Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 330


__ADS_3

Esok harinya, Vanya melakukan apa yang di minta oleh Roy. Vanya berharap dengan dirinya menurutinya bisa membuat Roy kembali sadar dan bisa memaafkan dirinya. Malam itu, Vanya bisa bebas keluar malam tanpa diketahui oleh Wiliem. Karena sejak siang tadi, Wiliem dan Alex ikut pergi bersama dengan Ken mengurus masalah kontrak perusahaan  dengan Zidan.


“Aku harus segera pergi, sebelum ada yang melihatku. Aku hanya perlu makan malam saja dan berbicara sebentar dengan Roy, setelah itu aku bisa pulang,” batin Vanya.


Vanya memakai mantel bulunya, memakai syal yang melilit di lehernya. Rambut panjangnya dibiarkan tergerai begitu saja. Vanya mengatakan dia pergi pada Elina tuk menemui teman kuliahnya, Elina yang percaya itu hanya bisa mengangguk ia mengerti.


Diujung jalan ternyata seorang lelaki dengan mantel panjang hitamnya sudah menunggu kedatangan dari Vanya, lelaki itu sangat berbeda dengan sebelumnya. Penampilannya sangat berkelas tidak seperti biasanya, terlihat senyum manis di wajah tampannya seraya menatap ke arah Vanya.


Vanya yang melihat itu terdiam, entah kenapa dia semakin yakin sudah tidak mengenal lelaki itu. Namun demi menepati janjinya, Vanya terus berjalan sampai berada di depannya.


“Aku kira kau tidak akan datang?” tanya Roy seraya tersenyum.


“Janji adalah janji, walaupun aku tak ingin. Tapi, aku tetap datang dan anggap saja ini pertemuan terakhirku denganmu,” jawab Vanya dengan nada dingin.


Senyuman di wajah lelaki itu sirna seketika mendengar jawaban dari Vanya, dengan cepat lelaki itu membukakan pintu mobil dan meminta Vanya tuk segera masuk.


“Terimakasih,” ucap Vanya tanpa menatapnya.


Setelah Vanya masuk pun dengan segera dia pun masuk. Vanya terkejut ternyata dia duduk di sampingnya bukan duduk di depan dengan sopir, Vanya membenarkan mantel yang sempat ingin dia buka.


“Kau datang, apa suamimu tahu?” tanya Roy menatap Vanya.


“Jangan bercanda dengan pertanyaanmu,” jawab Vanya memalingkan wajahnya.


Supir membawa keduanya pergi dari keramaian kota, menyusuri jalan dekat danau yang masih terlihat ramai banyak orang yang berjalan di sana. Vanya menatap permukaan danau yang terlihat pantulan sinar bulan di sana, Roy terus menatap Vanya tak berkedip.


“Anh, aku merindukanmu. Aku ingin sekali memelukmu saat pertama kita bertemu kembali,” batin Roy.


“Kau mau membawaku ke mana? Kenapa, aku merasa asing dan tak tahu jalanan ini?” tanya Vanya menengok pada Roy yang masih memandangnya.

__ADS_1


“Aku akan membawamu ke suatu tempat. Aku harap aku masih mengetahui apa yang kau suka dan berharap itu tidak salah,” jawab Roy.


Vanya mengerutkan keningnya mendengar jawaban dari Roy, sedangkan lelaki itu masih menatapnya lalu melihat ke arah luar jendela. Vanya diam tak menjawab dan tak ingin bertanya kembali.


Tak lama kemudian terlihat sebuah meja dan kursi di dekat danau yang di sampingnya terdapat pohon besar seperti payung dari jauh. Mata Vanya membulat melihat apa yang ada di depannya, dan benar saja mobil yang dia naiki itu berbelok melewati jalanan dari batu kecil menuju meja tersebut.


“Berhenti di sini! Dan ingat, jangan sampai ada yang mengganggu makan malamku!” perintah Roy pada si Supir.


“Ya, Tuan.”


Roy membuka pintu mobil itu dan segera berlari tuk membuka pintu tuk Vanya, Vanya merasa semakin canggung melihat suasana dii depannya dan juga sikap Roy yang begitu romantis.


“Apa ini, kenapa aku merasa sangat bersalah pada Wil? Aku seperti berkencan di belakangnya,”batin Vanya menjadi  sedih dan merasa bersalah.


Roy mengulurkan tangannya pada Vanya, namun di tolaknya. Roy hanya bisa menghela napas karena


Vanya melihat langit malam yang penuh bintang dan terlihat bulan dengan sinar hangatnya. Dua bintang itu seakan tersenyum melihat dirinya yang merasa begitu senang dan bersalah dalam waktu yang bersamaan.


