
Tejadi getaran disebuah ruangan, terlihat pakaian yang berserakan diatas lantai. Udara siang itu tak begitu panas, tapi didalam ruangan itu sangat panas. Padahal temperatur AC diruangan itu begitu dingin.
Terdengar suara dengkuran halus dibalik selimut, terlihat rambut panjang hitam nan indah diatas ranjang. Terlihat juga lengan kekar yang melingkar diperutnya.
Sepasang pasutri itu tengah kelelahan karena telah melakukan tugasnya. Sang lelaki begitu senang dengan terus mencium sang wanita dengan bertubi-tubi.
"Aahh,, sudah hentikan!! Kau membuatku geli, Wil!" pinta Vanya yang mendorong tubuh Wil.
"Rasanya aku semakin tak ingin menjauh darimu, sayang. Kau menggemaskan," balas Wil terus menciumi wajah Vanya.
Vanya hanya mengerucutkan bibirnya, seraya memainkan rambut Wil. Wil pun begitu gemas sampai menggigit bibir Vanya dengan pelan.
"Wil, aku ingin kebioskop. Tapi, kenapa malah tertahan denganmu diruangan ini?" tanya Vanya.
"Kenapa kau tak bilang, jika kau ingin pergi keluar?" tanya Wik balik.
"Siapa yang membawaku kemari? Itukan kau, aku sampai melupakan masa menontonku," sewot Vanya.
"Hemm, baiklah, kau bisa mandi dulu! Setelah itu apakah kau masih ingin menonton?" tanya Wil.
"Benarkah? Asyik, baiklah aku akan segera mandi," ucap Banyak begitu senang.
"Kau mandilah! Disudut ruangan ini adabkamar mandinya, aku akan meminta Cory memberikan kau baju baru," ucap Wil.
"Heem," balas Vanya seraya berjalan begitu saja dengan tubuh polosnya memasuki kamar mandi.
Wil begitu terkejut melihat Vanya yang begitu berani seperti itu. Entah dia sengaja atau memang lupa karena begitu bahagia akan pergi keluar dengan Wil.
Wil menggelengkan kepalanya sembari tersenyum melihat istri kecilnya itu.
Cory begitu terkejut saat mendengar kalau Wil memintanya memberikan satu set baju tuk Vanya. Dengan begitu kesal, Cory pun membelikan baju yang sangat mahal dan terlihat cocok dengan usia Vanya. Cory sudah paham dengan ukuran tubuh Vanya hanya sekali lihat.
"Kenapa, Tuan Wil memberikan baju tuk gadis itu? Apa yang mereka lakukan selama dua jam didalam sana?" tanya Cory.
Cory terus berjalan membawakan dua paperbag ditangannya dan kembali masuk ke ruangannya. Cory menelpon Wil tuk ijin masuk, tapi Wil menolaknya dan membiarkan dirinya yang keluar mengambil baju tersebut.
"Astaga, sampai segitunya Tuan Wil memperlakukan gadis itu. Sungguh membuatku kesal saja," gumam Cory.
Cory mendudukan tubuhnya dengan keras diatas kursi. Menatap tajam pintu ruangan Wil, menantikan Wil dan Vanya yang keluar dari sana.
"Wah, ini sangat cantik. Ukurannya begitu pas dengan tubuhku, apakah kau yang membelikannya?" tanya Vanya.
"No. Semua itu, Cory yang membelikannya. Aku memintanya tuk memilihkannya tuk mu. Apa kau suka?" tanya Wil balik.
"Ya, aku sangat suka. Kau harus meberikannya hadiah tuk Cory!" perintah Vanya.
"Tentu sayang. Ya sudah kau tunggu sebentar, aku akan mandi sebentar," balas Wil.
Vanya mengangguk ia, Wil masuk kedalam kamar mandi. Vanya memoles sedikit wajahnya dengan sedikit bedak yang tipis dan lipstik saja. Setelah itu menyemprotkan sedikit parfum pada tubuhnya.
"Sudah selesai, sekarang aku akan memaksanya tuk menemani ku sampai malam," gumam Vanya tersenyum usil.
Wil sudah sangat tampan saat keluar dari sana, tanpa memakai jasnya. Wil terlihat begitu muda dengan kaos casualnya dengan celana jins nya.
"Ahh,, siapa ini? Apakah kau lelah lain, kemana suamiku?" goda Vanya pada Wil.
"Aish, astaga. Apa kan aku memang sangat tua jika memakai jas? Dan sekarang mengejekku karena penampilanku?" tanya Wil kesal.
