
Setelah puas bermain, Alya meminta pukang. Dan sekarang dengan acara kejar-kejaran sampai rumah.
Alya berlari begitu kencang padahal Alex berlari pun tidak, sepertinya Alya begitu bersemangat.
"Uncle, kalah!" teriak Alya sambil loncat-loncat girang.
Alex hanya tersenyum, dia baru bisa merasakan. Jadi, seperti ini lah bermain dengan anak kecil, bisa membuatnya tersenyum rasanya ada kesenangan tersendiri di dalam hati.
"Ya, benar. Kau sangat kencang saat berlari, sudah sepet kelinci saja," seru Alex, yang sedang berjalan dengan Zee.
"Terimakasih, sudah menemani Al. Maaf, sudah merepotkan mu juga," ucap Zee.
Alex hanya menatap Zee tanpa bicara. Lalu dia seakan berpikir sambil tersenyum.
"Eh, kenapa dia tersenyum?" tanya Zee, dia begitu tak mengerti dengan Alex.
Alex sudah masuk ke dalam rumah dengan Alya, karena tadi mereka sangat senang berlari akhirnya Alex dan Alya memutuskan tuk mandi.
Selagi menunggu mereka. Zee, sedang di dapur mmbuat jus buah dan memotong buah tuk cemilan,
"Sepertinya, buah-buahan ini akan mereka makan habis. Sangat segar," ucap Zee.
Terlihat ada buah, apel, kiwi, jeruk, stoberi dan melon. Zee sudah menyiapkannya di atas piring dengan cantik.
Alex melihat Zee sangat sibuk disana, dengan rencana jahilnya. Alex diam-diam mengendap-endap di belakang Zee.
Saat sudah dekat, Alex langsung memeluk tubuh Zee dan memberikan ciuman di pipi Zee.
"Aaarrgghh, Alex! Kau mengagetkanku saja!" pekik Zee, seraya memegang dadanya.
Alex yang berhasil karena mengejutkan, Zee malah semakin mengeratkan pelukannya. Dan kembali mencium pipi Zee.
"Alex, lepas! Nanti, Alya melihatnya!" pinta Zee seraya memohon.
"Tidak bisa, kau bukannya tadi ingin berterimakasih kan padaku? Ya sudah, biarkan aku memelukmu saja!" balas Alex.
Akhirnya, Zee membiarkan Alex memeluknya. Tapi hanya sbentar. Alex pun mengangguk ia, mereka larut dalam perasaan keduanya.
"Lex, benarkan dengan semua ini? Kau tahu, aku sudah mengatakan ia pada Wili. Dan akan berusaha menerimanya!" ucap Zee dengan begitu lirih.
Alex hanya diam, tapi di dalam hatinya begitu bergejolak karena marah. Alex menutup matanya seraya mendengarkan semua yang Zee ucapkan.
"Aku sungguh bodoh. Karena masih belum bisa membedakan kau dan dia. Aku memang menyukai Wiliem karena begitu sayang pada Al. Dan dia sangat baik, rasa di hatiku hanya merasa nyaman jika di dekatnya," sambung Zee.
"Jadi, apakah kau akan tetap bersama dengan Wili? Setelah apa yang kita lakukan?" tanyaAlex dengan suara berat.
Zee hanya bisa diam, dia juga bingung akan seperti apa. Memilih siapa, satu sisi Wiliem membuat sang putri begitu bahagia, tapi di sisi lain hati Zee ada pada Alex.
Melihat tak ada jawaban dari Zee, membuat ex semakin yakin. Jika, Zee lebih memilih Wiliem dan juga kebahagiaan Alya. Alex pun melepaskan pelukannya dan berjalan menjauh.
Zee berbalik menatap Alex yang berjalan mundur, terlihat kesedihan di matanya. Zee bingung dengan situasi itu.
"Aku tahu, aku hanya kesalahan antara kau dan Wili. Jadi, aku sudah memutuskan tuk menjauh. Aku menjamin itu, aku tak akan menganggu dirimu lagi. Dan juga, lupakan malam itu!" seru Alex.
Entah kenapa hatinya begitu sakit, sekaakn ada pedang yang tertancap disana. Air mata Zee mengalir dengan begitu saja, tubuhnya tiba-tiba lemas.
"Al, Al, tunggu! Alex, Alex!" teriak Zee sekuat tenaga.
Tapi syaang Alex sudah begitu sakit hati dan tak menghiraukan panggilan Zee. Hatinya sama-sama sakit, karena cintanya bertepuk sebelah tangan.
Ini lah pertama kalinya Alex merasakan sakitnya penolankan, merasakan sakit hati, sampai dia memiliki air mata demi cinta.
Alex terus berjalan dan pergi meninggalkan rumah Zee, Alex tak kembali ke rumahnya. Dia memilih pergi ke apartemennya, melampiaskan semua kesakitannya disana.
