
Satu tahun telah berlalu , semenjak publik tau ia istri Rafli semakin membuat Ana susah untuk bergerak keluar , seakan ada yang mengikutinya. Beberapa kejadian buruk yang menimpa nya kini membuat Ana lebih mawas diri.
'' Kau kenapa sayang " ucap Rafli memeluk sang istri yang duduk termenung , tak seperti biasanya dimana sang istri tersenyum senang saat menyebutnya pulang.
'' Apa anak-anak membuat ulah " imbuh Rafli .
'' Mas , aku ingin bekerja apa boleh " ujar Ana membuat Rafli mengendurkan pelukannya.
" Apa-apaan ini "batin Rafli .
" Apa kurang uang yang ku berikan Ana " ujar Rafli melepas jas yang ia kenakan dengan kasar lalu membuangnya asal. Uang yang ia berikan untuk istrinya bahkan tak pernah di sentuh Ana dan Rafli mengetahui itu.
" Menyiram bunga dan memetik buah dan sayur itu merupakan pekerjaan . Bukannya mas tak tau kegiatan mu dirumah . Apa perlu mas memecat mereka yang tak berguna " sarkas Rafli menyindir istrinya. Sungguh ucapan Ana tadi membuat nya kesal , ia tak ingin Ana sang nyonya rumah bekerja , bisa-bisa pekerjaan di mansion ini di babat habis oleh istrinya.
" Kau istriku , bukan pelayan seperti mereka . Cukup memasak dan mengurus keluarga saja. Ada anak-anak dan ada mas yang harus kau urus juga " imbuh Rafli .
" Maaf " ucap Ana singkat .
" Baiklah kau akan bekerja di kantor , asal anak-anak tak merasa di abaikan " ucap Rafli seketika membuat Ana menoleh kearahnya.
" Mas serius " imbuh Rafli .
" Bekerjalah di kantor mas " ucap Rafli dan seketika membuat Ana merasa kesal , Ana segera bangkit untuk menyiapkan air mandi untuk suaminya. Ana menggerutu kesal .
" Lusa kau akan bekerja di kantor mas dan boleh membawa anak-anak " ucap Rafli serius lalu segera melakukan ritual mandinya .
" Itu bukanlah solusi yang bagus . Aku tak memikirkan kenapa ingin bekerja di luaran " gumam Ana merutuki kebodohannya sendiri.
Apa yang di katakan Rafli benar terjadi , Ana menerima beberapa stel pakaian untuk ia kenakan bekerja , pakaian yang begitu sopan di kirim Rafli untuk istrinya .
'' Kenapa belum bersiap juga " tanya Rafli saat melihat Ana masih memilih pakaian yang akan ia kenakan.
'' Emang pekerjaan ku apa disana mas " tanya Ana menghembuskan nafasnya dengan kasar.
'' Adalah , nanti juga tau " ujar Rafli .
'' Ayo cepatlah pegawai baru , nanti telat " imbuh Rafli sekenanya membuat Ana mengumpat kembali suaminya dan kemudian istighfar . Ana mengambil blazer berwarna merah dengan dalaman hitam menjadi pilihannya serta celana panjang yang bewarna senada , Rafli tak mengizinkan nya mengenakan rok yang mini malah sang suami mengirimkannya rok yang entah di luar ekspektasi Ana .
.
.
.
'' Ayo langsung saja ikut mas masuk ke lift ini " ucap Rafli berdecak kesal , karena sang istri ingin berjalan ke lobi .
Ana memasuki ruangan Rafli saat baru saja tiba di kantor .
'' Mas , apa kerjaan ku dan dimana ruangannya " ucap Ana menatap lurus suaminya yang tengah bersandar di kursi kekuasaannya .
'' Duduk " ucap Rafli dengan suara baritonnya membuat Ana sedikit mengulum senyum dan mengikuti perintah suaminya sekaligus atasan barunya .
'' Apa kau lupa siapa dirimu sayang. Kau istriku tentu saja kau bekerja dekat denganku '' ucap Rafli menahan senyum , ia akan membuat Ana kesal atau sedikit kesal saat ini. Berani sekali istrinya meminta untuk bekerja , apa selama ini uang yang ia kasih masih saja kurang . Apa pundi-pundi rupiah dari perkebunan teh milik istrinya itu yang diam-diam di beli oleh Ana itu juga kurang . Rafli baru mengetahui perkebunan teh itu dari Devan dua Minggu yang lalu . Menanti kejujuran istrinya tentang perkebunan itu namun Ana saat ini masih belum ingin cerita.
'' Mas , aku serius. Apa pekerjaan ku disini '' ucap Ana .
'' Kan sudah mas bilang , bekerja mu dekat dengan mas . Alias menjadi asisten pribadi mas '' ucap Rafli berhasil membuat Ana mendelik kesal.
__ADS_1
'' Menemani mas makan , menemani mas tidur . Pokoknya menemani dalam hal pribadi " ucap Rafli menahan senyumnya.
'' Tidak . Aku menolak '' jawab Ana cepat .
'' Kan ada anak paman Joe yang jadi asisten pribadi mas . Aku gak mau '' tolak Ana.
