Takdir Cinta

Takdir Cinta
Tangis


__ADS_3

" Kita hadapi sama-sama Rafli . Kita akan melakukan yang terbaik untuk Ana. Jujur adalah pilihan yang bagus . Lebih cepat Ana tau , itu akan lebih bagus dari pada kita membohonginya " ucap Gunawan dan diangguki Rafli . Semua keluarga begitu mendukungnya atas masalah yang menimpa nya selama ini .


.


.


.


Hari yang di tunggu Bunga pun tiba , kini ia tersenyum saat Viona menjemputnya dan akan mempertemukannya dengan Geilo anak semata wayangnya.


Banyak mainan yang di bawa oleh Bunga namun Viona hanya tersenyum licik melihatnya . Saat hampir tiba di lokasi Viona permisi untuk turun lebih dahulu , Bunga yang awalnya curiga kini menghapuskan rasa curiganya demi bertemu sang anak. Tanpa aba-aba seseorang membius Bunga hingga tak sadarkan diri . Viona lalu menelpon seseorang kepercayaan untuk mempersiapkan semuanya . Viona menyewa sebuah jet pribadi untuk segera menyelesaikan misi selanjutnya .


'' Jika aku tak bisa memilikimu , maka Ana juga tak akan bisa Rafli . Tak ada satupun wanita yang boleh memilikimu " monolog Viona penuh keyakinan . Dan Viona tersenyum membayangkan hal dua atau tiga bulan kemudian.


.


.


.


Eric yang selama ini pergi menjauh dari Italia , kini telah kembali . Dirinya mendapat laporan jika Sasa ingin membawa Ericana ke Indonesia . Pikiran Eric semakin kalut saat mengetahui niat Sasa sesungguhnya , baru sehari kemarin ia bahagia mendengar kabar Ana telah sadar namun rasa resah menghantuinya saat Rafli dan Ana juga menuju Indonesia.


" Aku harus segera mencegah mama , aku tak bisa kehilangan Ericana " ucap Eric gelisah .


Eric juga cukup di hantui rasa bersalah terhadap Vini namun ia juga merasa kekesalan pada dirinya sendiri.


Vini terlihat kurus akibat Eric yang pergi selama seminggu lebih membuatnya enggan makan tidurpun susah .


Saat bel berbunyi dulu dengan semangat Vini membuka dengan harapan Eric kembali pulang dan membicarakan hal ini sebijak mungkin . Pelayan mansion Permana akhirnya membuka bel yang terus berbunyi .


'' Tuan Eric " ucap pelayan sontak membuat Vini menajamkan pendengarannya.


'' Mas " ucap Vini dengan mata berbinar , segera memeluk pria itu saat jaraknya telah dekat. Tak ada balasan yang Vini rasakan seperti sebelumnya .


'' Ericana di bawa pergi oleh mama " ucap Vini lirih .


'' Kenapa kau membiarkannya Vini " bentak Eric membuat Vini tersentak .


'' Kenapa mas " ucap Vini takut.


'' Kau tau , mama telah mengetahui segala tentang Ericana. Bahwa Ericana anak Ana dan Rafli yang aku sembunyikan " ucap Eric dengan suara menggelegar. Semua penghuni rumah terkejut mendengar penuturan majikannya. Siapa yang tak mengenal nama dua orang yang di sebut Eric , karena sering kali nama itu di sebut untuk disalahkan atau dibela seseorang.


.


Eric segera menelepon anak buahnya untuk mempersiapkan jet pribadi saat Vini mengatakan Sasa pergi dengan membawa koper kecil dua jam yang lalu .


'' Mas aku ikut " ucap Vini .


'' Bersiap , kurang dari lima menit kau harus sudah siap dan jangan merepotkan ku disana " ketus Eric. Sebenarnya hati Vini perih mendengarnya merasa Eric menganggapnya sebagai benalu saja namun ia mengerti perasaan Eric jika mengenai Ericana.


Vini segera bersiap dengan tergesa-gesa , memoles wajahnya seadanya dan membawa benda yang penting seperlunya saja.


'' Oh ya pil KB " gerutu Vini mengambil obat penyubur yang ia duga pil KB .