Vanya tertawa lucu melihat Wil yang merajuk padanya. Vanya mendekati Wil, memeluk sang suami dengan tersenyum.
"Kau mau pakai apapun itu, selalu tampan dimataku. Kau itu suamiku, lelaki hebatku," ucap Vanya seraya menangkap wajah Wil.
__ADS_1
Wil mencium kilas bibir Vanya lalu tersenyum, memeluk tubuh sang istri.
"Baiklah, sekarang kita bisa pergi," ucap Wil.
"Heem, kau harus menemaniku sampai malam nanti. Kau harus berjanji padaku!" pinta Vanya.
"Tentu sayang. Aku akan menuruti semua kemauanmu. Asal kau bahagia," balas Wil.
Wil dan Anya pun keluar, terlihat Cory begitu terkejut melihat Vanya yang menjadi sangat cantik dengan dres yang dia belikan, wajahmu menjadi sangat fresh.
"Kenapa gadis itu menjadi sangat cantik," gumam Cory.
"Nona Cory termasih sudah memikirkan dres yang sangat cantik ini," ucap Vanya serah tersenyum.
"Ya, tentu, Nona."
Wil mengeluarkan satu cek yang tertulis sepuluh juta tuk Cory. Dan memberikannya pada sekretaris itu.
"Apa ini Pak? Apakah saya di pecat?" tanya Cory dengan nada gemetaran.
"Tidak, itu hadiah tuk mu. Karena telah membuat istriku semakin cantik dan itu hadiah mu dari istriku ini," jawab Wil.
"Istri, jadi Nona ini istri anda? Baik, Tuan terimakasih banyak," ucap Cory begitu terkejut.
Cory menatap iri pada Vanya yang begitu manja pada Wil. Terlihat Wil begitu menyayangi Vanya. Mereka pun pergi keluar meninggalkan Cory yang masih mematung menatap Wil dan Vanya.
"Apa bagusnya gadis itu, kenapa Tuan Wil tak pernah melihatku? Kapan mereka menikah, kenapa aku tak tahu itu," ucap Cory kesal dengan meremmas cek tersebut.
Wil dan Vanga beranjak keluar dari kantor, para karyawan memandang aneh dan penasaran pada Vanya. Siapa gadis yang terlihat dekat itu.
"Kau membuat semua karyawan memandangku, apakah di kantor kau masih terkenal single?" tanya Vanya.
"Baiklah, tak masalah. Asal kau tak tergoda dengan wanita lain saja," ucap Vanya.
Wil senang karena Vanya mengatakan itu, mungkin Vanya cemburu karena setiap wanita di kantornya memang seksi-seksi dan mempunyai wajah yang menarik.
"Mataku sudah buta oleh dirimu, An. Dan hatiku sudah mati karena mencintaimu," ucap Wil.
"Kau ternyata bukan hanya lelaki mesum tapi cuma perayu, Wil."
Wil hanya tertawa mendengar sang istri yang terlihat kesana dengan rayuannya. Mereka pun sampai di depan sebuah Mall yang begitu besar. Vanya dan Wil pun masuk kedalam.
"Aku ingin makan, setelah itu pergi menonton," ucap Vanya.
"Ok, kita makan dulu. Kau mau makan apa?" tanya Wil.
"Spageti dan juga hamburger," jawab Vanya.
"Kenapa kau begitu menyukai makanan itu. Kita cari makanan yang sehat saja," ucap Wil.
"Wil, aku hanya ingin itu, kenapa kau tak mau membelikannya tuk ku?" tanya Vanya merajuk.
"Ada makanan yang lebih lezat dari itu. Dan makanan ini sangat aku sukai," jawab Wil.
Akhirnya mereka pun masuk sebuah kedai di mall tercium aroma khas makanan yang membuat Vanya semakin lapar. Terlihat makanan disana yang tak Vanya ketahui.
Wil memesan beberapa makanan, sdngkan Vanya masih menatap setiap makanan yang tengah di siapkan oleh pelayan.
"Kau akan suka sayang, ini makanan khas Finlandia, yang sangat lezat," ucap Wil.
"Baiklah, aku akan mencobanya. Jika rasanya tak enak aku akan marah padamu. Dan kau harus membelikanku spageti dan hamburger!" pinta Vanya dengan nada berbisik.
__ADS_1
"Baiklah, sayangku. Kau bisa menilainya setelah memakan makan itu," balas Wil.
