
Abigail masih menunggu di samping Sam yang sedang berada di alam mimpinya. Tanpa di sadari, Abigail pun ikut tertidur disana.
Zee dan Alex membicarakan masalah Sam yang ternyata koma, entah sampai kapan. Ara masih terus menangis karena merasa tak berguna, kembali gagal menjaga adik-adiknya.
"Kak, sudahlah jangan menyalahkan diri sendiri lagi! Semuanya sudah menjadi takdir, sekarang kita harus kuat karena di sini ada Abigail yang harus kita jaga!" ujar Zee.
"Yuan, anak itu. Tidak, aku harus berusaha menyembuhkan ayahnya. Aku tak mau, Yoan mengalami hal yang sama seperti Sam kecil," balas Ara.
Zee terdiam mendengar itu, ya dulu bunda mereka menceritakan bagaimana Sam kecil yang harus berpisah dengan orang tuanya. Karena saat itu, Aldo dan Intan koma selama setahun.
"Ara, jangan menyerah aku akan melakukan sesuatu pada Sam. Aku yakin, koma nya tak akan lama. Kita hanya butuh waktu saja," ucap Ken.
"Ya, kalian benar. Aku mungkin sudah semakin tua dan lemah, hatiku juga mu yakin sudah lelah terus mengalami hal-hal yang terjadi akhir-akhir ini," balas Ara lirih.
Zee memeluk kakak tertuanya itu, memberikan dia semangat dan kekuatan tuk bersama-sama menghadapi semuanya.
"Bagaimana dengan Vanya? Apa kita harus menyembunyikan lagi masalah ini darinya?" tanya Alex.
"Tidak, Lex. Kau beritahu saja, Abigail membutuhkan adiknya," jawab Zee.
Alex pun mengabari Wil dan Vanya tentang Sam, dan memberitahu jika sekarang mereka ada di rumah sakit. Semua keluarga berkumpul dirumah sakit begitu juga Zyan dan Kiara.
Pemandangan ini seakan debu dengan keadaan sepuluh tahun lalu, Zyan semakin diam tak bersuara hanya air matanya yang terus mengalir. Vanya menangis histeris mendapatkan sang kakak yang ternyata koma.
"Wil, kenapa Tuhan begitu tak adil padaku? Kenapa, semua saudaraku satu persatu pergi. Kak Al, Zyvia dan sekarang Kak Sam, kenapa Tuhan melakukan ini padaku," isak tangis Vanya menatap Sam dari luar ruangan.
Di dalam masih ada Abigail yang tertidur menemani sang suami. Ya, hanya Abi yang belum mengetahui keadaan sang suami yang sebenarnya.
"Kak, apa ada yang bisa aku bantu? Aku bisa mencarikan Dokter lain jika di butuhkan," tanya Alex.
Ken dan Ara hanya menggeleng, membuat Alex menoleh napas panjang karena tak bisa membantu apa pun.
"Kenapa harus keluargaku lagi, aku sungguh tak kuasa melihat semua adik-adikku kembali menangis dan menderita seperti ini lagi," batin Ken menahan segala perasaannya.
"Apakah, dia naon tertidur dengan sangat lama kak?" tanya Zyan begitu lirih.
Ara menatap sang adik dengan begitu iba, Zyan dalam mode yang sangat terpukul. Ara menghampirinya, memeluknya, memberinya ketenangan. Zyan memeluk sang kakak menyembunyikan wajahnya.
"Tenanglah, kita harus bersabar. Kau tidak boleh terpuruk! Kita hadapi bersama-sama, ada kakak dan yang lainnya," ucap Ara.
"Aku hanya takut, aku takut Sam tak terbangun lagi," isak Zyan.
Ara mengerti akan perasaan dan kecewa yang Zyan rasakan. Sudah cukup kematian, Alfa dan Zyvia yang membuatnya lemah dan kehilangan, tidak lagi tuk Sam.
Ara terus mengusap punggung sang adik, membiarkan Zyan menangis di pelukannya seperti anak kecil, Alex dan Wil begitu terharu melihat kesabaran dari Ara.
"Kau wanita luar biasa, Kak. Menjaga adik-adikmu dengan sangat baik, menjadi tempat mengadu, menjadi tempat paling nyaman dari mana pun," batin Alex.
"Aku beruntung bisa mengenal dirimu, Kak. Wanita hebat, penyayang dan penuh kasih. Cinta mu begitu besar tuk keluargamu, sungguh kau wanita luar biasa," batin Wil menatap Ara dengan bangga.
Vanya melihat Zyan yang terpuruk mengingatkan dirinya akan Sam yang saat itu di tinggalkan oleh Alfa. Vanya menggelengkan kepalanya, jangan sampai Zyan menjadi seperti Sam. Berubah menjadi diam, acuh dan selalu memendam semuanya sendiri.
