Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kedatangan Laras


__ADS_3

" Nak Eric , ibu ingin bicara " ucap Laras , yang di lihatnya saat ini merasa begitu mustahil .


" Mari silahkan masuk " ucap Vini yang kini tangannya nampak terlihat begitu gugup.


Bu Laras berbisik pada Ana memerintah sesuatu .


'' Jangan banyak bertanya. Lakukan saja sekarang " ucap Bu Laras dan diangguki Ana..


Terlihat sedikit basa-basi ibu Laras berbicara dengan Eric , bertanya mengenai keluarga Permana dan itu membuat Eric sedikit lebih rileks , namun hal itu tak bertahan lama saat mata bu Laras terpusat kembali kepada Ana dan Ericana ...


'' Kenapa ibu lihat wajah Ericana tidak mirip dengan mu bahkan istrimu. Kenapa wajah Ericana begitu mirip dengan Ana sewaktu kecil '' ucap Bu Laras dan dalam sekejap wajah Eric menjadi memucat.


'' Kau sakit Eric , kenapa wajahmu pucat '' imbuhnya terlihat Laras menatapnya dengan pandangan sulit di artikan .


'' Ya aku hanya kaget aja Bu. Saat ibu bilang wajah Ericana seperti wajah Ana . Padahal sudah jelas aku dan Vini orang tuanya '' ujar Eric berusaha tersenyum .


'' Apa ibu lupa , putra Rafli dan Ana si Juna mirip dengan aktor Korea idola Ana '' imbuh Eric mencoba tenang .


'' Jadi kenapa anak kalian begitu mirip dengan Ana saat kecil . Ini benar-benar saat mirip Eric. Kau tak lupa kan wajah Ana waktu kecil '' ucap Bu Laras . Ia tak akan memaksa kali ini , namun jika dugaannya benar dan Eric tetap mengelak maka Bu Laras akan membahasnya dengan menantunya .


'' Karena saat Vini hamil Ericana , aku dan Vini sering betengkar Bu karena saat itu aku masih mencintai Ana ( bahkan hingga kini rasa itu tetap ada meski tak sama seperti dulu " batin Eric ) . Mungkin saat hamil Vini terus memikirkan Ana , jadi anak kami mirip seperti Ana " ucap Eric.


'' Oh mungkin bisa jadi " ucap Bu Laras pura-pura percaya.


'' Maaf Eric , mungkin ibu begitu merindukan Zilva dan Kanya. Andai cucu kembar perempuan ibu masih hidup pasti usianya sama . Ana sering sekali menangis karena rasa rindunya kepada mendiang Putri kembarnya dan menantu ibu masih sering menyalahkan dirinya sendiri. Andai ada Zilva dan Kanya ada pasti kesedihan terpendam itu tak akan terjadi " ucap Bu Laras , tanpa terasa cairan bening membasahi pipinya. Dada Eric pun terasa sesak saat menyadari atas apa langkah yang telah ia ambil .


'' Maafkan aku Ana . Namun saat ini aku belum bisa melepaskan Ericana dan tak sanggup menghadapi kemarahan kalian apalagi kemarahan mu Ana . Tunggulah saatnya tiba " batin Eric.


'' Eric bisa kita bicara " ucap Rafli mencoba bersikap tenang dan ramah. Eric sungguh terkejut melihat sifat Rafli saat ini, andai saja ia tak cemas memikirkan Ericana mungkin saat ini ia telah mengejek Rafli habis-habisan.


'' Jangan begitu kaku , ada apa " ucap Eric yang dirinya sendiri cukup kaku berbicara baik terhadap Rafli ...


'' Bicaralah , ibu akan bergabung dengan para wanita '' ucap Bu Laras .


'' Apa sudah kau ambil Ana '' tanya Bu Laras berbisik menghampiri Ana dan diangguki oleh Ana ...


'' Baguslah '' ucap Bu Laras tersenyum.


