Takdir Cinta

Takdir Cinta
Penasaran


__ADS_3

Apa itu yang di namakan cinta pada pandangan pertama? Hatinya begitu berdebar, saat melihat dirinya. Rasa yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Siratan matanya begitu tajam, tapi ada keteduhan juga disana. Bibir yang tak terlihat tersenyum itu pun seakan menyimpan kemanisan yang belum dia lihat.


"Ada apa dengan wanita itu? Dia terlihat angkuh di luar, tapi matanya menunjukkan lain," gumam Alex.


Lelaki dewasa itu, terus saja terbayang akan sosok Zee. Wanita, yang baru saja dia temui. Alex terus memutar kursi kerjanya dengan senyuman di wajahnya.


"Ada apa dengan mu? Senyum apakah itu?" tanya Wili


Alex terkejut melihat sang adik masuk ke dalam ruangannya. Alex dengan segera menetralkan kembali dirinya.


"Wanita mana lagi, yang membuat dirimu menjadi gila?" tanya Wil.


"Hah, apakah jika aku tersenyum itu hanya karena wanita?" tanya balik Alex.


"Seperti biasanya, aku akan jawab ia," jawab Wili.


Alex tersenyum sinis pada sang kembaran. Sedangkan, Wili hanya duduk santai sambil asyik memainkan ponselnya.


"Bagaimana kontrak kerja dengan perusahaan itu?" tanya Wili.


"Sangat sukses, dan kita bisa bekerjasama dengan mereka," jawab Alex.


"Apa kau bertemu dengan Nona Zee?" tanya Wili.


"Nona Zee, apa kau juga bertemu dengannya?" tanya Alex.


"Tentu saja, dia begitu cantik, baik, pintar, apalagi senyumannya yang indah," jawab Wili.


Alex menatap Wili dengan tajam, dan berjalan mendekati Wili.


"Kau, bilang senyuman? Apa kau pernah melihat dia tersenyum?" tanya Alex.


"Bagaimana aku bisa tak melihatnya. Karena, setiap dia berbicara pasti akan terlihat senyumannya," jawab Wili.


"Dia tersenyum pada Wil, tapi kenapa saat berbicara denganku sama sekali tak ada senyuman di wajahnya," batin Alex mengerutkan dahinya.


"Memang, kenapa?" tanya Wili.


"Tidak ada, hanya saja saat bertemu denganku dia begitu serius," jawab Alex.


"Hemm,, baiklah. Aku harus segera kembali ke kantorku! Kau bekerjalah dengan baik!" perintah Wili.


"Haish, aku ini adikku atau kakakku? Kenapa kau selalu menggurui diriku, hah?" sewot Alex.


Sedangkan Wili hanya tersenyum seraya keluar dari ruangan Alex.


Semua karyawan begitu segan dengan Wiliem, karena memang fia terkenal dengan sifat lembutnya dan begitu baik hati, Alex juga begitu akan tetapi dia terlihat arogan dan sangat dingin pada para karyawan.


"Mereka itu, sama persis dan begitu serupa akan tetapi sifat mereka begitu sangat jauh berbeda," ucap karyawan.


"Tetapi, tetap saja Bos kita itu sangat tampan dan gagah, walaupun dia begitu dingin," balas karyawan lainnya.


Wiliem terus berjalan ke arah loby dan memasuki mobilnya. Melajukannya dengan kecepatan sedang, Wili terus fokus pada jalan, sampai akhirnya mobil itu terhenti mendadak. Wili mengerem dengan cepat, saat melihat ada gadis kecil yang sedang berlari ke tengah jalan.


"Mommy, mommy," isaknya dengan memeluk lututnya.


Wili bergegas turun dan menghampiri gadis tersebut. Tubuhnya bergetar karena menahan takut.


"Hay, honey, you Ok?" tanya Wili.


"Mommy, mommy," isaknya kembali.


Wili dengan segera memeluk tubuh Alya dan mendekapnya di pelukannya. Alya masih menutup matanya.


"Sayang, jangan menangis lagi! Maafkan, aku sudah membuat dirimu takut," ucap Wili


Alya menengok ke arah Wili, matanya melebar tak percaya siapa yang dia lihat.


"Da-daddy," panggil Alya terbata.


"Daddy?" tanya Wili sambil menatap ke kanan dan kekiri.


Alya menangis sambil memeluk erat tubuh Wili,sebaliknya entah kenapa hati Wili begitu sedih saat dia memanggil dirinya dengan sebutan Daddy.


"Gadis cantik, sudah jangan menangis lagi. Kau ikut denganku saja, Ok!" pinta Wili.


Wili menggendong Alya ke dalam mobilnya, tapi Alya masih menangis saja.


