Takdir Cinta

Takdir Cinta
Ucapanku


__ADS_3

Esok paginya Zee menganta langsung Alya kesekolahnya. Aura kemarahannya begitu terlihat, tapi tak bisa juga menutupi wajah cantiknya.


"Mommy, tak berangkat kerja?" tanya Alya.


"Berangkat, tapi nanti siang. Sekarang, Mommy ingin melakukan sesuatu dahulu," jawab Zee.


Alya hanya mengangguk ia, tangannya terus menggenggam erat tangan sang Mommy. Semua anak-anak menatap ke arah Alya dan Zee, terlihat mereka seakan cemas, takut karena perbuatan yang telah mereka lakukan.


"Honey, pergilah ke kelasmu! Mommy, ada perlu sebentar dengan gurumu," ucap Zee.


"Yes, Mom," balas Alya seraya mencium pipi Zee.


Dengan santainya, Alya masuk ke dalam kelas. Terlihat Gwen berlari sembari berteriak ke arahnya.


"Al, kemarin kau kemana? Setelah merka menyerangmu, aku langsung melaporkan semuanya pada guru. Daddy dan Mommy pun, langsung datang ke kantor," jelas Gwen.


"Untuk apa, Uncle dan Aunty kemari? Apa kau berkata yang tidak-tidak pada mereka?" tanya Alya.


"Aku menceritakan semuanya! Dan, Daddy ku sangat marah, Mommy apalagi langsung memarahi anak-anak manja itu di depan orangtua mereka," jawab Gwen.


"Astaga, Gwen. Kau terlalu berlebihan!" seru Alya.


Semua mata tertuju pada mereka, Alya duduk di tempat duduknya. Gwen pin sama duduk di samping Alya.


"Aku ingin, mereka jera dan kapok. Agar, tak menganggu mu lagi," seru Gwen.


"Tapi, aku menjadi tak enak," balas Alya.


Pantas saja mereka seakan takut padaku. Karena, kemarin semuanya terkena getahnya hanya karena beberapa orang saja. Alya diam tak bersuara.


Di dalam kantor, Zee sudah sangat geram pada semua guru itu, apalagi kepala sekolahnya.


"Ehem,, jadi apa yang jadi keluhan dari anda Nyonya Zee?" tanya Kepsek.


"Anda bertanya apa keluhanku? Apa anda tuli, buta, sampai tak mengetahui apapun yang ada di sekolah anda?" tanya Zee sinis.


Mendengar ucapan Zee yang seakan mengejeknya, Kepsek pun menjadi marah. Dan, menunjukkan wajah garanganya.


"Apa maksud anda, Nyonya Zee dengan berbicara seperti itu pada saya!" seru Kepsek.


"Tidak usah, basa basi. Saya kemari hanya ingin anda dan semua guru disini tidak pilih kasih dan tak menghiraukan apa yang terjadi pada siswa disini. Jangan, anda pikir semuanya saya tak tahu, anda sekalian selalu mengesampingkan apapun pada anak saya, karena saya bukan asli warga negara Finlandia. Apa karena saya orang miskin?" tanya Zee menatap raja Kepsek.


"Owh, jadi anak anda mengadukan yang tidak-tidak tentang kami semua yang tak perduli dengannya?" tanya Kepsek.


"Anda bilang mengadu. Tidak pernah! Alya terus dia saat dia di bully, berusaha jadi siswi yang baik, walaupun dia tidak mendapatkan keadilan dari kalian semua," seru Zee geram.


"Keadilan seperti apa? Ah, mungkin anda memang tak mengakuinya. Bukannya, itu nyata jika Alya anak anda tak memiliki seorang Ayah," sindir Kepsek.


Deg,,


Hati Zee begitu sakit, saat seorang Kepsek yang seharusnya mengayomi malah mengejeknya. Dan seakan mengikuti membully sang anak.


"Saya minta, cabut kembali ucapan anda Nyonya erika!" hardik Zee.


"Siapa anda, berani memerintah saya! Dan ada tau, karena putri anda Alyandra Zevara memasuki sekolah kami ini, banyak berita miring yang berdatangan. Itu sangat merugikan saya selaku kepala sekolah," jelas Erika dengan nada emosi.


Zee menatap tajam Erika, sungguh wanita tak punya hati. Dia dengan gampangnya begitu saja mengejeknya dirinya dan juga Alya.


"Dan, saya akan sangat berterimakasih jika Alya bisa keluar dari sekolah ini!" perintah Erika.


