Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pesta Pernikahan


__ADS_3

" Tenangkan dirimu sayang " ucap Rafli saat merasa jemari Ana berkeringat karena semua tamu tertuju kearah mereka.


'' Aku gugup mas " ucap Ana jujur.


'' Anggap mereka semua tak ada " jawab Rafli.


" Yakinlah Ana . Ada aku disini , Tegakkan kepalamu , kau istriku dan aku ingin mereka menghargai mu bukan mencela mu sayang " bisik Rafli . Ana mencoba mengangkat kepalanya perlahan , beruntung makeup serta topeng yang Ana kenakan membantunya menutupi wajah cemas dan gugupnya.


Para bodyguard Ana yang berjumlah empat orang karena Alexa dan Juju pergi ke Italia menemui Devan atas perintah Rafli , para bodyguard Rafli membelah jalan agar Rafli dan Ana bisa memasuki ruang acara pesta pernikahan Ines dan Darwin berlangsung...


Para tamu pria terhipnotis melihat senyum mengembang yang di berikan Ana sementara Rafli tetap memasang wajah dinginnya tak ada senyum yang ia tebar saat ini.


Adam menepati ucapannya saat melihat sekumpulan itu . Ya sedetik kemudian ia melihat Ana yang jemarinya di genggam erat oleh Rafli suami posesif.


Jenni melongo saat apa yang dikatakan Adam benar adanya , ia tak bisa melihat dengan jelas wanita cantik yang membuatnya susah mengambil hati Adam sepenuhnya .


'' Aku ingin berteman dengannya '' ucap Jenni bersemangat .


'' Jangan " ucap Adam , bagaimana ia akan move on sedangkan Jenni ingin berteman dengan Ana.


'' Mereka kan calon besan kita " semangat Jenni.


" Kau lihat penjagaan mereka dan mengertilah jika kita terlihat dekat dengan mereka , maka kegiatan kita akan terus diawasi oleh musuh bisnis Rafli" ucap Adam kembali menatap kemana punggung Ana bergerak , ia juga diam-diam menjaga keselamatan Ana dari jauh .


Rafli dan Ana bergerak ke arah Ines dan Darwin , memberi ucapan selamat dan pelukan hangat . Ana hanya melirik sahabatnya karena mereka terpaksa tak menegur sapa demi kebaikan semua... Para pembisnis menghampiri Rafli dan Ana yang terlihat mengobrol bersama nenek Rose yang terkenal memiliki perusahaan bonafit di Belanda.


Rafli menjawab seperlunya tanpa ingin berbalik untuk bertanya , ia cukup jengah dengan situasi saat ini apalagi rekan bisnisnya terlihat mencuri pandang kearah istrinya itu .


Hingga Rafli membawa Ana sedikit menjauh dari sebagian besar para pengusaha.


'' Kau lihat sayang , sebagian dari mereka bermuka dua " gumam Rafli.


'' Sudah mas , kita nikmati saja pestanya " ucap Ana.


'' Terimakasih " ucap Ana pada bodyguard mereka yang mengambilkan makanan dan minuman yang ia pinta.


'' Minum mas , biar darahmu gak mendidih " ucap Ana terkekeh dan mengerlingkan matanya .


'' Huuffttt , disaat seperti ini menggoda mas . Coba jika berdua didalam kamar , mana mau menggoda mas kecuali jika ada maunya aja " gerutu Rafli namun tetap mengambil minuman yang di sodorkan Ana dan juga melahap berbagai buah serta cemilan yang ditawarkan Ana .


'' Sayang , apa kau tak tertarik untuk menambah anak lagi ... Sebentar lagi Ines akan menyusul juga " ucap Rafli , sepertinya pria ini tidak mau kalah saing dalam hal apapun .


'' Apa fikiranmu itu untuk berlomba membuat dan punya anak '' ucap Ana mulai emosi , ia sungguh bosan dengan jalan fikiran Rafli jika menyangkut hal ini. Ana ingin punya anak namun bukan tahun ini juga .


'' Tunggulah satu tahun lagi " imbuhnya , ia menatap Rafli yang terlihat kecewa.


'' Lama sekali " ucap Rafli.


'' Apa kau tak mau mempunyai anak yang cantik juga sepertimu sayang " imbuhnya.


'' Aku mau aja mas , tapi bukan tahun ini. Belum tentu juga anak kita perempuan " jawan Ana .


" Apa aku harus menukar pil Sialan itu ( KB ) dengan pil penyubur kandungan " batin Rafli , itulah yang ia lakukan agar Dewa segera mendapatkan adik dan dua bulan kemudian Ana segera hamil.


" Baiklah terserah kau saja sayang " ucap Rafli , ia akan mengulang rencana itu .


'' Emmmm aku bisa mengabulkan permintaanmu soal menambah anak itu mas '' ucap Ana setelah menemukan ide sekaligus menyadarkan sang suami bila mengandung saja akan terasa cukup sulit.


'' Apa " jawabnya penasaran.

__ADS_1


'' Nanti kau akan tau mas , usai kita kembali ke Indonesia ... Tunggulah sekitar enam hari lagi , jika kau lulus uji coba itu , maka aku akan membuang pil itu " ucap Ana.


