
Setelah Wil pergi, Alex ikut dengan Zidan dan Laudya pergi ke sebuah pesta. Malam itu, Laudya terlihat berbeda sedikit diam tanpa banyak bicara.
"Tuan Alex, apakah adikmu tidak apa?" tanya Zidan.
"Ya, dia baik-baik saja. Wiliem memang tak suka dengan pesta malam," jawab Alex.
Zidan mengangguk paham, lalu dia melirik Laudya yang sejak tadi terdiam dan menegurnya.
"Ada apa Laudya? Kau hanya diam saja?" tanya Zidan seakan memberi kode.
"Ah, eh, ya Tuan. Maafkan saya, yang sedikit pusing dengan pekerjaanku yang lain," jawab Laudya begitu gugup.
Alex kembali memalingkan wajahmu dan terlihat senyum sinis pada Laudya. Memang Alex tak menyukai Laudya sejak dulu, dia itu wanita yang menghambat Wiliem.
"Tuan Zidan, kalau saya bileh tahu. Siapa ponakan anda itu, apakah dia juga pengusaha?" tanya Alex.
"Bisa di bilang dia pewaris tunggal perusahaan orang tuanya. Tapi, namanya anak muda dia tak mau itu dan memilih pekerjaan lainnya," jawab Zidan.
"Pemuda yang sangat langkah, dia mandiri tanpa merepotkan orang tuanya," ucap Alex.
"Dia keras kepala, namun begitu menurut pada orang tuanya. Dia juga sangat cerdas," balas Zidan.
"Sangat membanggakan," ucap Alex.
Di dalam kamar hotel, Wil merebahkan tubuhnya. Wiliem begitu merindukan Vanya sang istri kecilnya, dia sama sekali tak cemas dengan Alex yang pergi dengan Zidan. Karena, dia tahu jika kakaknya lebih pandai dengan situasi seperti itu di bandingkan dirinya.
"Aku akan menelpon Vanya saja, agar keadaanku lebih baik," gumam Wil, seraya menelpon Vanya.
Tut... Tut... Tut...
Masih belum ada jawaban dari Vanya, membuat Wil kembali memutuskan sambungan telponnya, mungkin juga Vanya sudah tertidur.
Tak lama kemudian, terdengar suara dering ponsel Wil dan terlihat nama Vanya di layar, membuat Wil tersenyum senang.
(percakapan via telpon)
"Hallo, Wil kau sedang apa?"
"Aku sedang merindukan dirimu."
"Apa kau baik-baik saja?"
"Ya, aku baik. Bagaimana denganmu sayang?"
"Aku sangat menrindukanmu, cepat kembali!"
"Baiklah, tunggu aku! Aku akan cepat kembali."
"Istirahatlah, kau pasti sangat sibuk di sana!"
"Baiklah, kau juga tidur. Love you my wife."
"Love you to my husband."
Wil memejamkan matanya merasakan sedikit lega karena mendengarkan suara dari Vanya. Tak waktu lama, Wil sudah tertidur dengan lelap.
Mobil Zidan memasuki sebuah halaman gedung yang sangat luas, gedung itu begitu mewah. Zidan dan Laudya turun dengan bergandnegan tangan, sedangkan Alex berjalan di belakang mereka.
"Sangat ramai, aku sedikit lega karena bukan pesta yang private," gumam Alex.
Zidan meminta Alex tuk mengikuti dirinya, saat di dalam ruangan sudah banyak sekali tamu di sana yang sama sekali Alex tak kenal. Ada satu meja yang kosong di tengah ruangan dan itu meja Zidan.
"Dia mempunyai kekuasaan, mempunyai banyak kenalan, dia juga sangat di segani," batin Alex melihat sekitar.
Meja itu hanya ada tiga kursi dan lagi, Laudya duduk di sebelah dirinya itu sangat membuat Alex merasa mual dan entak kenapa dia begitu jam jijik pada wanita cantik itu.
"Laudya temani Tuan Alex, saya akan menemui dulu keluargaku di dalam," ucap Zidan.
"Baik, Tuan," balas Laudya.
Alex memainkan ponselnya mengirimkan pesan pada sang istri dia sedang berada dimana dengan siapa, Alex takut jika Zee mencurigai dirinya. Alex tak ingin sang istri salah paham padanya.
