Takdir Cinta

Takdir Cinta
Episode 333


__ADS_3

KEPERCAYAAN


Wiliem masih diam mematung setelah mendapat tamparan dari Vanya, lelaki itu merasakan sakit yang


teramat sakit bukan hanya karena melihat sang istri dengan lelaki lain. Tapi juga dia merasa sakit oleh ucapannya sendiri saat menyadari apa yang sudah


terlontar pada sang istri.


Vanya yang merasa sudah sangat sakit hati terus berlari dengan menangis di cuaca dingin nan gelap. Tanpa dia sadari kakinya terluka karena memakai high hils, Vanya yang melupakan mantelnya pun tak menghiraukan tubuhnya yang kedinginan.


“Aku membenci dirinya. Aku benci dia!” serunya dengan berteriak taktahan dengan rasa sakitnya.


Tiiiiinnnnnnnnn...!!!!


BRUGH


Tubuh wanita itu terlempar beberapa meter setelah tertabrak oleh sebuah mobil yang melintas, pengendara itu pun bergegas turun dan terlihat dua lelaki di sana. Mata mereka membulatsempurna saat melihat siapa yang telah mereka tabrak tanpa sengaja.


“VANYA!!!” teriak kedua sembari berlari menghampiri wanita itu.


Wildan dan Messi duduk bersimpuh melihat Vanya yag sudah tak sadarkan diri, darah mengalir di kepalanya dan juga kakinya. Wildan langsung mengangkat tubuhnya, sedangkan Messi membukakan pintu mobil.


Tanpa di perintah, Messi dengan cepat menacapkan gas mobil tersebut. Terlihat mobil itu melaju dengan kecepatan tinggi membelah jalanan Milan. Wildan terus memeluk tubuh Vanya, lelaki itu tak menghiraukan darah yang menempel di kemejanya. Yang Wildan inginkan adalah Vanya membuka matanya.


Messi pun merasakan apa yang Wildan rasakan, pemuda itu begitu cemas dengan keadaan Vanya yang tidak sadarkan diri. Messi melihat jika tuannya itu terlihat begitu khawatir bahkan Wildan terlihat menangis memeluk tubuh Vanya.


“Tuhan, aku mohon selamatkan wanita ini! Aku rela melakukan apa pun deminya, asalkan kau memberikan Vanya sebuah keselamatan!” pinta Wildan dalam hati.


Sekitar tiga puluh menit akhirnya mobil itu sampai di depan sebuah rumah sakit, Messi dengan sigap membukakan pintu mobil itu dan melihatkan Wildan yang menggendong Vanya dengan banyak noda darah. Dokter dan suster yang melihat itu, kembali berlari ke dalam rumah sakit tuk menyiapkan ruang IGD.


Wildan yang sudah mengetahui itu pun membawa Vanya ke ruang IGD, terlihat semua Dokter dan suster


sudah bersiaga di sana. Wildan menurunkan Vanya di atas tempat tidur dan mulai


memeriksanya.


“Detak jantung pasien melemah.”


“Tekanan darahnya, semakin menurun.”


Wildan yang Dokter lainnya terus memeriksa keadaan Vanya. Selama kurang dari satu jam lebih, akhirnya Wildan dan rekan-rekn berhasil menyelamatkan Vanya, terlihat Wildan keluar dengan peluh di wajahnya. Messi menghampirinya dengan raut wajah


yang cemas.


“Bagaimana dengan Vanya?” tanya Messi.


“Dia sudah melewati masa kritisnya, syukurlah ada stok darah di rumah sakit ini,” jawab Wildan seraya duduk di kursi tunggu.


Messi memberikan sebotol minuman pada Wildan dan membantunya melepaskan atribut operasinya, Wildan menatap ke arah pintu IGD dengan tatpan penuh harap.


“Terimakasih sudah mengabulkan doaku,” batin Wildan bersyukur.