Wili bingung mau memulangkan kemana Alya, akhirnya dia terus berputar- putar saja di taman kota. Sampai tangisan Alya akhirnya berhenti menangis dan tertidur.


"Gadis cantik, dimana rumahmu?" tanya Wili.


Tak ada jawaban dari Alya, saat melihatnya ternyata Alya sudah tertidur.


"Eh, gadis kecil ini tertidur," ucap Wili sembari membenarkan posisi duduk Alya, dan menidurkan kursi kebelakang agar bisa lebih nyaman.


"Apa, aku bawa pulang saja! Saat bangun nanti baru aku antar dia pulang?" tanya Wili pada diri sendiri.


Akhirnya Wili membawa Alya kerumahnya, saat turun dari mobil dan menggendong Alya, Nyonya Sofia yang sedang menyirami tanaman menghampiri sang putra.


"Siapa dia, Wil? Anak siapa ini?" tanya Sofia.


"Mom, biarkan dia tidur dahulu! Nanti, aku ceritakan semuanya!" pinta Wili.


Sofia pun akhirnya mengikuti Wili ke kamar tamu, Alya di baringkan disana. Sepertinya anak itu begitu kelelahan, baju sekolahnya kotor. Akhirnya, Sofia mengantinya dengan piyama kecil yang langsung dia pesan.


"Apa dia masih tertidur, Mom?" tanya Wili.

__ADS_1


"Ya, dia begitu lelap. Wil, ceritakan siapa dia!" pinta Sofia.


"Aku tak tahu siapa dia, yang aku tahu aku hampir menabraknya," ucap Wili sedih.


"Astaga, Wili. Apa anak itu terluka? Dan, apa kau tahu anak siapa dia?" tanya Sofia.


"Dia sejak tadi menangis, dan dia hanya menyebut diriku Daddy, Mom," jawab Wili.


"Daddy? Kenapa, anak itu memanggilmu Daddy. Kau tak macam-macam kan Wiliem?" tanya Sofia.


"Mom, jangan bercanda! Aku tak seperti Alex, yang selalu berganti-ganti pasangan," jawab Wili dengan kesal.


"Hufh, syukurlah! Bukan maksudku, tuk menyamakan kau dengan Alex. Maafkan, aku!" pinta Sofia.


Wiliem beranjak pergi tanpa menjawab ucapan dari sang Mommy. Wiliem pergi ke kamar tamu, melihat dengan seksama wajah Alya yang begitu ayu nan imut.


"Daddy, kemana Daddy mu sayang? Kau terlihat terkejut saat melihatku tadi," ucap Wili sambil mengusap pelan wajah Alya.


Di sisi lain, Zee sangat cemas karena tak bisa menemukan Alya di sekolahnya. Zee mencari ke semua ruang sekolah tapi tetap tak ada, air matanya sudah mengalir deras, memikirkan harta paling berharganya tak bisa di temukan.


"Kami dimana, Al? Mommy disini nak!" seru Zee terus berlari menyusuri lorong kelas.


Dunia Zee seakan hancur seketika itu juga, sudah satu jam dia terua mencari di sekolah dan taman dekat sekolah.


"Anak ku dimana kamu, nak," batin sedih begitu sedih.


Zee menghubungi Rio dan Rino, jika Alya menghilang. Ken langsung memarahi kedua anaknya, dengan serega mereka berpencar mencari Alya.


"Dimana kamu, princess? Maafkan, kak Rino, Al," ucap Rino merasa bersalah.


Zee sudah menangis di pelukan Ken, karena Alya masih saja belum di temukan, ini sudah larut malam, Rio dan Rino sampai meminta teman-teman jalanannya tuk membantu mereka mencari Alya.


"Kak, bagaimana jika terjadi sesuatu pada, Alya," isak Zee.


"Tenanglah, mudah-mudahan saja Alya bertemu dengan orang baik," ucap Ken menenangkan sang adik.


Zyan yang baru saja di beritahu oleh Ara, langsung menuju tempat Zee berada.


"Zee, bagaimana putriku?" tanya Zyan.


"Masih belum di temukan, Al menghilang dari jam 10.00 pagi, dan sekarang masih belum di temukan," jelas Ken.


Zee masih menangis, teringat akan Alfa dan Alya bersamaan. Zee smakin menangis kala hatinya tiba-tiba terasa sesak.


"Tidak, jangan kau ambil lagi anakku! Aku hanya punya dia, dalam hidupku, aku mohon Tuhan!" pinta Zee menggenggam kalung pemberian Alfa.


Sam berlari kencang menghampiri Zee dan yang lainnya. Wajanhnya begitu panik, di lihatnya Zee yang masih terisak.


