucap Luna dengan suara meninggi.


" Apa kau ingin membatalkan rencana kita " ucap Agnes memastikan , terlihat wajah menyesal terlukis di wajah cantik Luna. Luna terdiam memutar semua memorinya saat bersama Ana , rasa irinya membuat rasa bencinya tumbuh , Luna mengakui semua ini bukan salah Ana , namun takdir tak berpihak padanya.


" Aku " ucap Luna terpotong.


" Kau tak bisa mundur , aku telah mengeluarkan uang cukup banyak dan aku bukan orang yang menjebakmu , kau tenang saja , setelah ini berhasil kita akan pergi jauh dari negara ini " ucap Agnes tegas lalu melajukan mobilnya membelah jalan ibukota J.

__ADS_1


.


.


.


Rafli mengundur meeting pentingnya kali ini untuk makan malam bersama Ana dan membuat Dewi pasrah begitu saja.


" Baik pak , saya sudah memberitahu pihak mereka " ucap Dewi saat baru saja mereka selesai meeting dengan perusahaan lain.


" Baiklah , aku percayakan padamu " jawab Rafli tersenyum dan segera memasuki mobilnya untuk menuju tempat dimana bidadarinya berada


.


.


.


Senyum mengembang nyaris sempurna Ana perlihatkan saat menyambut suaminya pulang bekerja.


" Istri siapa cantik sekali " ucap Rafli menggoda.


" Istri kamu lah mas , gak mungkin istri tetangga " jawab Ana tersenyum sembari mengambil alih tas kerja Rafli , memasuki lift bersama dan mengobrol ringan seperti biasanya.


Ana mempersiapkan semua kebutuhan mandi Rafli , kemudian Ana menata makan malam di balkon kamar mereka , ntah kenapa ia ingin makan malam romantis dengan suaminya..


Grepp


Ana tersentak kaget saat merasakan pelukan tiba-tiba dari suaminya , menghirup aroma maskulin sang suami yang begitu di sukainya.


" Kau ingin makan malam romantis sayang " ucap Rafli berbisik di telinga Ana dan Ana menjawabnya dengan senyum.


" Mas suka hal romantis darimu " imbuhnya mencium pipi chubby Ana.


" Seharusnya kau yang melakukan hal romantis mas , kenapa malah aku yang sering merencanakan makan malam romantis " gerutu Ana.


" Hey sayang , karena kau berbeda dan satu hal yang mesti kau ingat, mas sering kali membuat hal romantis untukmu " ucap Rafli.


" Dirimu juga melakukan hal romantis pasti ada maunya " batin Rafli , karena ia menyadari jika di balik acara romantis yang Ana buat pasti ada aja maunya dan Rafli tidak mempermasalahkan hal itu


" Terimakasih bunda sayang , makanannya sangat enak " ucap Rafli.


" Makanlah yang banyak , nanti ayah akan membesuk anak kita " imbuhnya tersenyum penuh arti sementara Ana hanya diam tak menolak ataupun mengiyakan .


.


.


.


Sementara terjadi perdebatan antara Maura alias Sofi dengan Mario. Sofi mengaku saat ini hamil anak Mario.


" Kenapa kau bisa seceroboh ini Sofi " bentak Mario tak menginginkan bayi dalam kandungan Sofi.


" Kau terus saja membuangnya di dalam " ujar Sofi tidak terima karena selalu di salahkan.


" Kau pergunakan fikiranmu agar hal ini tidak terjadi. Kau hanya j*l*ng ku bukan wanitaku " ucap Mario yang kini mulai menyakiti fisik dan batin Sofi.


" Aku pun tidak mau hamil anakmu Mario " ucap Sofi dengan nafas tersengal.


" Gugurkan anak ini " ucap Mario tegas.


" Dengan begitu kau mendapatkan Rafli dan aku memiliki Ana " imbuhnya , Mario berencana merebut Ana dan bayinya. Ia akan mengecoh para bodyguard Wijaya dan dokter disana , namun dengan Sofi yang hamil , ia tak mau rencananya gagal


" Tidak " sahut Maudy yang telah lama bersembunyi mendengarkan keributan mereka.


" Aku tidak setuju dengan semua ucapan kakak " ucap Maudy lirih.


" Kakak harus bertanggung jawab atas perbutan kakak " imbuhnya tegas.


" Tapi kakak mencintai Ana " jawab Mario menahan emosinya , tak guna ia menutupinya karena Maudy ataupun Sofi sering memergokinya memandang foto Ana .


" Kakak tidak mencintainya , kakak akan menyakitinya karena tujuan kakak membalaskan dendam kepada kak Rafli. Kak Rafli orang baik kak , dia yang mempertemukan kita , dia menolong nyawaku dengan mencari donor ginjal untukku. Untuk masalah kematian orang tua kita , aku yakin bukan keluarganya yang menyebabkannya. Orang tua kak Rafli menyayangi kakak bahkan setelah mereka tahu kakak penyebab kak Rafli kecelakaan mereka mau memaafkan kakak hiks...hiks... , jangan membalaskan dendam yang salah alamat ini kak. Jangan hancurkan Kak Rafli melalui kak Ana. Aku berhutang nyawa padanya kak . Aku mohon....hiksss...hiks..." ucap Maudy terisak.


" Apa kau mencintai Rafli segitu dalamnya " tanya Mario memeluk adiknya.

__ADS_1


" Jujur aku mencintainya hingga kini kak , namun aku sadar kak Rafli bukan milikku. Cinta tak harus memiliki kakak , aku juga tidak mau kakak kenapa-napa " jawab Maudy terisak.