Wildan yang terlihat lelah pun meminta Messi membelikan sepasang baju lengkap tuknya. Sedangkan, Wildan kembali ke ruangannya, Vanya segera di pindahkan ke ruangan VVIP.


Vanya masih tidak sadarkan diri, karena Wildan sedikit melakukan operasi kecil di kepalanya. Kakinya sudah di gips karena retak akibat terkena bagian depan mobil.


“Dari mana, Vanya malam-malam berada di luar rumah,” gumam Wildan.


Messi datang dengan membawa paper bag di tangannya. Wildan masuk ke dalam kamar mandi dan


mengganti bajunya, Messi terlihat cemas saat menatap ponselnya.


“Ada apa, kenapa kau terlihat cemas?” tanya Wildan yang baru selesai mandi.


“Tuan Ken dan Elina terus menelfonku,” jawab Messi.

__ADS_1


Wildan mengecek ponselnya dan benar saja, banyak seklai panggilan masuk dari Ken dan Elina. Wildan pun segera mengbubunginya kembali.


“Ya, Ken ada apa?” tanya Wildan mencoba seperti biasa.


“Apa kau melihat Vanya? Elina bilang, dia pergi sejak sore tadi dan sekarang masih belum kembali, jawab Ken terdengar khawatir.


“Tidak, aku dan Messi masih berada di luar. Memangnya, Vanya tidak memberitahu dia pergi kemana?” tanya Wildan mencoba mencari tahu.


Terdengar juga Messi sedang menerima panggilan. Dan terdengar suara Messi meninggi, entah apa yang dia dengar.


“Apa yang katakan itu benar? Dimana Laudya, cepat kau cari wanita itu!” teriak Messi terlihat kesal.


Wildan semakin penasaran karena mendengar suara teriakan dari Messi yang membuatnya terkejut. Setelah selesai berbicara dengan Ken, Wildan menatap Messi penasaran. Messi masih terlihat sangat kesal, bahkan tangannya mengepal sangat kuat.


“Vanya menemui roy, ponakan dari Zidan. Setelah itu kita menemukannya sendirian di tengah malam,” ucap Messi.


“Dari mana kau tahu semua itu? Ada apa, Vanya dengannya?” tanya“Dari mana kau tahu semua itu? Ada apa, Vanya dengannya?” tanya  Wildan.


Messi pun menceritakan kejadian saat dia dan yang lainnya pergi malam itu, dan tiba-tiba Vanya dan Elina pergi entah kemana. Laudya mengatakan, jika Elina dan Vanya sudah terlebih kembali ke hotel. Namun kenyataannya, saat itu Vanya telah mengancam dirinya.


Wildan merasa sangat kesal saat mendengar itu, ponselnya yang berda di tangannya pun seakan


hampir hancur karena tekanan ynag terlalu kuat.


“Kau temukan Roy dan lihat ada siapa saja Vanya di tempat itu!” perintah Wildan.


“Baik, Tuan.” Messi bergegas keluar dari ruangan Wildan, namun tak lama terlihat Dokter masuk memberitahukan jika Vanya sudah sadar.


Wildan terlihat begitu bahagia, dengan langkah cepat lelaki itu terus berjalan ke arah ruang VVIP. Saat membuka pintu, terlihat Vanya yang masih berbaring dengan air mata yang mengalir di wajahnya.


“Anh, apa kau merasa sakit? Kenapa kau menangis, huh?” tanya Wildan dengan cemas.


Vanya tak menjawab, tatapannya masih terus ke arah Wikdan. Perlahan, Wildan berdiri di dekatnya dengan tatapan penuh kasih.


“Hey, kau kenapa? Katakan padaku, apa yang kau rasa?” tanya Wildan kembali.


Tanpa di minta tuk yang kedua kalinya, Wildan segera memeluk Vanya. Terdengar tangisan Vanya pecah di sana, Wildan merasakan tubuh Vanya sampai bergetar hebat. Wildan mengusap pelan punggungnya, mencoba menenangkan wanita itu. Tangan Vanya melingkar erat di perut Wildan.