Alya yang sempat melihat kejadian antara Zee dan Alex pun hanya terdiam. Pikiran anak usia sepuluh tahun hanya tahu, jika Zee menangis karena Alex tanpa tau apa yang terjadi.
Sudah tiga hari Zee terlihat murung, dirinya tak terlihat baik-baik saja. Hatinya begitu sepi, padahal saat ini dia sedang bersama dengan Alya dan Wiliem di sebuah Mall.
"Al, ada apa dengan Mommy?" tanya Wiliem berbisik.
"Daddy tahu, saat mati lampu itu kan paginya kita bermain dengan Uncle Alex. Setelah Alya mandi, Al melihat Uncle dan Mommy berbicara. Tapi, Mommy menangis. Lalu Uncle pergi begitu saja," jawab Alya dengan polosnya.
Wiliem baru saja ingat jika Alex juga beberapa hari ini juga begitu murung, dia sangat dingin dan kembali marah-marah jika ada kerjaan yang tak sesuai dengan dirinya.
"Ada apa dengan mereka? Trakhir aku lihat mereka baik-baik saja," batin Wiliem.
Tanpa mereka tahu, saat sedang berjalan bersama Zee menabrak seorang wanita di depannya.
"Awww," pekik wanita itu sangat keras.
Meyadarkan Zee dari lamunanya, Wiliem dan Alya pun berhenti dan menatap Zee beserta wanita tersebut.
__ADS_1
"Hey, nona apa kau bisa melihat?" tanya wanita itu dengan nada sinis.
"Maaf, maafkan aku nona," jawab Zee tanpa melihat siapa wanita tersebut.
"Kau tak apa, Zee?" tanya Wiliem seraya memegang lengannya.
"Apa kau tak apa?" tanya Alex.
"Yes, beb. Im fine!" jawabnya.
Zee yang semua menatap Wiliem pun langsung menatap sosok di depannya. Dan ternyata itu Alex dengan seorang wanita yang begitu seksi nan cantik.
Mata mereka bertemu, adq rasa tak suka di mata Alex saat melihat Wiliem menyentuh Zee. Sedangkan ada rasa kecewa di mata Zee karena Alex begitu mudanya bisa berjalan dengan wanita lain.
"Astaga, secepat itu dia bisa berpindah pada wanita lain? Sadarlah, Zee siapa kau. Dan lihatlah wanita di depanmu dia mungkin lebih spesial dan sangat di sukai Alex," batin Zee, matanya sudah berkaca-kaca.
"Jadi, kau sudah memutuskannya bukan. Kau lebih memilih Wili, ya pilihanmu benar. Dia lelaki baik-baik, tidak seperti aku!" batin Alex.
Wiliem yang melihat Zee dan Alex pun semakin mengerti apa yang sebenarnya terjadi pada mereka.
"Beb, you Ok. Come on, kita harus segera pergi!" ucap wanita itu dengan nada sangat manja.
Zee langsung memalingkan wajahnya, lalu tersenyum pada Wiliem.
"Ayo kita juga pergi! Bukannya, Alya ingin bermain di wahana permainan?" tanya Zee.
Wiliem pun mengandeng tangan Zee dan melewati Alex begitu saja. Dan itu sangat ampuh membuat hatinya terbakar cemburu.
Alya pun hanya menatap Alex dengan sedih, lalu langsung berpaling pada Wiliem
Alex yang melihat wajah Alya pun menjadi semakin tak karuan, entah kenapa dia merasa bersalah pada anak kecil itu.
"Haish, kenapa wajah anak itu? Terlihat sedih atau marah?" gumam Alex.
"Lex, bisakah kita pergi sekarang?" tanya Margaret.
"Ok, ayo kita pergi," jawab Alex.
Entah kenapa akhir-akhir ini, Zee semakin lemah saja. Dia sangat cepat terbawa suasana, emosinya semakin tak bisa dia atur. Sering sekali dia menangis hanya karena masalah sepele.
"Cukup, Zee! Apa yang harus kau sesalkan, bukannya dia sendri yang meminta mu tuk melupakan malam itu. Jadi, kau berhak ingin dengan siapa saja," batin Zee, menenangkan diri sendiri.
Tangan Wiliem masih setia mengandeng tangan Zee, Alya juga hanya bisa melihat sendu pada sang Mommy.
Zee yang mendengar suara Alya pun terhenti dan melihat ke arah Alya yang terlihat sedih.
"Hey, honey. Im ok, Sorry sudah membuatmu sedih," ucap Zee seraya mencium pipi Alya.
"Mommy, sedih karena Uncle yah?" tanya Alya polos.
Zee menatap Alya lalu melihat ke arah Wiliem yang juga sedang menatapnya. Zee menarik napas panjangnya, mencoba tersenyum dan bai-baik saja.
