
Pagi harinya setelah sarapan Rafli dan Ana berpamitan kepada nenek Rose. Nenek Rose sudah berusaha membujuk Ana dan Rafli untuk tetap tinggal sementara waktu namun Rafli menolak dengan halus karena tujuan utamanya untuk babymoon. Rafli juga berbicara kepada nenek Rose untuk usahanya membantu menyatukan Ines dengan pria itu agar segera menikah dan nenek Rose senang bukan main , dan ia juga berharap Ines akan tinggal di Belanda.
Rafli bukan egois , ia ingin menjaga istrinya karena terlihat Ines begitu ingin menguasai Ana karena rasa sayangnya menganggap Ana bagai saudara kandung. Terlintas di pikiran buruk yang menyangka Ines lesbi dan Rafli memutuskan bertemu Ines saat itu , namun yang di dapat pukulan keras dari Ines yang membuat wajah tampan Rafli memar dan Ines sangat marah dengan tuduhan Rafli. Ines wanita normal dan bukan penyuka sesama jenis.
" Kalian hati-hati babymoonnya " ucap nenek Rose , Rafli dan Ana mengangguk.
" Bilang nenek mu terima kasih atas baju dan syal ini " imbuhnya memeluk Ana dengan sayang.
" Iya nek , akan Ana sampaikan " ucap Ana tersenyum.
" Kalian hati-hati " ucap nenek Rose melepas kepergian Ana dan Rafli , nenek Rose juga memerintahkan orang kepercayaannya menjaga keselamatan Ana meski Ana melakukan penyamarannya namun seorang rival sangatlah pintar. Jimmy juga diam-diam memberikan bodyguard menjaga Rafli dan Ana dari jarak jauh meski Rafli sempat menolaknya namun keselamatan mereka lebih penting dari apapun.
" Mas , apa yang kamu rencanakan agar Ines mau nerima perjodohan itu " tanya Ana curiga karena Rafli bisa melakukan hal gila apa saja. Kini mereka sedang menuju Villa di tepi pantai dengan menggunakan mobil dari nenek Rose lengkap dengan supir pribadi karena nenek Rose tidak melepas mereka begitu saja saat berada di Belanda. Nenek Rose merasa bertanggung jawab disini meski harus berdebat dengan Rafli yang telah menyiapkan segalanya.
" Mau tau aja atau mau tau banget " tanya Rafli menggoda Ana dan dihadiahi Ana dengan cubitan panasnya.
" Ok baiklah " ucap Rafli pasrah.
" Mas berencana mendekatkan Ines dengan pria itu dengan bisnis , mas akan sering mempertemukan mereka . Ines bekerja sama dengan mas dan mas akan bekerja sama dengan pria itu dan nanti kami bertiga akan mengerjakan proyek " ucap Rafli tapi enggan menceritakan inti siasatnya kepada Ana karena otomatis Ana menolaknya namun bagi Rafli itulah cara paling jitu. Paling tidak wanitanya tidak mengagumi pria itu ataupun pria lain. Ia takut jika awal kagum menjadi suka dan cinta membuat Ana berpaling meski ia yakin bisa mendapatkan Ana kembali. Konflik hubungan asmaranya dengan Ana membuat Rafli bisa mati dibuatnya maka Rafli membuat prisai lebih dulu. Sementara Ana mengangguk saja meski ia ragu mendengar alasan Rafli.
Ana dan Rafli menikmati babymoon mereka di suatu villa dimana mereka tiba hampir siang memutuskan untuk makan siang lebih dulu apalagi wanitanya masih lapar padahal saat diperjalanan nenek Rose membungkus bekal begitu banyak untuk Ana. Hamil anak pertama Ana sungguh enak , ia dengan gampang memasukkan segala makanan kedalam mulutnya dan selama dua bulan pula Rafli tersiksa karena rasa mual dan selebihnya Jimmy dan Dewi tersiksa karena permintaan aneh-aneh Rafli.
Ana melahap menu makanan yang telah tiba di kamar mereka tanpa memikirkan Rafli yang menatapnya geli sekaligus bahagia. Rasa lapar Rafli berubah menjadi kenyang saat melihat Ana makan dengan bebasnya dan tanpa malu bersendawa dan itu membuat tawa Rafli pecah. Rafli mengira seperti apa sifat dan kelakuan anaknya nanti , lucu dan apa adanya mungkin, asal jangan memalukan aja nanti pintanya .