Makanan itu pun datang, disajikan begitu cantik di meja. Aromanya membuat air liur Vanya memenuhi isi mulutnya. Tanpa menunggu, Wil. Vanya sudah mengambil makanan itu.
"Wah, ini sangat nikmat," ucap Vanya yang memakan Karelian pie.
"Benarkan kataku, Karelian pie ini adalah pie kecil khas Finlandia. Aku sangat menyukai itu," balas Wil.
Wil memakan makanan lain di sana dan sangat menggoda bagi Vanya. Akhirnya setelah memakan beberapa Karelian pie. Vanya memakan juga Leipajuusto.
Leipajuusto terbuat dari susu sapi, roti keju yang memiliki tekstur sangat unik. Makanan ini sangatlah lembut dan rasanya begitu nikmat.
"Kenapa kau tak bilang jika makanan khas Finlandia ini begitu nikmat, Wil?" tanya Vanya.
"Kau dan aku saja baru keluar sekarang sayang. Bagaimana aku bisa memberitahukannya," jawab Wil.
Terlihat pelayan membawakan satu hidangan penutup, Vanya menatap Wil dengan senang.
"Ini adalah makanan penutupnya, roti Rieska. Silakan coba, tuan putriku!" pinta Wil menyodorkan makanan itu.
Vanya tanpa ragu memotong lalu memakan roti itu. Terlihat, Vanya menyukai semua makanan tersebut. Setelah makanan pelayan kembali membawakan minuman khas Finlandia.
Terlihat satu gelas kopi dimeja, aroma nya benar-benar harum. Wil menyeruput kopi tersebut.
"Apa itu? Apakah itu kopi?" tanya Vanya.
"Ya, ini bukanlah kopi biasa. Ini adalah kopi khas Finlandia, Kopi jamur Finlandia terbuat dari campuran jamur maitake dan chaga yang dicampur dengan biji kopi biasa. Maka dari itu rasanya begitu lembut dan sangat kuat," jawab Wil.
Vanya mencoba mencicipi kopi tersebut dan lidahnya memang bisa cepat beradaptasi. Apapun yang sekarang Wil rekomdasikan semuanya Vanya suka.
"Baiklah, kita sudah kenyang. Apakah sekarang kita bisa menonton?" tanya Vanya.
"Baiklah, mari kita lakukan itu!" seru Wil.
Mereka begitu bahagia hanya karena bisa keluar bersama tanpa pergi ke tempat yang mahal atau privat. Vanya lebih suka hal yang biasa saja. Seperti pergi ke taman, mall dan berkunjung ke taman bunga.
Wil dan Vanya pun memilih film romantis, didalam sana sudah banyak penonton. Wil dan Vanya mendapatkan kursi paling depan.
Tak terjadi kendala apapun saat menonton, sampai seketika terlihat tiga pemuda yang duduk di samping Vanya. Dan terlihat salah satunya terus menatap Vanya, membuat Wil begitu kesal.
"An, aku ingin kau menukar tempat dudukmu denganku!" pinta Wil.
"Kenapa? Filmnya hampir di mulai," balas Vanya berbisik.
"Sudah cepat tukar tempatnya!" pinta Wil menatap tajam Vanya.
Vanya pun hanya bisa menurutinya. Vanya baru sadar setelah bertukar tempat, melihat pemuda itu terus menatap dirinya.
"Ahh,, Om-om ini cemburu ternyata," gumam Vanya tersenyum senang.
Lampu bioskop pun dimatikan terlihat film itu terus berputar, dan lelaki itu pun masih terus menatap Vanya bahkan memberikan senyuman. Membuat, Vanya kesal dan tak suka.
"Ahh, kenapa pemuda itu terus menatapku. Tidak tahu apa, dia sudah membangunkan singa disebelahnya," gumam Vanya.
Saat ada agedan ciuman di layar besar itu, akhirnya Vanya mempunyai ide agar pemuda itu tak lagi menatapnya. Tanpa Wil tahu, Vanya menarik leher sang suami dan mencium bibirnya.
Wiliem begitu terkejut mendapat ciuman dari Vanya, tapi dengan cepat dia tahu apa maksudnya. Akhirnya, Wil mengikuti permainan Vanya. Bahkan, Wil begitu ganas mencumbu sang istri, memberikan ciuman yang panas.
Pemuda itu pun memalingkan wajahnya karena syok melihat adegan itu. Wajahnya menunduk entah malu atau apa. Yang, Vanya tahu pemuda itu tak lagi berani menatapnya.
Bersambung 🍂🍂🍂
__ADS_1