'' Dia berbeda Ana . Asisten pribadi dalam perkerjaan kantor . Berbeda dengan dirimu , asisten pribadi yang begitu istimewa " ucap Rafli.
'' Bekerjalah sana. Itu meja anda nona Ana '' ucap Rafli menunjuk meja untuk Ana. Meja yang polos hanya terdapat beberapa majalah saja.
'' Aku mau pulang saja '' ucap Ana kesal , apa-apaan meja kerja seperti itu.
'' Makanya , cukup dirumah mengurus mas dan anak-anak saja '' ucap Rafli lirih , ia sengaja memberi pekerjaan untuk Ana sebagai asisten pribadi yang istimewa di kantornya karena sesungguhnya Rafli tak ingin istrinya itu bekerja di luaran termasuk kantornya sendiri.
'' Aku hanya bosan saja mas. Anak-anak mulai sibuk terkadang dengan aktivitasnya sendiri '' ucap Ana .
'' Mengertilah Ana . Anak kita punya pemikiran yang dewasa meskipun itu Jelita sekalipun . Anggap aja , itu tahap untuk kita sebagai orang tua jika suatu saat anak kita menikah . Mereka belajar untuk mandiri dan dewasa , sayang '' ucap Rafli merengkuh tubuh istrinya , tak peduli dengan email yang masuk. Ia berusaha memberikan pengertian pada sang istri .
'' Tapi umur mereka tak sesuai dengan pemikirannya dan aku merasa baru melahirkan mereka kemarin '' ucap Ana lirih . Mengingat Dewa dan Arjuna begitu mandiri saat ini meski sikap kanak-kanak mereka masih nampak saat di meja makan . Jelita merasa sebagai seorang kakak juga ikut mandiri dan itu menular kepada Rayana merasa menjadi seorang kakak semenjak kelahiran baby El.
'' Apa kita perlu bulan madu '' ucap Rafli , ia merasa Ana kurang piknik.
'' Ke Indonesia misalnya . Mas penasaran dengan ucapan mu tahun lalu '' imbuh Rafli. Mulutnya sudah gatal ingin membahas tentang perkebunan Teh tersebut dan Rafli menebak cita rasa teh yang selama ini Ana sajikan berasal dari perkebunan milik istrinya sendiri yang entah di campur bahan apa di dalamnya karena pada dasarnya teh memiliki rasa yang hampir sama hanya aroma yang berbeda-beda tipis.
'' Emmmm tunggu anak-anak libur ya mas '' ucap Ana dan diangguki Rafli .
'' Ya sudah , duduklah dulu disana atau mau apa " tawar Rafli .
'' Aku duduk disana saja , atau ada berkas yang bisa ku kerjakan mas '' ucap Ana .
'' Coba pelajari map berwarna merah itu saja " ujar Rafli membuat bibir Ana melengkung sempurna dari pada ia akan bosan terkurung disini.
'' Apa-apaan mereka . Kenapa juga Rafli mengizinkan Ana bekerja meski di kantornya sendiri . Apa kata orang nantinya " gerutu Lia memarahi pelayan yang tak tau apa-apa.
'' Jaga cucuku , jika kenapa-napa awas kalian " ucap Lia dan diangguki pelayan tersebut. Setelah Lia pergi mereka merasakan bisa bernafas dengan lega.
'' Sayang nya nenek , nenek pergi dulu ya " ucap Lia dengan suara lembutnya mencium pipi ketiga cucunya .
Sedangkan Rafli kini sedang bermanja dengan istrinya apalagi mengingat ini jam makan siang. Rafli berkata pada Ana untuk mengantarkannya saat jam makan siang namun kini malah sang suami tengah merengek minta di manja .
'' Kenapa manjamu gak hilang-hilang mas. Malah mengalahkan anak-anak " ucap Ana tersenyum geli. Bagaimana jadinya jika di luaran sana mereka melihat sisi lain suaminya .
'' Kan dengan istri ku sendiri " ucap Rafli mengelak dan diangguki Ana seraya membelai surai lembut suaminya .
'' Ayo kita ke kamar saja . Mas mengantuk '' ujar Rafli membuat Ana heran . Bukankah pantang bagi suaminya habis makan langsung tidur.
'' Mas habis makan . Gak bagus langsung tidur " ucap Ana mengingatkan .
'' Gak tau , tiba-tiba ngantuk aja. Sesekali gak apalah sayang " ujar Rafli .
'' Kau mengelus yang diatas namun yang dibawah bangun sayang " batin Rafli .
" Baiklah , tapi jika mas tidur lama nanti aku pulangnya dengan supir aja " ujar Ana dan diangguki Rafli ...
Ana dan Rafli memasuki ruang pribadi Rafli yang selalu tertata sempurna dan aura maskulin begitu terasa. Ana pun menjatuhkan tubuhnya saat Rafli merengkuh nya untuk ikut berbaring . Rafli yang terus di elus kepalanya oleh Ana merasa semakin terbuai dan ia mulai mengecup pelan bibir sang istri yang kini kegiatnya berubah menjadi ******* ringan dan semakin menuntut sedangkan Ana menurutinya saja karena percuma saja ia menolak karena suaminya tetap akan memaksa .
