Takdir Cinta

Takdir Cinta
Nyata


__ADS_3

Kembalinya Abigail membuat hidup Ken dan Ara semakin lengkap. Entah, kenapa mereka merasakan bahagia yang begitu amat, Ara merasakan mempunyai anak gadis karena Abi sekarang tak segan tuk bermanja pada dirinya, dan begitu menyayangi Rio dan Rino.


Tak jauh berbeda dengan, Ken dan Ara. Sam juga merasakan kebahagiaan, karena bisa kembali bersama dengan gadisnya itu.


Mereka kembali pada kehidupan masa kuliahnya, Abi dan Zee selalu pergi bersama. Sedangkan, Zyvia memilih menjauh dari mereka. Apalagi setelah pertengkarannya dengan Sam.


"Sore ini, kita pergi jalan yuk!" ajak Zee sembari menarik tangan Abigail.


'Memang kau mau kemana?" tanya Alfa.


"Kemana saja, asal kita selalu bersama," jawab Zee.


"Kita atau kalian berdua?" goda Sam melirik Zee dan Alfa.


"Hey, kita semua. Bukan hanya aku dan Alfa saja," balas Zee.


Abigail dan Sam tertawa bersama, sedangkan Zee cemberut karena merasa di kerjai. Alfa hanya diam memalingkan wajahnya berpura tak tahu apapun.


"Kenapa kau begitu memikat? Hanya dengan melihatmu saja, sudah membuat aku begitu memujamu," gumam Zyvia.


Dia memang menjauh tapi matanya akan terus mengawasi Alfa dari kejauhan. Sama seperti hari ini, Zyvia diam-diam mengintip dari kejauhan.


"Aku akan melakukan apapun, demi dirimu. Biarkan waktu terus berputar dan aku akan tetap mencintai dirimu, dengan rasa ini, dengan semua yang ku miliki, aku akan segera mendapatkan mu. Biarkan semua orang akan membenciku! Dan mungkin, akan menyalahkan aku!" ucap Zyvia.


Bukan Zyvia namanya jika dia akan berhenti, menyerah tuk sesuatu yang dia inginkan. Gadis bule, itu memang sudah mempunyai sifat yang penuh abis tak ada yang bisa mengalahkan egonya. Gadis yang mempunyai hati baik, tapi juga mempunyai otak yang penuh dengan ambisi dan ego yang begitu kuat.


Mata itu terus menatap penuh cinta pada Alfa, bisa dibilang Zyvia itu seakan hanya terobsesi pada Alfa. Bukan rasa cinta atau pun sayang yang dia rasakan.


"Tersenyumlah! Sebelum tangismu kembali merundung hidupmu," ucap Zyvia dengan seringainya menatap tajam Zee.


Zyvia pun memilih pergi, setelah melihat Alfa dan Zee. Sedangkan Zee dan yang lainnya tak ada ya g tahu. Jika, sedari tadi Zyvia selalu memperhatikan mereka.


"Baiklah, selesai kuliah kita akan pergi," ucap Alfa.


Zee tersenyum manja menatap lelakinya, itu. Tapi, Alfa menanggapinya, dengan datar tanpa ada senyuman.


"Huh, dasar lelaki batu, kutub es!" umpat Zee.


"Jangan selalu mengumpatku! Kau akan semakin padaku nanti," ucap Alfa.


Sam dan Abi pun memilih diam, berpura tak mendengar ucapan dua sejoli yang selalu saja bertengkar itu.


"Lebih baik kita pergi saja, biarkan mereka," ucap Sam.


Abigail pun mengangguk ia, diam-diam mereka pun pergi dari sana. Zee dan Alfa masih saja berdebat, sampai tak menyadari kalau dua temannya telah pergi.


"Kapan kau akan mengalah padaku?" tanya Zee.


"Zee, aku selalu mengalah pada mu sayang!" seru Alfa dengan nada yang rendah.


