Takdir Cinta

Takdir Cinta
256


__ADS_3

Sudah sepekan Zee dan Alex berbulan madu, menikmati dunia yang begitu asri tanpa kebisingan kendaraan sama sekali. Desa itu masih seperti dahulu, semuanya di lakukan dengan berjalan kaki atau pun menggunakan sepeda.


Pagi itu, Zee mengajak Alex ke kebun mawar dahulu sebelum sorenya mereka kembali ke Finlandia. Alex dan Zee bergandengan tangan begitu erat, terdengar canda tawa di sela-sela berbincangan mereka. Terlihat banyak warga disana yang berlalu lalang pergi ke kebun dan memanen teh.


"Daerah disini masih begitu asri, warganya masih menggunakan teknik tradisional," ucap Alex.


"Ya, aku pun tak menyangka itu, karena ini sudah selagi sepuluh tahun lamanya. Mereka masih melakukan pekerjaan ini dengan tradisional," balas Zee.


Dari kejauhan terlihat para wanita sedang bersiap membawa bakul memasuki taman bunga itu, aroma bunga mawar sangat harum di penciuman mereka. Warnanya terlihat indah di pandang.


"Aku jadi teringat saat dulu, Mommy menjual bunga-bunga di toko kami," ucap Alex.


"Dulu, itu lah tetapi favorit Bunda. Karena, taman itu Ayah lah yang membuatnya," seru Zee.


Mereka pun masuk ke labirin bunga itu, disana banyak sekali bunga berwarna-warni, begitu harum seakan menjadi aromaterapi di pagi itu.


"Kemanakah, mereka mengirimkan bunga-bunga itu?" tanya Alex.


"Entahlah, yang aku dengar dari penjaga Villa. Jika, sekarang pemiliknya itu orang Amerika," jawab Zee.


"Orang Amerika? Sangat jauh sekali, darimana di tahu desa ini?" tanya Alex kembali karena begitu penasaran.


"Aku pun kurang tahu, karena saat Bunda dan Ayah menjualnya aku tak ada di sini. Aku sudah berada di Finlandia," jawab Zee.


Akhirnya Alex berhenti menanyakan tentang masa lalu itu, karena tak mau sang istri menjadi sedih. Alex memeluk tubuh Zee agar semakin dekat dengan dirinya, Zee tersenyum melihat perlakuan Alex yang begitu lembut pada dirinya.


Zee dan Alex akhirnya sampai di tengah-tengah labirin bunga tersebut, disana terdapat pohon Akasia di bawahnya terdapat tempat duduk dan sebuah meja.


Zee tak mengingat dulu ada pohon disana, terlihat pohon itu sudah snagat rindang dan besar.


"Wow, labirin ini begitu indah. Dengan sebuah pohon di tengah-tenganya, membuat aku terpesona," ucap Alex.


Zee berjalan mendekati pohon itu, memegangnya sembari menutup matanya. Henbusan angin yang bercampur dengan harumnya bunga mawar, begitu men rileks kan Zee.


"Zee, kemarilah! Lihat ada sebuah tulisan di meja ini!" pinta Alex.

__ADS_1


Zee pun berbalik dan menghampiri sang suami. Melihat sebuah tulisan dengan aksara hangeul disana. Zee merabanya, menatap lekat tulisan itu.


"Kira-kira apa artinya?" tanya Alex.


"Entahlah, mungkin ini tulisan milik sang punya taman ini," jawab Zee.


Alex pun mengangguk ia, Zee kembali mendekati pohon itu dan terus menatap ke atas melihat daun yang begitu rimbun. Namun, tetap terawat. Tanpa sepengatahuan, Zee, Alex memoto tulisan itu lalu mengirimnya ke Zyan.


"Aku sangat penasaran dengan tulisan ini. Apakah artinya," batin Alex.


Tak lama kemudian ada sebuah balasan dari Zyan, saat Alex membaca itu dia tak mengerti maksud dari kata-kata itu. Karena seperti teka teki.


"Kau bumiku, dan aku hanyalah bulanmu, kau kehidupanku, tapi kau juga kematianku, kau kini menjadi senja disetiap hariku, dan disaat itu pula aku merasakan kematianku telah tiba"


Zee yang melihat Alex sedang menatap ponselnya dengan serius pun membuatnya penasaran apa yang dibaca oleh Alex.


"Apa yang kau baca? Serius sekali?" tanya Zee.


Akhirnya Alex pun memberikan ponselnya dan Zee pun membaca pesan dari Zyan. Matanya begitu teliti saat membaca setiap katanya.