'' Lihat saja nanti " batin Ana.


" Apa yang di rencanakan ya " batin Rafli .


Rafli dan Ana asyik menikmati makanan dan minuman di hadapan mereka , sesekali orang tua muda ini berdebat untuk masalah masa depannya kedua jagoannya itu. Rafli memutuskan untuk mereka menempuh pendidikan di lingkungan milik keluarga Wijaya sedang kan Ana ingin mereka menempuh pendidikan dimana yang anak mereka mau .


" Hai Baby . Kau disini " ucap seorang wanita tiba-tiba memberi satu kecupan singkat di pipi Rafli , jangan di tanya ekspresi Ana , wanita yang selalu menutupi kecemburuannya atau wanita yang jarang melihat keberanian para wanita penggoda suaminya.


Pias sudah wajah Rafli melihat ekspresi Ana dan kemarahan terlihat jelas di wajah Rafli saat melihat perempuan mana yang telah lancang menyentuh harga dirinya. Para bodyguard Rafli mulai mendekat untuk membereskan wanita genit ini namun Ana memberi isyarat agar mereka tidak perlu ikut campur.


" Hei wanita pencemburu . Kenapa diam saja " batin Rafli , ia ingin melihat tindakan Ana .


" Siapa wanita ini , berani -beraninya dia " batin Ana.


" Aku rindu , ternyata aku disini " ucapnya bertambah senang apalagi Rafli tak menendangnya tadi..


Ana membuang wajahnya , seakan muak melihat hal itu. Adam yang memperhatikan hal tersebut ingin melangkah mendekati mereka , darahnya berdesir kenapa Rafli diam saja dan ia merutuki Ana wanita yang ia cintai kenapa menjadi bodoh seperti saat ini .


" Tetaplah disini Adam , aku yakin Ana mempunyai cara tersendiri " lirih Jenni , ia ingin melihat reaksi Ana , bagaimanapun wanita seperti Ana harus berani mengusir lalat pengganggu yang berpakaian sexy itu . Sementara seorang pengusaha tua berperut buncit dan kepala botak kehilangan istri mudanya itu.


" Kau siapa suamiku " ucap Ana dingin , ia manatap tajam Rafli membuat Rafli menepis tangan wanita itu .


" Kenalkan aku kekasihnya Rafli saat di Harvard university " ucap Rebecca mengaku dan mengulurkan tangannya, ia sengaja mencari masalah kepada pasangan ini karena Rafli penyebab hancurnya bisnis keluarganya.


" Seharusnya saat itu aku mencarimu dan melenyapkanmu Rebecca " batin Rafli..


" Aktingmu sungguh buruk nona " cibir Ana menatap jijik Rebecca.


" Kau tidak percaya , suamimu ini adalah pacarku . Bahkan kami belum putus " ucapnya berani. Ingin sekali Rafli mematahkan kepala Rebecca . Ana menahan emosinya karena ini acara bahagia Ines dan Darwin .


" Apa maksudmu dengan mengaku sebagai kekasih suamiku " teriak Ana emosi . ia meluapkan amarahnya di lantai teratas rumah nenek Rose.


" Kenapa . Jika itu benar nyatanya. Lihatlah bahkan ia jarang sekali mengajakmu ke pesta atau acara penting perusahaan. Kau hanya status istrinya saja tapi banyak juga bukan yang mengaku sebagi istrinya. Bahkan kau mengenakan topeng . Apa wajahmu begitu jelek " ucap Rebecca dengan semua hal yang ia tak ketahui tentang Ana.


Ana melepas topeng yang ia kenakan dengan kasar membuat Rebecca tak percaya apa yang ia lihat bagai pahatan yang begitu sempurna matanya yang membuat orang mudah terpesona saat pandangan itu bertemu , Hidungnya yang mancung ideal bahkan bibir sexy yang begitu memikat membuat orang ingin sekali menikmatinya .


" Apa kau bodoh nona , jika kau mengenal suamiku bahkan seujung kuku pun seharusnya kau tau seleranya " ucap Ana menyadarkan Rebecca yang mematung .


" Kebohongan apalagi yang aku ingin ciptakan , Aku mengetahui semua tentang suamiku . Kau hanya sebuah serangga pengganggu yang tak bermutu " imbuh Ana mengejek Rebecca.


Pplakk tamparan keras mendarat di pipi mulus Rebecca .


" Bibirmu pantas untuk berdarah agar bicaramu lebih terjaga nona " ucap Ana


" Kau.... " ucap Rebecca dengan emosi yang memuncak karena Ana tiba-tiba menamparnya .


Ia ingin membalas namun terasa tak mungkin melihat bodyguard milik Ana yang begitu sigap .


" Sayang " ucap Rafli menatap tajam Rebecca dan merangkul istrinya , ingin rasanya Ana memandikan Rafli dengan kembang tujuh rupa.


" Jangan kau buang tenagamu untuk mengurus wanita itu. Biar orangku yang membereskannya sayang " ucap Rafli dingin . Ia telah memerintah kan anak buahnya untuk menyingkirkan Becca .


