
Semenjak kejadian tenggelam itu, Alex semakin sibuk berada di luar negeri. Membiarkan Wiliem yang menghandel semuanya. Sudah sebulan dia tak pernah pulang, sedangkan Wili semakin dekat saja dengan Alya. Setiap akhir pekan mereka akan pergi bersama. Ketulusan Wili terhadap Alya, membuat Zee semakin bersimpati padanya.
Wiliem lelaki yang berhati lembut, dan benar-benar sangat tulus pada Alya. Tanpa dia menginginkan balasan dari Zee.
"Kenapa, kau begitu baik pada Alya dan aku, Wil?" tanya Zee.
"Berbuat baik itu bukannya suatu hal yang biasa, kenapa kau menanyakan itu?" tanya Wili kembali.
Zee hanya tersenyum tipis seraya menatap Wili yang duduk di depannya.
"Kau, begitu berbeda. Kau sampai rela melakukan apapun tuk Alya. Kau juga memperkenalkan Alya sebagai anakmu," ucap Zee.
"Kau, tahu Zee. Saat pertama aku melihat Alya, aku merasakan suatu rasa takut, cemas, dan melindungi. Tatapan mata Alya yang begitu merindu, kata pertama yang dia ucapkan saat memanggilku Daddy. Itu semua membuat jantungku berdegup kencang," jelas Wili mengingat kejadian itu.
"Aku memang bukan Alfa suami mu atau pun Daddy dari anakmu. Tapi, yang aku tahu sekarang kalau Alya adalah anakku!" imbuh Wili.
Zee menatap keluar jendela, Zee ingat betul bagaimana pertama bertemu dengan Wili, sampai sekarang mereka berteman. Ya, untuk sekarang inilah ikatan keduanya.
"Wil, apakah tak akan ada yang merasa tersakiti karena perilakumu pada Alya?" tanya Zee.
"Siapa, Mommy menyukai Alya dan dirimu. Mommy, menganggap Alya juga cucunya. Zee, dengarkan aku! Aku dan Mommy tak akan menuntut apapun darimu. Apalagi, tentang perasaan mu itu, karena itu adalah milikmu. Aku atau pun Mommy tak bisa memaksanya," jawab Wiliem.
Zee begitu tersentuh akan pengakuan Wiliem, merasa sedikit lega karena mereka tak meminta apapun.
"Wil, terimakasih atas semua kebaikanmu! Maafkan aku yang masih belum bisa membalas apapun tuk mu atau pun Nyonya Sofia," balas Zee.
"Aku dan Mommy, hanya ingin melindungi putri kecil kami. Dan semua itu, tak membutuhkan balasan," seru Wiliem.
Kebaikan yang telah Azura dan Bumi telah mengantarkan anak-anaknya bertemu dengan orang-orang baik.
"Aku memang menjadi Daddy dari anakmu, tapi aku juga bisa menjadi teman, sahabat darimu, Zee!" seru Wiliem.
"Kau lebih dari itu, Wil. Kau itu seperti malaikat tuk Alya dan diriku. Kau menjaga kami, memberikan kebahagiaan tuk kami," balas Zee.
Wiliem mengusap tangan Zee, mengangguk ia lalu tersenyum. Zee pun membalas senyuman Wiliem.
Sepasang mata elang melihat kejadian tersebut, rasa amarah di dalam hatinya begitu terasa, tapi ada rasa sejuk pula di relung hati kecilmu saat melihat sang wanita itu tersenyum, dan baik-baik saja.
"Aku akan terus jadi bayanganmu! Aku hanya bisa melakukan itu, tanpa harus kau tahu siapa aku," ucapnya.
Setelah mengatakan itu, dan melihat semuanya baik-baik saja. Lelaki itu pun kembali ke apartemennya. Kembali menjalani rutinitasnya yang nakal seperti biasa.
"Aku sangat lelah, kenapa setelah bertemu dengannya saja sudah membuat rasa ini semakin bertambah?" gumamnya.
