
Setelah Zyan membereskan semua informasi tentang Zyvia. Semuanya pulang, Zyan yang memang tak terlalu dekat dengan Zyvia menjadi sangat terpukul atas kematian dari Zyvia.
Sam dibawa pulang oleh Alex dan Zee, sedangkan Ara menangis mendapatkan kabar jika memang benar Zyvia telah tiada. Wil masih menyembunyikan kejadian itu dari Vanya.
"Hari ini, kita akan pulang. Dan, kita akan tinggal dirumah baru," ucap Wil.
"Kenapa tak dengan Mommy?" tanya Vanya.
"Ahh,,, aku ingin berdua saja denganmu," jawab Wil.
"Berdua, apa maksudmu? Dirumah Mommy juga kita bisa berdua, Wil," ucap Vanya.
Wiliem memeluk tubuh Vanya dari belakang, mencium ceruk leher sang istri. Harum, sangat harum dan aroma itu sangat menenangkan.
"Jika hanya kita berdua, aku akan sangat bebas denganmu. Aku tak ingin menjauh darimu barang selangkah saja, Vanya," balas Wil.
Wajah Vanya memerah karena merasa malu, ucapan dari Wil membuat gadis muda itu, tahu akan sifat dari sang suami.
"Baiklah, aku akan menurutimu. Asal aku bisa terus bersamamu," ucap Vanya.
Setelah membeereskan administrasi, Wil membawa pulang sang istri ke kediaman baru mereka. Sebuah mansion yang begitu mewah, terlihat taman bunga dan kolam ikan dihalaman rumah.
Wil membawa Vanya masuk, saat pintu itu terbuka terpampang jelas foto pernikahan mereka, di dinding lain terdapat foto keluarga dari Vanya saat usia berasa tahun. Di atas lemari penuh dengan foto masa kecil Vanya dan kakak-kakaknya termasuk foto Zyvia.
Vanya menyentuh satu figura yang berisi fotonya bersama Sam dan Zyvia. Air mata, Vanya mengalir begitu saja. Terdapat juga fotonya saat kecil bersama dengan Alfa, saat itu usianya baru sepuluh tahun. Vanya begitu manja pada Alfa, mungkin bisa dikatakan Alfa itu pacar pertama Vanya.
"Apa dia Alfa kekasihnya Zee?" tanya Wil.
"Ya, dia kak Al. Kekasih masa kecilku, kau tahu Wil? Dulu aku sangat manja dan begitu mencintai dia," jawab Vanya.
"Sifatnya memang dingin, tapi hangat di dalam. Dia akan melakukan apapun demi aku, sangat menyayangi aku saat kak Sam tak ada bersamaku. Kak Al itu sudah seperti malaikat dihidupku," sambung Vanya kembali.
Wil memeluk erat tubuh Vanya dari belakang, Vanya merasakan pelukan Wil begitu hangat dan nyaman. Vanya membalikkan tubuhnya, menatap Wil menyentuh wajah sang suami sambil tersenyum. Vanya mencium kilas bibir Wil dan memeluknya kembali.
__ADS_1
"An, aku sangat mencintaimu. Aku tak bisa kehilangan dirimu, An. Aku takut saat kemarin kau tak membuka matamu, dunia ku seakan hancur begitu saja," ucap Wil.
"Maaf sudah membuat kau khawatir. Sungguh, aku tak tahu jika Nyonya Deasy bisa menusukku," ujar Vanya.
"Dia mengatakan jika aku sudah membuat anaknya menderita. Dan, dia juga mengatakan darah dibalas dengan darah, apa maksudnya?" tanya Vanya.
"Aku dengar, dia depresi setelah melakukan hal keji itu pada kita. Sam membuatnya membayar semua apa yang telah dia lakukan pada kita. Erika masuk penjara dan mencoba bunuh diri. Akhirnya, wanita itu masuk kedalam rumah sakit jiwa," ucap Wil.
Vanya terkejut mendengar menuturan dari Wil, Vanya menjadi merasa takut mengingat kejadian penusukan itu. Wiliem menenangkan Vanya dengan mencium kening sang istri.
"Sekarang kau aman, sekarang kita bebas tak akan ada lagi yang menyakiti dirimu," ucap Wil.
"Ya, semoga saja hidup kita tak akan lagi ada masalah, aku ingin hidup bahagia."
