Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kedua


__ADS_3

Penjaga toko dan pelayan terus saja menunggu Wil yang berada di dalam toilet. Akan tetapi lelaki bertubuh tegap itu tak kunjung keluar.


"Kenapa dia begitu lama? Apa sebaiknya kita lihat saja dia kedalam?" tanya pelayan.


"Aish, kenapa hari ini begitu banyak pelanggan yang aneh di tokoku?" tanya penjaga toko.


Wil yang berada di dalam toilet sedang mencoba keluar dengan sisa tenaganya. Tubuhnya begitu lemas karena dia baru menyadari sejak kemarin tak ada asupan makanan sama sekali yang masuk dalam perutnya. Hanya ada es krim dan buah saja.


"Astaga, kenapa aku begitu ceroboh sekali. Aku sampai lupa tuk makan, padahal aku harus mencari Vanya," gumam Wil.


Saat pintu terbuka, terlihat Wil terseok-seok berjalan keluar. Tubuhnya hampir jatuh jika tak di tangkap oleh penjaga toko.


"Tuan, kau tak apa?" tanyanya sembari memapah Wil ke kursi.


"Aku tak apa, hanya saja tubuhku begitu lemas," jawab Wil lirih.


"Tuan, mau saya antarkan ke rumah sakit? Sepertinya, anda tak sehat," ucap pelayan.


"Aku tidak apa, biarkan aku istirahat saja dulu. Maaf sudah merepotkan," balas Wil.


Akhirnya mereka pun membiarkan Wil tuk istirahat sebentar. Wil menyenderkan kepalanya di atas meja, tanpa dia sadari kesadarnya mulai hilang karena merasakan pusing. Sampai tubuhnya terjatuh di atas lantai.


"Astaga, Tuan. Kau kenapa?" ucap pelayan begitu cemas.


"Kita bawa saja dia ke rumah sakit, sekarang!" seru penjaga toko.


Wiliem di bawa menggunakan ambulance, saat akan masuk ke dalam ruang UGD, mereka bertemu dengan Roy yang akan membayar administrasi.


"Kalian, disini? Siapa yang sakit?" tanya Roy.


"Tuan, bukankah anda yang tadi? Kami mengantarkan Tuan itu," ucap pelayan seraya menunjuk Wil.


Roy melihat Wil yang pingsan pun, mengerutkan keningnya. Lalu kembali menatap pelayan dan penjaga tokoh tersebut.


"Kalian tau siapa dia?" tanya Roy.


"Tidak, Tuan. Dan kami juga bingung harus mengabari siapa, karena sepertinya dia bukan orang sini," jawab penjaga tokoh.


"Baiklah, tunggu sebentar saya akan mengecek apakah dia membawa dompet atau tidak," balas Roy.


Mereka pun diam lalu mengangguk, Roy meraba kantong jas dan celana Wil, ternyata benar ada dompet di saku celananya. Roy begitu terkejut saat melihat isi dompet itu tak terdapat selembar pun uang disana, tapi hanya terdapat kartu limit edision. Kartu yang hanya dimiliki oleh orang kaya saja.


"Astaga, dia ternyata orang kaya. Tapi, kenapa dia tak membawa pengawal atau pun tangan kanannya?" gumam Roy.


Roy kembali ke penjaga toko dan mengatakan jika Wil menjadi urusannya. Akhirnya mereka pun pergi, Roy mengambil satu kartu dari dompet Wil tuk melunasi segala perawatannya.


Suster pun tersenyum lalu kembali menyerahkan kartu tersebut. Roy mengikuti Wil yang masuk ke ruang UGD.


"Tuan, apakah ada kerabat dari pasien?" tanya Dokter.


"Ya, saya temannya. Bagaimana, keadaan dia, Dok?" tanya kembali Roy.


"Teman anda hanya kekurangan nutrisi saja, sepertinya dia tak makan sejak kemarin dan hanya mengonsumsi buah saja. Saya sarankan tuk tak melanjutkan diet yang seperti ini," jelas Dokter.


"Diet? Maksud Dokter, teman saya menjalani diet?" tanya Roy.


"Ya, benar. Jadi sekarang dia harus di rawat selama tiga hari," jawab Dokter.


"Baik, Dok. Terimakasih banyak," balas Roy.


Tak lama kemudian, Wil di bawa keruang inap yang kebetulan hanya berjarak satu kamar saja dari Vanya. Dan itu membuat Roy bisa mengawasi keduanya bersamaan.


Roy menatap Wil yang terbaring lemah tak sadarkan diri. Di tatapnya wajah, Wil lalu tersenyum tipis sembari mengelengkan kepalanya.


"Apa lagi yang ingin kau lakukan dengan tubuh segagah itu, diet? Yang benar saja," ucap Roy tertawa.