Zee, cemberut menatap Alfa, dengan cepat Alfa memeluk tubuh Zee. "Maafkan, aku sayang! Ya, aku mengaku salah. Ok," ucap Alfa.


Zee hanya tersenyum dan membalas pelukan dari kekasih hatinya.


"Al, aku begitu menyayangi dirimu. Jika, aku bisa memilih aku ingin terus bersamamu, dan meminta pada Tuhan. Jika, suatu hari nanti terjadi sesuatu pada kita. Biarkan aku saja yang menghilang terlebih dahulu, agar aku tak merasa sedih karena kau tak ada," ucap Zee.


Alfa melepas pelukannya menatap tajam pada Zee. Semua yang di ucapkan, Zee membuat hati Alfa begitu sedih, dirinya menjadi sedikit takut jika akan terjadi sesuatu pada kekasihnya itu.


"Jika kau pergi? Lalu, bagaimana denganku? Bagaimana dengan hidupku tanpa mu?" tanya Alfa.


Zee menatap sendu mata Alfa, di belainya wajah lelakinya itu. Tanpa diperintah bulir bening itu sudah membasahi pipinya. Alfa terkejut, menghapus cepat air mata itu.


"Princess kenapa kau menangis? Maafkan aku, hey aku mohon berhentilah menangis!" pinta Alfa merasa bersalah.


"Ini air mata bahagia, Al. Aku begitu bahagia bisa memiliki dirimu, dan bisa mendapatkan cinta dan kasih darimu," ucap Zee sembari tersenyum manis.


Alfa begitu lega mendenganya, karena Zee tidak apa-apa. Di peluknya lagi Zee sembari mencium kening Zee. Kemesraan mereka sudah menjadi asumsi publik di dalam universitas tersebut.

__ADS_1


"Kita masuk, sudah waktu kelas di mulai!" seru Alfa.


Zee tersenyum dan menarik tangan Alfa, mereka pun berjalan berdampingan, tanpa melepas genggaman tersebut. Zee selalu bisa tersenyum lebar jika sedang bersama Alfa. Namun, bisa juga di buat menangis karena ucapan Alfa yang kadang masih tertinggal watak cueknya.


Di dalam sudah ada Zyvia yang memilih duduk di kursi favorite Zee, Alfa pun ingin mengusirnya. Tapi, di larang oleh Zee dan membiarkan Zyvia duduk disana.


"Kita duduk di depan saja bagaimana?" tanya Zee.


"Baiklah, kita duduk disini saja. Ok," jawab Alfa.


Abigail dan Sam yang ternyata baru masuk pun, terkejut melihat Alfa dan Zee duduk di barisan depan? Tapi, saat ingin bertanya matanya menatap Zyvia yang sedang asyik duduk di tempat Zee.


"Bhie, kita juga duduk di depan!" perintah Sam.


Abi, hanya mengangguk ia. Menuruti sang kekasih. Dengan senyuman di wajah Sam, membuat sihir tersendiri tuk Abigail.


Karena dosen sudah datang, akhirnya mereka pun diam dan mengikuti kelas dengan seksama. Zyvia tak bisa konsen karena melihat sikap Alfa yang menurutnya begitu kelewat batas memanjakan Zee.


**********************


Air terjun


Terdengar gemericik air dari kejauhan, terlihat empat anak adam dan hawa yang sedang menikmati keindahan ciptaan NYA. Pemandangan yang begitu indah, pohon yang menjulang tinggi dengan udara yang segar.


"Apakah masih lama?" tanya Zee.


"Tidak, setelah kita menanjak dan berbelok sedikit. Disitulah nanti kita bisa bermalam," jawab Alfa.


Zee dan Abigail begitu senang. Mereka bergandengan tangan, menyanyi bersama dan bergurau.


Setelah sampai di puncak, ternyata pemandangannya sangat begitu indah dan membuat siapa saja yang melihatnya begitu takjub.


