Takdir Cinta

Takdir Cinta
Sembilan


__ADS_3

Finlandia


Vanya memutuskan tuk kembali bersama dengan Wil, Zee dan Alex. Mereka menggunakan jet pribadi yang telah dikirimkan oleh Sofia, tuk menjemput mereka. Di perjalanan, Wil masih saja memakan buah stobery yang menjadi buah favoritnya. Vanya sampai begitu kesal karena Wil tak bisa berhenti memakan itu. Sedangkan, Wil sama sekali tak memakan makanan lain.


"Berhentilah, makan itu! Kau juga harus makan yang lainnya. Makanlah roti atau spageti ini!" pinta Vanya menyodorkan makanan itu.


"Aku tak mau! Aku akan makan omlete yang dibuatkan Mommy saja," jawab Wil.


"Kau harus janji padaku!" pinta Vanya.


"Baiklah, aku janji. Sesampainya dirumah, aku akan langsung makan semua masakan Mommy," balas Wil.


Alex dan Zee berada di kabin yang berbeda, Alex begitu jijik pada Wil, karena selalu makan stobery. Hampir saja, Alex memuntahkan semua isi dalam perutnya.


"Apakah, Wil akan selalu seperti itu sampai bayi itu lahir?" tanya Alex.


"Tidak, itu akan bertahan beberapa bulan saja. Apakah, dulu kalian selalu seperti ini jika melihat stobery?" tanya Zee.


"Ya, aku dan Wil sangat tak suka buah itu. Aku dan Wil akan langsung pergi saat melihat buat itu. Aku tak suka dengan biji yang terdapat pada buah itu," jawab Alex.


"Buah itu kan sangat manis dan segar. Kenapa kalian begitu aneh," balas Zee.


Alex tak menjawab, dia memilih tuk menutup matanya seraya menarik Zee kedalam pelukannya. Zee hanya tersenyum, lalu tidur dengan memeluk tubuh sang suami.


Karena, menggunakan jet pribadi mempercepat kedatangan mereka. Dengan cepat, mobil mewah nan mahal itu menembus jalan Finlandia dengan begitu lancar. Tak lama, kemudian mobil itu pun sudahbmemasuki halaman yang cukup besar.


Terlihat, Sofia dan Alya yang sudah berdiri tepat di depan pintu masuk. Terlihat senyuman manis dari gadis kecil itu. Mobil itu berhenti tepat berada di depan mereka.


"Mommy," panggil Alya.


"Al," sahut Zee yang keluar dari dalam mobil. Alya tersenyum dan berlari ke arah sang mommy dan memeluknya dengan erat.


"I miss you, Mom," ucap Alya.


"Meet too, honey," balas Zee seraya mencium pipi Alya.


Alya melihat Alex di belakang sang Mommy pun meminta gendong pada sang Daddy dengan manja.


"Misa you, Dad," ucap Alya mencium pipi Alex.


"Meet too, princess!" balas Alex.


Zee menghampiri Sofia dan memeluknya. Terlihat wanita tua itu begitu bahagia karena bisa melihat kedua putranya telah kembali.


"Dad, daddy Wil dan kak Anya kemana?" tanya Alya.


"Mereka ada di belakang," jawab Alex.


Terlihat satu mobil lagi berhenti disana, Wil keluar bersama dengan Vanya. Alya meminta turun dari gendong Alex, lalu segera berlari kearah Wil.


"Daddy," teriak Alya berlari ke arahnya.


Wil merentangkan tangannya tuk menyambut kedatangan sang putri. Alya memeluk erat Wil, menciumi wajah Wil, Alya begitu rindu akan Wil yang sudah sebulan tak pulang.


"Wil begitu menyayangi, Alya. Bagaimana, nanti jika anak ini lahir? Pasti, Wil akan sangat menyayanginya," batin Vanya, sambil mengusap perutnya.


Vanya tersenyum bahagia melihat kedekatan dari Alya dan Wil yang sangat dekat. Sofia menatap Vanya yang tengah mengusap perut ratanya.


"Apakah, dia wanita itu?" tanya Sofia.


"Emm, Mom. Kau tahu, jika dirimu akan. segera mendapatkan seorang cucu dari Wil?" tanya Zee.


"Cucu? Are you sure, really?" jawab Sofia.


"Yes, Mom. Vanya sedang hamil anak Wil," jawab Alex.