Zee menerima semua pesan dari Alex tanpa ingin membalasnya. Zee tersenyum membaca semuanya, Alex seperti sedang melapor pada atasnya. Semuanya sangat detail.
"Apa-apaan ini? Dia seperti sedang menguntit orang lain dan melaporkan padaku. Aku akan percaya padamu, Lex. Tanpa kau memberitahukannya padaku, sungguh kau membuatku semakin merindukanmu saja," gumam Zee menatap ponselnya itu.
Zee menatap foto keluarganya, matanya terhenti pada wajah Wiliem. Dari pada mencemaskan sang suami, dia lebih mencemaskan Wiliem di sana.
"Kau harus bisa menjaga adikmu, kau tak boleh gagal seperti dulu Lex," ucap Zee.
Zidan menemui sang ponakan yang sedang berbicara dengan kedua orang tuanya, terlihat Zidan sangat dekat dengannya.
"Kapan kau kembali? Dan kenapa tak memberitahu pamanmu ini, huh?" ucap Zidan dengan nada di buat kesal.
__ADS_1
"Paman," panggilnya seraya memeluknya.
Zidan memeluk ponakannya itu, dia begitu menyayanginya. Bahkan Zidan sudah menganggapnya seperti putranya sendiri.
"Maafkan aku, paman. Aku sangat sibuk mengikuti kemauan dari Daddy dan Mommy," jawabnya.
"Kak, kenapa kau menyusahkan ponakanku?" tanya Zidan.
"Kau terlalu memanjakan dia Zidan, aku melakukan ini tuk mencarikannya jodoh," ucap Ana.
"Kau tahu bukan, usianya sudah lebih dari cukup tuk menikah. Aku sudah tua tuk menunggu lagi," ucap Ramos.
"Jangan paksa dia, lelaki gagah nan tampan seperti dia mana mungkin tak memiliki kekasih," balas Zidan yang selalu membela sang ponakan.
"Lihatlah, Ana. Adikmu selalu membela Roy anak kita," ucap Ramos.
"Hahaha, jangan salah Kakak. Roy juga putraku, kau harus ingat itu!" seru Zidan.
Ana sang kakak dari Zidan hanya bisa mengelengkan kepalanya jika sudah menyangkut Roy. Ramos dan Zidan akan terus merebutkan sang putra, dan itu sudah berlangsung semenjak Roy bisa berjalan saat usianya satu tahun.
"Kenapa kalian selalu membuatku sedih dan terharu jika sudah berdebat seperti itu," gumam Roy.
Zidan Ramos pun berhenti dan melihat Roy yang menunduk sedih. Tampaknya anak lelaki itu sudah sangat dewasa, membuat Zidan dan Ramos sama-sama tersenyum lalu memeluknya bersamaan.
"Kau kebanggaan dari kita, kau putra kami," ucap Zidan dengan Ramos bersamaan.
"Terimakasih sudah sangat sayang padaku, Daddy, Paman," balas Roy.
Itulah, sisi lain dari seorang Zidan Vandevi yang terkenal dengan kekuasaannya, dengan skandal wanita dan sisi gelapnya dia penguasa yang tak kenal ampun pada musuhnya. Tapi, lelaki itu akan berbanding terbalik jika sedang bersama keluarganya. Dia begitu menyayangi keluarganya melebihi dirinya, apalagi pada sang ponakan. Roy itu ibaratkan emas tuk Zidan.
"Baiklah, malam ini malam penyambutanmu. Lakukan yang terbaik, nak! Buat orang tuamu bangga akan dirimu," ucap Zidan.
"Ya, Paman. Aku akan melakukan yang terbaik tuk kalian semua," balas Roy.
Zidan keluar dan kembali ke mejanya, sedangkan Roy dan keluarga bersiap di belakang podium.
"Maaf, Tuan Alex saya terlalu lama meninggalkan anda," ucap Zidan.
"No problem. Keluarga adalah no satu, saya mengerti," balas Alex seraya tersenyum.
Zidan sedikit terkejut mendengar ucapan dari Alex, tak terlihat dari penamlilannya jika dia sangat dekat dengan keluarganya. Bahkan, Zidan merasa dia sama sekali tak perhatian pada Wiliem.