"Berani sekali, dia menuliskan ini tuk dirinya," ucap lirih Zee seraya berjalan mendekati meja itu.


Zee kembali meraba dan melihat apakah masih ada tulisan lain disana, ternyata tak ada. Lalu matanya menatap raja pohon tersebut.


"Tidak, semoga dugaan ku tak benar. Aku tak akan pernah rela jika emang benar dia yang menulisnya tuk Alfa," batin Zee.


Alex mengikuti sang istri yang mengelilingi pohon tersebut, terlihat tak biasa pada Zee karena air mata itu sudah mengalir deras di pipinya.


Zee meraba-raba dan tepat di bagian belakang itu, Zee seakan merasakan giresan di sana. Walaupun sudah tak lagi terlihat.


Zee menutup matanya meraba dengan perlahan tulisan itu dengan perlahan.


"Dunia kita sudah berbeda, tapi cinta dan sayangku tidak akan pernah berubah. Kau mati olehku, dan aku mati karenamu"


Mata Zee membuka lebar, dadanya begitu sesak, amarah begitu menguasai dirinya. Sekarang, dia tau siapa yang menulis semua ini. Dengan penuh emosi Zee menatap kesembarang arah mencari sesuatu.

__ADS_1


"Berani sekali dia mengungkapkan perasaannya. Bahkan dia tak emnyesal telah membuat kekasihku meninggal," seru Zee.


Alex yang mendengar itu pun merasa terkejut. Alex sudah sangat paham siapa yang Zee sebut dengan kekasih itu. Dan hal itu sangatlah dia hindari, Alex tahu jika keberadaan Alfa tak akan bsa terganti oleh siapa pun sekali pun dirinya.


Zee berjalan mendekati labirin itu, terdapat sebuah kayu kecil yang kering disana. Lalu mengambilnya, dengan langkah cepat, Zee mencoret-coret tulisa di pohon tersebut sampai tak terasa tanganmu berdarah.


"Zee apa yang kau lakukan? Jangan seperti ini!" pinta Alex seraya menggenggam lengannya.


"Lepaskan tanganku! Aku tak rela wanita pembunuh itu mengungkapkan rasanya pada kekasihku!" hardik Zee.


Melihat emosi di diri Zee membuat dirinya tak bisa melakukan apapun. Terlihat dari jauh wanita paruh baya berjalan ke arah mereka. Wanita itu berparas bule, cantik, berdandanan seperti asli pribumi disana.


Saat matanya menyangka sosok sepasang muda mudi membuatmu mengernyitkan dahinya. Karena tak banyak yang bisa sampai ke labirin bunga ini. Dan yang membuatnya terkejut adalah sosok wanita muda yang sedang mencoret-coret pohonnya.


"Hey, Nona, Stop! Apa yang kau lakukan dengan pohon itu?" teriaknya dari kejauhan.


Membuat Alex mencari asal suara tersebut, terlihat wanita itu semakin dekat dan menghampiri mereka. Zee tak memperdulikan teriakan tersebut. Dia begitu fokus tuk menghapus tulisan itu.


"Tuan, apa yang sedang temanmj lakukan?" tanya wanita itu.


"Maafkan dia, Nyonya. Saya akan menghentikan!" seru Alex, seraya menggenggam tangan Zee.


"Honey, stop it! Lihat Nyonya pemilik taman sudah datang, dan kau telah merasa pohonnya," ucap Alex.


"Jangan hentikan aku, sebelum aku bisa menghapus semua tulisannya. Aku sungguh tak rela, Lex. Tangan kotornya membuat semua ini," balas Zee yang semakin mencoret lebih dalam sampai pohon itu mengeluarkan getahnya.


Wanita paruh baya itu, begitu terkejut dengan ucapan sang wanita muda tersebut. Mencerna ucapannya, dadanya tiba-tiba sesak mengingat dia memikirkan nama satu gadis yang telah dia ubah hidupnya.


"Tidak, tidak mungkin itu dia. Aku dan suamiku tak bisa menemukan dirinya selama ini," batin wanita paruh baya itu.


"Zee, stop it! Jangan kau siksa lagi dirimu. Lihatlah tanganmu berdarah, jangan lagi melakukan sesuatu yang membuat kekasihku sedih!" seru Alex dengan nada marah.


Deg,,, deg,,, deg,,,


"Zee," panggil lirih wanita paruh baya itu.

__ADS_1


Alex menengok ke arah wanita tersebut, yang kini sudah berubah menjadi pucat. Membuat wx semakin tak mengerti. Sedangkan, Zee menghentikan tangannya. Berbalik dan melihat siapa sosok wanita yang memanggilnya.


__ADS_2