Zee memanggil Vanya tuk mendekati dirinya. Zee memperkenalkan Vanya pada Sofia. Terlihat, Vanya begitu senang karena Sofia mau menerimanya.


"Mom, aku ingin omlete bautan dirimu. Bisakah aku memakannya sekarang?" tanya Wil.


"Ya, aku akan membuatkan banyak omlete tuk dirimu," jawab Sofia.


Mereka pun pergi masuk kedalam rumah. Setelah membersihkan tubuh masing-masing. Sofia pun benar-benar membuatkan banyak sekali makanan tuk menyambut kepulangan kedua putranya. Dan juga, sebuah rasa syukur karena akan mendapatkan cucu dari Wil.


Benar saja, Wil memakan semua masakan dari Sofia tanpa memuntahkannya. Vanya begitu terkejut lihat napsu makan dari Wil.


"Kenapa dia begitu rakus? Sudah seperti manusia hutan yang tak makan selama beberapa hari," ucap Alex.

__ADS_1


"Aku memang tak makan selama beberapa hari. Dan itu yang membuatku sampai sakit," balas Wil.


Setelah selesai makan, Sofia, Vanya dan Zee pun membicarakan semua keperluan tuk pernikahan Wil dan Vanya. Sofia begitu bersemangat melakukan semua itu. Vanya terharu akan kebaikan dari Sofia, dia mengingatkannya pada sosok Intan ibunya.


"Nak, besok aku dan Wil akan melamarmu. Aku harus kerumah kakak mu bukan? Dimana rumahnya?" tanya Sofia.


"Anda harus kerumah kak Ara dan Kak Ken. Walaupun, kak Sam adalah kakakku tapi mereka lah orangtua kami," jawab Vanya.


Zee terharu mendengar ucapan dari Vanya. Memang benar, kakaknya itu sudah seperti ibu tuk mereka. Ken menjaga semuanya seperti menjaga anaknya.


"Apakah, Dokter Ken dan Kenzia. Kakakmu, Zee?" tanya Sofia menatap Zee.


"Ya, Mom. Mereka lah orang tua kami," jawab Zee.


"Kebaikan memasuki rumahku dan keluargaku. Aku mendapatkan seorang menantu dari keluarga Putra. Terimakasih, sudah datang dalam kehidupan kami," ucap Sofia menggenggam tangan Vanya dan Zee.


Malam harinya, Vanya kembali ke kediaman Sam. Terlihat sang kakak yang selalu diam sejak kepergiannya dari Amerika. Vanya mendekati, Sam dan mengatakan akan maksud keluarga dari Wil.


"Berbahagialah, sayang! Kau sekarang akan menjadi istri dari Wil," ucap Sam sembari memeluk sang adik.


"Terimakasih, kak. Maaf, atas tindakanku kemarin, karena telah menyusahkanmu dan yang lainnya," balas Vanya.


"Lupakan itu! Aku tak apa, asalkan kau tidak apa-apa dan bisa kembali padaku," ucap Sam.


Vanya begitu sedih mendengar itu, dirinya mengingat akan Zyvia yang ingin sekali kembali ke keluarga mereka. Vanya menangis memeluk tubuh Sam. Sam merasakan air mata, Vanya pun mengangkat wajah sang adik.


"Ada apa, kau merindukan ayah dan ibu?" tanya Sam.


Vanya mengangguk, lalu dengan sangat pelan Vanya mengatakan sesuatu yang membuat Sam terpaku.


"Aku merindukan saudaraku yang lain," ucap lirih Vanya yang masih terdengar oleh Sam.


Sam melepas pelukan dari Vanya lalu berdiri, namun tangannya ditahan oleh Vanya.


"Kak, dia sangat merindukanmu. Dia ingin kau memeluknya seperti kau memelukku, kak dia juga adikmu. Aku yakin, namanya masih ada di dalam hatimu, aku yakin kau masih menyayanginya. Kak, tolong maafkan kesalahan adikmu itu! Dia juga berhak mendapatkan kesempatan ke dua, Zyvia kesepian kak. Gadis itu, hidup sendirian tanpa kasih sayang dan cinta dari siapa pun," ucap Vanya begitu panjang.


Memang sesungguhnya, Vanya begitu sedih karena dia merasa curang dan Sam tak adil pada Zyvia. Vanya merasa, telah merebut semua kasih sayang dan cinta Sam.


Sam masih mematung tanpa berbalik. Ucapan dari Vanya membuat hatinya semakin sakit dan merasa bersalah. Sam sungguh ingin meminta Zyvia tuk kembali, tapi rasa dendam dihatinya acap kali membuatnya kembali merasa kesal dan benci pada Zyvia.