Eric begitu kesal melihat Vini yang bersiap begitu lama baginya padahal Vini bersiap dengan begitu terburu - buru hanya empat menit memerlukan waktu , terlihat dari nafas Vini yang ngos-ngosan.

__ADS_1


Eric di landa gelisah yang kian mendera sama hal nya yang dirasakan Rafli dan seluruh keluarga yang ikut serta mendampingi Ana..


Ana terlihat begitu ceria membayangkan bisa memakaikan anaknya baju-baju yang cantik yang baru saja di belinya saat hendak ke Indonesia . Air mata Rafli menetes jatuh saat istrinya terlihat begitu bahagia membayangkan hal yang mustahil baginya , uang tak bisa membeli sebuah nyawa yang telah hilang.


" Sayang , tidurlah nanti kau lelah " suara Rafli terdengar begitu pelan.


" Masih berapa lama lagi mas " tanya Ana cemberut.


" Tiga jam lagi pesawat akan mendarat . Lebih baik kita tidur " ucap Rafli merengkuh tubuh Ana dan segera membaringkannya. Ana menurut karena ia juga merasa mengantuk berbeda dengan Rafli yang dua malam hanya tertidur ayam saat membayangkan hal yang akan menyakiti istrinya nanti , belum lagi kebohongannya yang paling fatal membuat kepalanya terasa mau pecah.


.


.


.


Kini kaki Ana membeku saat melihat gundukan tanah kecil di hadapannya yang bertuliskan nisan Zilva dan Kanya . Air mata Ana kini tak terbendung menangisi anak yang selama ini ia nantikan dan menjaganya selama delapan bulan lebih hanya karena peristiwa tragis itu juga turut merenggut anaknya . Rafli tak bisa menahan Ana agar tak menangis kali ini karena dirinya pun terasa rapuh saat ini , melihat wanita yang paling di cintainya dalam keadaan yang tidak baik-baik saja. Hujan turun dengan deras membuat seorang pelayan menyerahkan payung kepada dua majikannya yang sedang menangis itu . Ana mendekat ke arah nisan saat Rafli ingin memayunginya.


'' Menjauh dari ku mas " teriak Ana kini menatap Rafli dengan penuh amarah .


'' Nanti kau sakit " ucap Rafli menatap Ana sendu .


'' Saat ini jiwa ku pun sakit mas. Kau membohongi ku tentang anakku . beberapa hari ini aku menahan kerinduanku mas dan kalian semua membohongiku " teriak Ana seakan memekakkan telinga.


'' Ana , mas akui mas salah karena berbohong padamu. Tapi apa kau tak mengerti alasannya. Tolong jangan seperti ini . Jika selama ini jiwa yang sakit itu adalah mas , bukan kau Ana "jawab Rafli tak tahan melihat Ana terus menangis .


'' Mas tersadar lebih dahulu dan kenyataan pahit yang mas terima mulai kabar Zilva dan Kanya yang telah tiada ditambah dirimu yang belum siuman saat ini. Apa kau tak mengerti betapa hancurnya mas selama dua tahun ini dan keluarga kita yang lainnya juga merasa kesedihan ini Ana. Kau tak merasakan ini seorang diri sayang '' imbuh Rafli.


'' Tapi aku ingin anakku mas , aku ingin Zilva dan Kanya. Mereka anakku mas . Aku ingin mereka .... hiks....hiks.... '' ucap Ana menangis dan kini Rafli ingin berjongkok di dekatnya memeluk Ana yang kini menangis berlomba dengan hujan deras yang membasahi bumi .


'' Ikhlaskan Ana , mereka akan bersedih jika melihat ibunya bersedih. Ada anak kita yang lain , ada Jeje putri kita butuh perhatianmu '' ucap Rafli menjelaskan kepada Ana dengan hati-hati.


'' Nanti kita kesini lagi , saat ini hujan deras Ana. Lihat baju mu basah '' ucap Rafli .


'' Mas pergilah , biarkan aku sendiri '' ucap Ana .


'' Tidak , mas akan disini bersama mu '' tolak Rafli.


'' Jangan payungi aku mas , aku tak ingin '' ucap Ana , lalu Rafli segera membuang payung itu menjauh dari mereka.