Sementara Vini sedang berkutat di dapur untuk membuatkan kue kesukaan Eric dan mertuanya. Ia dapat resep itu dari orangnya langsung dan ia adalah Ana. Ana dengan senang hati berbagi resep dengannya. Ana bahagia melihat kegigihan Vini dalam mengambil hati Eric dan juga seluruh keluarga Permana dengan begitu Ana terlepas dari rasa bersalahnya . Bagiamanapun , ia merasa menjadi penyebab menderitanya putera penerus keluarga Permana .


'' Mbak coba kue ku ini '' ucap Vini begitu bersemangat karena dari wanginya saja menyerupai kue yang selalu dipuja di keluarga Permana .


'' Emmm.... '' ucap Ana sengaja membuat Vini berdebar-debar.


'' Gak enak ya mbak '' ucap Vini nampak kecewa.


'' Ini enak sekali Vini , bahkan melebihi buatanku nikmatnya '' ucap Ana kembali mengambil potongan kue tersebut. Ana begitu menyukai kue saat masih terasa hangat.


'' Mbak bisa aja '' ucap Vini tersenyum bahagia .


'' Aku yakin dengan ini , Eric makin mencintaimu '' ucap Ana sumringah .


'' Aku juga berharap begitu mbak '' ucap Vini juga bersemangat .


'' Tetap semangat , dengan seiringnya waktu , hati seseorang akan mudah berpaling. Apalagi kau begitu berusaha dan mencintai nya dengan tulus '' ucap Ana kembali mengambil potongan kue yang begitu menggodanya.


'' Suami selain kita memanjangkannya di atas ranjang , kita juga harus memanjakannya dengan memperdulikan isi perutnya. Bohong , jika para pria mengatakan tak masalah jika istrinya tak bisa memasak , namun saat istrinya bisa memasak betapa bahagianya hati mereka. Membahagiakan hati suami juga merupakan pahala untuk kita '' ucap Ana.

__ADS_1


'' Wah kau begitu bijak mbak '' ucap Vini kagum .


'' Meski aku tak bersikap sebijak ucapanku '' ucap Ana terkekeh , nyatanya ia sering bersikap dingin terhadap suaminya akhir-akhir ini karena masalah yang silih berganti .


Harum kue yang di buat Vini menghampiri Indra penciuman Rafli dan juga Eric namun dua pria dewasa ini mengacuhkannya. Karena obrolan mereka yang sedang berdebat kini lebih menarik .


'' Aku sudah katakan padamu . Ericana itu anakku dan Vini . Bagaimana bisa kau meminta ku mengizinkan Ericana untuk menginap dirumahmu meski hanya semalam '' ucap Eric menahan emosinya . Ia sungguh waspada saat ini .


'' Yang memerlukan Ericana bukan diriku . Melainkan Jelita yang begitu dekat dengan Ericana . Jelita sangat susah untuk dekat dengan seseorang '' ucap Rafli mencoba tidak menonjok pria di hadapannya ini.


'' Aku tak bisa jauh dari Ericana serta istriku. Jadi tak mungkin aku akan pergi tanpa mereka dan mempercayakan keamananmu menjaga keluarga kecil ku dalam lingkungan mansion mu '' ucap Eric menyindir dan sekaligus alasan untuk menolak meski dalam hukum ia berkuasa penuh atas Ericana.


'' Hanya sehari Eric. Dan besok saat kau berangkat ke Italia , aku akan mengantarkan Ericana tepat waktu sebelum keberangkatan kalian '' ucap Rafli masih mencoba .


'' Jika benar Jelita begitu menginginkan Ericana untuk tinggal bersamanya dimansion kalian . Maka ada satu cara , biarkan Jelita tinggal di apartemen ini bersama kami dengan begitu ia akan mudah untuk bermain bersama Ericana , anakku '' ucap Eric penuh penekanan.


'' Tidak . Aku tak mengizinkan itu . Aku tak percaya anakku akan aman bersamamu. Bisa saja kau menyakitinya '' ucap Rafli.


'' Jika aku menyakiti anakmu , maka dari dulu Ericana yang akan merasakannya " batin Eric..


