Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 316


__ADS_3

Setelah kejadian itu Wil Alex dan Laudya berteman mulai kembali, mereka menjadi seperti dulu lagi. Seperti pagi ini mereka berkumpul dan berbicara di taman, Elina yang melihat itu merasa senang namun tidak dengan Arga yang merasa cemburu dengan kedekatan claudia dan kedua lelaki itu.


"Kapan Tuan Wildan akan kembali? Lihatlah wanita itu sudah semakin membaik, Apakah dia akan dikembalikan kepada Zidane? " tanya Arga.


"Kau jangan bercanda, kita sudah susah payah membawanya kabur. Bagaimana mungkin Wildan akan membiarkan wanita itu pergi," jawab Elina.


"Siapa sebenarnya wanita itu? Kenapa Tuan Wildan sampai membawanya kemari dan dengan sukarela mengobatinya? "tanya Messi.


"Tak ada yang tahu, yang aku tahu hanya menyembuhkannya dan membuat nyaman berada di sini, "jawab Elina.


"Apa wanita itu menyukai salah satu dari mereka?" tanya Arga seraya menatap pada Elina.


" Apa kau benar mencintainya atau kau hanya kasihan padanya? "tanya Messi pada Arga.


"Kau boleh menyukainya, namun kau tahu bukan siapa dia yang sebenarnya. Aku hanya hidup untuk kalian, aku hanya hidup untuk menjaga kalian, "jawab Elina seraya berjalan pergi meninggalkan kedua adiknya.


"Hidupnya sudah susah hanya untuk mencari kita, kau sekarang sudah besar bisa mengerti apa yang diucapkan El. Jadi, kau pikirkan saja semuanya," ucap Messi.


Di sebuah landasan terlihat Jet pribadi sudah siap lepas landas. Terlihat dua perempuan berjalan dengan tergesa-gesa memasuki Jet tersebut, sedangkan dua lelaki tampan sedang duduk santai di dalamnya dengan senyuman yang


merekah.


"Apa kalian bisa pergi begitu saja tanpa kami? Tidak, Aku akan pergi melihat suamiku, "ucap Zee.


"Kalian Sungguh Kejam, meninggalkan aku dan kakak begitu saja," sambung Vanya seraya mendudukkan dirinya di depan Wildan.


"Aku kira kalian tak ingin pergi, setelah aku memberitahukan jika suami-suami kalian sekarang tinggal bersama dengan Laudya," ucap Ken santai menggoda kedua adiknya.


"Aku percaya dengan suamiku, walaupun Laudya dia sangat cantik. Tapi aku yakin jika Alex hanya memandangku saja," balas Zee.


"Ya sudah, duduklah! Sebentar lagi, pesawat akan lepas landas," ucap Wildan.


Zee dan Vanya memilih pergi ke kamar mereka masing-masing. Memikirkan ucapan Ken yang mengatakan jika Alex dan Wiliem tinggal bersama dengan Laudya. Membuat kedua wanita itu geram dan kesal.


"Apa, Wil kembali mengenang masa-masa indahnya dengan Laudya? Sampai tak bisa mengabariku sama sekali," gerutu Vanya sembari memilih selimut dan menggigitnya.


"Huh, awas saja kau Lex, sampai aku datang dan melihatmu tersenyum manis pada teman ranjangmu itu. Akan ku hajar kau habis-habisan!" seru Zee sangat kesal.


Ken tersenyum jahil melihat kedua adiknya itu merasa cemburu dan kesal pada Alex dan Wiliem. Sedangkan, Wildan hanya menggelengkan kepalanya karena melihat Ken yang jahil pada adik-adiknya.

__ADS_1


"Wil, jangan katakan pada anak buahmu. Jika malam ini kita akan kembali ke Milan," pinta Ken.


"Is Ok, terserah padamu saja," balas Wildan.


Kedua lelaki itu tersenyum dan membicarakan tentang bagaimana menjerat Zidan, karena sudah melakukan pembunuhan berencana pada Wil dan Alex. Begitu juga mencoba mencelakai Laudya.


"Lebih baik kita istirahat, karena perjalanan kita akan sangat jauh. Dan, kau tau bukan, aku harus segera pergi ke setelah sampai di villa," ucap Wildan.


"Sekarang kau sangat sibuk, menjamuku saja tak bisa. Baiklah, aku tahu semua kesibukanmu. Terimakasih, sudah membantuku," balas Ken sembari tersenyum.


"Kau sudah menjaga Abigail dengan baik, Ken. Dan aku sangat berterimaksih, karena aku tak bisa kembali setelah pergi ke Amerika. Kau lelaki hebat yang sudah menjaga semua keluarga dari istrimu dengan baik," ucap Wildan.


"Kau terlalu berlebihan, Wil. Mereka sudah mengajariku kasih sayang, memberkati kepercayaan dan memberikanku cinta yang tulus. Dari situ, aku merasakan mempunyai keluarga yang sesungguhnya," balas Ken mengenang keluarga besar dari Putra.


