
Matahari sudah tinggi di atas langit. Menyinari seisi bumi dengan sinarnya, Zee yang tak bisa merasakan keberadaan Alex pun membuka matanya.
"Lex, kau dimana?" ucap Zee seraya turun dari ranjangnya dengan berbalut selimut.
Zee membuka pintu kamar mandi, tak ada Alex disana. Akhirnya, Zee memutuskan tuk membersihkan tubuhnya. Setelah itu keliar membuat sarapan.
Di dapur sudah ada Sofia dan Alya sedang sarapan. Zee duduk disana tuk bergabung.
"Mom, apa ada yang melihat Alex? Dia tak terlihat pagi ini," tanya Zee.
"Tidak ada, memangnya kemana Alex?" tanya balik Sofia.
Terlihat Alex keluar dari kamar Wil dengan rambut yang badan dan memakai baju Wil.
"Pagi semuanya," sapa Alex seraya mencium pipi Sofia dan Alya. Lalu berjalan ke arah Zee dan mencium keningnya.
"Kau keluar dari kamar, Wil? Kalian tidur bersama?" tanya Zee.
"Ya, aku tidur bersamanya. Karena, salam perjaka itu keluar ke club dan menyusahku," jawab Alex.
Sofia dan Zee begitu terkejut, mendengar perkataan Alex. Sampai menghentikan sarapan mereka.
"Kapan dia pergi?" tanya Sofia.
"Semalam, dan aku membawanya pulang pukul dua dini hari. Dia masih belum sadarkan diri, wajahnya penuh lebam karena kena pukul dari anak buah Mamy," jawab Alex.
"Astaga, Wili. Kenapa kau tak bilang dari tadi. Ya sudah aku akan mengobati lukanya dulu," ucap Zee seraya berdiri.
"Hey, kau mau kemana?" tanya Alex seraya menarik tangan Zee.
"Kemana lagi, adikmu terluka. Aku harus mengobatinya," jawab Zee.
"Jangan sentuh dia! Kau panggilkan saja Vanya. Suruh gadis itu kemari!" perintah Alex.
"Vanya, siapa dia?" tanya Sofia menatap Alex dan Zee.
"Vanya itu, adik saudaraku Mom," jawab Zee.
"Jangan bercanda, Lex. Buat apa, Vanya kemari?" tanya Zee.
"Sudah, temani aku sarapan dulu! Biarkan saja, Wil tidur. Semalam dia banyak minum," jawab Alex.
Zee pun akhirnya duduk kembali menemani Alex dan menyelesaikan sarapannya juga.
Siang harinya, Wil baru saja sadar. Dia membuka matanya, merasakan sakit di seluruh tubuhnya, kepalanya pun terasa berat.
"Ini, bukannya kamarku? Siapa yang membawaku pulang?" tanya Wil seraya bersender di ranjangnya.
Pintu kamarnya terbuka, terlihat sosok wanita masuk dengn membawa nampan di tangannya.
Wil yang beri saja sadar, tak begitu jelas siapa wnaita itu. Tapi, saat wanita itu berada di depannya. Mata Wil melebar tak percaya siapa dia.
"Vanya, apakah benar itu kau?" tanya Wil seraya mengusek matanya.
"Ahh, kau masih mabuk Wil. Mana mungkin, gadis itu datang padamu. Sudah jelas dia tak menyukaimu," ucap Wil seraya menutup matanya.
__ADS_1
"Dasar, Om-om mesum. Sudah tua tapi seperti anak muda saja, kau itu pengecut sekali. Belum juga mendapatkan jawabannya tapi sudah patah hati terlebih dahulu," ucap Vanya.
Mata Wiliem terbuka penuh saat mendengar ucapan itu, mendengar suara yang begitu dia kenal. Wiliem menatap ke arah Vanya yang berdiri di depannya.
Wil memenjamkan lalu membuka kembali matanya. Masih tak percaya jika ada Vanya di depannya.