Terdapat air terjun yang begitu indah dengan air yang begitu jernih. Dan di sampingnya ada dua kamar tuk menginap.


"Astaga, ini sungguh sangat indah," ucap Zee sembari berputar.


Sedangkan, Alfa terus menatap sang gadisnya dengan senyuman di wajah tampannya. Zee begitu senang karena ini yang pertama kalinya dia berkunjung ke tempat seperti ini.


"Kau suka princess?" tanya Alfa.


"Tempat ini terbaik, aku sangat suka, Al." jawab Zee.


Alfa menghampiri Zee, mencium kilas bibirnya. Membuat Zee malu, pipinya merah merona.


"Apa yang kau lakukan? Disini ada Sam dan Abi, malu tahu!" seru Zee menutup wajahnya.


"Tuk apa kau malu? Coba libat sahabatmu itu sedang apa dengan Sam!" perintah Alfa berbisik.


Zee pun berbalik dan melihat Sam dan Abi sedang berciuman di bawah guyuran air terjun. Dengan segera, Zee menyembunyikan wajahnya di dada bidang Alfa.


"Kenapa?" tanya Alfa.


Zee mendongakkan wajahnya menatap Alfa, dengan cemberut. "Sejak kapan, Sam dan Abi melakukan itu?" tanya Zee.


"Entahlah, aku tak mau mengurusi mereka, sekarang yang aku pikirkan itu dirimu," ucap Alfa sembari mengeratkan pelukannya.


Tubuh mereka benar-benar menempel sempurna, tak ada jarak sedikit pun. Terasa getaran hebat dari tubuh Zee seakan ada aliran listrik di tubuhnya.


Lummatan itu, membuat terbang jiwa Zee sampai keangkasa raya, ini memang bukan yang pertama kalinya dia berciuman dengan Alfa. Tapi, entah kanapa setiap mereka berciuman. Pasti, akan merasakan sensasi yang berbeda.


Alfa dengan lembut, mencium bibir Zee menikmati hangatnya tubuh Zee dan napas Zee. Alfa bermain dengan cantik, melakukannya dengan kelembutan.


Malam harinya mereka membuat makanan di dekat air terjun, disana ada dapur terbuka, ada pula persediaan makanan.


"Ini benar-benar amazing banget. Kita bisa tidur di dalam hutan seperti ini, tapi tetap bisa merasakan kenyaman tuk tidur dan bisa makan tanpa susah payah," ucap Zee heboh.


"Tapi sayang, kita hanya bisa menginap semalam saja disini. Karena, sudah banyak orang yang mengantri giliran mereka tuk bisa merasakan kenyamanan ini," balas Sam.

__ADS_1


"Baiklah, sekarang waktunya makan. Setelah kita harus segera tidur! Karena suhu disini akan smekain dingin di malam hari," jelas Alfa.


Akhirnya mereka pun makan dengan cepat, menikmati sebentar bintang-bintang di langit, terlihat begitu dekat saat ada satu bintang yang melesat cepat di atas mereka.


"Waktunya tidur! Cepatlah masuk!" perintah Alfa.


Zee dan Abigail pun beranjak berdiri dan akan memasuki kamar mereka. Namun, Alfa menarik tangan Zee dan membawanya kekamar kedua. Kemudian, mengunci pintu tersebut.


"Hey, kalian mau apa? Sam, panggil mereka! Mereka tak boleh tidur berdua seperti itu!" seru Abigail.


"Mereka sudah besar, lebih baik kita masuk! Aku sudah sangat kedinginan," ucap Sam seraya mengosok- gosok tangannya.


Dengan berat hati, akhirnya Abigail menuruti ucapan Sam. Mereka duduk di sisi ranjang, berdiam diri ta pa mengucapkan sekata patah pun.


"Al, kenapa kau membawaku kemari? Bagaimana dengan Sam dan Abi?" tanya Zee.