Akhirnya lelaki itu terlelap, dengan segala kegundahan di hatinya. Melepas sedikit rasa letihnya, membiarkan otaknya tuk beristirahat.
Tak terasa malam sudah menyambut, bulan dan bintang terlihat bersahaja. Melihatkan sinar yang indah.
Drrttt,, drrtttt,,, drrrtt,,,
Ponsel itu terus-terus bergetar tanpa henti sejak tadi. Membuat sang mpuya nya terbangun dan meraih ponsel tersebut.
"Ya, hallo,"
"Kau harus segera pulang, karena ini sangat penting. Tentang Nyonya!"
Dengan segera lelaki itu mencuci wajahnya, tanpa mengganti bajunya. Dengan cepat berlari keluar apartemen dan mengemudikan mobilnya dengan kecepatan penuh.
Hatinya merasa tak enak, ada apa dengan sang Ibu. Lelaki itu akan sangat cemas hilang kendali jika sudah menyangkut tentang sang Mommy.
Jalan malam itu, membuatmu sangat kesana karena mobil sama sekali tak bisa bergerak. Dikarenakan ada kecelakaan di depan sana.
"Shitt!! Kenapa, harus sekarang. Bagaimana dengan Mommy," ucap Alex begitu cemas.
Tanpa pikir panjang, Alex turun dari mobil membiarkan mobil itu disana. Karena posisi mobil itu berada di samping jalan. Alex berlari menyusuri jalanan macet itu, setelah berlari selama 10 m. Akhirnya Alex mendapatkan taxi dan menaikinya tuk mengantarnya ke rumah.
"Bisakah kau lebih cepat?" tanya Alex.
"Baik, Tuan!" seru Driver.
Menempuh jarak tigapuluh menit, akhirnya Alex sampai rumah. Disana sudah ada sang bibi yang duduk di dekat kamar sang Mommy, ada Alya dan juga Zee.
"Mommy, bagaimana dia?" tanya Alex.
"Masuklah! Kau sudah di tunggu olehnya dan juga Wil!" pintanya.
Alex pun bergegas masuk, terlihat Sofia terbaring lemah, matanya tertutup rapat, wajah ayu nya begitu pucat. Ada infusan di tangannya.
"Kenapa? Mommy, kenapa?" tanya Alex.
"Al, Mommy. Jantung Mommy, kembali bermasalah. Dan kejadiaannya sangat mendadak, saat semua orang sedang makan malam bersama," jelas Wiliem.
Alex mendekati Sofia mencium tangan dan juga keningnya. Alex membelai rambut sang Mommy.
"Why, bukalah matamu! Kenapa kau membuatku takut, hm?" tanya Alex berbisik pada sang Mommy.
Wili hanya diam melihat kembaran yang akan menjadi lunak jika terjadi apapun pada Mommy mereka.
"Jangan tinggalkan Mommy! Kembalilah, Al!" ucap lirih Sofia.
Seketika wajahnya berubah, Alex diam mematung tak bisa menjawab atau pun. Hatinya berdetak kencang seluruh tubuhnya bergetar, peluh sudah membasahi wajahnya.
__ADS_1
"Jangan sebut aku dengan nama itu! Kenapa kau selalu mengerjai diriku. Hah!" teriak Alex.
Sofia hanya bisa menangis, jika melihat Alex yang seperti itu. Sedangkan Wiliem hanya diam tak bisa melakukan apapun.
"Jika kau mau aku ada disini, diamlah! Jangan lagi mengucapkan kata-kata itu lagi. Apalagi sampai mereka tahu!" ancam Alex.
Dengan rasa kesal, Alex keluar dari ruangan itu, ternyata di depan pintu Zee sedang berdiri disana. Matanya sudah berkaca-kaca menatap Alex.
Alex terkejut, namun dia mencoba tak menghiraukan keberadaan Zee. Alex hanya melewatinya saja, tanpa berbicara apapun.
"Mommy, ada apa dengan Uncle?" tanya Alya.