" Rafli kenapa kau membela istrimu ini . Bahkan ia menamparku " ucap Rebbeca seakan lupa kejadian yang ia alami beberapa tahun yang lalu.


" Becca apa kau lupa kejadian beberapa tahun yang lalu . Bagaimana aku mengahancurkan bisnis keluargamu saat kau dengan lancang berani menjebakku dengan obat sialan itu " ucap Rafli dingin.


" Sebaiknya kita pergi dari sini sayang " ucap Rafli namun Ana segera melangkah lebih dulu...

__ADS_1


Padangan Ana bertemu dengan Adam dan juga wanita cantik di sebelah Adam , Ana hanya tersenyum saja kepada Adam , ia tak menyapanya karena teringat hubungan Rafli yang merenggang dengan Adam usai perkelahian saat dirumah sakit ....


'' Pantas saja Adam begitu sulit melupakannya. Wajahnya saat marah tadi saja membuat siapapun terpesona , bahkan tadi senyum nya saja ...." batin Jenni memuji kecantikan Ana , ia tak iri karena ia menargetkan Ana dan Rafli menjadi besannya kelak .


Tatapan tajam Rafli mengarah kepada Adam dan Jenni sementara Ana telah berlalu pergi ..


" Kau suruh wanitamu menjaga identitas Ana " ucap Rafli dingin melirik Jenni dengan mata elangnya .


" Jika tidak aku tidak segan-segan membunuhnya " ucap Rafli serius dan berlalu pergi tanpa ingin mendengar jawaban Adam karena ia harus menyelesaikan masalahnya dengan sang istri yang kini ntah menuju kemana . Jangan di tanyakan nasib Rebecca nanti , yang pasti Rafli tak akan berbaik hati meski musuhnya itu seorang wanita sekalipun jika kesalahannya sangat fatal dan menyangkut Ana.


Ceklek.


" Jangan mendekat , lebih baik kau mandi. Minta bunga setaman di rumah ini. Aku tidak sudi bersentuhan dengan kulitmu " ucap Ana , kini matanya mulai berkaca-kaca , ia sungguh kesal kenapa suaminya diam saja saat itu seakan menikmatinya.


" Kalian cari bunga di taman ini , minta dengan nenek Rose " ucap Rafli membuat dua bodyguard Ana segera mencarinya...


Rafli mengusap wajahnya kasar karena Ana tak ingin ia sentuh sedikitpun sebelum ia dimandikan dengan bunga malam ini. Semua penjelasan Rafli seakan di terima mentah oleh telinga Ana.


Sementara nenek Rose bertanya -tanya apa yang terjadi dengan Rafli hingga bodyguard Ana meminta izinnya memetik rupa-rupa kembang / bunga miliknya. Ia akan bertanya besok jika tidak lupa dan tidak lelah.


Malam ini Rafli mandi kembang menuruti keinginan wanitanya ini...


'' Apa ada lagi , racun sekalian " ucap Rafli seraya mengenakan sendiri pakaiannya .


'' Racunnya sedang di proses , sabarlah " jawab Ana...


'' Maafkan mas , tadi mas tidak menepis sentuhannya karena ingin melihat reaksi mu sayang " ucap Rafli menatap mata indah Ana , mata yang sulit untuk ia lupakan.


''ini terakhir kalinya kau melakukan hal ini mas " ucap Ana lirih .


'' Iya , mas janji " ucap Rafli... Ia mulai mendekatkan bibirnya kepada bibir istrinya.


Cup , hanya kecupan ringan .


tok....tok ....tok......


'' Ana '' panggil Ines secara langsung .


'' Aarrgggh mengganggu saja " gerutu Rafli.


Ana melompat turun dan segera berlari kearah pintu tak peduli ekspresi Rafli , bagaimana pun ini rumah orang tak bisa berbuat seenaknya saja....


" Ada apa Ines " tanya Ana.....


'' Temani aku tidur malam ini " ucap Ines memelas kepada Ana , karena Intan yang jomblo menginap di hotel dekat mansion nenek Rose .


'' Apa " ucap Ana dan Rafli melongo tak percaya.


'' Tidak bisa , kau ini. Layani suami mu " ucap Rafli menatap tajam Ines.


'' Kau diamlah... aku hanya pinjam Ana malam ini " ucap Ines galak.


'' Ayolah Ana . Malam ini saja tolong aku... ayolah " ucap Ines memelas..


" Gak bisa " ucap Rafli mengerti tatapan Ana. Ana bingung sendiri di buatnya karena Ines lah yang dulu sering membantunya...


Tanpa mereka sadari , Darwin mendengar kan perdebatan Ines dan Rafli yang memperebutkan Ana... Darwin tersenyum geli saat teringat reaksi Ines memasuki kamar pengantin tadi , membuat Ines berlari karena takut apalagi saat Darwin menatapnya , sebenarnya Darwin akan bersabar diri jika Ines belum siap memberikan hal berharganya.


...Jangan lupa like dan komentarnya ........

__ADS_1


Terimakasih atas dukungan kalian.😊😊😊🤗


__ADS_2