"No, Mommy and Uncle baik-baik saja. Kau jangan khawatir!" seru Zee sembari tersenyum.
"Seriously? Mommy tak bohong pada Al?" tanya Alya.
"Tidak nak, lihat Mommy sudah baik-baik saja. Mommy tersenyum bukan," jawab Zee.
Barulah Alya juga ikut tersenyum, lalu mengandeng tangan Zee dan Wiliem. Mereka berjalan masuk ke arena permainan. Sebisa mungkin Zee melupakan semuanya, walaupun memang terlihat sekali jika Zee memaksakan dirinya.
"Apa mereka bertengkar, apakah mereka saling salah paham?" tanya Wiliem dalam hati.
Zee memainkan bola basket, sedangkan Alya sibuk dengan permainan bonekanya. Zee yang dahulu sedikit jago bermain bola basket karena Alfa, dengan sangat mudah memasukkannya dalam ring. Tak ada satu bola pun yang tak masuk.
"Wow, lihat Al! Mommy pun begitu hebat dalam permainan bola basket," seru Wiliem.
"Emm, Mommy memang hebat. Karena Daddy yang mengajarkannya," jelas Alya seraya menatap sang Mommy.
"Alfa bisa bwain basket?" tanya Wiliem.
"Mommy pernah cerita, kalau Daddy itu tim basket saat kuliah. Daddy juga di kenal sebagai pangeran es, tampan tapi dingin," jawab Alya.
Wiliem mengangguk-angguk paham, tak sangka jika sejak kecil sampai kematiannya Alfa selalu bersama dengan Zee. Pantas saja, Zee bisa bertahan dalam bayangan Alfa selama sepuluh tahun. Karena, memang dahulu Alfa sudah seperti kehidupan bagi Zee.
Setelah merasa lelah dan pegal, Zee beristirahat dan duduk disana. Wiliem membawakan minuman tuknya.
"Minumlah!" perintah Wiliem.
Zee langsung meraihnya lalu meminum habis air tersebut dengan sekali teguk. Napasnya naik turun, keringat susah membasahi wajah dan tubuhnya.
"Sudah lebih tenang?" tanya Wiliem.
__ADS_1
"Heem,, sudah sangat lama aku tak bermain basket, ini yang pertama lagi tuk ku setelah sepuluh tahun berlalu," jawab Zee.
"Apa dulu kau tak mau memegang sesuatu yang berhubungan dengan Alfa?" tanya Wiliem.
"Ya, kau benar. Aku akan menangis dan seperti orang gila jika melakukan suatu hal yang berhubungan dengan Al," jawab Zee.
Wiliem semakin di buat terkesan dengan perasaan cinta Zee pada Alfa, karena sangat sulit mencari sosok wanita setia seperti Zee sekarang. Dia tetap setia oada kekasihnya yang sudah tiada selama sepuluh tahun.
Dan mungkin sekarang, Alex lah yang mengoyahkan hatinya. Membuat wanita kuat ini sedikit melunak karena cinta.
"Ahh,, sepertinya aku harus ganti baju! Aku sangat tak nyaman dengan baju yang seperti ini," ucap Zee.
"Baiklah, pergilah ke butik. Aku dan Alya akan menunggu mu di tempat makan jepang, ok!" pinta Wiliem.
Wiliem pun beranjak pergi dengan Alya ke tempat makan, sednagkan Zee masuk kesebuah butik disana.
Zee memilih pakaian casual dengan saja, memakai baju lengan panjang dengan celana panjang denim. Zee masuk ke dalam toilet terlebih dahulu membersihkan wajahmu dan sedikit membasahi tubuhnya dengan air.
"Sepertinya ini sudah cukup," ucap Zee melihat bayangannya di cermin.
Zee membawa baju itu masuk ke dalam ruang ganti, tanpa dia sadari sedari tadi sudah ada sosok yang memperhatikannya.
Saat Zee masuk ternyata ada sosok yang ikut masuk, itu membuat Zee sangat terkejut dan hampir berterima. Jika saja, mulutnya tak di bekap olehnya.
"Emm,emm," ucap Zee seraya melepas tangan itu.
"Jangan berteriak! Aku akan melepasnya!" pintanya.
Zee mengangguk ia, akhirnya tangan itu terlepas. Zee menatap marah padanya, sedangkan lelaki itu terlihat santai seperti tak merasa bersalah.
"Sedang apa kau disini! Bisakah kau keluar!" pinta Zee.
"Kau kembali sinis padaku? Ucapanmu, mengingatkan ku pada pertemuan kita waktu itu. Kau terlihat dingin, cuek, acuh dan sangat misterius," ucap Alex.