"Vanya, jadi benar ini dirimu? Aku tak sedang berhalusinasi bukan?" tanya Wil.
Vanya yang sangat kesal dan khawatir pada Wil pun akhirnya mencubit lengan berotot itu.
"Aww," pekik Wil.
Vanya masih diam tak berekspresi, sednagkan Wil tersenyum menatap wanita di depannya ini. Wil meraih tangan Vanya, lalu memeluk tubuh sang gadis.
Vanya diam tak membalas atau menolak, Wil memeluk perut Vanya memejamkan matanya.
"Maafkan aku, jika kehadiran ku membuat liburanmu menjadi kacau. Aku berjanji tak akan menganggumu lagi. Walaupun, perasaanku padamu itu benar-benar dari hatiku," ucap Wil.
Vanya menyimak semua ucapan dari Wil. Sejujurnya, dirinya pun merasakan sedih saat Wil mengatakan akan menjauh. Semalaman, Vanya tak bisa tidur, dia mengingat semua kenangan dirinya dengan Wil selama sebulan ini. Vanya juga menyukai Wil, tapi dia tak tahu itu rasa suka karena cinta atau karena terbiasa.
"Jika kau benar menyukai ku, kenapa kau tak menuntut jawaban dariku? Kau terus berkata akan menjauh, tak akan lagi mengangguku?" tanya Vanya.
Wil melepas pelukannya, di tatapnya wajah gadis itu. Wil begitu rindu padanya. Vanya menatap wajah tampan Wil yang penuh luka lebam.
"Aku mendengar ucapanmu yang akan kembali ke Paris hanya karena ingin menghindar dariku. Itu sangat membuatku sakit, apa sebegitu bencinya kau padaku?" tanya Wil.
Vanya memikirkan ucapan itu, lalu mengingat kalau benar dirinya pernah mengatakan itu. Dan, Wil mendengar itu, pantas saja dia langsung mengatakan perasaannya.
"Ehemm, jadi kau mendengar semua itu? Dan kau tak berpikir tuk membuat diriku tetap di sini?" tanya Vanya kesal.
"Kau itu begitu bodoh!" ledek Alex.
Terlihat Alex dan Zee masuk ke dalam kamar, Vanya menunduk karena malu, sedangkan Wil terlihat kesal karena di sebut bodoh.
"Jangan bermain-main dengan adikku, Wil. Jika kau masih sayang dengan wajah tampanmu itu," ucap Zee.
"What? Apa maksud kalian, lalu siapa yang mengijinkan kalian masuk ke dalam kamar?" tanya Wili kesal.
"Haish, dasar tak tahu terimakasih. Coba lihat baik-baik wajahmu itu, ingat apa yang kau lakukan semalam di club!" hardik Alex lebih kesal.
"Club? Jadi semalam kau pergi ke club dan pulang dengan wajah seperti ini?" tanya Vanya.
"Aku bisa jelaskan, aku tak melakukan apapun disana. Aku hanya minum saja, percayalah!" pinta Wil menatap Vanya.
"Apa kau yakin tak bermain dengan wanita-wanita disana?" tanya Vanya dengan nada menyindir.
"Come on, percayalah. Aku tak pernah menyentuh wanita seperti itu," jawab Wil.
Zee dan Alex pun hanya tersenyum tipis lalu berjalan pelan aka keluar.
"Lex, come on. Jelaskan padanya, aku tak pernah menyentuh wanita mana pun kan!" seru Wil.
Alex pun berbalik dan menghempaskan napas panjang. Seraya menatap Vanya.
"Dia itu masih perjaka. Sejak dulu tak pernah menyentuh wanita mana pun. Jadi, jika kau bersamanya kau mendapatkan barang yang masih tersegel," ucap Alex.
__ADS_1
Zee mencubit perut Alex, karena terlalu gamblang menjelaskan masalah itu pada Vanya yang notabennya masih gadis polos.