Zee tak menjawab, dia hanya mendengar Sofia memanggil nama Alex dengan sebutan Al. Entah kenapa Zee merasakan sesuatu di hatinya, berpikir dia Alfa?.
"Tidak, Zee. Alfa sudah meninggal, dan Alex itu mempunyai kembaran yaitu Wiliem. Jadi, dia bukanlah Alfa kekasihmu!" batin Zee menyakinkan dirinya.
"Mommy," ucap Alya sedikit berteriak seraya menggoyangkan lengan Zee.
"Ahh, ya nak! Ada apa?" tanya Zee.
"Mommy, sudah di panggil Daddy!" seru Alya.
Zee pun menatap ke dalam, terlihat Wiliem menatapnya dengan senyuman terbaiknya. Zee pun mencoba tersenyum.
"Ada apa? Kenapa kau melamun?" tanya Wili.
"Aku harus segera kembali, kantor sedang mmebutuhkanku! Dan, Alya akan kerumah kakakku," jawab Zee.
"Baiklah, hati-hati! Hubungi aku jika sudah sampai!" pinta Wili.
"Ok," jawab Zee singkat.
"Daddy, Al pergi dulu yah!" serunya seraya mencium pipi Wili.
Setelah itu, Alya mencium kening Sofia yang kembali tertidur setelah menangis karena Alex.
"Bye, princess," ucap Wiliem.
°Club On Night
Deguman musik terdengar jelas disana, banyak wanita yang berlenggak lenggok mentari dia lantai dansa, para lelaki dan wanita yang sedang bersulang tak banyak pula yang sedang menemani para lelaki disana.
"Ah, aku sangat rindu dirinya! Sudah sangat lama, Tuan Alex tak datang,"
"Hemm, kau sangat beruntung karena selalu bisa merasakan tubuh kekarnya,"
"Kau, tahu. Aku sangat berusaha saat mendekatinya, semuanya penuh perjuangan agar bisa bersamanya selama semalam,"
"Hemm, jangan kau bicarakan itu! Aku jadi teringat saat-saat pertama aku dengannya,"
Obrolan dari wanita penghibur disana, club itu tak bisa sembarang orang bisa masuk. Karena, club itu sangat menjaga privasi pelanggan dan pekerja disana. Hanya orang-orang kaya yang bisa masuk, dan memiliki kartu AS.
Tak lama, saat semuanya sedang asyik dengan semua wanita disana. Datanglah sang pangeran yang mereka tunggu-tunggu, terlihat Alex dengan santainya masuk. Membuat para wanita itu histeris memanggil namanya.
"Tuan Alex, datang! Ahh, lihat dia semakin tampan saja,"
"Lihat, tubuhnya semakin gagah saja. Uuhh, sungguh beruntung yang bisa menemani dirinya,"
Alex datang sendiri, baju yang dia pakai begitu simpel. Hanya memakai kaos polos dan celana jins saja. Tapi, tak memudarkan ketampanannya.
"Hello, Tuan Alex," sapa Madam Liu.
"Hello, Madam," sambut Alex seraya cipika cipiki.
"Tuan, ada yang bisa saya bantu? Atau anda ingin memilihnya sendiri?" tanya Madam Liu.
"Bawakan dua gadis baru tuk ku! Seprti biasa siapkan kamar private ku!" perintah Alex.
"Tentu Tuan, silakan anda tunggu sebentar! Saya akan siapakah yang terbaik tuk anda," balas Madam Liu.
Madam Liu pun meminta pegawainya tuk membersihkan kamar yang di pesan. Setelah itu melihat anak-anak asuhnya. Tuk menemani Alex.
Alex duduk di kursi bar, memesan minuman. Tak lama ada dua wanita yang menghampirinya, mereka begitu seksi, cantik, dan tentunya bertubuh bohay ala gitar Spanyol.
"Selamat, malam Tuan Alex," sapa wanita tersebut.
Alex tak menjawab hanya menatapnya dari kepala sampai ujung kakinya.
"Malam, siapa kau? Aku baru melihatmu, disini" ucap Alex.