Dibawah guyuran air hujan Rafli dan Ana menangis namun tangisan Ana yang paling memilukan disini . Hati ibu mana yang tak akan hancur melihat anaknya telah tiada di dunia ini , tak dapat memeluknya bahkan sekedar melihat tak di beri kesempatan .


Kepala Ana terasa pening karena sulit menerima keadaan saat ini , seketika tubuh yang Rafli rengkuh terasa berat membuat Rafli segera mengangkat Ana yang jatuh pingsan saat ini .


.


.


.


Sasa yang telah tiba di Indonesia di kejutkan oleh Eric dan Vini yang menyambutnya di bandara lebih dahulu . Sasa merutuki pesawat yang ia tumpangi karena karena harus delay tiga jam lamanya.


'' Berikan Ericana padaku ma '' ucap Eric dengan pandangan yang sulit di artikan.


'' Tidak . Mama akan memberikan anak ini pada Rafli dan Ana . Orang tua kandung mereka '' ucap Sasa tegas.

__ADS_1


'' Vini , ambil Ericana '' titah Eric membuat Vini bingung seketika .Eric meredam emosinya semaksimal mungkin karena tak ingin bernada kasar di hadapan Ericana.


'' Ayo Vini ambil '' ucap Eric dingin .


'' Jangan Vini '' ucap Sasa menatap Vini tajam.


'' Sadar dirimu Eric , Ericana bukan anak mu '' ucap Sasa membuat Ericana bingung tak mengerti bocah itu asyik memakan kue .


'' Ericana anakku ma , meski bukan anak kandungku '' ucap Eric.


'' Berarti langkah mama tak salah . Saat ini


Ana kembali menangis di pemakaman anaknya dan hingga kini Ana tak menyentuh makanan apapun . Apa kau tega kepadanya hah . Hanya Ericana obatnya '' ucap Sasa menjelaskan pada Eric namun Eric tetap enggan memberikan Ericana pada orang tua yang berhak.


'' Ana akan membencimu Eric . Jika ia tau kau menyembunyikan anaknya '' ucap Sasa mengancam Eric .


'' Ana tak akan membenciku ma. Karena aku menolong nyawa anaknya yang berharga ini. Mama jangan lupakan siapa Rafli , ia begitu membenciku apalagi ia tau satu anaknya berada di tanganku ma '' ucap Eric lirih , ia tak tega melihat Ana meski hanya hendak menangis saja , apalagi Ana menangis histeris saat ini . Namun Eric sendiri begitu menyayangi Ericana ditambah sifat Rafli yang begitu membencinya terbukti saat ia berusaha membesuk Ana namun bodyguard Rafli dengan sigap mengusirnya padahal Rafli mengetahui bahwa bodyguard milik Eric membantunya saat peristiwa itu terjadi.


'' Jika mama menyerahkan Ericana. Mama tak akan pernah melihat Ericana lagi . Jangan lupa Rafli itu siapa ma . Ia tak akan membiarkan miliknya di lihat orang lain apalagi untuk disentuh. Cukup aku kehilangan Ana ma . Kini aku tidak mau kehilangan Ericana ma. Mama begitu menyayangi Ericana kan . Maka mama jangan melakukan hal yang gegabah '' ucap Eric kini mempengaruhi Sasa.


'' Jika mama masih ingin menyerahkan Ericana. Jangan salahkan aku , jika aku menceraikan Vini dan akan mengejar Ana kembali tak peduli apapun yang terjadi '' ucap Eric membuat Vini menatapnya tak percaya . Sementara tangan Sasa segera melayang tepat di wajah tampan anaknya .


'' Aku tak akan menceraikan Vini . Jika mama tak menyerahkan Ericana kepada Rafli dan Ana '' ucap Eric menyela saat sang mama ingin berbicara .