"Kak Sam kuat, dia pasti bisa melalui nya dengan baik. Aku percaya itu, jadi aku mohon Kak Zyan kau percaya padanya. Kau harus bisa tegar lagi, dia kan temanmu jadi tak akan pergi begitu saja," ucap Vanya dengan menangis menatap Zyan.
Zyan mengangkat wajahnya dan menatap Vanya yang tersenyum padanya. Zyan mengangguk ia, lelaki itu mencoba tersenyum menghapus air matanya. Menatap Ara yang berada di depannya, mencium pipi sang kakak.
"Terimakasih selalu ada tuk kami," ucap Zyan seraya mencium tangan Ara.
Ara lega karena Zyan sudah terlihat baik, mercoba tenang dan tegar, air mata Ara menetes tapi ada senyuman juga di wajahnya.
Kiara merasa lega, melihat suaminya yam terpuruk lagi. Sungguh, dia tak tahu harus bagaimana jika Zyan terus terpuruk.
Ceklek,,,
Terlihat, Abigail keluar dari ruangan itu. Wajahmu menunjukkan sesuatu yang tak di mengerti siapa pun. Tatapannya begitu sayu, matanya berair namun bibirnya tersenyum tipis tuk menatap semua keluarganya.
"Kalian di sini, kenapa tak membangunkanku?" tanya Abigail.
"Kakak," panggil Vanya seraya memeluk sang kakak ipar.
__ADS_1
"Aku tidak apa-apa, Anh kau lihat kakakmu tertidur dengan sangat pulas. Dia tak tahu, sedari tadi aku berada di dekatnya," ucap Abigail.
Zee dan Kiara memalingkan wajahnya, tak ingin Abi melihat air mata mereka. Ken menatap Abi dengan begitu sedih, Ara menghampiri Abigail dan berbisik padanya.
"Suamimu, mungkin ingin tertidur tuk beberapa waktu. Jadi kau harus menemaninya sayang," bisik Ara.
Abigail semakin diam mematung, air matanya lolos begitu saja. Jantung Abigail terasa sakit, sesak dan terasa berat. Tatapan wanita itu melihat sang paman yang berada di depannya. Ken hanya bisa mengangguk tuk menjawabnya.
Abigail, menunduk menarik napasnya dengan begitu susah. Lalu melihat kesmua keluarganya dengan senyuman palsunya.
"Kia, Zyan tolong jaga Yuan tuk ku! Sepertinya, aku harus selalu berada di dekat suamiku. Aku mohon jaga putraku!" pinta Abigail seraya menghapus air matanya yang terus mengalir.
Kiara menangis mendengar permintaan dari Abigail, wanita itu hanya bisa mengangguk tuk menjawab permintaan dari sang sahabat. Zee dan Kiara memeluk Abigail bersamaan.
"Aku akan menjaga putramu, kau bisa tenang menjaga Sam disini," ucap Kiara.
"Putramu berarti putra kita juga, kau percayalah saja Yuan pada kami," ucap Zee.
"Terimakasih, terimakasih banyak tuk kalian semuanya," balas Abigail.
Hari itu, Sam di lindahkan ke ruangan VVIP yang lebih besar agar, Abigail bisa lebih leluasa menjaganya. Ruangan itu sudah seperti apartemen kecil yang di lengkapi fasilitas yang lengkap. Alex dan Wil mencarikan suster yang akan berhak 24 jam tuk membantu Abigail.
Biar dan yang lainnya kembali kerumah Ara, Kiara masuk ke dalam kamar Abigail. Di sana sang putra masih tertidur dengan sangat lelap, wajahmu begitu menggemaskan, Liar tersenyum seraya mencium dengan perlahan.
"Putraku, tidurlah dengan lelap. Bermimpilah sayang!" lirih Kiara.
Zyan memeluk Kiara dari belakang, mencium pipi sang istri. Zyan termenung melihat Yuan yang tertidur.
"Paman berjanji sayang, akan menjagamu dan ibumu sampai ayahmu sadar," batin Zyan.
Abigail menjaga Sam dengan begitu perhatian, setiap hari wanita itu akan membersihkan seluruh tubuh sang suami, memakai bajunya membacakan cerita, bahkan Abigail tidur di samping Sam.
"Sudah satu minggu kau tertidur, apakah kau tak ingin melihatku? Apa hanya aku yang merindukan dirimu?" tanya Abigail, seraya membersihkan tangan Sam.
Suster yang menemani Abigail akan terus tersenyum jika mendengar Abi yang berbicara dengan Sam, usia dari suster itu mungkin seusia Vanya.
"Terimakasih, Sarah. Apakah kau sudah makan?" tanya Abigail.
"Ya, Nyonya. Anda makanlah dahulu, Tuan Sam saya yang akan menjaganya," jawab Sarah.