"Ya Tuan, anda benar. Saya anak baru asuhan dari Madam Liu, nama saya Trisa. Yang akan menemani anda malam ini," balas Trisa.
Alex pun melihat gadis satunya, sepertinya dia tampak pendiam dan tak banyak bicara.
"Lalu siapa wanita yang berada di belakangmu?" tanya Alex.
"Dia, Rin. Temanku yang akan menemani dirimu juga Tuan," jelas Trisa.
"Ok, aku menerima kalian. Aku mau malam ini kalian bisa membuat diriku senang!" perintah Alex.
Akhirnya Alex pun bermain-main dengan dua wanita itu. Merasakan belaian yang bertubi-tubi dari mereka. Alex bisa sedikit melupakan apa yang terjadi.
__ADS_1
"Baiklah, Tuan. Ruangannya sudah suapa! Kita bisa pindah sekarang!" ucap Trisa.
"Ok, honey. Ayo kita lakukan secepatnya! Dan jangan kecewakan aku!" perintah Alex.
"Tidak Tuan, kami akan berusaha membuat dirimu puas dengan kami!" seru Rin.
"Wow,, kau baru saja berbicara cantik? Suaramu menggoda sekali," ucap Alex seraya menoel dagu Rin.
Rin hanya tersenyum mendapat pujian dari Alex, sedangkan Trisa hanya tersenyum tipis melihatnya.
Mereka bertiga pun akhirnya berjalan dengan pelan menyusuri ruangan tersebut. Rin dan Trisa begitu senang bisa melayani Alex yang notabennya orang kaya, lelaki berwajah tampan, bertubuh kekar dan sixpack membuat setiap wanita tergiur tuk bisa bermain dengan dirinya.
"Ini Tuan, kamar private nya!" seru Rin seraya membuka pintu kamar tersebut.
Terlihat begitu mewah bak kamar hotel. Di lengkapi tv dan sofa besar di kamar mandi terdapat bath up. Ranjang yang berukuran king size.
Trisa terus memapah tubuh Alex ke dalam, disana wanita itu mulai beraksi dengan keahliannya. Alex hanya tersenyum tipis melihat kedua wanita itu.
Di luar terlihat sosok wanita cantik yang berjalan dengan sosok lelaki. Terlihat wanita itu tak menyukai tempat yang mereka datangi.
"Maaf, Tuan. Kenapa anda memilih tempat seperti ini?" tanya Zee dengan tatapan tak suka.
"Nona Zee, anda jangan salah sangka. Say membawa anda kesini, agar meeting kita tidak terlalu tegang," jawab Charles.
"Masih banyak tempat yang sangat nyaman di luar sana, dan terkesan lebih baik dan tak berisik," Zee semakin merasa tak suka.
"Tenang saja, Nona Zee. Di dalam ada ruang privasi tuk para tamu, dan biasa digunakan meeting oleh para perusahaan," seru Charles menyakinkan Zee.
"Ruang privasi? Kau jangan bercanda, Tuan!" hardik Zee.
"Nona Zee, anda terlalu tegang dan serius. Di dalam ada sekretaris saya, dia sudah menunggu!" ucap Charles.
Akhirnya Zee pun percaya pada Charles, mengikutinya ke dalam. Zee benar-benar tak suka memasuki tempat seperti ini, karena Zee tak suka melihat lelaki hidung belang bermain di belakang istri-istri mereka.
Charles pun memanggil Madam Liu dan meberitahukan tuk menyiapkan ruangan khusus dirinya. Madam pun tersenyum tipis dan mengerti apa yang di inginkan Charles.
"Tuan Charles benar-benar ya, kemarin baru saja membawa gadis masuk kemarin. Dan sekarang lihat dia membawa wanita yang begitu cantik. Tapi, lihatlah penampilanya begitu sopan dan elegan," ucap anak asuh Madam Liu.
"Kasihan sekali, wanita itu. Dia tak akan bisa lolos dari cengkaraman Tuan Charles," imbuhnya.
