
Di ruang rapat
Di dalam ruangan rapat terlihat Zizi menatap tajam seseorang yang kini tengah menundukkan kepala nya.. Tambah tegang situasi saat Rafli memasuki ruangan tersebut .
" Siapa di antara kalian yang menabrak istriku " ucap Rafli membuat semua orang ingin protes namun tak berani.
" Bukan aku yang menabrak nyonya tapi nyonya yang menabrakku " batinnya.
" Siapa berdiri " bentaknya.
" Tuan " ucap Zizi ingin meluruskan permasalahannya pun terhenti karena Rafli menatap nya tajam . Rafli sungguh membutakan dan menulikan semuanya jika menyangkut Ana dan anak-anaknya.
" Jika kalian tidak ada yang mengaku... Saya tidak segan untuk memecat kalian semuanya dan jangan harap kalian mampu bekerja di perusahaan lain " ucap Rafli memperhatikan dengan seksama para anak buahnya.
" Boli , angkat kepala mu " ucap Rafli kepada wanita paruh baya itu .
" Mampus aku " batinnya .
'' Maaf pak " ucapnya gugup .
'' Maafkan saya tidak sengaja pak " imbuhnya.
'' Apa maksudmu " tanya Rafli menelisik .
'' Saya berjalan tidak hati-hati pak , saya tidak melihat nyonya tadi sewaktu berjalan dihadapan saya " ucapnya penuh sesal , berdiam diripun percuma.
'' Apa kau tau resikonya . Istri saya lagi hamil " ucap Rafli mengusap wajahnya . Kenapa harus wanita paruh baya ini yang melakukan kesalahan , geramnya.
" Dan kalian sudah puas dengan dari rasa penasaran kalian dengan wajah istri saya. Saya minta pada kalian untuk merahasiakannya . Jika tidak , saya tidak segan-segan membuat kalian menderita hingga ke akarnya. Kalian paham " bentaknya.
'' Iya pak " jawab mereka kompak.
" Aku akan mengawasi kalian seumur hidup kalian semua " batin Rafli.
'' Kau keruangan saya sekarang " ucap Rafli lalu keluar dari ruang rapatnya dan di ikuti Zizi.
'' Kenapa ibu mengakuinya . Ibu tidak salah , istrinya yang berjalan tidak memakai mata " ucap salah satu karyawan yang selalu menggoda Rafli sedari dulu .
'' Aku harap nyonya Ana mau menolongku dan menceritakan kebenarannya " ucap Bu Boli mengusap kasar wajahnya..
'' Dasar wanita itu , suka sekali mencari perhatian " ucap Neta.
'' Wajar dia istrinya , sedangakan kau siapanya. Nona Ana bisa mendepak mu kalau dia mau " sahut Lita ketus.
''Sudah jangan ribut " ucap Boli segera menemui Rafli
Ceklek.
" Kemari " ucap Rafli menahan amarahnya...
'' Maaf sebelumnya '' imbuhnya membuat Boli syok berat karena kata Maaf dari Rafli untuk pertama kalinya . Bos yang selalu menang sendiri dan merasa dirinya paling benar kini meminta maaf.
" Keajaiban dunia ke delapan ini " batin Boli.
" Istri saya telah mengatakan semuanya , jika ia tak sengaja menabrakmu , tapi kenapa kau jalan tidak pakai mata " ucap Rafli tetap menyalahkan salah satu karyawan terbaik di kantornya.
" Maafkan saya pak " ucap Boli.
" Sudahlah , yang penting istri saya baik-baik saja. Saya tidak tega menghukummu karena prestasimu dan pengabdianmu di perusahaan ini " ucap Rafli.
" Berbohong lah kepada mereka jika kau mendapat SP 3 dari saya " ucap Rafli dan diangguki Boli .
" Keluarlah " usir Rafli memijat kepalanya yang pusing....
" Terimakasih pak " ucap Boli lega.
" Nona , terimakasih " ucap Boli tulus.
" Itu sudah kewajiban saya untuk mengatakan kebenarannya " ucap Ana tersenyum dan Boli pamit dari ruang keramat tersebut.
" Sudah jangan marah ya mas " ucap Ana .
'' Aku sudah menuruti permintaan mu agar tak memecatnya dan jangan lupa janjimu nanti malam " ucap Rafli tersenyum .
'' Iya. Ayo kita makan nanti keburu dingin " ucap Ana dan Rafli bersemangat untuk makan siang bersama keluarga kecilnya. Ana melayani suami dan anaknya dengan sangat baik.
.
__ADS_1
.
.
Italia
" Mama tidak mau tau. Pokoknya kamu harus menikah Eric " tegas Sasa tak ingin di bantah .
" Mau sampai kapan kamu memikirkan Ana terus " imbuhnya geram sendiri terhadap anaknya.
" Terserah mama jika memaksa . Asal ia kuat menghadapiku yang mencintai wanita lain " tantang Eric.
