
Pagi harinya Zyan, Alfa dan Sam berlari di pinggir laut, disana juga ada Zee, Kita dan Zyvia. Mentari masih berselimutkan awan putih di ufuk barat.
Terlihat tubuh kekar dari tiga pemuda itu, Zee sedang meregangkan tubuhnya, tak berbeda dengan Zyvia yang sedang melakukan pemanasaran.
"Zee, tidak kah merasa ini seperti devaju, saat musim dingin di Amerika?" sindir Zyvia.
Zee menatap tajam Zyvia, sepagi ini dia mau memancing emosinya. Kiara sudah tegang melihat aura kemarahan Zee.
"Ya kau benar!! Mereka juga sama berlari seperti itu," jelas Zee.
"Dan apakah kau ingat dengan semua ucapan kita berdua saat itu?" tanya Zyvia.
"Aku sangat ingat. Dan akan terus ku ingat! Tapi kau tahu bukan, jika perasaan orang itu tak ada yang tahu," balas Zee dengan sinis.
"Dan apakah kau tahu juga Zee, jika suatu perasaan itu tak bisa dengan begitu saja hilang. Biar pun itu sudah ratusan tahun sekali pun," balas Zyvia.
"Jadi apa maksud mu kau mengatakan semua itu padaku, Via?" tanya Zee.
"Maksud apa? Tak ada, aku hanya mengatakan perumpamaan saja!" seru Zyvia.
"Huh," ucap Zee sembari berlari menjauh dari Zyvia. Kiara menatap Zyvia menggelengkan kepalanya.
"Kau sudah mulai mengibarkan bendera perang, Zyvia?" tanya Kiara.
"Ada apa denganmu? Sudah jangan urusi masalalu dan Zee!" pinta Zyvia.
Kiara benar benar marah pada Zyvia, anak yang berparas polos lugu tapi ternyata seperti ini sifat sebenarnya.
"Kita lihat saja! Sampai kapan kau terus melakukan itu, jangan harap aku diam jika kau menyakiti Zee," ucap Kiara dalam hati.
"Bertahanlah! Sampai kau puas, dan aku akan melihat seperti apa dirimu yang sebenarnya," sindir Kiara.
Kiara berlari menghampiri Zee dan Zyan didekat pantai, tersisa Zyvia yang menatap penuh emosi pada mereka.
"Kau akan melihat Zee yang terkubur dan menghilang, ingat semua ucapanku Kiara!" ucap Zyvia dengan seringainya.
Setelah selesai olah raga akhirnya mereka kembali dan bersantai di dalam villa.
Ara dan Ken sedang berjalan jalan dekat villa tanpa anak anak mereka. Bergandengan tangan, tertawa bersama begitu lepas tanpa beban.
"Ken," panggil Ara.
"Hemm,ada apa?" tanya Ken.
"Bagaimana Abi disana, apa kau sudah mengabarinya?" tanya Ara.
"Dia baik baik saja, Abi bersama keluarganya. Apa yang kau khawatirkan?" tanya Ken.
"Ya kau benar. Tapi tangan inilah yang mengurusnya sampai menjadi gadis cantik nan pintar," jawab Ara sembari menganggap tangan sang suami yang berada di genggamnya.
Ken tersenyum dan mencium tangan Ara, Ara tersenyum penuh arti pada sang suami.
"Hilangkan egomu! Cepat kau kabari anak besarmu itu!" perintah Ara.
Ken berhenti dan menatap Ara, hatinya begitu bahagia bisa memiliki Ara di hidupnya.
"Aku sangat merindukannya, aku rindu memeluk tubuh kecil itu," ucap Ken dengan suara serak menahan tangis.
Ara mengusap pelan lengan Ken, mencoba menenangkan dirinya.
"Ken, apakah kau tak bisa bertemu dengan Abi? Atau ada sesuatu antara kau dan tuan Kim?" selidik Ara menatap Ken.