"Al, dimana kamu nak? Tuhan, tolong lindungi Alya, aku sudah berjanji akan menjaga dan melindunginya," batin Sam begitu sedih dan merasa bersalah.


Malam semakin larut, Zee sudah begitu lemah karena sudah menangis seharian ini, tak ada asupan apapun selama dia menangis.


"Zee, bangun! Kau kenapa?" tanya Zyan menepuk pipi Zee.


Ken memeriksa keadaan Zee, dan memberikan Zyan kalau dia hanya kelelahan dan perut yang kosong.


"Kau bawalah dia ke rumah! Biarkan Ara merawat Zee, aku dan Sam akan mencari sekali lagi disini!" perintah Ken.


"Baiklah, maaf sudah merepotkan," balas Zyan.


Sesampainya di rumah, Ara segera memeriksa Zee, membiarkan jarum infus terpasang di tangannya. Karena, Ara tahu jika nanti Zee tak akan mau makan.


******************


Esok paginya, barulah Alya terbangun. Matanya mengerjap menyesuaikan cahaya lampu di atas plafon.


"Aku ada dimana? Kenapa kepalaku, sakit?" tanya Alya sembari menatap ruangan itu.


"Ini bukan kamarku, aku ada dimana?" Alya turun dari atas ranjang.


Ceklek,,, pintu terbuka masuklah Nyonya Sofia membawa nampan berisikan bubur dan susu.


"Kau sudah bangun, gadis manis?" tanya Sofia sembari tersenyum.


"Maaf, Nyonya, aku ada dimana? Apa ini masih berada di Finlandia?" tanya Alya.


Sofia tersenyum dan duduk di dekat ranjang, menyentuh tangan Alya. Namun, Alya segera melapskan tangannya, Akyabdalam mode waspada.


"Jangan, takut padaku! Aku hanya ingin memberikanmu sarapan, karena sejak kemarin kau belum makan, bukan?" tanya Sofia.


Alya memegang perutnya yang memang keroncongan, Sofia mengambil susu lalu memberikan pada Alya.


"Minumlah! Setelah ini kau bisa mandi, Wili akan mengantarkan mu pulang," ucap Sofia.


Alya mengingat kejadian kemaren saat dia berlari dengan menangis, hampir tertabrak lalu ada Daddy nya. Memeluk dirinya.


"Nyonya, dimana Daddy? Dia akan disini kan?" tanya Alya dengan mata berkaca-kaca.


"Daddy? Maksudmu, Wiliem?" tanya Sofia.


"Dia, Daddy ku. Aku ingin bertemu dengan dia! Aku mohon, Nyonya biarkan aku bertemu dengan Daddy ku!" pinta Alya dengan deraian air mata.


Sofia mengingat akan cerita Wili tadi malam, saat menceritakan gadis itu memanggilnya dengan sebutan Daddy.


"Tapi, maaf nak. Dia anakku, namanya Wiliem dan dia bukan Daddy mu!" ujar Sofia.


Alya semakin menangis, dia ingat kembali akan kenyataan jika Daddy nya sudah meninggal. Tapi, hati kecilnya sungguh sangat menginginkan kalau lelaki kemarin itu adalah Daddy nya yang hidup kembali.


"Mom, Mommy," teriak Wiliem dan Alex bersamaan.

__ADS_1


"Kau ada apa mencari Mommy?" tanya Wili.


"Aku ingin sarapan. Tapi, aku ingin omlete masakannya!" seru Alex.


"Kekanakan! Kau itu sudah 32 tahun!" ujar Wili.


"Hey, jika aku sudah 32 tahun. Lalu bagaimana dengan dirimu Tuan Wiliem Alexander?" tanya Alex sinis.


"Wil," teriak Sofia dari dalam kamar tamu.


Wili dan Alex pun berjalan bersama memasuki ruangan itu, terlihat Alya sudah bangun. Wili tersenyum padanya, sedangkan Alex merasa heran kenapa ada anak kecil di rumahnya.


"Nak, apakah kau tahu mana lelaki yabg disana yang telah menolongmu?" tanya Sofia.


Alya berjalan pelan, menatap Alex dan Wili berganti. Rupa mereka sangat sama tak ada yang berbeda, postur tubuh sama kekar dan tinggi. Mungkin, hanya Ibu dan Ayahnya saja yang bisa membedakannya.


Sofia terus menatap Alya, sedangkan Wili dan Alex tetap diam berdiri di tempatnya.


"Daddy, kau kah itu?" tanya Alya menatap Alex.


Seketika tatapan Wili berubah sendu, karena Alya tak mengenali dirinya. Sofia hanya bisa menoleh napas panjang.