" Lolita sanggup . Mama sudah cerita semuanya dengan wanita itu tentang dirimu . Dia anak rekan bisnis papa dan anak itu baik dan cantik , samalah sebelas dua belas sama Ana " ucap Sasa .
" Apa mama yakin wanita itu sanggup menjalani rumah tangga dengan pria yang masih mencintai wanita lain " tanya Eric untuk memastikan kembali bahwa pendengarannya tak keliru.
" Iya . Kau tenang saja. Jika kau setuju satu bulan lagi mama akan mempersiapkan pernikahan mu " ucap Sasa .
" Terserah mama . Tapi aku yakin wanita itu tak akan sanggup " ucap Eric mengalah , ia bosan tiap berjumpa dengan mamanya selalu membahas perjodohan sama seperti papanya. Bertemu dengan Tasya sama saja selalu mengenalkannya dengan wanita cantik untuk ia pilih dijadikan istri.
" Mama harap Lolita mampu menggapai hatimu Eric " batin Sasa seraya menatap punggung Eric yang semakin menjauh.
.
.
.
Kedatangan Devan.
Rafli kini tengah kelimpungan mengerjakan pekerjaan kantornya , ia menyesal memberi izin untuk Zizi selama dua hari. Baru tengah hari aja ia di buat mual melihat dokumen yang tiada berhenti meminta tanda tangannya .
" Huft.. Zizi pergi kemana , sungguh nomornya tak bisa di hubungi " gerutu Rafli.
" Jimmy masih lama pulangnya " imbuhnya melihat kalender .
.....
Rumah Devan
Terlihat seorang pria terkurung layaknya burung di dalam sangkar namun terlihat begitu kotor karena ia menolak untuk makan bahkan untuk BAK aja di mengenakan selang pada pusakanya .
" Dimana kadonya " tanya Zizi setelah menghempaskan bokongnya di sofa mahal milik Devan , dengan kaki ia naikan keatas meja kristal milik Devan.
'' Ck , kau begitu bersemangat Zi " goda Devan.
" Aku ingin mengajak nya bermain lebih dulu sebelum untuk serius " cibir Zizi.
" Kau ingin bermain sendiri tanpa mengajakku " ucap Devan.
" Kau sudah puas bermain dengannya " jawab Zizi.
" Ayolah Devan tanganku sudah gatal " rengek Zizi .
" Cih . Perempuan sepertimu bisa juga merengek " cibir Devan.
" Kau " geram Zizi.
" Ayolah , kita ke aula " ajak Devan.
" Kau tidak kasihan pada Rafli , kau tinggal sendirian ia di kantor dengan tugas begitu menggunung " ucap Devan tergelak.
" Biar tau rasa sekali-kali . Kapan lagi bisa membuat nya kelabakan . Jangan taunya sayang-sayangan terus sama si bidadarinya " ucap Zizi di iringi senyum kemenangannya . Jika Dewi dan Jimmy di repotkan oleh Rafli , Zizi ingin Rafli menerima karmanya saat ini.
" Kau tega sekali " lirih Devan.
" Ayolah Devan . Kakak tersayang mu itu pasti besok memaksa ku untuk datang ke kantor. Kau tau sendiri sifat pemaksanya , jika para sekretarisnya izin libur pasti dikuranginya dan dipaksa cepat masuk kantor . Nah kalau dia malah nambah liburnya " gerutu Zizi..
" Kau jangan lupa , itu kantor miliknya " seloroh Devan.
" Aku yang lupa , bicara tentang kakakmu kepada dirimu " umpat Zizi dan mereka tertawa bersama .
Ceklek
" Menyedihkan sekali " ejek Zizi kearah seseorang yang sedang disorot lampu , terlihat sekali tangan Jerry kanan dan kirinya terikat rantai.
'' Kau atau aku yang menyedihkan " ledek Jerry , ia siap menerima ajalnya saat ini .
__ADS_1
" Kau wanita cantik yang menyedihkan , bahkan begitu menyedihkan di tinggal calon suami mu untuk selamanya " hina Jerry saat melihat Zizi terdiam bahkan kini cairan bening menetes di sudut matanya.
" Jerry " ucap Devan menggelegar.
" Aku akan membalasnya lebih buruk Baco " batin Zizi.
" Kau akan mati saja masih bisa berkoar " umpat Zizi seraya menyentuh mata dan membuka paksa mulut Jerry lalu mengetuk gigi Jerry dengan ujung hak sepatunya , Zizi najis untuk menyentuhnya. Tangan Zizi beralih ke leher Jerry lalu tatapannya terarah ke celana Jerry yang bersembunyi benda berharga bagi kaum adam.
" Aku akan memberinya kepada kucing di rumahku . Itu jika ia mau , karena benda itu begitu banyak dosa " ucap Zizi membuat semua orang melongo mendengarnya.
" Inikah sifat asli cwanita yang begitu tersakiti " batin Devan.
