
" Apa yang terjadi " tanya Rafli , hatinya mendadak tak tenang saat ini.
'' Mas , Bunga....hiks....hiks... " Isak Ana berlari ke pelukan Rafli .
'' Anak yang di kandung Bunga tak bisa di selamatkan mas dan hiks....hiks... saat ini Bunga kritis keadaannya " Isak Ana .....
Rafli sendiri merasakan kesedihan saat ini , bagaimanapun janin itu adalah benihnya meski bukan wanita yang ia cintai yang mengandungnya . Air mata Rafli lolos begitu saja melewati kacamata hitam yang tengah ia pakai ...
'' Bayinya perempuan mas...hiks....hiks... " tangisan Ana semakin histeris saat tau jika bayi itu perempuan … Rafli semakin mengeratkan pelukannya pada Ana . Tubuh Ana melemas dan semakin membuat Rafli bertambah sedih..
'' Sayang bangun .... Ana .... Bangun Ana '' ucap Rafli menepuk pipi Ana , air matanya terjatuh melewati hidung mancungnya .
'' Rafli , ayo cari pertolongan untuk Ana , Ana begitu syok sedari tadi " ucap Lia membuat Rafli tersadar.
'' Biar mama yang mengurus pemakaman anaknya Bunga '' ucap Lia dan diangguki Rafli...
'' Sayang bangun ... Mas membutuhkanmu " ucap Rafli lirih .
'' Tuan , nyonya baik - baik saja . Hanya syok . Sebentar lagi juga akan siuman " ucap seorang dokter dan diangguki Rafli .
Rafli cukup merasa terpukul saat mendengar jika bayi yang di kandung Bunga keguguran , perasaan itu mengalir begitu saja saat merasakan kehilangan , bagaimanapun itu anak kandungnya , darah dagingnya sendiri . Namun demi menjaga perasaan Ana dan Ana tetap bertahan disisinya membuat Rafli menolak untuk menikahi Bunga , Rafli tak ingin mengorbankan perasaan dirinya dan perasaan Ana. Menikah tanpa cinta itu sungguh menyakitkan baginya , jika hanya untuk membiayai anak itu ia akan sanggupi tapi tidak untuk menikahi ibunya .
Ceklek .
'' Nak , bayinya Bunga akan segera di makamkan sore ini juga . Apa kau ingin hadir ke pemakaman . Lihatlah untuk terakhir kalinya saja '' ucap Lia mengusap bahu Rafli yang terlihat habis menangis .
Ingin , itu jawaban Rafli ,namun saat ini Ana belum sadar.
'' Biar mama yang menjaga Ana sayang " ucap Lia .
'' Nanti saja ma , pasti Ana akan terbangun tak lama lagi " ucap Rafli lirih.
'' Bunga keadaanya masih kritis nak. Ia dinyatakan koma , tadi sempat terjadi pendarahan meski pendarahannya sudah terhenti namun dokter menyatakannya koma " ucap Lia , rasa bersalah kini bergelut di hatinya .
'' Pestikan perawatan yang terbaik untuknya ma " ucap Rafli .
'' Iya itu pasti nak " ucap Lia mantap .
'' Lalu apa langkah mu selanjutnya " tanya Lia membuat alis Rafli bertautan karena bingung.
'' Langkah apa maksud mama " tanya Rafli memastikan .
'' Langkah yang kau ambil setelah kejadian ini " ucap Lia .
'' Untuk menikahinya , itu begitu mustahil . Ada anak saja aku tolak. Untuk mencari Geilo , aku akan terus mencarinya hingga ketemu dan aku akan memberikan Bunga modal usaha agar mandiri dan tidak mengusik keluarga kita lagi " ucap Rafli dan diangguki Lia.
.
.
.
Tangan Rafli bergetar saat menggendong jenazah anaknya . Dirinya bahkan tak sanggup melihat janin yang berusia enam bulan tersebut . Ana yang disebelahnya pun ikut menitihkan air mata , kembali mengingat peristiwa beberapa tahun yang lalu bahkan ia tidak bisa melihat bentuk bayi yang ia kandung bahkan siap lahir tersebut. Apa yang terjadi dengannya juga di alami Bunga yang tak bisa melihat sosok bayi yang di kandung ...