Dirumah besar itu, Wil benar-benar hanya tak menempatkan satu pelayan pun. Membuat, Vanya tersenyum tipis, sungguh Wil hanya ingin berdua saja dengan dirinya.
Malam harinya, Wil dan Vanya sedang makan bersama di atas balkon melihat bintang dan bulan, pemandangan di sekitar mansion juga begitu indah karena tak jauh dari situ terdapat danau disana.
"Darimana semua makanan ini? Bukankah, seharian ini kita hanya menghabiskan waktu didalam kamar?" tanya Vanya.
"Ooh,,, ini sangatlah ajaib. Sudah seperti di negri dongeng saja."
"Kau yang terbaik, aku akan melayanimu dengan sangat baik sayang," ucap Wil.
Makan malam romantis itu sangatlah membantu Vanya yang masih dalam masa sedih. Bisa sedikit menghilangkan rasa kehilangan atas kematian sang anak.
Setelah makan, mereka menonton film dan memakan popcron seperti di dalam bioskop. Film romantis yang sangat Vanya sukai membuatmu hanyut dalam suasana. Wil terus bermain dengan tubuh sang istri, membuat Vanya terus menggeliat geli karena sentuhan-sentuhan dari Wil.
"Wil, hentikan! Kau membuatku geli," ucap Vanya melepaskan tangan Wil dari tubuhnya.
Wil hanya tersenyum melihat Vanya yang berusaha lepas darinya. Namun, Wil tetap melakukannya lagi dan lagi, membuat Vanya hanya bisa diam dan pasrah membiarkan sang suami melakukannya sepuas hatinya.
"An, kita selesaikan saja menonton filmnya," ucap Wil dengan suara berat.
__ADS_1
Vanya terkejut mendengar suara Wil yang begitu berat dan terdengar aneh di telinga Vanya. Tatapan dari Wil begitu sayu, bibirnya sudah mencium habis bibir dari Vanya. Kecupan manis itu terus Wil berikan pada Vanya.
Tubuh Vanya bergetar saat merasakan tubuh Wil berada di atasnya. Sentuhan tangan itu membuat merinding, Vanya merasakan detak jantung Wil begitu cepat sama seperti dirinya.
"Wil, kita tak bisa melakukannya sekarang. Dokter bilang harus menunggu beberapa bulan," ucap Vanya terbata.
Seketika tangan dan bibirnya berhenti serempak. Wil terlihat kecewa dengan hanya memeluk tubuh sang istri. Vanya merasa bersalah karena tak bisa melayani sang suami yang sudah dalam mode menyerang.
"Maafkan aku! Kau harus bersabar sampai beberapa bulan," ucap Vanya.
"Aahh,, sungguh menyiksa. Juniorku sudah sangat sempit didalam sana," balas Wil dengan nada merajuk.
Vanya terkejut karena istilah junior itu, waajhnya kembali memerah ternyata Wil itu lelaki yang blak-blakan sekali. Vanya hanya bisa mengusap lembut rambut Wil.
"Aku harus apa sekarang? Aku tak tahan," ucap Wil dengan sangat manja.
"Emm, kau bisa mandi. Mendinginkan tubuhmu," balas Vanya.
"Aish,,, baiklah. Aku harus mengurus juniorku dulu, kau tidurlah!" perintah Wil.
Wil turun dari tubuh Vanya dan bergegas masuk kamar mandi. Terdengar suara shower dari dalam sana, sedangkan Vanya masih memikirkan istilah junior itu apa? Ya, Vanya memang masih sangat polos, dia itu gadis cantik namun tomboy tak begitu paham dengan istilah vulgar itu.
Vanya memakai kembali bajunya yang sempat Wil lepas, membereskan ranjang itu. Setelah selesai, Vanya menyiapkan baju baru tuk Wil.
"Semuanya sudah siap, aku akan segera tidur. Hari ini sangat lelah," ucap Vanya yang beranjak tidur.
Setelah juniornya telah kembali semua, Wil cepat-cepat keluar dan memakai bajunya. Terlihat, Vanya sudah tertidur lelap, mengarungi alam mimpinya yang indah.
"Selamat tidur sayang," ucap Wil seraya mencium kening Vanya.
Wil memilih tidur disamping Vanya, mereka pun teridur tanpa ada malam pertama. Karena, keadaan Vanya yang baru saja selesai operasi.
Wil harus bersabar tuk menahan hasratnya itu dan mungkin akan menunda dulu tuk mempunyai seorang anak.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