Sementara di belahan bumi lain , keributan tengah terjadi antara anak dan seorang ibu.
" Eric anak kalian sedang sakit , kenapa kau ingin tetap pergi " ucap Sasa marah karena Eric tiba di bandara dan Sasa mengetahui itu segera menyusul anaknya.
" Ma , aku perlu menyegarkan fikiran dulu " ucap Eric jujur.
" Dan aku ada pameran disana " elaknya.
" Tapi anakmu lagi sakit " pinta Sasa.
" Please ma , aku harus pergi " ucap Eric mendengar jika keberangkatannya ke Belanda akan segera di mulai.
" Eric titip Excel beberapa hari " imbuhnya mencium kening Sasa lalu pergi begitu saja mencari ketenangan hati dan fikirannya. Berharap di Belanda ia menemukannya.
" Berada di dekatmu sungguh muak Laurent , terasa percuma saja tapi aku harus bersabar , siapa tahu aku bisa mengingat sesuatu yang hilang " batin Eric saat duduk di bangku pesawat.
.
.
Eric menghirup udara segar di Belanda , ia tiba saat pagi hari , segera menuju villa yang ia pesan untuk beristirahat sejenak. Saat hendak mendekati villa yang ia pesan , ia melihat sepasang suami istri yang terlihat bahagia dengan sang suami memeluk istrinya dengan sayang dan mereka tertawa lepas seolah beban yang meraka tanggung tidak ada. Ada rasa iri dan nyeri di hatinya melihat pemandangan itu ntah kenapa Eric tak mengerti.
__ADS_1
" Apa urusanku. Semoga pria itu tak tertipu dengan wanita tengah hamil itu " gumam Eric saat melihat Rafli mengusap perut Ana dan sesekali mencium pipi Ana. Eric kembali kesal mengingat Excel bukan darah dagingnya meski Eric tak mencintai Laurent , namun Eric begitu menyayangi Excel.
" Kau bahagia sayang " ucap Rafli mengecup pipi mulus Ana yang terlihat tembeb..
" Bahagia mas , tapi aku gerah " ucap Ana dan Rafli merenggangkan pelukannya.
" Badan aku besar banget ya mas " tanya Ana mulai cemberut.
" Pusing , mulai lagi " batin Rafli.
" Yang penting cantik dan mas mencintaimu . Demi anak kita " bujuk Rafli dan Ana mengangguk.
Pesanan Rafli telah tiba , ia memesan sarapan untuk dirinya dan Ana . Ia memesan aneka buah untuk disimpan di kulkas yang ada di dalam villa..
" Ayo sayang kita masuk " ucap Rafli menggendong tubuh Ana.
" Turuni mas , berat . Badanku kan besar " ucap Ana tersenyum getir karena bentuk tubuhnya.
" Tapi kan itu mu juga besar " ucap Rafli membuat pipi Ana merah karena malu , ia mengerti maksud Rafli. Dan Rafli mencium sekilas bibir Ana.
" Menjijikkan " gumam Eric tanpa sengaja melihat Rafli mencium bibir Ana tanpa malu .
" Dasar jendela sialan " umpatnya menyalahkan posisi jendela.
" Apa begitu gila dan tidak tahu malu saat orang jatuh cinta . Bersyukurlah aku bukan tipe pria seperti itu " batin Eric.
" Ya Tuhan , apakah sifat anakku akan arogan nantinya " batin Rafli.
Rafli mengelus perut Ana dan betapa senangnya Rafli saat sang anak dalam kandungan bergerak karena sentuhannya dan Ana menghentikan permainannya.
" Sayang anak mas membalasnya " ucap Rafli bahagia.
" Pasti ia senang dengan suapan dari ayahnya " imbuhnya.
" Iya mas " ucap Ana tersenyum karena melihat rona bahagia suaminya.
" Mungkin ia baru mengenali ayahnya " imbuhnya tanpa sadar.
" Hobi sekali setelah membuat orang bahagia lalu kau ingin menghempaskannya sayang " ucap Rafli menyingkirkan sebuah piring dari ranjang mereka.
" Ka.....kau.... mau a...apa mas " tanya Ana gugup.
" Apa tidak cukup semalam. Sungguh ini bukan baby moon tapi bulan madu " batin Ana.
" Membesuk anak kita , agar ia tahu mas adalah ayahnya dan karena mas ia bisa tumbuh di rahim wanita yang cantik ini dan Allah yang menciptakannya untuk penyempurna kebahagiaan kita " ucap Rafli dengan nafas yang memburu segera melakukan sentuhan dan cumbuan yang membuat hasrat Ana juga ikut bangkit.