"Ya anda benar," ucap Zidan.
Terlihat Roy dan kedua orang tuanya naik podium, Alex melihat dan mendnsgarjan semua pidato itu. Zidan begitu senang melihat Roy yang berbicara di depan umum dengan sangat tegas.
"Ya, kau benar. Dia ponakan yang ku ceritakan itu, namanya Roy dia sudah seperti putra ku," jawab Zidan.
"Aku seperti pernah melihat lelaki itu, tapi dimana?" lirih Alex.
"Ya, kenapa Tuan Alex?" tanya Zidan.
"Ah, tidak. Aku hanya berpikir pernah melihat ponakanku itu, tapi entah dimana. Mungkin, hanya orang yang mirip," jawab Alex.
"Bertemu dengan Roy? Dia dulu bekerja di Amerika. Mungkin saja hanya orang yang mirip," ucap Zidan.
"Ya, kau benar."
Zidan mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Alex yang pernah bertemu dengan Roy. Setelah acara penyambutan selesai Roy dan kedua orang tuanya menyapa para tamu yang hadir.
"Laudya pergilah tuk menyantap makanan, aku akan mengenalkan Alex pada Roy," ucap Zidan.
Laudya mengangguk ia dan pergi begitu saja, Alex merasa aneh kenapa Zidan meminta Laudya pergi saat keluarganya datang.
"Kenapa, dia pergi?" batin Alex yang melihat Laudya yang pergi bahkan seakan mengumpat.
"Paman," panggil Roy.
Zidan dan Alex menatap ke arah Roy, Roy terlihat begitu terkejut saat melihat wajah Alex. Sampai dia sempat terhenti di sana.
"Roy, kemarilah! Paman kenalan kai dengan kolega Paman," ucap Zidan menarik tangan Roy.
Alex tersenyum mengangguk melihat Roy, berbeda dengan Roy yang masih terkejut.
"Kenapa, Wil ada di sini? Apakah, Vanya juga ada di sini?" batin Roy yang masih menatap Alex.
"Roy, Roy, apakah kau tak mendengarkan Paman?" tanya Zidan seraya menepuk bahu Roy.
"Ah, maafkan Roy paman. Hallo Tuan ...-?" ucapan Roy terputus.
"Tuan Alexander, dia dari Finlandia," sambung Zidan.
"Hallo Tuan Alexander, saya Roy. Senang bertemu dengan anda," sapa Roy.
__ADS_1
"Hallo, saya Alexander. Senang bertemu denagmu kembali," sahut Alex.
Alex menyalami Ramos dan Ana, begitu juga dengan Roy. Alex terlihat begitu di sukai oleh keduanya karena sikap dan ucapan Alex yang sangat sopan dan cepat membaur.
"Dia Alexander? Bukankah, namanya Wiliem? Apa dia sedang menyamar?" batin Roy.
"Ada apa? Kenapa kau melamun, huh?" tanya Zidan.
"Tak ada, Paman. Aku hanya berpikir kau begitu hebat bisa melakukan kerja sama dengan Tuan Alex yang dari negara lain," jawab Roy.
"Kau juga akan bisa seperti Paman, aku lah yang akan mengajarimu," ucap Zidan.
"Tentu, kau orang hebat. Aku akan sangat senang jika kau yang mengajariku," balas Roy.
Malam semakin larut namun di ruangan itu semakin ramai dan panas dengan adanya dentuman musik di sana. Zidan sudah kembali bersama para wanita-wanita, sedangkan Alex masih setia dengan anggurnya.Terlihat Laudya kembali datang dan duduk di dekat Alex.
"Kau kembali?" tanya Roy yang baru saja datang.
"Roy, kapan kau pulang?" tanya Laudya.
"Apa Paman yang mengajakmu kemari?" tanya Roy.
"Ya, tentu. Aku ini kan sekretarisnya, jika Tuan ada di sini pastinya aku pun di sini," jawab Laudya.
"Teruslah pakai topengmu! Sampai kau puas dengan segalanya," ucap Roy sinis.
"Tanpa kau mengatakan itu, aku akan melakukannya," balas Laudya dengan sinis.