"Ya kau benar, Ara. Ada perjanjian ku dengan tuan Kim tentang Abigail," jawab Ken lirih.
"Apa yang kalian janjikan? Apa Abigail menjadi taruhannya?" tanya Ara.
"Tolong jangan salah paham dulu padaku! Tuan Kim meminta Abi tuk tinggal dengannya saja selama setahun, setelah itu Abi boleh memilih tinggal dimana," jelas Ken.
Ara masih menatap tajam sang suami, dan terlihat aura menyelidik dari matanya. Ken hanya bisa menghela napas panjang.
"Aku bersumpah, tak ada selain itu. Tak ada lagi yang ku tutupi sayang," ucap Ken sembari memelas pada sang istri.
__ADS_1
Kiara pun mengangguk ia, dan mencoba percaya dengan semua yang Ken bicarakan.
*********************************
Tak bisa ku pungkiri, kenapa aku merasakan rasa yang mengegebu pada dirinya. Semua rasaku tak bisa di bandingkan dengan siapa pun, sekali pun itu wanitamu! Aku dan dia berbeda, aku ya aku! Dan wanita ya wanitamu, kini boleh tak mengungkapkan ada, tapi itu tak berlaku tuk di masa depan. Apapun itu, dan bagaimana pun aku akan terus memiliki rasa ini tuk mu selamanya.
Tatapan matanya, ucapan dari bibirnya, gerakan dari tubuhnya, aroma khas dari dirinya aku sangat menyukainya.
Biarkan aku gila dengan semua yang ada padamu! Biarkan aku gila dengan segala tentangmu, tak ada yang bisa menghentikanku!.
"Mungkin sekarang kau tak akan bisa melihatku, tak apa. Aku akan terus menunggumu," ucap Zyvia.
"Jangan gila dengan semua khayalanmu!" seru Sam.
Sam berdiri tepat di samping Zyvia, mengikuti tatapan sang adik yang tertuju pada Alfa.
"Biarkan aku gila! Jika itu bisa membuat diriku bisa bahagia," balas Zyvia tanpa menatap sang kakak.
"Kegilaaan mu bisa membuat masalah! Dan akan menyakiti banyak orang," ucap Sam.
"Dan kau lebih menghawatirkan banyak orang? Dari pada aku?" tanya Zyvia.
"Aku hanya menghawatirkan orang orang yang memang benar harus di jaga!" seru Sam.
"Huh, ya kau benar. Mereka itu lebih penting dari pada ku! Dan aku memang kendati nya hanya orang lain tuk mu!" seru Zyvia begitu emosi.
"Via!" bentak Sam.
Sam menatap tajam sang adik, aura kemarahan Sam begitu terlihat. Tangannya sudah mengenal penuh di bawah sana. Zyvia terkejut dengan sikap Sam, Zyvia semakin membenci Sam yang tak pernah mendukungnya.
"Jangan berteriak padaku!" hardik Zyvia.
"Aku sadar dan aku baru tahu apa itu artinya, darah lebih kental dari pada air. Dan hari ini kau sudah melakukannya!" seru Zyvia dengan mata yang berkaca kaca. aa
"Aku hanya akan melakukan sesuatu yang menurutku benar! Dan kali ini kau sudah kelewatan Zyvia. Kau mau melakukan hal yang buruk, kau mau melakukan apa pada Zee dan Alfa, hah?" tanya Sam.
"Bukan urusanmu! Dan aku mau, mulai sekarang jangan pernah lagi mengurusi hidupku!" pinta Zyvia.
Zyvia dan Sam menengok ke arah asal suara tersebut. Ternyata sudah ada Leo dan Cessi dibelakang mereka.
"Da-ddy," ucap Zyvia terbata. Matanya menatap pula sang Mommy yang terlihat sedih.