__ADS_1


Roy percaya dengan apa yang di katakan oleh Dokter yang mengira Wil benar-benar menjalani diet. Karena memang Roy melihat sendiri jika Wil hanya memakan buah stobery saja.


"Beruntung kau bertemu dengan penjaga dan pelayan toko yang baik. Jika tidak, mungkin kau akan dibuang ke jalanan. Dan seluruh isi dompetmu akan mereka ambil," sambung Roy.


Karena, Wil masih tak sadarkan diri. Akhirnya, Roy keluar tuk menemui Vanya di ruangannya. Saat masuk terlihat, Vanya sedang lahap memakan buah apel.


"Apa kau menghabiskan semua buahnya, tanpa menyisakan tuk ku?" tanya Roy.


"Bukankah, semua ini tuk ku? Kau membelinya tuk ku bukan?" tanya Vanya.


"Ya, semuanya tuk mu. Tapi setidaknya sisakan satu buah saja tuk ku!" pinta Roy.


"Ahh, ini kau makan saja buah stobery itu! Aku tak suka, melihatnya saja aku jijik," ucap Vanya.


"Huh, kau tahu. Aku membeli buah itu sangat jauh. Karena, di toko yang dekat buah itu sudah di beli habis oleh seorang pria. Dan kau tahu, sekarang dia di rawat disini, karena terlalu banyak makan buah stobery," jelas Roy.


"Kau mengenalnya?" tanya Vanya.


"Tidak, tapi kenapa kalian begitu aneh. Kau tak suka stobery dan pria itu begitu menggilai stobery," jawab Roy.


"Tak ada yang aneh, memangnya aku dan dia saling kenal. Kan tidak, mungkin saja hanya kebetulan saja," balas Vanya.


Roy hanya mengangkat bahunya lalu mengambil buah apel yang sudah di kupad habis oleh Vanya.


"Rasanya sangat manis, kenapa kau mengupasnya?" tanya Roy.


"Aku tak bisa memakan buah apel jika masih terdapat kulitnya," jawab Vanya.


"Nah, sudah selesai. Kau habiskan yah! Aku sangat mengantuk," ucap Vanya seraya menyerahkan piring tersebut.


"Baiklah, terimakasih. Istirahatlah, agar cepat sembuh!" perintah Roy.


Vanya merebahkan kembali tubuhnya, menutup matanya yang memang sudah sangat lengket ingin segera menutupnya. Dengan hitungan menit, Vanya sudah tertidur. Dengukan halus terdengar menandakan Vanya sudah tertidur lelap.


Roy tersenyum menatap wajah wanita yang dia cintai, menaikan selimutnya lalu mencium kening Vanya dengan begitu pelan.


Tak terasa senja sudah menunjukkan sinar jingganya yang begitu indah, sepasang anak adam itu masih tertidur dengan pulas. Tanpa mereka ketahui jika mereka begitu dekat. Bahkan sangat dekat hanya terpisahkan tembok.


Wil baru sadar saat ada suster yang memeriksanya, barulah dia merasakan seakan mati rasa pada lengannya yang baru saja di suntikkan obat.


"Tuan, ada sudah sadar?" tanya suster.


Wil memejamkan matanya kembali tuk menyesuaikan sinar lampu yang begitu terang.


"Maaf, saya ada dimana?" tanya Wil.


"Anda di rumah sakit, siang tadi anda pingsan. Dan diantarkan oleh dua orang lelaki kemari," jawab Suster.


"Ahh, sepertinya itu mereka. Penjaga toko dan pelayannya," ucap Wil.


"Baik, Tuan. Saya permisi tuk keluar dahulu," balas Suster.


"Maaf, Sus. Dimana semua benda milikku? Apa anda tahu?" tanya Wil.


"Semua barang anda kami simpan, jika anda membutuhkannya, akan saya ambilkan. Tunggulah, sebentar!" pinta Suster.


"Baik, Sus. Maaf merepotkan," balas Wil.


Suster tersebut pun keluar tuk mengambil barang dari Wil. Wil mencoba tuk duduk, namun tenaganya masih begitu lemah. Akhirnya, Wil kembali merebahkan tubuhnya lalu memejamkan kembali matanya.


"Apa yang terjadi padaku, kenapa aku bisa memakan buah itu. Bukannya, aku tidak menyukai buah itu?" batin Wil.


Tak lama terdengar suara pintu terbuka, Wil membuka matanya, terlihat suster pria membawakan barang-barangnya. Wil pun berterimaksih, lalu mengecek semuanya. Ternyata dompetnya tak ada.


"Dompetku hilang," ucap Wil.

__ADS_1


Wil memeriksa ponselnya, banyak sekali notifikasi dari Alex dan Sam. Wil mengusap kasar wajahnya, sudah sebulan berlalu dia masih belum menemukan Vanya.