Zee, semakin sakit hati. Jadi, selama ini Alya di perlakukan seperti ini. Tak terhormat, dan seperti anak buangan. Hati Zee semakin hancur saat membayangkan setiap harinya sang putri harus menjalani semuanya seperti ini. Penuh dengan tekanan, ejekan, bagaimana hati Alya setiap harinya.


"Baiklah, tanpa anda minta. Saya akan memindahkan Alya ke sekolah lain!" seru Zee.


Braakkk.


Pintu terbuka dengan paksa, terlihat lelaki gagah sedang berdiri tepat di depan pintu. Wajahnya penuh dengan amarah. Langkahnya begitu mantap.

__ADS_1


"Tu-tuan, Wiliem," panggil Erika seketika begitu terkejut.


Zee memalingkan wajahnya, karena air matanya sudah tak bisa dia tahan lagi.


"Dengarkan ucapanku! Mulai hari ini, saya akan menstop semua donasi yang berhubungan dengan sekolahan anda," ucap Wili dingin.


"What? Maaf, Tuan. Apa alasannya anda melakukan itu?" tanya Erika terkejut.


"Karena saya, tak akan lagi berbaik hati pada orang seperti anda dan smeua guru disini! Karena apa, karena ada sudah menyakiti anak saya!" seru Wili dengan tatapan yang tajam.


"Maaf, anak? Bukannya, anda belum menikah. Dan, Nyonya Sofia akan marah, jika ada menghentikan sumbangan donasi tersebut," balas Erika.


"Alyandra Zevara adalah putriku!" seru Wiliem dengan penuh penekanan.


Sontak pernyataan dari Wili membuat semua orang yang berada di dalam ruangan itu terkejut bukan main. Termasuk Zee, yang tak percaya jika Wili mengatakan itu.


"Dan masalah, Mommy akan marah. Saya, pikir dia akan sangat setuju. Karena kalian sudah membuat cucunya kemarin hampir celaka," jelas Wiliem dengan seringainya.


Erika menatap Zee yang masih mematung menatap Wiliem, sungguh ini menjadi berita terburuk tuk dirinya. Bagaikan petir di siang bolong.


"Saya, akan segera memindahkan Alya ke tempat yang seharusnya. Yang cocok untuk putri kecilku!" seru Wiliem.


Wiliem Alexander, donatur utama di sekolah Santa tersebut. Setiap bukannya Wili akan mengirimkan donasi sebanyak 1 Milyar pada sekolah tersebut. Dan sekarang semuanya dia tarik.


Setelah mengatakan semuanya, Wiliem menatap Zee yang masih terpaku dengan mata yang sembab. Dengan sekali tarikan, Wili memeluk tubuh Zee.


"Aku mohon, bekerjasama lah denganku! Ini demi Alya!" pinta Wili berbisik.


Zee, hanya bisa memejamkan matanya membiarkan air matanya membasahi jas mahal Wili. Pelukan Wili benar-benar nyaman, Zee merasakan lagi rasanya di lindungi.


Wili mendekap tubuh Zee, dan berjalan bersama keluar dari sana. Menuju ruang kelas Alya. Entah, kenapa Wili tak ingin melepas peluaknnya dari tubuh Zee, sebaliknya Zee juga sama.


Di dalam kelas, Alya melamun menatap keluar jendela, tak melihat jika Mommy dan Daddy nya sedang berada di depan ruang kelasnya.


"Al, Alya. Itu, Mommy mu kan? Dengan siapa dia?" tanya Gwen heboh.


"Awww, kau menyakitku!" seru Alya marah.


"Princess," panggil Wili.


Alya mencari asal suara tersebut, terlihat Wili dan Zee sedang berdiri di depan kelasnya sembari tersenyum menatap Alya.


"Daddy, Mommy," teriak Alya seraya berlari ke arah mereka.


Alya berlari dengan cepat, dan hampir saja membuatmu terjatuh. Jika tak ada Wili di depannya.


"Hey, hati-hati! Kau hampir terluka!" seru Wili khawatir.


"Sorry, Dad," ucap Alya menyesal.


Wili langsung menggendong Alya, mencium pipi putri kecilnya. Sedangkan Zee tersenyum dengan air mata yang meleleh.


"Mommy, Daddy ada disini! Bersama, Alya?" tanya Alya.


"Yes, princess," jawab Wili dan Zee bersamaan.


Membuat Zee dan Wili saling berpandangan satu sama lain.