Mendengar ucapan dari Alex, wajah Vanya memerah karena malu. Sendangkan, Wil mengumpati sang kembaran.
"Jangan mengumpat padaku. Bukannya, kau sendiri yang memintaku menjelaskannya," ucap Alex menatap Wil.
"Sudahlah, pergi sana!" perintah Wil.
Alex dan Zee pun bergegas keluar, begitu pula Vanya yang berjalan akan keluar.
"Siapa yang membolehkanmu keluar. Cepat kemari, obati lukaku!" perintah Wil.
Vanya pun berbalik dengan wajah yang cemberut. Tapi, tetap mengobati luka itu dengan penuh perhatian.
Wil begitu manja pada Vanya, sosok Wil memang tak seperti Alex yang penuh gengsi. Wil lebih terbuka dan tak bisa menyembunyikan perasaannya.
"An, jangan pergi! Tetap disini bersamaku!" pinta Wil menatap sang gadis.
Vanya menatap mata Wil, lalu kembali mengobati lukanya. Vanya begitu senang mendengar itu, hanya saja dia begitu malu harus mengakui semuanya.
"Bersamamu disini? Lalu, bagaimana dengan kuliahku?" tanya Vanya.
"Kau bisa pindah kemari, asal aku bisa berdekatan denganku," jawab Wil.
"Kenapa kau begitu mudah sekali mengatakan itu? Sedangkan, siapa aku. Aku bukan siapa-siapa dirimu, Wil," ucap Vanya.
"Apa kau tak mencintai aku, An? Tolong katakan padaku!" pinta Wil dengan raut wajah yang sedih.
Vanya menghentikan tangannya, lalu memalingkan wajahnya. Hatinya masih begitu bimbang pada Wiliem. Tapi, disisi lain dia juga menyukai lelaki itu.
"Kenapa kau diam? Apa benar kau tak mencintai aku, katakan padaku. Aku akan menerima apapun itu jawabannya," ucap Wil.
"Aa-aku juga menyukaimu, aku juga menyayangimu, tapi jika mencintaimu hatiku masih bimbang. Aku pun tak tahu apa arti dari semua perasaanku padamu, Wil. Maafkan aku," balas Vanya.
Jlebb...
Jawaban dari Vanya membuat hatinya terluka, dadanya begitu sakit saat mendengar itu. Tapi, Wil mencoba menahannya dengan sekuat tenaga. Patah sudah hatinya menjadi kepingan kecil.
"Jika itu jawaban darimu, baiklah. Aku tak akan memaksamu tuk membalas semua perasaanku. Aku tak akan memintamu tuk tetap disini, hatimu adalah milikmu. Jadi, kau lah yang menentukannya," ucap Wil.
Vanya menangis setelah mengutarakan semua perasaannya, mendengar jawaban dari Wiliem. Ada rasa lega disana, tapi ada juga rasa takut dalam dirinya.
"Jangan menangis! Aku tak apa, sebaiknya kau pulanglah. Aku akan pergi tuk mandi," ucap Wil mencoba tersenyum.
Vanya menatap Wil dengan mata yang masih basah, bibirnya keluh tuk berucap. Wil menghapus air matanya, memeluk tubuh Vanya.
"Kita masih bisa berteman, seperti sebelumnya. Jadi, tenanglah tak akan ada yang berubah," bisik Wil.
Vanya membalas pelukan Wil, Vanya menangis dipelukan Wil.
"Terimakasih. Will," balas Vanya.
Setelah kepergian Vanya, Wil menguyur tubuh kekarnya di bawah shower. Dia benar-benar patah hati. Ternyata, Vanya tak menyukai dirinya.
"Aku harus segera melupakan gadis itu. Aku harus bisa melakukan itu. Tapi, kenapa dia mengatakan dia menyukai dan menyayangi diriku? Rasa itu sebagai apa, apa karena usia ku lebih tua darinya. Apakah rasa itu hanya sebagai kakak saja?" batin Wil.
__ADS_1