Roy menarik kursi di depannya dan Vanya yang melihat itu pun langsung duduk di sana tanpa ada penolakan, Vanya ingin cepat menyelesaikan semuanya setelah itu cepat pergi.


Roy merasa senang karena, Vanya tak menolak seperti tadi. Roy tersenyum dan segera menepuk tangan, terlihat dua pelayan datang dan membawakan makanan itu.


“Apa yang ingin dia lakukan? Kenapa, semua ini harus ada di hadapanku?” batin Vanya menatap Roy.


Roy tersenyum melihat Vanya yang termenung karena melihat apa yang dia lakukan, Vanya memalingkan wajahnya karena dari sudut matanya mengalir sebuah butiran bening.


“Roy, apa yang sedang kau rencanakan. Apa yang sekarang kau lakukan ini, semakin membuatku merasa sakit,” ucap Vanya mengandung pertanyaan.


Roy hanya terdiam tak menjawab akan pertanyaan dari Vanya, yang lelaki itu inginkan adalah bisa makan malam bersama dan mengabulkan permintaan Vanya di saat usianya sembilan belas tahun. Roy yang saat itu masih sangat muda dan tidak mempunyai uang tuk mengabulkannya, hanya bisa membawa Vanya muda berjalan-jalan dekat danau di Amerika.

__ADS_1


“Apa yang kau curigai dariku, Anh? Apa yang salah dengan semua yang sudah aku siapkan?” tanya Roy dengan nada sedih.


Roy mencoba menahan perasaannya, karena tidak ingin kejadian di dalam toko baju itu terulang kembali. Bukanlah sifatnya yang mengertak apalagi mengancam, Roy hanya berpura menjadi orang kain hanya karena ingin menghabiskan satu malam dengan Vanya. Biar pun, risiko nya membuat Vanya membencinya, Roy mempunyai sifat yang sangat tulus pada Vanya.


“Entahlah, aku merasa jika semua ini seperti sesuatu yang buruk. Terima kasih, karena kau mau mewujudkan permohonanku dengan melakukan ini. Tapi maaf Roy, ini semua salah!” ujar Vanya dengan berlinangan air mata.


Roy begitu terkejut karena malam ini pun tak bisa membuat Vanya tersenyum atau pun senang. Roy malah semakin membuat Vanya menangis, lelaki itu berlutut di depan Vanya yang duduk di atas kursi.


“Maafkan aku, Anh!” pinta Roy seraya memegang tangan Vanya begitu erat.


Terlihat kekhawatiran dari mata Roy saat menatap Vanya, Vanya yang melihat itu pun semakin menangis karena dia seakan melihat Roy yang dulu, malaikat pelindungnya, tidak terlihat sandiwara atau pun kebohongan.


Vanya memeluk tubuh Roy dengan sangat erat, Roy yang mendapat pelukan itu pun begitu terkejut. Namun terlihat senyum di wajah tampannya, Roy pun menangis memeluk Vanya dengan erat.


“Roy, maafkan aku! Aku minta maaf padamu!” pinta Vanya dengan isak tangisnya.


Roy menggeleng, menandakan untuk apa Vanya meminta maaf padanya. Roy berbisik dengan lembut pada Vanya, “Anh, aku sangat merindukanmu.”


Vanya mengangguk tanpa melepas pelukannya, kedua sahabat itu seperti terpisah oleh jarak dan waktu yang sangat lama. Melepaskan segala rasa dan kerinduan satu sama lain.


“Aku juga sangat merindukanmu, saat pertama bertemu denganmu aku ingin sekali berlari memelukmu. Tapi rasa marahku lebih besar saat mendengar kau dan pamanmu merendahkan Kak Zee,” balas Vanya terisak mengingat kejadian itu.


Roy melepas pelukannya dan tetap memegang tangan Vanya denga erat, terlihat Roy menangis. Vanya menghapus air mata Roy dengan lembut, Roy memegang tangan Vanya yang berada di pipinya.


“Sungguh, aku meminta maaf soal itu. Aku sungguh tak tahu jika itu Kakakmu,” ucap Roy memandang  Vanya.


Vanya mengangguk ia memberikan jawaban atas perkataan dari Roy. Vanya yang seakan melihat Roy yang dulu begitu bahagia karena dia mendapatkan sahabatnya kembali.


Bersambung🍂🍂🍂🍂

__ADS_1


__ADS_2