"Baiklah, tolong jaga suamiku sebentar!" pinta Abigail.
Sarah mengangguk ia, sedangkan Abi pindah ke sofa tuk makan. Sarah begitu teliti dan sangat cekatan, dia akan selalu memantau Sam setiap jam nya. Sarah menatap wajah Sam yang masih terlihat tampan di usia nya yang sekarang.
"Kenapa, Tuan ini begitu tampan. Nyonya juga begitu cantik, bagaimana dengan anak mereka? Pastinya sangat tampan dan menggemaskan," batin Sarah.
"Sarah, bisa aku minta tolong? Aku akan keluar sebentar ada keperluan," ucap Abigail.
"Tentu, Nyonya. Anda bisa percayakan pada saya, sebentar lagi juga Dokter Ken ada datang tuk memeriksa Tuan," balas Sarah.
"Baiklah, Terimakasih," ucap Abigail.
"Ya, Nyonya."
Abigail keluar dari dalam ruangan, ini pertama kalinya dia keluar dari sana selama menjaga Sam. Abigail begitu merindukan Yuan sang putra. Tapi, dia tahan agar tak bertemu dengan putranya.
Yuan anak yang pintar, dia akan merengek dan terus menangis jika sudah melihat Abgial. Maka dari itu, Abi membiarkan Yuan tuk dekat dengan Kiara.
"Bersabarlah sayangku, ibu akan cepat kembali bersama dengan ayahmu," gumam Abigail smebari menatap foto sang anak.
Abi hanya keluar di taman dekat rumah sakit, wanita itu terlihat begitu kurus, lingkaran hitam di matanya menandakan dia tak cukup tidur.
Drrrttt... Ponselnya bergetar terlihat pesan dari Kiara, Abigail tersenyum setiap mendapatkan pesan dari temannya itu. Abigail membuka pesan itu dan terlibat vidio Yuan yang sedang belajar berjalan, air mata Abigail mengalir karena bahagia.
"Kau bisa berjalan nak?" Lucunya, pangeranku," ucap Abigail sangat senang.
Di vidio itu terlihat Kiara yang sedang menunggu Yuan berjalan, putra kecilnya berjalan dengan sangat pelan. Saat langkah ke tiga tubuhnya hampir terjatuh, jika tidak di tangkap oleh Kiara.
"Huwaaa,,," Yuan menangis karena kaget.
__ADS_1
"Oh, sayang. Yuan, tidak apa ada bibi di sini," ucap Kiara sembari memeluknya.
Abigail menutup mulutnya, seharusnya dia lah yang ada di sana mengajari putranya berjalan dan melihat langkah pertamanya, memeluknya saat langkahnya terhenti.
"Maafkan ibu nak, kau harus bersama dengan bibi Liar dahulu. Kau anak yang pintar, Yuan," isak Abigail menahan rasa rindunya.
Abigail menatap langit biru di atas sana, mengadahkan wajahnya agar air mata itu tak terus mengalir.
"Sedang apa kau di sini?" tanya Zee yang sudah duduk di sebelahnya.
"Aku hanya ingin menghirup udara segar, kapan kau datang?" tanya Abigail balik.
"Beberapa menit lalu," jawab Zee.
"Kau sudah menemuinya?" tanya Abigail.
"Sudah, sebelum mencarimu. Aku melihatnya dulu, kenapa dia begitu asyik dalam tidurnya," ucap Zee.
"Ya, dia begitu pulas dengan segala mimpinya. Apa dia tak merasakan, jika aku sangat merindukan dia," balas Abigail.
"Darimana kau tahu, mungkin saja dalam tidurnya dia sedang mencarimu," ucap Zee.
Abigail tersenyum mendengar ucapan dari Zee, dua wanita itu berbicara banyak. Mengingat akan perkenalan mereka saat dulu, persahabatan mereka sangat erat. Pagi itu, Abigail bisa sedikit melepas penatnya dan tertawa bersama dengan Zee.
**Hanya Untukmu
Rasanya tak ingin berakhir
Saat kita rasa bahagia
Hidup penuh dengan misteri
Kadang sulit kita jalani
Takkan bisa sendiri
Meraih mimpi tanpa cintamu
Terlalu indah 'tuk dibayangkan
Terlalu manis untuk di kenang
Karena engkau ku ada di sini
Kau selalu ada di hatiku dan di cintaku
Takkan bisa sendiri
Meraih mimpi tanpa cintamu
Terlalu indah 'tuk dibayangkan
Terlalu manis untuk di kenang
Karena engkau ku ada di sini
Kau selalu ada di hatiku dan di cintaku
Terima kasih telah memilihku
'Kan ku jaga cintamu selamanya
Ku 'kan selalu jadi yang terbaik
Melantunkan melodi terindah
Hanya untukmu...
Bersambung 🍂🍂🍂**
__ADS_1