"Mommy, Daddy, love you so much," teriak Alya.


Semua teman-teman Alya terkejut karena, Alya memiliki seorang Daddy yang begitu gagah dan tampan.


"Lihat! Kalian bisa lihat bukan! Alya, itu memilki seorang Daddy," teriak Gwen.


Membuat Zee dan Wili menatapnya. Zee tersenyum menatap Gwen.


"Gwen, Terimakasih sudah mau berteman dengan Alya," ucap Zee.

__ADS_1


"Yes, aunty. Alya teman yang baik," balas Gwen.


"Apa dia temanmu?" tanya Wili.


"Ya, Daddy. Gwen itu teman terbaik ku!" seru Alya.


Gwen memeluk tubuh Zee, tersenyum manis menatap Ibu dari sang teman.


"Baiklah, Gwen. Uncle dan Aunty, pamit dulu karena harus membawa pergi Alya dari sini. Dan, mulai sekarang Alya tak lagi bersekolah disini," jelas Wili.


"Kenapa? Apa, Uncle akan memindahkan Alya dari sini? Lalu, bagaimana denganku?" tanya Gwen sedih.


Alya begitu sedih sekaligus terkejut, karena dia akan pindah sekolah.


"Mommy?" panggil Alya.


"Kau harus segera pindah dari sini. Karena, Mommy tak ingin kau terluka lebih dalam lagi," ucap Zee.


Alya hanya menangis memeluk tubuh Wili. Zee menatap Wili dengan sedih.


"Biarkan aku yang berbicara dengannya!" pinta Wili.


Wiliem membawa keluar Alya, Zee hanya bisa mengikuti dari belakang. Melihat interaksi antara Wili dengan Alya.


"Kenapa dua orang asing itu, bisa seakrab itu? Kenapa, kau memilih sosok yang sangat berbeda jauh dengan kita nak!" batin Zee.


Wili membawa Alya dan Zee ke sebuah taman bunga yang begitu indah dan luas. Disana, begitu sepi seakantemapt private saja.


Alya masih menangis, tak ingin bicara pada Wiliem atau pun Zee.


"Hey, kau tega melakukan ini pada Daddy?" tanya Wili berakting sedih.


Alya hanya menatap kilas Wili, lalu menunduk kembali.


"Princess, kau marah pada Mommy dan Daddy?" tanya kembali Wili.


Alya hanya menggeleng, tanpa suara. Di lihatnya wajah Mommy nya yang sembab karena menangis. Membuat Alya menghampiri Zee, mencium pipi Zee.


"Sorry, Mom. Al, lagi-lagi membuat Mommy, menangis!" seru Alya.


Zee tersenyum, menghapus air matanya. Menatap sang putri yabg begitu peka dan dewasa di usia belia nya.


"Tidak sayang, Mommy menangis karena bahagia bisa melihatmu tersenyum, dan sangat senang bisa melakukan sesuatu yang sangat penting tuk dirimu," jelas Zee.


"Mommy, Daddy sudah berbaikan bukan? Kalian, tak lagi bertengkarkan?" tanya Alya.


Membuat Wili dan Zee salah tingkah, mereka membuang wajah masing-masing. Alya hanya menghela napas, dan terlihat kecewa.


"Jadi kalian masih bertengkar," ucap Alya sedih.


Wili dan Zee tanpa senjaga kompak memeluk tubuh Alya. Sehingga mmbuat wajah mereka begitu dekat tanpa jarak.


Mata mereka beradu, mengisyaratkan sesuatu di hati masing-masing.


"Astaga, Alya. Kau akan membunuh Daddy mu secara perlahan. Lihatlah, Mommy sangat cantik!" batin Wili.


Mata Zee dan Wili masih beradu sangat lama membuat degupan jantung Zee begitu terasa berat.


"Apa ini, kenapa jantungku berdegup sangat cepat. Sadarlah, Zee. Siapa lelaki yang berada di depanmu ini!" batin Zee.


Sedangkan Alya tersenyum, merasakan pelukan dari Mommy dan Daddy nya. Alya mengeratkan pelukannya pada Wili dan Zee.


"Ini yang sedari dulu aku ingin rasakan, terimakasih Tuhan. Sudah, mengabulkan doa ku. Walaupun hanya sesaat," batin Alya.


**Sekian dan Terimakasih


Selamat** akhir pekan semuanya.. Semoga selalu suka dan terus menantikan kelanjutan cerita dari Alyandra.

__ADS_1


__ADS_2