Setelah berdoa dan menabur bunga , Ana dan Rafli segera beranjak menuju mobil yang membawa mereka ke mansion karena Jelita dan Rava sedang berkelahi saat ini bahkan kening Rava benjol saat Jelita membentur kan kepalanya dengan cukup keras , bi Jum dan beberapa orang rumah lainnya tak mampu membuat diam Jelita serta Rava jika sudah begini. Bahkan Victoria yang cukup dekat dengan Jelita juga tak mampu membuat gadis kecil itu tenang hanya kata ayah yang terus di panggil Jelita
Jalanan terasa hening dengan pemikiran masing -masing , perjalanan selama satu jam bagaikan satu tahun lamanya dengan nuansa angker karena begitu sunyi.
__ADS_1
'' Mas , Ana " ucap mereka berbarengan dan memecahkan keheningan.
'' Mas aja yang duluan " ucap Ana ..
'' Tidak , kamu saja sayang " ucap Rafli .
'' Apa mas menyesal tidak menikahi Bunga " ucap Ana , pertanyaan itu meluncur bebas dari bibirnya , melihat Rafli begitu terpuruk atas kematian janin yang di kandung Bunga membuat Ana mengambil kesimpulan tersendiri . Rafli sendiri begitu terkejut atas pertanyaan Ana.
'' Mas tidak pernah menyesal karena tidak menikahinya tapi mas akan menyesal karena menikahi wanita lain selain kamu " ucap Rafli tegas . Ia mendengus kecewa saat merasa Ana meragukan cintanya.
'' Maaf mas . Bukan maksud ku seperti itu " ucap Ana lirih menundukkan kepalanya , Rafli segera membawa Ana dalam dekapannya .
'' Kau menyuruh mas menikahi Bunga bahkan kau sadari itu juga menyakiti hatimu Ana . Berusaha kuat untuk menerima madu mu , tapi batas sini saja dirimu merasakan sakit hati Ana. Apalagi mas yang merasa hati ini tidak bisa berbagi , mas bisa gila jika melihatmu menangis terus " batin Rafli . Memeluk Ana yang kini sedang menangis meski wanita itu berusaha agar suaminya tak mengetahuinya namun hidup bersama begitu lama membuat Rafli begitu cukup mengenal istrinya.
" Mas , apa kita tidak memberitahu bi Jum tentang Bunga " tanya Ana mendongak , terlihat jelas jejak basah di bagian pipinya .
Cup Rafli mengecup kening Ana .
" Jangan dulu , biarkan Bung tersadar , jika semua baik-baik saja lebih baik kita diam , namun jika keadaannya gawat baru kita bilang kepada Bi Jum " ucap Rafli , membuat Ana mencebikkan bibirnya . Apa Rafli menyumpahi Bunga mati .
" Jika kita memberitahu bi Jum , tak menutup kemungkinan keluarga kita akan tahu. Jika orang tuamu tau , apalagi bapak. Bapak pasti akan memintamu bercerai dariku . Sedangkan yang tau masalah ini hanya mama dan dirimu " ucap Rafli lirih. Ia hanya takut jika Gunawan akan ikut campur dalam rumah tangganya jika mengetahuinya tanpa sengaja menghamili wanita lain , sebagai anak yang penurut kepada orang tuanya membuat Rafli cukup takut akan hal itu.
" Semoga masalah ini cepat selesai mas dan Bunga segera sadar , anak Bunga juga segera ketemu dan dalang dari semua ini segera tertangkap " ucap Ana dan diangguki Rafli...
" Hukuman apa yang akan mas berikan jika dalang dari semua kekacauan ini tertangkap " tanya Ana .