"Jangan mengajariku, Vanya. Aku tahu apa yang telah ku lakukan. Dia hidup dengan baik disana, tuk apa aku memikirnya. Hidup kita dan dia sudah berbeda, dan itu semua sudah bukan urusanku lagi," balas Sam seraya berjalan pergi.


Abigail melihat kesedihan di mata Vanya dan juga Sam. Abi tak bisa berbuat apa pun pada sang suami. Karena, memang Sam begitu kuat pendiriannya jika sudah menyangkut Alfa.


"Tuhan, sampai kapan kau menghukumnya? Aku mohon, hilangkan segala rasa benci dalam hatinya!" ucap Abigail memohon pada Sang Kuasa.


Sam merenungkan semua ucapan dari Vanya, Sam mengingat akan kejadian dirumah sakit. Sungguh dia ingin sekali memeluk Zyvia, menciumnya, menariknya tuk kembali padanya. Tapi, sungguh rasa itu kembali hilang saat melihat wajahnya. Karena itu mengingatkan dirinya akan kematian Alfa.


"Maafkan aku, maafkan aku tak bisa melawan semua ini. Aku sungguh tak bisa menghilangkan rasa bersalahku pada Alfa. Kenapa, kenapa harus adikku yang menyebabkan kematianmu, Al," ucap Sam menangis haru.


Abigail dan Vanya yang melihat itu dari balik jendela pun hanya bisa menangis. Mereka tahu, akan hati Sam yang masih menyayangi Zyvia. Rasa benci nya tak akan bisa mengalahkan rasa sayangnya. Hanya saja, rasa penyesalan itulah yang membuat Sam menjadi kejam dan dingin pada Zyvia.


Ke esokan paginya, di kediaman Ara begitu sibuk. Semua keluarga berkumpul disana, begitu pula dengan Vanya yang sudah cantik di rias oleh Kiara. Ken begitu terharu satu persatu adik-adiknya telah menemukan takdir cinta mereka.


Ken teringat akan semua perkataan orang tuanya. Tuk selalu menjaga adik-adiknya. Dan semua itu, sudah dia lakukan sepenuh hati.


"Jangan bersedih dihari bahagia ini!" pinta Ara.


"Mana ada, aku tak sedih. Aku merasa terharu saja, adik-adik mu itu sekarang sudah menjadi dewasa. Dan, aku merasa bangga membesarkan mereka. Mereka sudah seperti anak-anakku, Ara," balas Ken.


"Kak Ken yang terbaik. Kami selalu mengeluh dan meyusahkanmu dan kak Ara," ucap Sam.


"Sam, kapan kau datang?" tanya Ara seraya memeluk sang adik.


Sam membalas pelukan itu dan mencium pipi Ara. Lalu memeluk Ken.


"Kau ini berbicara apa? Aku hanya menjalankan kewajibanku saja," tegas Ken.


"Hari nih, tolong jadilah ayah tuk Vanya. Karena, aku tak bisa melakukan itu, terima keluarga dari Wiliem," pinta Sam.


"Tanpa kau memintanya. Aku akan melakukan itu, Sam. Jadi, kau hanya fokus tuk menikahkannya saja," balas Ken.


"Terimakasih, kak. Terimakasih banyak," ucap Sam.


Ken mengangguk ia, menepuk bahu Sam tuk menyemangatinya. Ara tersenyum bahagia karena dirinya dan Ken bisa terus menjaga mereka sampai besar.


"Tuhan, tolong selalu jaga suamiku dan diriku. Agar terus bisa mendampingi mereka, menjaga mereka sampai akhir usia kami," ucap Ara dalam hati.

__ADS_1


"Kakak,,, kakak,,, !!" teriak Zyan memanggil Ara dan Ken dari luar kamar.


"Dengar, jika Zyan ada seperti itulah dia. Sikap buruknya tak pernah hilang sejak kecil," ucap Ara seraya keluar menemui sang adik.


"Aku disini, Zyan. Ada apa?" tanya Ara.


Mendengar suara sang kakak, Zyan langsung berlari kecil menghampirinya lalu memeluk erat tubuh Ara.


"Aku merindukanmu," ucapnya.


"Cih,,, dasar bayi besar. Kau bilang merindukanku? Tapi, kenapa kau masih di Korea dan tak tingal disini bersama dengan istri dan putrimu?" tanya Ara.