'' Mas . Jika kau ingin menceraikanku tak apa mas . Karena saat ini mbak Ana memang membutuhkan anaknya . Meski aku bukan seorang ibu namun aku bisa merasakan kesedihannya mas . Aku ikhlas jika kau ceraikan ku , namun biarkan mereka bahagia mas terutama Ericana '' ucap Vini kini air matanya tak terbendung lagi melihat dirinya begitu tak berarti. Eric terhenyak mendengar Vini mengatakan hal yang tak ingin di dengarnya membuat Eric merebut paksa Ericana dalam gendongan Sasa dan menyerahkan kepada bodyguard yang ia bawa sementara dirinya membawa paksa Vini ..


'' Mama jangan ikut campur '' ucap Eric terlihat emosinya meluap saat ini...


'' Bawa Ericana kemansionku dan ingat jangan sampai siapapun mengambilnya '' perintah Eric dan diangguki sigap anak buahnya .


'' Ericana jangan nakal ya sayang . Disana ada mommy Laurent dan Excel '' ucap Eric lembut dan Ericana begitu gembira saat mendengar nama Excel .


Sementara Eric membawa Vini yang Vini sendiri tak tau tujuannya . Wajah Vini memucat saat melihat wajah marah Eric yang luar biasa saat ini .


'' Mas kau mau membawaku ke mana '' tanya Vini saat melihat pepohonan rindang disana . Sudah empat jam lebih Eric bungkam..


'' Mas . Aku ikhlas jika kau ingin menceraikanku . Maaf jika selama ini aku hadir dalam kehidupanmu mas. Tolong hentikan mobil ini '' pinta Vini menangis . Seketika mobil Eric berhenti secara mendadak.


'' Kau ikhlas jika aku menceraikanmu '' tanya Eric menatap tajam Vini yang kini menunduk.


'' Jawab dan tatap aku Vini '' bentak Eric membuat Vini berusaha keluar dari mobil namun gerakan tangan Eric untuk menguncinya lebih cepat .


Vini yang bungkam membuat Eric menjadi geram . Pikirannya saat ini begitu kacau , antara Ana dan Ericana , Eric berharap Vini mampu membuatnya tenang namun makin membuatnya bertambah rumit.


Vini terhenyak kaget saat Eric mencium bibirnya dengan begitu brutal. Vini berusaha mendorong Eric namun membuat Eric makin menjadi. Eric terus menyerang Vini hingga Vini sendiri menikmati permainan Eric saat ini , tiada guna ia menangis karena Eric semakin menggila menyesapnya. ..


Eric dengan mudah membuka dress yang Vini kenakan karena tak ada penolakan dari Vini. Vini sendiri mend*sah tak tertahan saat Eric menyerang titik kelemahannya .Eric memundurkan jok mobil hingga posisi berbaring. Eric melakukannya cukup kasar dengan sekali hentakan miliknya mampu masuk sepenuhnya. Eric yang diliputi nafsu dan emosi tak sadar telah menyakiti Vini yang tadi mulai menikmati. Eric melakukannya tanpa peduli mobil mereka yang bergoyang di tengah hutan. Kepuasan yang saat ini Eric buru.


'' Maaf , maafkan aku '' ucap Eric tersadar apa yang telah ia perbuat. Ingin menyudahinya tapi sudah di tengah jalan. Kini Eric bermain dengan lembut dan berusaha membuat Vini kembali menerimanya dan usahanya tak sia-sia saat tubuh indah Vini menerimanya bahkan yang di bawah sana ikut berkedut membuat Eric tak tertahankan . Satu jam akhirnya Eric mampu mencapai pelepasannya.


Hal yang tak dikira Eric seumur hidup pun terjadi. Menikah dan menikmatinya bersama Ana hanya mimpi yang tak akan terwujud karena Eric sadar apa yang telah ia lakukan pada Vini maka ia akan bertanggung jawab. Eric sendiri pipinya bersemu merah tak menyangka jika surga dunia yang banyak orang bilang begitu nikmat terasa.


'' Aku tak akan meninggalkan mu Vini . Aku berjanji '' ucap Eric . Vini tersenyum mendengarnya tapi sedikit kecewa karena berharap kata cinta dari Eric yang ia dengar .


Eric memutar balik mobilnya gagal menuju Villa keluarganya yang di tepi pantai , lebih baik ia mengajak Ericana untuk berlibur bersama di villa nanti.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya


Selamat membaca 😊


__ADS_2