Masih di tempat yang sama, Wiliem masih mematung.Bahkan lelaki  itu hanya bisa menatap mantel sang istri tanpa menyentuhnya. Wiliem meremmas kasar rambutnya karena merasa bodoh dengan apa yang sudah dia laukan pada Vanya.


Dengan pikiran yang begitu ruyam, Wiliem kembali masuk ke dalam taxi nya yang sudah menunggunya. Taxi itu membawa Wiliem pergi jauh dan bukan ke arah Hotel. Ternyata, Wiliem memilih mendatangi sebuah club malam di kota Milan.


“Aku membutuhkan kesenangan malam ini, kau sudah membuat istrimu menangis. Kau sudah membuat istrimu merasa sangat terluka, lebih baik kau jangan menemuinya,” gumam Wiliem.


Lelaki itu masuk ke dalam Club tersebut dan langsung di sambut oleh beberapa wanita muda di sana, namun dengan cepat Wiliem menepis tangan mereka dan terus berjalan masuk mencari tempat kosong.


Wiliem memilih membuat dirinya mabuk dari pada menemui sang istri dan menanyakan yang sebenarnya, Wil yang tidak bisa minum pun langsung tak sadarkan diri saat meminum air di dalam gelas ke lima itu. Wiliem mabuk berat, terlihat salah satu mawar di tempat itu mendekati Wiliem dan duduk di sampingnya dengan menyeringai.


“Tuan apa yang sedang kau lakukan ini? Apakah kau sedang menunggu seseorangnya?” tanya wanita


itu dengan nada bicara menggoda.


Wiliem yang sudah sangatWiliem yang sudah sangat  mabuk pun mencoba membuka matanya, terlihat wanita cantik sedang tersenyum padanya. Wiliem menyeringai dan menatap dengan tatapan meledek.mabuk pun mencoba membuka matanya, terlihat wanita cantik sedang tersenyum padanya. Wiliem menyeringai dan menatap dengan tatapan meledek.


“Apa kau ****** di sini?” tanya Wil.


Wanita itu sedikit terkejut karena pertanyaan yang di lontar oleh Wil, namun memang itu lah pekerjaannya. Wanita itu pun semakin berani mendekati Wil dengan


melingkarkan tangannya di leher Wil, mendekatkan gunung kembar yang menyembul dari dalam dres ketat itu pada tubuh Wiliem. Bahkan wanita itu semakin berani dengan terus mengesekkan daging kenyal itu.


“Kau sedang apa, apa kau mau jadi jalangku malam ini?” tanya Wiliem dengan setengah sadar.


Terukir senyuman manis dari bibirnya, Wiliem pun tersenyum namun tetap dengan pandangan meledek.


“Aku akan menemanimu jika kau membutuhkannya. Dengan sangat senang hati akan ku layani dirimu dan membuatmu merasa puas malam ini,” jawabnya dengan tersenyum manis.

__ADS_1


Tangan Wiliem menyenth dagunya yang lancip itu, mengesekkan telunjuknya pada bibir merah menyala itu, saat wajah Wiiem semakin mendekat dan seakan menciumnya, tanpa di duga terlihat Laudya menarik paksa tubuh wanita itu sampai terjatuh di lantai.


“Aww, apa-apa kan kau ini. Siapa kau berani sekali mengangguku, huh?” teriak wanita itu penuh kemarahan.


Wiliem menatap Laudya yang terlihat marah menatapnya, namun Wil hanya tersenyum tipis lalu  meminum kembali minuman di atas meja. Laudya berbalik dan menatap tajam pada wanita penghibur tersebut dengan tatapan mematikan.


“Nona, ka-kau kembali?” tanya wanita itu begitu gugup sangatnmelihat Laudya.


“Ya, ini aku. Apakah aku sangat menganggu pekerjaanmu?” sindir Laudya dengan masih menatapnya tajam.