Sementara Lia memasuki kantor Wijaya Group yang kini sedang Rafli kelola dengan raut wajah tak bisa di artikan . Ia sudah menyiapkan kata-kata untuk membombardir anak serta menantunya itu .
__ADS_1
" Bianca , apa menantu dan anakku masih di dalam " tanya Lia dingin .
" Iya Bu . Sedang makan siang " ucap Bianca apa adanya karena ia sendiri yang memesan makanan untuk sepasang suami istri tersebut.
ceklek pintu di buka dengan mudah karena tak terkunci dan Lia menutupnya cukup keras. Hening bahkan meja yang di dekat sofa sudah bersih karena Ana segera membereskan bekas makanan mereka . Lia melihat tas Ana yang berada di atas sofa membuat langkahnya yang ingin keluar mendadak berhenti . Tanpa pikir panjang Lia melangkah mendekati kamar pribadi sang anak namun seketika langkahnya terhenti mendengar suara ******* anak serta menantunya . Jantung Lia berdebar bahkan wajah memerah , selalu saja sial seperti ini. ..
'' Mereka benar-benar keterlaluan . Ini kantor dan sempat-sempatnya melakukan hal seperti itu. Pintu kantor gak di kunci bagaimana jika yang lain masuk . Ini juga masih siang bolong " gumam Lia dengan wajah memerah , semakin memerah saat erangan sang anak begitu terdengar jelas di telinganya . Lia secepat memungkin keluar dari ruang kerja sang anak .
'' Bianca , apa kau sering mendengar suara setan di dalam " ujar Lia membuat Bianca menggeleng seketika .
'' Gak ada setan " jawab Bianca cepat .
'' Sudahlah , lupakan saja " ujar Lia segera melangkah pergi.
'' Aneh , emang suara setan yang bagaimana " gumam Bianca tiba-tiba bulu kuduknya meremang sendiri ....
.
.
.
Lia yang tadi siang gagal menemui anak dan menantunya , sore ini kembali mengunjungi kantor Wijaya Group . Jika tak ada Ana , Rafli pun jadi untuk sasaran amarahnya mengingat apa yang ia dengar tadi siang . ******* yang merusak gendang telinganya .
Ceklek ....
'' Ma.... " ucap Ana dan Rafli secara bersamaan.
'' Kalian udah mau pulang " tanya Lia dan diangguki Ana.
'' Tapi mama ingin bicara sebentar , terutama denganmu Ana " ujar Lia dan diangguki Ana . Rafli dan Ana merasakan hawa yang tidak mengenakan saat ini . Rafli memilih ikut duduk di dekat sang istri .
'' Ada apa ma " tanya Ana .
'' Kau bekerja disini " tanya Lia .
'' Gak ma , Ana hanya menemaniku saja " jawab Rafli membuat Lia berdecak lidah.
'' Tapi pakaianmu bukan seperti biasanya " ucap Lia menelisik penampilan menantunya .
'' Jangan bekerja Ana , kau punya anak dan suami . Jadilah istri dan ibu yang baik untuk keluargamu . Apa selama ini kurang uang yang di berikan Rafli . Kau harus mengerti posisimu saat ini Ana . Dirumahlah , urus keluargamu " ucap Lia tidak secara gamblang .
'' Cukup " ucap Rafli , ia tersulut emosinya saat ini . Sang mama datang-datang dan lalu memborbardir pernyataan untuk istrinya .
'' Ma , aku bisa menjelaskannya " ucap Ana lirih . Padahal hari ini pertama kalinya ia bekerja dan terkahir kalinya ia bekerja di kantor suaminya . Menjadi asisten istimewa untuk suaminya , bukankah pilihan yang tepat menurut Ana.
'' Apa , jelaskan apa coba " sahut Lia .
'' Makanya mama tenang dulu dan jangan lupakan mama dulu seperti apa " ucap Rafli ketus , seakan Lia tak menyadari dirinya juga adalah wanita karir bahkan hingga kini masih ada campur tangan Lia di perusahaan . Toko berlian yang di dirikan oleh sang papa atas permintaan Lia untuk mengisi kekosongan waktunya kala itu , membuat Rafli serta dua kakaknya merasakan kurang kasih sayang meski dulu usia mereka hampir beranjak remaja.
'' Jelas situasinya berbeda " elak Lia .
'' Jika mama ingin menyalahkan atau menyudutkan istriku . Lebih baik mama pulang. Ana akan menjelaskannya namun mama terus saja mengomel " hardik Rafli .
'' Oke ... Mama diam dan jelaskan " ucap Lia .
'' Setelah itu mama minta kau belajar disiplin untuk bekerja sekaligus jika melakukan suatu hal tau pada tempatnya " gumam Lia membuat Rafli bertanya-tanya. Ana mulai menjelaskan yang terjadi hari ini kenapa ia bisa berpakaian layaknya pegawai kantor saat ini , kecuali adegan di dalam kamar pribadi milik Rafli.
__ADS_1
''Jangan lupa like dan komentarnya "
Selamat membaca 😊