Zee diam tak menjawab, Zee hanya tak menyayangi saja. Jika seorang Alex bisa menjadi penguntit dan sangat berani masuk ke dalam ruang ganti wanita.
"Katakan, apa maksudmu masuk kemari? Jika tak ada yang penting, silahkan keluar! Ada yang sedang menungguku," tegas Zee dengan nada dingin.
Alex semakin geram dengan sikap Zee, baru saja tiga hari mereka tak bertemu. Tapi, Zee sudah sangat berubah padanya, apa ini karena Alex bersama dengan wanita lain. Atau memang Zee sudah memutuskan tuk menjauh melupakan semua yang telah mereka lalui?.
"Sepertinya, aku salah telah menghawatirkan dirimu. Dan aku melihat jika kau memang memilih Wil dari pada aku," ucap Alex.
"Siapa yang membuatku memilih, siapa juga yang membuatku tuk melupakan segalanya dan siapa pula yang telah membolak balikkan hatiku, Tuan Alex," balas Zee dengan nada menyindir.
Mata Zee begitu tajam menatap Alex, Zee sudah tak bisa lagi memendam rasa kekesalannya pada Alex. Dia sungguh merasa muak dengan semua perasaannya tak tak buah berujung tanpa kepastian.
Alex yang mendengar semuanya juga hanya bisa diam, namun dia juga kesal dengan yang tak bisa memilih antara dirinya atau Wiliem. Alex kesal melihat Zee bersentuhan dengan Wiliem, tapi dia juga tak bisa melarangnya. Karena memang Zee tak memilih dirinya.
"Jadi sekarang kau meyalahku? Menyalahkan semua ke bimbanganmu padaku? Sungguh, miris karena yang sebenarnya kaulah yang tak mempunyai pendirian. Kau terlalu mudah di goyahkan oleh banyak lelaki, Zee!" seru Alex.
Deg,,,,
Tanpa sadar ucapan Alex membuat hati Zee terluka. Seakan-akan Zee itu wanita murahan yang bisa di dekati setiap lelaki. Air mata Zee menetes tanpa permisi. Sungguh, Zee tak menyangka jika Alex bisa mengatakan itu padanya.
"Kau bilang apa? Aku begitu mudah di goyahkan banyak lelaki, lalu kenapa saat itu kau menolong ku? Kenapa kau membiarkan aku di lecehkan oleh Charles, huh?" bentak Zee penuh emosi.
Alex sungguh tak suka dengan ucapan Zee. Dia begitu sakit mendengar ucapan Zee, apa dia tak tahu betapa dia sangat marah saat Charles hampir memperkossanya.
"Zee!" bentak Alex.
Zee tak bergeming, dia masih menatap wajah Alex dengan air mata yang membasahi wajahnya.
Zee begitu sakit, ucapan Alex sudah keterlaluan. Alex baru menyadari jika Zee menangis saat mata mereka saling beradu.
"Zee, sorry. Maafkan aku," pinta Alex seraya ingin menyentuh pipi Zee.
"Jangan sentuh aku! Jangan sentuh wanita murahan seperti aku Tuan Alex!" sergah Zee.
Mata Alex membulat sempurna mendengar ucapan Zee, bukannya pergi Alex merobek baju yang di pakai Zee dan langsung mengunci tangan Zee di atas kepalanya.
Alex dengan ganas menciumi bibir Zee dengan kasar, mencium leher Zee dengan cepat. Zee hanya bisa menangis berusaha memberontak karena tindakan Alex.
"Huh,,huh,,huh" napas Alex naik turun setelah puas membuat Zee diam dan menangis.
"Kau mengatakan sendiri bukan, jika kau wanita murahan. Jadi aku tak akan lagi segan tuk melakukan lebih dari ini padamu. Lagi pula aku juga sudah pernah menikmati tubuhmu!" seru Alex seraya keluar dari kamar ganti.
Alex meninggalkan Zee yang masih menangis sambil memegang bajunya yang di robek paksa oleh Alex. Zee begitu merasa terhina akan perbuatan Alex, dia benar-benar di anggap wanita murahan olehnya.
Setelah menangis dan menenangkan dirinya, Zee mengganti bajunya itu dan memilih membuang baju lamanya itu. Dengan terus membuang napas panjang Zee kembali menemui Wiliem dan Alya di tempat makan.
Zee berjalan pelan dan mencoba tersenyum, namun dia kembali tegang saat melihat ada Alex dan wanita sedang duduk di depan Alya dan Wiliem.
__ADS_1
Zee benar-benar sudah lelah. Energinya sudah terkuras habis oleh Alex saat mereka di ruang ganti. Tapi, Zee mencoba tuk biasa saja, senetral mungkin Zee tersenyum agar tak membuat curiga.
"Kita lihat saja! Sampai kapan kau akan bertahan dengan sikapmu itu," batin Alex.