"Kakak, kau tahu bukan? Disana sedang sangat sibuk, dan semuanya harus aku yang menjalankan semuanya," jawab Zyan.


Ya, sudah enam bulan lamanya, Zyan tinggal di Korea. Sedangkan, Kiara dan Jiso tinggal bersama dengan Ara dan Ken.


Ken dan Sam keluar tuk melihat Zyan bersama Ara. Zyan tersenyum melihat keduanya, memeluk bergantian Ken dan Sam. Zyan mengangguk menatap Sam.


"Apa kabarmu?" tanya Sam.


"Baik, aku sangat baik. Kau sendiri bagaimana?" tanya Zyan.


"Ya, aku baik," jawab Sam.


Kiara memberitahukan jika Zee dan yang lainnya sudah hampir sampai. Akhirnya mereka pun bersiap-siap tuk menyambut tamu istimewa tersebut


Terlihat, Zee bersama suami dan putrinya keluar dari mobil. Dan teihat juga Sofia dan Wil disana. Ken menyambut mereka tuk masuk, Alya melompat senang saat melihat Zyan berada disana.


"Daddy Zyan,!!" teriaknya senang.


Zyan menggendong Alya dan menciumnya, anak dari Zee ini memang begitu manja sama seperti Zee kecil. Jiso yang usianya lebih kecil dua tahun dari Alya saja menganggap Alya adalah adik terkecilnya.


"I miss you, Dad," ucap Alya seraya mencium Zyan.


"Miss you too, honey," balas Zyan.


Zee tersenyum lalu memeluk Zyan, Zyan membalas memeluk kembarannya itu. Mencium kening Zee.


"Apa kabar mu?" tanya Zyan.


"Aku baik. Aku sangat merindukanmu," jawab Zee begitu manja.


Acara malam itu pun berjalan lancar, Sofia begitu senang dan sangat bahagia. Ken dan keluarga begitu menyukai sifat Sofia yang begitu baik. Benar-benar membuat mereka merindukan sosok Azura, Intan dan Tia.


"Baiklah, acaranya akan di laksanakan satu minggu dari sekarang," ucap Sofia.


"Baik,Nyonya. Kami akan persiapkan semuanya, semoga semuanya berjalan lancar dengan baik," balas Ken.


"Ya, semoga saja," ujar Sofia.


Sofia menatap Sam dan mengangguk, Sam tersenyum menatap Sofia.


"Nak, Sam. Terimakasih, kau sudah memaafkan kesalahan dari Wil, dan memberikan ijin padanya tuk memperbaiki semuanya," ucap Sofia.


"Nyonya, sebenarnya anakmu itu lelaki yang baik dan bertanggung jawab. Oleh karena itu, aku merelakan Anya dengan Wil," balas Sam.


Wil tersenyum menunduk mendengar pujian dari Sam. Sedangkan, Vanya tersenyum sembari menggenggam tangan Sam yang memang duduk di sebelahnya.


"Baiklah, acara ini sampai disini saja, mari kita lanjutkan tuk makan siang," ajak Ara.


Dan mereka pun beranjak tuk makan siang bersama, anak-anak tetap dalam dunia mereka dengan canda tawa. Sedangkan orang tua mereka begitu sibuk menyiapkan berbagai macam tuk hari pernikahan Wil dan Vanya.


"Aku tak sabar tuk segera menikahi dirimu, aku berjanji Anya. Setelah menikah nanti, kau akan menjadi wanita paling yang bahagia," ucap Wil.


"Akan ku ingat janji mu, Wil. Dan, aku berharap bisa selalu berbahagia dengan mu," balas Vanya.


"Sekarang, waktunya kita yang berjuang," ucap Alex.


"Berjuang tuk apa, maksudmu?" tanya Zee.


"Kau tahu bukan, kalau aku telah dkalahkan oleh Wil," ucap Alex.


"Dikalahkan bagaimana? Apa maksudnya," tanya Zee.


"Kau lihat, perjaka itu sekali bermalam tapi sudah akan menjadi seorang ayah. Sedangkan, aku masih belum beruntung," jawab Alex dengan nada yang di buat sedih.


"Aahh,, astaga, Alex. Kau itu yah," teriak Zee tanpa sadar dengan memukul sang suami.

__ADS_1


Alex tertawa riang karena telah menggoda Zee, mereka tertawa bersama dengan bahagia.


Bersambung🍂🍂🍂


__ADS_2