Dengan cepat Cessi menutup ruangan tersebut, Leo dengan langkah cepat menghampiri Zyvia dan-
Plakkkk,,,
Cessi dan Sam hanya bisa memalingkan wajah mereka. Tangan Sam kembali mengepal menyaksikan Zyviq mendapat tamparan oleh Leo. Sesungguhnya hati Sam begitu sedih, dan begitu marah melihat itu. Kasih sayang Sam pada Zyvia begitu besar.
"Da-ddy," panggil Zyvia lirih sembari memegang pipi yang memerah itu.
Leo begitu emosi, matanya memancarkan kemarahan yang begitu teramat. Cessi hanya bisa memeluk tubuhnya sendiri melihat kemarahan sang suami.
"Apa yang Daddy lakukan? Apa salah Via?" tanya Zyvia,
"Kau masih bertanya Via? Kau benar benar sudah kehilangan otakmu. Hah!" hardik Leo.
Zyvia menatap tajam pada Sam, dan kembali menatap sang ayah.
"Apa, apa yang di katakan kak Sam pada kalian? Sampai kalian bisa melakukan ini padaku!" seru Zyvia.
"Tak ada hubungannya dengan Sam. Ini semua karena dirimu sendiri Via, dan kau benar benar membuat kesabaranku habis," ucap Leo begitu dingin.
"Via, jauhi mereka! Dan lupakan semua tentang perasaanmu! Jangan kau buat semua orang membencimu!" pinta Cessi dengan suara paling rendahnya.
"Mommy, juga sama! Lebih memilih mereka, dari pada aku? Dan selalu saja membela kak Sam dari pada aku anak kalian," ucap Zyvia dengan marah.
Cessi menatap Zyvia dengan begitu sedih, sedangkan Sam hanya diam tak berbicara. Cessi melihat Sam dengan tatapan sayangnya.
"Dia memang bukan anakku, bukan darah dagingku, tapi aku tetaplah ibunya!" seru Cessi.
"Aku dan dia selalu saja berbeda di mata kalian, kalian lebih memilih orang lain," teriak Zyvia.
__ADS_1
"Via!" teriak Cessi matanya sudah melotot penuh menatap sang putri, air matanya Cessi mengalir mendengar ucapan Zyvia.
Deg,,,
Sam merasa hatinya tertusuk sembilu,,, mendengar ucapan dari Zyvia. Adik yang selama ini dia jaga, dia begitu sayangi melebihi menyayangi Vanya adik kandungnya, dan sekarang terucap juga kata kata yang selama ini Sam takutkan.
"Dad, Mom, cukup! Apa yang di katakan Via benar, aku hanya orang lain. Aku bukan darah daging kalian, terimakasih sudah mengingatkan ku!" seru Sam sembari menatap Zyvia.
Mata mereka saling bertemu, terlihat kebencian di mata Zyvia, namun di mata Sam Zyvia tetaplah adiknya.
"Via, asal kau tahu. Mereka juga bukan keluargaku, tapi mereka menyayangiku dengan tulus tanpa memandang siapa aku. Jadi aku akan menjaga mereka dari siapa pun yang akan menyakiti mereka! Sekalian pun itu dirimu," ucap Sam dengan sangat dingin.
Sam memilih tuk keluar kamar, hatinya begitu sakit, kecewa dengan sang adik, dan semua ucapannya menyadarkan dirinya yang tak bisa sepenuhnya mengatur hidup Zyvia.
Cessi mendekati Leo, menggoyangkan tangan Leo, tak ada jawaban dari suaminya. Cessi menatap lekat wajah sang putri.
"Kau sudah puas membuat putraku sakit hati, membuatnya merasa tak di hargai, kau sudah berhasil membuat dia semakin jauh dari kita," ucap Cessi dengan begitu emosi pada Zyvia.
Seakan sudah beku, Zyvia tak mengubris ucapan dari sang ibu, dia memilih memalingkan wajahnya dan menatap keluar jendela. Cessi mermmas dadanya, sungguh hatinya begitu sakit, teriris iris oleh anaknya sendiri.