"Maafkan aku, aku harus membuat kalian menunggu," ucap Wil.


Malam hari, Wil begitu kelaparan karena dia belum makan sama sekali, akhirnya dengan tubuh yang masih lemas. Wil pun keluar ruangan dengan membawa infusan di tangannya.


Saat melintas di depan kamar inap Vanya, Wil merasa sangat pusing sehingga hampir terjatuh jika saja tak ada kursi disana. Mendengar suara dari luar, Roy pun melihatnya.


"Tuan, kau tidak apa?" tanya Roy.


Wil yang tadi menunduk pun mengangkat wajahnya dan membuat Roy terkejut.


"Tuan, kau sudah sadar? Ahh ... Maaf, saya Roy yang bertanggung jawab atas kau disini," sambung Roy.


"Aku Wiliem. Apakah kau yang membawaku kemari?" tanya Wil.


"Tidak, Tuan. Penjaga toko dan pelayannya yang membawamu kemari. Oh, ya maafkan saya, ini saya kembalikan dompetmu. Karena, saat membawamu kemari mereka begitu gugup karena administrasinya. Jadi, aku memberanikan mengambilnya," jelas Roy.


Wil tersenyum lalu mengangguk mengerti. Dirinya begitu beruntung bisa bertemu dengan orang-orang baik. Wil berterimakasih pada Roy.


"Terimakasih dan maaf sudah merepotkan, anda," ucap Wil.


"Ya, Tuan. Kalau boleh saya tahu, ingin kemana anda malam-malam begini?" tanya Roy.


"Aku ingin makan, sepertinya aku tidak makan selama dua hari. Sekarang, aku merasa lapar," jawab Wil.


"Selama dua hari, dan anda hanya memakan stobery seharian ini? Astaga, Tuan kau benar-benar menyakitkan diri sendiri," balas Roy.


Wil mengerutkan keningnya, darimana Roy tahu jika dia hanya memakan stobery saja.


"Aku tahu, karena melihatmu di toko swlayan itu. Kau sedang asyik memakan buah sumber itu, tunggulah sebentar saya ada sedikit makanan!" pinta Roy.


Wil hanya diam dengan melihat Roy masuk kembali keruangan tersebut. Terlihat seorang wanita sedang tertidur disana.


"Ini, Tuan. Makanlah! Aku membelinya beberapa menit lalu," ucap Roy.


"Terimakasih," ucap Wil.


Wil memakan itu dengan lahap. Seorang Wil sang Milyader dari grup Sanders kelaparan di negeri Paris. Bukankah, itu akan menjadi berita yang viral di Finlandia.


"Siapakah wanita di dalam? Apakah dia wanitamu?" tanya Wil.


"Jika dia mau, sudah ku jadikan dia wanitaku sejak dulu. Tapi, sayangnya wanita itu sudah tertambat oleh lelaki lain yang jauh disana," jawab Roy.


"Cerita macam apa itu, wanita yang kau sukai ada di depanmu tapi malah bertepuk sebelah tangan. Sedangkan, aku, wanitaku entah pergi kemana. Dan adanya aku disini karena sedang mencarinya," ucap Wil.


"Wow,,, apakah kau di tinggal pergi oleh kekasihmu, Tuan?" tanya Roy.


"Huh,,, ya sepertinya benar begitu. Aku di tinggal pergi oleh kekasihku," jawab Wil dengan senyuman tipisnya.


"Darimanakah, anda. Tuan?" tanya Roy.


"Finlandia, aku pergi jauh tuk mencarinya sampai ke Paris," jawab Wil.


Roy begitu terkejut mendengar jawaban Wil, lelaki ini benar-benar mengejar cintanya sampai jauh. Memperjuangkan cintanya walaupun jarak memisahkan mereka. Roy semakin bertekad tuk terus berusaha membuat Vanya mencintai dirinya dan bisa bersama-sama dengan penuh kasih sayang.


"Apa kau begitu mencintainya, Tuan?" tanya Roy.


"Tentu aku begitu mencintainya. Dia, dia menjadi segalanya tuk ku sekarang. Apalagi, mungkin sekarang dia sedang mengandung anakku," jawab Wil.


"Mengandung? Finlandia, kenapa aku begitu tak asing dengan kata-kata itu," batin Roy penuh pertanyaan.


Kata-kata itu terus berputar di kepala Roy, sampai terdengar suara Vanya yang memanggilnya dari dalam hingga membuyarkan lamunannya.


"Maaf, Tuan. Saya harus segera masuk, dia memanggilku. Anda kembalilah ke ruangan kembali, beristirahatlah!" pinta Roy.

__ADS_1


Wil mengangguk ia, lalu berbalik kekamarnya. Sedangkan, Roy kembali masuk ke dalam menemui Vanya.


Jangan LUPA jejaknya,,, Terimakasih


__ADS_2