" Sungguh buruk cara berfikir mu . Menggelikan " ucap Eric dengan tangan mengepal .


" Itu bukan hal yang mustahil . Bahkan hingga kini jelas dimatamu masih mencintai istriku. Kau tak bersyukur mendapat wanita seperti Vini , dia begitu muda dan tulus mencintaimu tapi kau masih mengharapkan istriku " sarkas Rafli meski masih melunakkan nada bicaranya.


" Kau terlihat memuji istriku . Bagaimana jika Ana mengetahuinya " ucap Eric , ia begitu kesal saat Rafli memuji Vini .


" Ana akan tau , siapa yang pantas di cemburuinya " ucap Rafli ...


" Kau benar. Yang pantas dicemburui Ana adalah , wanita yang tinggal di sebelah apartemen ini " ucap Eric , ingin sekali ia menghabisi Rafli karena berani mengkhianati Ana .


" Kau .... " ucap Rafli menggeram .


" Status ku dan dirimu sungguh jauh berbeda . Aku menikah dan ada anak-anak di tengah kami . Sementara kau , hanya tunangannya . kurasa Ana menerima mu karena tak ingin kau malu " ucap Rafli memancing emosi Eric yang merasa harga dirinya di injak .


" Kau begitu ingin Ericana tinggal dimansionmu dan begitu memuji istriku. Tapi aku memberi syarat pertama kau menolaknya " ucap Eric .


'' Bagaimana jika kau bisa mendapatkan Ericana bersama istriku tapi aku punya satu syarat " ucap Eric .


'' Berikan Ana padaku dan itu sudah cukup " ucap Eric ...


Brakk ....


'' Beraninya kau " ucap Rafli yang tidak bisa menahan emosinya saat istrinya bagaikan barang yang begitu mudah diminta oleh pria dihadapannya .


'' Mas Rafli " ucap Ana segera menghampiri perseteruan yang terjadi bahkan Rafli sempat melayangkan pukulan di perut Eric.


'' Daddy .... " jerit Ericana .


'' Mas Eric ... '' ucap Vini segera ikut menghampiri dimana tiga orang itu berada .


Sementara Jelita terlihat begitu syok atas apa yang baru saja terjadi . Ericana yang biasa melihat para anak buah daddy nya berlatih reaksinya bersorak senang namun kali ini ia menjerit takut saat wajah Eric menahan kesakitan .


'' Kalian , tidak boleh melihat ini . Kita pindah kekamar saja '' ucap Laras begitu cemas .


'' Mas apa yang kau lakukan . Bicara baik-baik mas '' ucap Ana mencegah tubuh Rafli yang terus ingin menghajar Eric yang kini tengah menantangnya .


'' Mas sudah , kenapa jadi begini '' isak Vini ...

__ADS_1


'' Kenapa kau memukul suamiku tuan arogan '' sarkas Vini ...


'' Kau saja yang bodoh , memberikan cinta untuk pria yang masih mencintai istriku '' bentak Rafli .


'' Mas , ada anak-anak '' ucap Ana memperingati.


'' Bahkan bajingan ini sanggup menukarkan dirimu dan Ericana demi mendapatkan Ana '' ucap Rafli emosional ...


'' Mas '' ucap Vini mengendurkan pelukannya , air mata makin membasahi pipinya , pernyataan Rafli begitu menyakitinya dan tak ada kebohongan yang ia lihat dari mata pria yang ingin menghabisi suaminya , sedangakan Eric tak bergeming untuk menenangkan dirinya yang kini hatinya begitu sakit .


'' Apa mencintaimu sesakit ini mas '' lirih Vini .


'' Vini yang dikatakan suamiku pasti tak benar Vini. Rafli sedang di liputi emosi '' ucap Ana mencoba mendekati Vini namun hentakan tangan Rafli membuat dirinya berada dalam dekapan Rafli .


'' Aku tak berbohong Ana. Bajingan ini masih menginginkan mu '' ucap Rafli .