__ADS_1
" Ayah datang sayang " ucap Rafli dengan suara berat dan pusaka itu perlahan memasuki inti kenikmatannya.
" Aku mencintaimu Ana " ucap Rafli di setiap hentakannya.
" Aku juga mas " balas Ana menarik tengkuk Rafli agar memperdalam lu**tannya.
Ana mengerucutkan bibirnya setelah pergulatan panas mereka.
" Bibir ini kenapa selalu menggoda hemm " ucap Rafli saat hendak kembali mengukung tubuh Ana.
" Sudah hentikan mas , siapa yang menggodamu. Kau lihat , perutku mulai kram mas " ucap Ana marah karena perutnya kembali mengencang.
" Maaf... maaf " ucap Rafli cemas.
" Maafkan ayah ya sayang " imbuhnya mencium perut buncit Ana yang polos.
" Bilang pada bunda jangan galak-galak , nanti tidak ayah bagi saham kamu " ucap Rafli dan mendapat sentilan dari Ana cukup kuat.
" Aauuuw sakit Nana " gerutu Rafli.
" Kau ini tipe ayah seperti apa , jangan memanjakan anakmu nantinya " ucap Ana memperingati.
" Dia anakku Ana , untuk apa mas bekerja dan mendirikan cabang dimana-mana jika bukan untuk membahagiakan anak dan istri mas " jawab Rafli menahan kesal karena seusai bercinta Ana selalu saja berubah menjadi galak dan terkadang menceramahinya namun Rafli tidak pantang menyerah untuk terus melakukan hal itu.
" Dan satu lagi , belum lagi perusahaan -perusahaan papa. Mengertilah kebahagiaan anak-anak kita itu yang utama sayang dan paling penting kebahagiaanmu . Dirimu segalanya bagi mas Ana , tanpa mu mas juga tidak ada di dunia ini. Mas ingin menjadi yang pertama di hadapan mu dan anak kita , mas ingin selalu kalian andalkan dan banggakan . Buatlah mas repot , hal itu membuat mas bahagia " imbuhnya menatap dalam mata Ana.
" Iya mas , maafkan aku yang terkadang sering marah -marah . Aku merasa KDRT sama kamu mas " ucap Ana sendu.
" Tidak apa sayang , mas siap kamu jadikan samsak " goda Rafli membuat Ana tersenyum memeluk tubuh suaminya dan menghirup aroma tubuh Rafli yang menenangkan jiwanya.
Siang hari Rafli memilih berada di dalam villa bersama Ana , mengelus perut wanitanya dan memanjakannya.
Saat sore Rafli mengajak Ana untuk berendam di jacuzzi pribadi yang di sediakan di villa tempatnya menginap. Rafli merilekskan tubuhnya dan memijat lembut tubuh Ana , sesekali tangannya nakal meraba tubuh wanitanya pada bagian sensitif.
Puas usai makan malam romantis Ana dan Rafli kembali ke villa tempat mereka menginap , Rafli merasa dirinya begitu pegal-pegal setelah menyiapkan makan malam itu saat Ana tertidur pulas setelah berendam , dengan memasak menu-menu makan malam mereka dan menata seromantis mungkin tempat itu , ia ingin Ana merasa takjub karena hasilnya sendiri.
" Sayang , ayo kita tidur " ucap Rafli lembut dan Ana menuruti saja.
Dengkuran halus telah terdengar di telinga Ana , ia cemberut karena Rafi tidur duluan padahal ia ingin di elus-elus punggungnya agar dapat tertidur namun saat Rafli lama mengelus punggung Ana bukan Ana yang tertidur melainkan dirinya sendiri.
Ana memainkan jarinya menelusuri rahang tegas suaminya , ia tak tega untuk membangunkannya. Ana beranjak pelan dari tempat tidur itu , menatap jam yang menunjukkan pukul sembilan malam. Rasa bosan menyelinap di hatinya. Membuat wanita itu keluar perlahan untuk merasakan udara pantai malam hari . Ana tidak jauh hanya berjarak sepuluh meter dari villa itu .
Puas menikmati udara pantai malam hari membuat Ana merasakan dingin yang menerpa kulit putih mulusnya dan rasa kantuk menyerangnya , Ana memutuskan untuk kembali.
Bbrruggg
__ADS_1
Jangan lupa like dan coment