"Apa, dia bilang Daddy? Apa aku mempunyai anak dengan wanita bayaran ku?" batin Alex penuh cemas.


Saat satu langkah lagi, Alya bukannya memeluk Alex yang berada di depannya. Melainkan langsung memeluk tubuh Wili dengan erat, menangis di dada bidangnya.


"Daddy, Al mohon jangan pergi lagi! Alya rindu Daddy," isak Alya.


Wiliem terus mendekap tubuh mungil Alya, tak segan juga tuk mencium pucuk kepala sang gadis kecil itu.


"Baiklah, Daddy akan bersamamu! Asalkan, kau harus habiskan dulu sarapanmu. Setelah itu kita pergi temui Mommy mu!" perintah Wili.


"Baik, Daddy. Tapi, bisakah kau suapi aku!" pinta Alya.


Wili dengan cepat menggendong tubuh Alya dan mendudukannya di tepi ranjang. Menyuapi Alya dengan penuh sayang, dan sangat perhatian.


"Nak, siapa namamu?" tanya Sofia.


"Alyandra Zevara, Nyonya," jawab Alya.


"Nyonya? Tidak nak, kau harus memanggilnya grandma!" perintah Wiliem.


"Grandma," panggil Alya seraya menatap ke arah Sofia.


Sofia begitu bahagia saat mendengar Alya memanggilnya dnegna sebutan Grandma, Sofia mencium pipi dan kening Alya.


Berbeda dengan Wili dan Sofia, Alex masih berdiri di tempatnya menatap Wili dan Alya bergantian.


"Serously? Wili mempunyai anak, dan sudah sebesar ini. Wah, aku tak menyangka ternyata dia mempunyai wanita simpanan di luar sana, memiliki seorang anak gadis pula," batin Alex menduga-duga.


Alex berjalan mendekat, menatap Alya dengan seksama. Lalu menggeleng-gelengkan kepalanya.


"Ini benar anakmu, Wil?" tanya Alex penasaran.


"Seperti yang kau dengar. Dia memanggilku dengan sebutan Daddy," jawab Wili.


Alex membuka mulutnya, menganga tak percaya jika Wiliem Alexander yang terkenal begitu baik, lembut pada semua wanita dan selalu menjaga perjakanya, ternyata memiliki seorang anak gadis.


"Kau, gila, Wil?" tanya Alex.


"Alex, jaga bicaramu! Disini ada Alya yabg masih kecil!" hardik Sofia.


"Sorry, Mom.Aku kelepasan," balas Alex.


Alya tak menghiraukan keberadaan Alex yang berada di depannya. Dia hanya fokus pada Wiliem saja, dan terus menggengam tangan Wili dengan erat.


"Makan dengan perlahan! Jangan, kau paksa seperti itu. Kau akan tersedak!" pinta Wili.


Alya tersenyum dan menghabiskan sarapannya setelah itu meminum habis susunya.


"Grandma, thank you," ucap Aya sopan.


"Yes, princess. Your welcome," balas Sofia.


Sofia berdiri sembari membawa napan kosong itu, mengikuti Sofia yang berada di dapur.


"Mom, apa benar dia anak Wil?" tanya Alex.


"Anggap saja ia, dan kau jangan merecoki lagi hidup adikmu!" perintah Sofia.


"Astaga Mom, kau mengancamku! Anakmu demi anakmu yang lainnya?" tanya Alex kesal.


"Sudah, tidak usah bersandiwara lagi! Mommy sudah tau kelakuanmu dengan wanita lajang di luar sana," sindir Sofia.


"Ahhh, sudahlah. Aku berjanji tak akan mengacaukan lagi hidup Wil," ucap Alex bersungguh-sungguh.


Sofia tak menjawab tapi tangannya terus bergerak membuatkan sarapan tuk Alex yaitu omlete kesukaannya.


"Aku pegang janjimu! Awas jika kau mengingkarinya, akan ku bunuh kau!" ancam Sofia.


Setelah mengancam Sofia meletakan omlete di atas meja makan.


"Aah,, jika saja tak ada makanan ini. Aku mungkin sudah mencaci maki, ibuku sendiri," gumam Alex.


"Lex, aku belum tuli dan sangat mendengarnya!" sindir Sofia.


"Astaga, Mommy. Omlete mu memang benar-benar paling nikmat sedunia," teriak Alex.


Sofia tersenyum melihat anak sulungnya yang terlihat tertekan dengan ancamannya. Tapi, ancaman itu sungguh-sungguh Sofia lakukan tuk melindungi wanita yang dekat dengan Wili.

__ADS_1


Sekian dan Terimakasih


__ADS_2