Zee sudah merasa risih dengan semua mata yang menatapnya. Bau alkohol sangat pekat disana, suara musik yang sangat berisik.
"Nona Zee, mari kita langsung keruangan saja!" perintah Charles.
"Baiklah, tapi tolong lakukan dengan cepat! Saya ada urusan lain setelah ini!" seru Zee.
Charles hanya tersenyum lalu mengangguk ia. Tapi terlihat tatapannya sudah berbeda saat melihat Zee. Sifat hewannya sudah terlihat, lelaki seperti Charles adalah sosok hidung belang yang hanya ingin madunya saja tanpa ingin bertanggung jawab.
"Sungguh, aku takut! Tempat apa ini? Kenapa terdapat lorong panjang seperti ini?" batin Zee memperhatikan sekelilingnya.
"Wanita ini memang sangat pintar, begitu mempesona, dan sangat elegan. Tak ada yang bisa mendapatkannya. Tapi, tidak denganku! Charles Hilton, tidak bisa di kalahkan!" batin Charles dengan seringainya.
Charles memasuki salah satu ruang disana, dan memang benar disana ada sosok wanita yang sudah menunggu.
"Selamat datang Tuan Charles dan Nona Zee," sapanya dengan senyuman yang manis.
Zee membalas tersenyum padanya. Zee sedikit lega karena memang benar mereka tak hanya berdua, ada satu orang lagi yang menemani.
"Saya Lisa, sekretaris Tuan Charles," ucap Lisa memperkenalkan diri seraya menyosorkan tangannya.
"Hallo, saya Zee," ucap Zee sambil menyambut tangan Lisa.
Lisa pun mempersilahkan Zee tuk duduk dan langsung membuka pembicaraan meeting tersebut. Semuanya berjalan dengan lancar, sampai meeting itu selesai dan Lisa pamit tuk mengangkat telpon sebentar.
Disitu lah Charles beraksi dengan tipu muslihatnya. Sedangkan Zee sedang membereskan berkas-berkas nya tanpa mempunyai pikiran curiga sedikit pun.
"Nona, silakan anda minum dulu. Anda pasti sangat haus dan ini hanya jus biasa, bukanlah alkohol," jelas Charles.
"Terimakasih, Tuan sudah mengerti saya," balas Zee seraya mengambil minuman itu dan menenggaknya langsung tanpa curiga.
Charles tersenyum puas akan rencananya yang berhasil dengan sempurna.
Di kamar sebelah, dua wanita itu sedang bersenang-senang dengan tubuh Alex. Tapi entah kenapa Alex seakan tak menikmatinya, pikirannya selalu tertuju pada satu wanita. Dan itu berhasil membuatnya tak menginginkan kedua wanita yang ada di depannya.
"Sudah cukup! Pakailah pakaian kalian lagi, aku sudah puas dengan permainan kalian!" seru Alex.
Rin dan Trisa begitu terkejut, mereka masih belum melayani Alex sama sekali. Tapi dengan segera mereka menuruti ucapan dari Alex.
"Ini cek untuk kalian berdua! Ambillah!" perintah Alex seraya memberikan itu.
"Tuan, ini sangat banyak! Kami tak melayani anda dengan baik," ucap Trisa saat melihat nominal yang tertulis disana.
"Tidak apa! Kalian sudah begitu sopan dan menuruti kata-kataku, saya sangat suka dengan itu," ucap Alex.
Rin dan Trisa pun tersenyum, dan berterimakasih lalu keluar. Sedangkan Alex memakai kembali kaosnya, tak sengaja mendengar suara teriakan dari kamar sebelah.
"Ada teriakan, wanita? Hah, mungkin dia di jual dan di paksa tuk melayani," ucap Alex.
Tanpa dia tahu, jika sosok.wanita yang menjerit itu siapa. Jika, Alex tahu siapa dia. Apa yang akan di lakukan oleh Alex?
**Selanjutnya akan bagaimanakah?
__ADS_1
Cus,, tetap diam di tempat tunggu kembali cerita Alex si playboy dan Zee princes salju**.