" Belajarlah kalian berdua untuk bertanggung jawab atas perbuatan kalian , jangan menambah dosa dengan menyalahkan kehadiran anak kalian. Aku yakin , seiring berjalannya waktu , kakak akan mencintai Sofi begitu juga sebaliknya " pinta Maudy.


" Jika kakak menolak , kakak tidak akan melihatku selamanya " imbuh Maudy saat melihat Mario hendak protes. Maudy berlalu pergi, berharap ancamannya membuat kakaknya berhenti mengharapkan hal yang tak seharusnya. Apalagi Sofi tengah hamil anak kakaknya.


" Maafkan aku kak Ana , masih mencintaimu suamimu " batin Maudy.


" Nanti kita bahas jalan untuk masalah ini " ujar Mario dingin dan meninggalkan Sofi yang terduduk lemas.


.


.


.


Rafli sedang menikmati saat-saat bersama dengan Ana , kini ia dan Ana sedang berjalan-jalan pagi mengelilingi taman di belakang rumahnya yang sebagian telah berubah menjadi kebun buah.


" Kenapa rumah ini serasa di kebun saja lokasinya " batin Rafli tak tau apa-apa.


" Baguskan mas taman rumahmu " ucap Ana menjawab pertanyaan di hatinya Rafli secara tak sengaja.


" Dengan begini aku akan puas saat ingin memakan buah yang segar , lasung di petik " imbuhya tersenyum.


" Iya , kenapa tidak di tanam pohon buah durian saja " ucap Rafli menahan kesal karena ⅛ tanah kosongnya berisi kebun buah yang bersebelahan kebun bunga Ana.


" Iya itu ide yang bagus , aku akan meminta mereka menanam pohon buah durian. Karena selama hamil aku gak bisa makan buah durian " ucap Ana.


" Tidak " suara bariton keras mengangetkan Ana.


" Jiimmy " ucap Ana kaget.


" Jangan membuat mas cemburu menyebut nama pria lain " seru Rafli.


" Maaf ya mas , aku kaget dengan kehadirannya " ucap Ana , ia terlupa dengan makhluk pencemburu disisinya.


" Kenapa kau protes , aku ingin meminta mereka menanam pohon durian di kebun , ini lahan suamiku " ucap Ana tak terima.


" Bukan begitu nona " jawab Jimmy tak enak dan menatap tajam Rafli.


" Ada apa kau kemari , kenapa cepat pulang . Mengganggu saja " ucap Rafli mendengus kesal.


" Apa , kenapa sepasang suami istri ini begitu sensitif . Jangan bilang istri yang hamil membuat suami jadi sensitif. Apa dia lupa , kenanganku bersama pohon durian yang menjulang tinggi itu. Kini istrinya malah ingin menanam pohon itu dan jika aku yang ingin disuruh memanjatnya , akan ku ratakan kebun buahnya dengan tanah . Kenapa banyak sekali buah disini " batin Jimmy matanya menatap sekitar.


" Hei singkiran mata nakal mu terhadap buah matoaku " ucap Ana saat mata Jimmy terfokus melihat buah matoa yang tak pernah ia lihat.


" Ada apa kau kemari , apa urusan di Amerika telah selesai " ucap Rafli mengalihkan pandangan Jimmy.


" Jangan bermimpi untuk mencicipi buah matoanya , istriku selalu pelit berbagi buah matoanya " batin Rafli saat teringat Ana selalu menyodorkan buah lain untuknya saat ia ingin mencicipi buah matoa. Ia juga menyadari asal muasal buah segar yang terlihat baru di petik di keranjang buah Ana , ia tak ambil pusing dengan halaman kosong di belakang rumahnya yang kini berubah menjad kebun buah , bunga dan sayur.


" Rumahku bagai gubuk di tengah kebun " batin Rafli namun tak berani protes.


" Sudah selesai tuan , saya kesini membawa berkas penting pembeliaan saham perusahaan Y " ujar Jimmy dan Rafli segera membaca singkat berkas yang di bawa Jimmy , mereka tengah duduk di bangku taman , terlihat dua tukang kebun di rumahnya memetik buah yang telah matang.


" Nona , apa anda serius ingin menanam pohon durian " tanya Jimmy menatap pohon buah Ana, ia masih begitu trauma dengan kenangannya bersama pohon durian , Rafli sendiri melihat sekilas pandangan Jimmy kemudian lanjut membaca berkas kembali. Rafli tersenyum penuh kemenangan berhasil menaklukkan rivalnya dalam genggamannya.


" Tentu " jawab Ana tegas.


" Mas , aku bolehkan memerintahkan mereka menanam pohon durian , hanya sekitar lima pohon saja " tanya Ana manja pada Rafli.


" Hanya lima katanya " batin Jimmy.


" Tentu boleh sayang , lakukan sesukamu " jawab Rafli , masih fokus membaca berkas.


" Pohon durian itu sangat tinggi nona , jika ingin menikmati buah durian akan susah karena harus memanjatnya lebih dulu " ucap Jimmy mengenang masa suramnya , terjatuh dari pohon durian.


" Apa kau begitu bodoh , huh " ucap Ana.


" Apa kau punya kenangan jelek dengan pohon durian . Sepertinya benci sekali. Kau akan ketagihan dengan buahnya saat mencicipinya " imbuhnya dan tepat sasaran.


" Kenapa kau asyik mengobrol dengan istriku " ujar Rafli saat baru saja ia selesai membaca berkas dan tidak suka saat melihat Jimmy dan Ana sedang mengobrol , lebih tepatnya mereka sedang berdebat.


Jangan lupa like dan komentar...


Terimakasih

__ADS_1


__ADS_2