" Mas akan memberikan pelajaran sedikit padanya setelah itu baru mengirimnya ke kantor polisi " ucap Rafli begitu serius dan Ana percaya , namun bukan hukuman itu yang akan Rafli berikan . Rafli akan memberikan hukuman yang begitu menyakitkan karena atas kejadian ini ia kehilangan dua putri cantiknya dan Ana sempat koma yang begitu lama , beruntung istrinya bisa tersadar dan kini bebas ia elus-elus dan peluk sesuka hati , jika tidak hancur sudah dunianya . Hukuman menyakitkan sudah tertera di dalam pikirannya , hukuman yang begitu cocok untuk dalang dari semua ini , tak peduli laki-laki atau perempuan yang jelas mereka akan mendapat ganjarannya. Ana sendiri tak mengetahui seberapa kejam suaminya terhadap para musuhnya.
.
.
.
'' Ada apa sayang " ucap Eric memeluk Vini dari belakang. Saat ini keluarga Permana sedang berada di pesawat pribadi milik keluarga mereka .
'' Aku kepikiran tentang Ericana mas dan aku merasakan bagaimana perasaan mbak Ana saat ini . Aku merasa berdosa sekali mas . Apa gak sebaiknya kita " ucapan Vini terhenti .
'' Ssssttttt. Mas belum sanggup kehilangan Ericana untuk selamanya. Jika anak ini telah lahir , mas akan membuat Ericana dekat dulu dengan keluarganya tapi bukan sekarang " ucap Eric melepas seketika pelukannya .
'' Tapi apa yang diragukan lagi mas .Mbak Ana dan Ericana begitu dekat " ucap Vini .
'' Tapi Ericana dan Rafli ada jarak diantara mereka " bantah Eric .
'' Aku hanya takut mas . Jika hal itu berbalik ke aku dan anak kita '' Isak Vini , ia takut terjadi karma padanya.
'' Aku tak akan membiarkan itu terjadi pada dirimu dan anak kita . Niat ku baik Vini . Musuh Rafli diluar sana begitu banyak , cara bisnis nya yang kejam membuat keluarganya tak bebas bergerak disana , aku hanya tak ingin Ericana terkena imbasnya. Biarkan Rafli mencari dalang dari semua kejadian yang menimpa mereka , jika masalah musuh dalam bisnisnya aku yakin Rafli dan orang-orangnya bisa mengatasinya. Rafli dan orang-orangnya cukup berani masuk ke kandang musuh dan bertahan lama " jelas Eric .
" Aku saja yang pernah bergabung dalam mafia begitu salut terhadap cara kerja Rafli berserta anak buahnya. Apalagi anak buah Devan sungguh luar biasa. Kehilangan Baco tak membuat mereka gentar " batin Eric .
" Biarkan ini berjalan dan biarkan waktu yang akan menjawab . Percayalah , jika kita menjelaskan kepada Ana . Ana tak akan lama marah dengan kita dan untuk Rafli mau jelaskan detik ini juga ataupun besok pria itu tak akan mau menerimanya dengan baik . Kita nikmati waktu kita bersama Ericana sebaik mungkin " ucap Eric berusaha menenangkan Vini . Eric berharap Ana mau memaafkan mereka suatu saat nanti jika semua ini terbongkar .
.
.
.
__ADS_1
Ana menghempaskan tubuhnya karena terasa begitu lelah berusaha untuk memejamkan matanya , hari ini sungguh berat baginya. Berpisah dari Ericana , Bunga yang keguguran dan kini keadaanya dinyatakan koma , Rava dan Jelita yang tak pernah akur sama sekali , ditambah lagi harus merahasiakan tentang Bunga dari BI Jum .
'' Jangan di pikirkan semua akan baik-baik saja " ucap Rafli memeluk Ana dengan posesif .
'' Aku rasa , hidupku tak pernah baik-baik saja mas. Ada aja masalahnya " keluh Ana .
'' Maafkan mas . Semua ini karena mas . Mas yang egois tak bisa melepaskan mu . Semua kekacauan ini berawal juga dari mas ataupun keluarga mas maka mas akan berusaha semaksimal mungkin untuk menyelesaikannya . Mas butuh semangat darimu , jangan pernah mengeluh ataupun menyesal hidup berdampingan dengan mas " ucap Rafli mencium gemas pipi Ana..