" Lepaskan ikatan manusia bangsat ini " pinta Zizi dan dituruti anak buah Devan setelah mendapat persetujuan Devan.
'' Tinggalkan kami " imbuhnya...
'' Aku akan mulai menyiksamu " ucap Zizi dengan mata yang di penuhi dendam , amarah serta kesedihan yang begitu mendalam . Meski menghabisi Jerry sebrutal apapun tak akan mampu mengembalikan sosok Baco disisinya .
Zizi mulai menyerang Jerry tanpa ampun , bagai se ekor citah menghabisi musuh yang hendak menyerang anaknya. Suara kesakitan Jerry begitu menggema saat Zizi memotong seluruh jarinya satu persatu .
'' Tangan ini yang menghabisi Baco " teriaknya diselingi tangis lalu memenggal tangan kanan Jerry hingga pria itu menjerit begitu kesakitan.
'' Bu...bu... bunuh a..a...a...aku saja " ucap Jerry dengan wajah pucat serta keringat dingin bercucuran. Ini tak sebanding sakitnya jika hanya mengeluarkan sebutir peluru dari tubuhnya tanpa bius.
'' Kau tidak berfikir lebih dulu menyiksa kekasihku " ucap Zizi tanpa ampun melanjutkan pembalasan dendam paling tak manusiawi nya.
Zizi menendang kuat bagian intim milik Jerry hingga sang empunya mengerang kesakitan luar biasa.
'' Mata di balas mata " geram Zizi tanpa sengan mencongkel mata Jerry yang bermanik hijau tersebut membuat pria itu tak sadarkan diri karena tidak tahan kesakitan nya.
'' Kau sungguh mengerikan Zizi " lirih Devan melihat Zizi dari kamera cctv yang sengaja ia pasang sedari dulu.
Zizi membersihkan tangannya yang berlumuran darah , jangan di tanya kondisi Jerry seperti apa yang akan membuat orang melihatnya mual bahkan bisa pingsan. Satu yang pasti pembalasan pasti lebih mengerikan dan menyakitkan . Itulah yang diterima Jerry saat ini .
'' Gantilah pakaian mu yang bau amis ini Zi " ujar Devan melihat rembesan darah di pakaian yang Zizi kenakan.
'' Aku akan segera pulang dan membersihkannya di apartemenku " ucap Zizi .
'' Tolong Devan , bawa benda laknat bajingan itu kemari " imbuhnya.
'' Aku tidak mau " tolak Devan sungguh geli memegang milik sesama jenisnya.
" Jika begitu biarkan saja tinggal disini " ucap Zizi sekenanya.
'' Enak saja. Kasih kucingmu sana " perintah Devan.
'' Kucingku pemilih Devan , ia tak suka benda banyak dosa masuk ke tubuhnya " kelakar Zizi.
'' Lalu kenapa kau memotongnya " sentak Devan namun Zizi melenggang pergi .
'' Woy sialan ambil sana " teriak Devan namun Zizi tetap cuek dan melanjutkan langkah kakinya membuat ucapan laknat Devan keluar dari mulutnya..
'' Dasar wanita itu " gumam Devan.
'' Kalian bereskan mayat bajingan itu " perintah Devan dan diangguki anak buahnya.
Didalam mobil Zizi menangis sesenggukan mengingat seluruh kenangan Baco bersamanya , meski menjalin kasih yang cukup lama namun kebersamaan mereka tidak lama mengingat jarak dan tanggung jawab yang mereka emban .
'' Selamat tidur , mimpi indahlah dan jaga dirimu baik-baik Zi . Jangan bersedih tetaplah bangkit " sebuah pesan terakhir dari Baco untuk pengantar Zizi tidur , namun Zizi membacanya pagi hari dan di susul foto yang di kirimkan Devan tentang kondisi Baco yang tak bernyawa.
" Aku mencintaimu Baco....hiks..hiks.. Bahkan setelah aku puas membalasnya tetap jiwa ini tak berarti Baco...hiks...hiks... Kenapa kau tak menjalankan misi bersama ku...hiks...hiks... ajak aku bersama mu Baco...hiks...hiks... " ucap Zizi pilu...
" Aku mencintai mu Baco " teriak Zizi disela tangisannya hingga tanpa sadar ia tak sadarkan diri didalam mobilnya yang menepi di pinggir jalan dibawah guyuran hujan yang membasahi bumi.
.
.
.
Ana tengah dilanda kecemasan saat sang suami tidak memberi kabar , ditambah cuaca di luar sedang turun hujan deras dari sore hingga malam pun tiba ...
" Nona sebaiknya tidur " ucap Nur sopan.
" Aku tidak bisa tidur Zi , suamiku belum pulang " ucapnya bersedih.
Suara ketukan pintu membuat Ana segera membuka pintunya dan sedetik kemudian ekspresi Ana berubah.
__ADS_1
Jangan lupa like dan komentarnya ...
Selamat membaca dan semoga sehat selalu 😊