"Kau keterlaluan Via, kau tak tahu apa yang sudah dilakukan oleh Sam untuk hidupmu dan keluarga kita," ucap Leo.
Leo merangkul tubuh sang istri tuk keluar dari sana, meninggalkan Zyvia sendiri.
Biarkan karang itu berdiri kokoh, biarpun selalu di terpa oleh ombak, biarkan dia berdiri sendiri tanpa ada yang menemani. Sedikit demi sedikit, pasti akan terbelah jua.
Air laut, hanyutkan segala rasa ini, biarkan mengalir dan kembali ke samudera, berenang bebas sesuai keinginan dalam hati.
"Pergilah! Jangan dekati aku lagi, bencilah! Jangan ada lagi sayang, menjauhlah agar kau merasakan sakit lagi," ucap Zyvia dalam hatinya.
Tubuh gadis itu bergetar hebat sama halnya dengan bulir bening yang menetes ke lantai kayu itu, isakan tangis yang dia sembunyikan, membuat tangisnya semakin hebat, hatinya begitu sakit dan benar benar hancur. Semua yang sangat dia sayangi akan segera lenyap saat ini juga.
"Ku mohon! Berhentilah keluar, aku tak mau terlihat lemah, aku mohon berhenti jangan menangis lagi," ucap Zyvia seraya menghapus kasar air mata yang keluar.
Tubuh mungil itu terduduk di lantai yang dingin, dengan dintemani derai air mata.
Di sisi lain, lelaki itu memilih duduk di dekat pantai, matanya memandang lurus ke depan melihat betapa luasnya lautan, deburan ombak yang bergulung cepat menyapu pasir.
Apakah aku harus benar benar seperti samudera? Harus mempunyai hati yang luas, dan diam tak melakukan apapun? Hari itu Sam menghabiskan di sana, kesedihannya begitu dalam.
"Aaaaaarrrrrrrggggggghhhhhhh,,, SIALAN!" teriak Sam melepas segala perasaannya.
"Aaarrgghhhh, dasar tak berguna!" hardik Sam seraya menendang pasir di bawah kaki nya.
Sam menangis sehari jadinya, dia terduduk lemas disana, tak ada yang tahu seperti apa hancurnya hati Sam.
"Aku menyayangimu, aku menjagamu, dan semuanya tak ada artinya sama sekali. Aku mengorbankan segalanya," ucap Sam terisak penuh sesal dalam hatinya.
"Jika kau menyesalinya, lepaskan semuanya! Dan biarkan waktu yang akan mengganti semua yang sudah kau lakukan," ucap seorang wanita yang sedang berdiri tepat di hadapan Sam.
Sam mendongak melihat siapa suara dari wanita itu? Matanya terbuka lebar menatap penuh tak percaya dengan apa yang dia lihat.
"Kau, kau kembali?" tanya Sam dengan terbata karena begitu terkejut.
"Ya, aku kembali!" sautnya dengan senyum manis di wajahnya.
"Kau, kembali padaku? Disini?" tanya Sam kembali.
"Hanya padamu! Dan hanya untuk mu," jawabnya lagi.
Sam berdiri dan langsung memeluk tubuh gadis pujaannya itu, melepas rindu yang sangat menyiksa. Obat dari segala rasa yang sekarang Sam alami.
"Aku kembali, kembali pada dirimu dan selamanya untukmu, Samudra" ucap Abigail sembari mengusap pelan punggung lelakinya.
Sam dan Abi sangat dekat, Sam mencium bibir mungil sang kekasih dengan begitu lembut, menikmati rasa sayang dan cinta yang tersalur. Abi tak menolak tak juga membalas, yang dia rasa hanya begitu bahagia, nyaman dan sangat berarti tuknya.
**Selamat membaca,,, semoga bab dadakan ini kalian suka..
jangan lupa buat tinggalkan jejak nya ya !!!
Terimakasih tuk semuanya 😘 😘 😘**
__ADS_1