Alex hanya diam pura-pura tak mendengarkan apapun dengan terus meminum anggur itu. Roy merasa tak enak pun akhirnya meminta Alex tuk pindah meja.
"Tuan Alex bisakah kau ikut denganku sebentar?" tanya Roy.
"Hemm, tentu bisa," jawab Alex.
Mereka pun keluar ke arah balkon di sana lebih tenang dan Alex bisa menghirup udara segar. Roy begitu ragu namun juga sangat penasaran.
"Maaf, apakah benar kau itu Alexander? Apa kau tak mengingatku?" tanya Roy.
"Ya, aku Alexander. Aku mengingatmu, bukankah kau baru saja mengenalkan dirimu padaku," jawab Alex merasa aneh pada Roy.
Roy menatap tajam Alex, Alex pun begitu merasa ada yang aneh dengan Roy. Barulah Alex ingat jika dia mempunyai kembaran.
"Ah, yang kau maksud itu pasti kembaran, Wiliem. Kau kenal dengan Wil?" tanya Alex.
"Kembaran? Bukannya itu kau sendiri," ucap Roy.
Alex mengeluarkan ponselnya dan menunjukkan fotonya dengan Wil, Roy begitu terkejut melihat foto itu.
"Maafkan aku, Tuan. Aku kira kau Wil," ucap Roy tak enak hati.
"Kau kenal dengan Wil? Dimana?" tanya Alex.
"Hemm, aku teman dari Vanya. Saat itu aku yang menemaninya di rumah sakit, saat itu juga aku bertemu dengan Wil yang sakit," jawab Roy.
"Astaga, dunia ini sangatlah sempit. Kau telah menolong adikku dan Vanya, terimakasih Roy," ucap Alex.
"Tidak, tidak Tuan. Saya hanya menolong mereka saja tak lebih dari itu," balas Roy.
"Jangan berkata formal denganku, aku rasa berhutang budi padamu soal mereka," ucap Alex.
"Vanya itu temanku sejak awal dia datang ke Amerika, sedangkan Wil dia orang yang sangat menyenangkan tuk jadi teman baru," balas Roy mengingat akan pertemuan dirinya dengan Wil.
Malam itu, Roy menceritakan seperti apa Vanya saat pertama bertemu dengannya, sampai kejadian terakhir mereka bertemu di rumah sakit. Alex merasa jika Roy sangat menyayangi Vanya melebihi teman.
"Apa kau menyukai Vanya?" tanya Alex.
"Ya, kau benar. Aku sangat menyukai dia, tapi aku tak bisa memiliki dia. Karena, Wil sudah lebih dulu membuatnya jatuh cinta," jawab Roy menatap langit malam.
"Bagaimana dengan Vanya dan anaknya?" tanya Roy.
"Anaknya tiada karena tragedi saat hari pernikahannya," jawab lirih Alex.
"Apa? Anaknya tiada, bagaimana bisa? Kau tahu Tuan, Anya begitu menjaga janinnya itu," ucap Roy.
Alex kembali mengingat semua kejadian itu, menceritakan semuanya pada Roy. Roy begitu sedih sampai menangis mendengar semua cerita dari Alex.
"Anh, jika saat itu kau tetap bersamaku, anakmu pasti masih hidup. Kenapa, kenapa takdir melakukan ini padaku dan dirimu," batin Roy.
Setelah puas bercerita dan berkenalan, Alex di antar pulang oleh anak buah Zidan. Entah kemana Zidan yang tak terlihat dimana pun. Akhirnya, Roy meminta supir dari pamannya itu tuk mengantarnya pulang.
"Maafkan Pamanku, Tuan Alex. Dia akan lupa diri jika sudah bertemu dengan banyak wanita," ucap Roy tak enak hati.
"Is ok, aku tak apa. Aku mengerti akan kebutuhan dari Tuan Zidan," balas Alex seraya tersenyum.
__ADS_1
Alex memasuki mobil itu dan membawanya kembali ke hotel. Terlihat Wil yang sedang tertidur lelap di ranjangnya. Alex memilih mambersihkan tubuhnya dengan air panas, tuk merilekskan tubuhnya.
Bersambung🍂🍂🍂