Wildan sangat tahu bagaimana kehidupan kecil Ken yang kurang kasih sayang. Ken di didik keras oleh sang kakek karena memang Ken adalah penerus satu-satunya dari keluarga Liu. Ken sudah kehilangan orang tuanya dari kecil, oleh karena itu Ken sangat bahagia saat Azura dan Bumi sangat menyayangi dirinya. Bahkan semua keluarga dari Ara memberikannya kepercayaan tuk menjaga semua adik-adiknya.


"Kau beruntung bisa memiliki keluarga seperti mereka. Lihat saja, Zee yang terlihat begitu manja padamu. Padahal, usianya sudah kepala tiga," ucap Wildan.


"Zee, dia anak terakhir di keluarga Ara. Semuanya tercurah padanya, karena memang dia putri kesayangan di keluarga. Apalagi, sepuluh tahun lalu dia kehilangan seorang kekasihnya. Dan itu membuat Ara dan Zyan begitu extra padanya," balas Ken.


"Dan siapa gadis muda itu?" tanya Wildan.


"Dia adik dari Sam?" tanya Wildan.


"Ya, kau benar. Dan itu membuatku dan Ara semakin extra menjaganya. Sam sudah tak sadar dari sebulan lalu," jawab Ken.


Wildan menatap wajah sang sahabat yang terlihat begitu lelah, namun dia tetap tegar demi semua adiknya. Wildan tersenyum tipis karena merasa bangga pada Ken yang notabennya adalah sosok yang keras, namun sangat baik dan hangat dalam keluarga.


"Aku lelah, aku akan istirahat," ucap Ken seraya menuju kabinnya tuk tidur.


Wildan hanya mengangguk sembari meminum beer nya. Wildan mengirimkan pesan pada Elina, mereka harus bersiap-siap tuk menyambut semuanya.


Elina yang mendapat kabar itu pun kembali membereskan tiga kamar utama, memberitahukan pada pelayan tuk bersih memasak banyak makanan tuk menyambut mereka. Terlihat sangat sibuk di dalam Villa itu, namun tak ada yang berani bertanya pada Elina.


"Ada dengan wanita itu, sangat sibuk sekali?" tanya Wildan yang sedang duduk di gazebo.


"Entahlah, terlihat sangat misterius. Semua pelayan pun seperti biasa hanya bungkam jika di tanya," jawab Alex.


"Apa ada orang lain yang akan di bawa oleh atasan mereka?" tanya Laudya.

__ADS_1


"Entahlah, apa kau pernah melihat seperti apa atasan dari Elina," jawab Wil.


"Entahlah, aku juga tak yakin. Tapi, saat Elina membawaku kemari ada satu Dokter tampan bersamanya, setelah itu aku tak pernah melihatnya lagi," jawab Laudya.


"Kalian sangat asyik bergosip, huh?" tanya Arga yang datang tiba-tiba dari belakang.


"Astaga," pekik ketiganya karena terkirim dengan suara Arga.


Arga hanya memandang ketiga dengan tatapan terkejut juga. Merasa aneh dengan mereka yang terkejut hanya dengan suaranya.


"Kalian kenapa?" tanya Arga merasa aneh.


"Kau, dasar bocah! Mengagetkan saja, darimana kau datang, huh?" tanya Alex kesal sembari memukul lengan Arga.


Arga yang di pukul hanya tersenyum kuda, lalu pemuda itu ikut duduk dengan smeunaya sembari membawa buah di keranjang.


"Ini cobalah, aku baru saja memetiknya!" seru Arga.


Alex dan Wil yang melihat buah pun sangat bahagia, karena di dalam keranjang itu terdapat apel dan anggur yang sangat mereka rindukan.


"Ahh, apel! Darimana kau dapatkan buah ini?" tanya Alex seraya menggigit apel tersebut.


"Aku memetiknya langsung dari pohon, apa kalian tak tahu? Jika villa ini terdapat taman buah di sebelah utara," jawab Arga.


Alex menggelengkan kepalanya, sdngkan Wiliem dan Laudya sedang asyik memakan anggur. Arga melirik Laudya sekilas, lalu tersenyum menatap ke arah lain.


Alex yang bisa melihat itu, melototkan matanya melihat reaksi dari Arga pada Laudya. Namun dengan cepat, Alex mencoba tak tahu apa pun.


Mereka berempat asyik memakan buah, sedangkan Elina dan Messi mencoba menyelesaikan tugas mereka yaitu menyiapkan landasan tuk Jet Wildan.


"Arga bisa melakukan tugasnya dengan baik, El. Lihatlah, mereka bertiga tak merasa curiga atau bertanya yang aneh-aneh lagi," ucap Messi.


"Ya, kau benar. Apakah, aku terlalu keras pada Arga?" tanya Elina.


"Tidak, aku yakin Arga mengerti kenapa kau bersikap keras padanya," jawab Messi.


Elina hanya bisa menunjukkan kasih sayangnya dengan tindakan yang tegas pada Arga. Karena, memang Elina tak pernah merasakan kasih sayang dengan perbuatan lembut seperti orang lain.


Bersambung🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2