Dengan entengnya Alfa hanya diam, dan merebahkan tubuhnya. Membuat Zee kesal dan hanya bisa diam, dan ikut merebahkan tubuhnya disamping Alfa.


"Al, kenapa kau malah diam? Abi dan Sam mereka bagaimana?" tanya Zee dengan nada manja.


Alfa memiringkan tubuhnya menghadap Zee, membelai pipi sang gadis.


"Mereka sudah dewasa, apa yang kau khawatirkan?" tanya Alfa sembari mencium bibir Zee kilas.


"Al, ah... Menjauh dari tubuhku!" seru Zee sembari mendorong tubuh Alfa.


Bukan, Alfa Reza namanya jika menyerah begitu saja. Bukannya, menjauh Alfa semakin mendekat, dan menekan tubuh Zee, hingga tubuh Zee berada di bawah terkungkung oleh Alfa.


"Al, kau sedang apa? Cepat turun!" pinta Zee memelas.


Tanpa membalas ucapan, Zee. Alfa semakin berani begitu saja tanpa permisi menciuminya. Satu menit, dua menit, tiga menit, perlahan, lembut, semakin dalam dan akhirnya menjadi panas, penuh dengan gairah.


Di dalam kamar lain, terlihat Sam dan Abigail begitu canggung. Mereka diam seribu bahasa, tak ada yang memulai, hanya ada degupan jantung saja yang terdengar oleh mereka.


"Dasar Alfa sialan! Dia membuat suasananya menjadi canggung," ucap Sam dalam hati


"Mereka itu, benar-benar! Aku jadi kena sialnya, kan. Sedangkan mereka pasti sedang asyik memadu kasih," ucap Abigail dalam hati.


Karena merasa lelah, akhirnya Sam merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Sedangkan, Abi juga terlihat lelah. Tapi, begitu malu tuk tidur bersama dengan Sam.


"Aaahhh," pekik Abigail. Saat, Sam menarik tangannya dan berakhir tidur disampingnya.


Sam tak berbicara apapun, dia sudah menutupi matanya dan memeluk tubuh Abi dari belakang. Abigail pun tersenyum malu, tapi dia senang karena Sam mengerti akan dirinya.


Malam itu menjadi malam indah bagi, Sam dan Alfa. Karena, mereka bisa mendekap wanitanya dalam tidur malamnya. Sam mencium kening Abigail dengan pelan, Alfa mencium kening Zee dengan begitu lembut. Membelai wajah dan rambut dua gadis itu.


Andai waktu bisa di hentikan saat ini saja! Biarkan aku melakukan segalanya bersamamu, dan menikmati segala detik, menit, jam dengan dirimu.


Wahai malam,


Tetaplah disana, janganlah kau beranjak menjadi pagi. Karena, sinar mentari akan menyadarkanku, jika semuanya akan menjadi kenangan.


"Kau wanitaku! Sampai kapan pun, akan menjadi wanitaku!" tegas Sam memandang wajah ayu Abi.


Tak akan ada satu pun, yang bisa menyirnakan rasaku padamu! Tak akan ada yang bisa mengganti dirimu dalam hatiku selamanya. Kau akan terus bertahta sampai hilangnya raga ini.


"Zee, mau sampai kapan pun, kau tetap milikku! Dan jika pergi sejauh apapun, disitu pula ada aku yang selalu mengejarmu!" ucap Alfa.


"Aku mencintai dirimu wanitaku!" seru Alfa dan Sam bersamaan.


Setelah itu, dengan perlahan mata keduanya menutup, tertidur lelap melewati batas alam mimpi yang membuaikan mereka.


**BersambungπŸ’žπŸ’žπŸ’ž


Jangan LUPA, FAV, LIKE, RATE, VOTE, KOMEN !!!!


Terimakasih semuanya... 😘😘😘**

__ADS_1


__ADS_2