'' Aku tak menyesal hidup bersama mu mas. Ini sudah jadi resikoku . Jika hanya aku yang terkena imbasnya tak masalah bagiku , asal jangan anak-anakku dan keluargaku , dan mas harus baik-baik saja " ucap Ana membenamkan kepalanya di dada bidang suaminya , mencari kenyamanan yang selalu ia rasakan . Hingga hembusan nafas Ana terasa di dada bidang Rafli yang sedikit di tumbuhi bulu halus. Rafli tersenyum jika melihat Ana tertidur begitu pulas membuat Rafli juga ikut mengistirahatkan tubuhnya.
.
.
.
Pagi ini ruang makan di mansion Rafli dipenuhi oleh semua orang termasuk dokter Stevani beserta keluarganya semua tampak menikmati makanan yang dibuat oleh Laras saat itu. Dokter Stevani sudah terbiasa akan makan yang kaya rempah namun berbeda dengan suaminya yang tak terbiasa . Victoria yang sedari tadi melihat Dewa membuat senyum tipis di bibir Rafli , namun Victoria segera menundukkan kepalanya jika tatapan tajam Dewa mengarah padanya. Sementara Arjuna menikmati sarapannya begitu damai , lain hal nya dengan Rava dan Jeje yang terlihat saling bermusuhan.
'' Jelita , Rava . Jika makan ayah pinta diamlah , kaki kalian jangan saling menendang di bawah " ucap Rafli merasa suasana makan tak berjalan semestinya berapa kali kakinya di tendang oleh Rava dan Jelita yang ternyata salah sasaran.
'' Maaf ayah " ucap Jelita dan Rava kompak .
. . . .
Ana menikmati hari ini untuk berada dirumah , perang yang terjadi antara Jelita dan juga Rava membuat Ana yang harus bisa menengahi pertengkaran antara Rava dan Jelita. Ana berperan menjadi UNESCO saat ini yang tugasnya kini menjaga perdamaian di mansion suaminya termasuk mendamaikan Jelita dan juga Rava . Sedangkan Laras begitu bersemangat menemani Gunawan untuk periksa kesehatan. Yang menjadi faktor bersemangatnya Laras adalah mengetahui hasil tes DNA yang hari ini akan keluar. Berharap jika cucunya masih hidup dan itu Ericana.
.
.
Rumah sakit.
Gunawan segera memasuki ruangan tempatnya di periksa , dokter pribadinya yang kini tengah bertugas pun menyambutnya ramah.
" Apa kabar Tn. Gunawan " ucapnya dalam bahasa Inggris dan Gunawan menjawabnya dengan kaku karena selama di Berlin dan Amerika ia masih mempelajari bahasa Inggris , hal yang sama pun terjadi pada Laras namun Laras lebih cepat memahami .
" Alhamdulillah sehat dok " jawab Gunawan ramah.
Pemeriksaan pun segera di lakukan , dokter tersebut memeriksa dengan begitu teliti dan lebih teliti lagi apalagi yang di periksanya adalah besan dari Abdi Wijaya , pemilik saham terbesar di rumah sakit ini...
Laras sendiri segera menuju tempat dimana yang baru saja dokter sebutkan tadi melalui sambungan telepon .
" Bu Laras , silahkan duduk " ucap Dokter dengan ramah dan dibalas senyum ramah dari Laras .
Dokter terlihat berbicara bahasa Jerman dengan sang suster membuat Laras tak mengerti dan itu membuatnya kesal , serasa di katain meski nyatanya tidak begitu.
" Ini hu hasil testnya " ucap sang dokter.
Terlihat amplop masih tersegel yang berarti isi dalamnya aman.
" Baiklah dokter saya harus permisi segera dan terima kasih " ucap Laras tetap dengan senyumnya ...
Tangan Laras berkeringat dingin saat hendak membuka hasil tes DNA tersebut.
" Ibu dari mana saja " ucap Gunawan dan dengan segera Laras memasukkan amplop tersebut kedalam tas nya , beruntung Gunawan tak melihatnya . Hingga ia harus melihat hasilnya nanti .
Jangan Lupa Like dan Komentarnya.
__ADS_1
Terimakasih yang da Like dan komentar .
Selamat membaca 😊