'' Eric , kenapa kau jadi bodoh '' ucap Ana kesal saat Eric masih menatap ke arah mereka dan membiarkan Vini pergi begitu saja .


'' Eric. Kejar Vini , tak akan ada wanita yang mencintai pria begitu tulus seperti Vini mencintaimu. Cepat kejar atau kau akan menyesalinya seumur hidupmu '' bentak Ana membuat Eric tersadar .


Sementara Rafli segera membungkam bibir Ana agar tak memikirkan hubungan orang lain .


'' Lebih baik kita pulang dan bawa Jelita pulang '' ucap Rafli tak ingin melewati batasannya saat ini .


'' Klik '' pintu apartemen milik Eric terbuka karena sepasang suami istri yang berniat mengunjungi cucu dan mantunya namun pandangan tak terduga terjadi . Melihat meja tamu yang telah pecah dan beberapa barang telah hancur membuat Sasa menatap tajam pada Rafli yang kini hanya menatapnya sepintas .


'' Plaakk '' bunyi tamparan menggema di ruang tamu apartemen.


'' Apa yang kau lakukan di apartemen anakku huh . Dulu kau datang dan menghancurkan kebahagiaannya dan kini kau datang menghancurkan apartemen miliknya. Apa mau mu , apa kau mau membunuh anakku '' sarkas Sasa , rasa marah dan bencinya hanya sedikit terbalaskan .


'' Apa yang telah mama lakukan '' ucap Teguh menengahi saat Sasa hendak menyerang Rafli kembali . Diamnya Rafli bukan berarti tak ingin membalas dan Teguh paham akan hal itu.


'' Nak Rafli tolong maafkan istri saya '' ucap Teguh tak enak hati dan Rafli hanya membalasnya dengan senyum.


'' Kalau anda bukan wanita yang tua seusia ibuku , pasti telah ku buat mulut anda berhenti berbicara untuk selamanya . Kebahagian anak anda hancur juga karena diri anda sendiri yang dengan mudah memasukkan wanita lain dalam kehidupan putera kesayangan anda , tanpa sadar anda berperan penting dalam kehancuran kebahagiaan putera anda '' sarkas Rafli.


'' Ya ampun mas Rafli '' ucap Ana mengahampiri suaminya yang kini terlihat begitu menahan emosinya .


'' Pipimu berdarah mas '' ucap Ana lirih dan ia paham siapa yang melakukannya , melihat wanita paruh baya yang kini nafasnya masih memburu.


'' Kita pulang Ana '' ucap Rafli menerobos dua manusia di hadapannya dan tak lupa membawa Jelita di gendongan nya . Jelita menangis saat Ana memaksanya untuk pulang ...


'' Om dan Tante maaf atas semua kekacauan ini '' ucap Ana .


'' Ana pamit pulang '' ucapnya.


'' Ayo Bu '' ajak Ana pada sang ibu.


'' Jeng Laras '' ucap ucap Sasa syok saat mengetahui mantan calon besannya yang merupakan teman baiknya ada disana.


'' Seharusnya nyonya Sasa tak perlu menampar menantu saya. Karena sebagian besar yang diucapkan menantu saya barusan ada benarnya '' ucap Laras menghela nafas dalam.


'' Saya cukup tahu semua yang terjadi nyonya Sasa. Ana telah bercerita semuanya hingga mundurnya anak saya untuk memperjuangkan hubungan anak kita '' imbuhnya .


'' Saya permisi pak Teguh dan nyonya Sasa dan maaf atas kekacauan ini '' ucap Laras sungguh membuat mata indah Sasa berkaca-kaca .


'' Oh ya. Cucu anda ada didalam kamarnya dan sedang tertidur . Cucu anda atau cucu saya '' imbuhnya , lalu berjalan keluar meninggalkan Sasa yang terlihat syok dan Teguh dipenuhi tanda tanya.

__ADS_1


'' Jangan lupa like dan komentarnya "


Selamat membaca


__ADS_2