“Ma-maafkan aku, aku tidak tahu jika Tuan ini sedang


menunggu dirimu,” jawabnya lirih.


Laudya tidak menjawabnya, karena melihat Wiliem yang terlihat gelisah dengan membuka jas dan kancing kemejanya. Laudya begitu bingung melihatnya, lalu kembali menatap wanita itu.


“Apa yang kau berikan padanya, huh?” hardik Laudya begitu marah,


“Aa-aku mencampurkan obat pada minumannya,” jawabnya dengan nada takut.


“Dasar jal**ng tidak tahu diri!!” hardik Laudya seraya


menamparnya dengan keras.


Wiliem sudah merasa kepanasan, ingin rasanya lelaki itubmenceburkan dirinya ke dalam air kolam tuk mendinginkannya. Wajahnya sudah merah karena menahan reaksi dari obat tersebut.


“Liem, kau tidak apa-apa?” tanya Laudya begitu khawatir.


“Lau, bawa aku pergi dari sini! Tubuhku sangat panas, tolong aku!” pinta Wiliem dengan mata sayu.


Dengan cepat, Laudya memapah Wiliem keluar dari tempat laknat tersebut. Dengan susah payah mereka akhirnya bisa mendapatkan taxi, di dalam taxi Wiliem sudah semakin tak bisa menahan gairahnya. Wiliem terus medekatkan wajahnya pada leher Laudya dan mencoba menciumnya, Laudya dengan susah payah menahan tubuh Wil agar tidak bersentuhan dengannya.


“Liem, tolong jangan seperti ini! Ingat kau sudah mempunyai Vanya,” ucap Laudya mengingatkan.


Namun, reaksi yang di perlihatkan oleh Wiliem membuat Laudya merasa aneh dan terkejut. Karena setelah dirinya mengatakan itu, Wiliem


langsung mencium bibibrnya, melummatnya dengan sangat ganas tak memberikan sedikit pun Laudya melepasnnya.


“Ada apa dengan Wiliem, kenapa dia seperti ini?” batin


Laudya merasa heran.


Dengan susah payah, Laudya bisa melepaskan ciuman itu dengan sedikit dorongan keras pada tubuh Williem. Laudya begitu malu karena menjadi tontonan dari supir taxi tersebut. Laudya pun memutuskan berhenti tepat di sebuah hotel di depannya.


“Wil, ayo kita turun! Kau harus mendinginkan tubuhmu,” ajak Laudya membawa Wil masuk ke dalam hotel.


Setelah melakukan cek in dan mendapatkan kamar, Laudyanmembawa Wil yang sudah terangsang oleh obat pun terus mencoba mencium Laudya di setiap jalan menuju kamar.


Bugh,,


Laudya melempar tubuh Wiliem di atas ranjang, sedangkan dirinya mengisi bath up tuk merendam tubuh Wil. Laudya begitu terkejut saat keluar dari kamar mandi melihat keadaan Wil yang sudah melepaskan semua bajunya dan hanya mengisakan celana boxernya saja.


“Astaga, Liem!” pekik Laudya yang kembali masuk ke dalam kamar mandi.


Jantung Laudya berdetak kencang karena melihat tubuh Wiliem, sungguh itu adalah ujian tuk wanita itu karena memang sebelumnya adalah seorang pemuas napsu bagi para pejabat atau pun orang terkenal lainnya.


“Tidak, Lau. Kau harus bisa mencegah itu, apa pun caranya,” gumamnya pada diri sendiri.


Tiba- tiba tangan kekar Wiliem sudah menarik tanga Laudya dari balik pintu dan membuat wanita berteriak karena terkejut.


*Note: Entah apa ynag terjadi dengan dua insan manusia di malam dingin itu.


Selamat membaca dan Terimakasih semuanya atas dukungan dari sayang-sayangku.


**Bersambung 🍂🍂🍂***

__ADS_1


 


__ADS_2