
...بِسْــــــــــــــــــــــمِ اللّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيْم...
..."Allah adalah sebaik-baiknya perencana, tak ada takdir yang cacat di tangan-Nya. Hanya terkadang kitanya saja yang tak mampu berdamai dengan kenyataan tersebut. "...
...°°°...
Mengikhlaskan memang bukanlah perkara yang gampang, tapi jika itu sudah bisa diaplikasikan In syaa Allah akan dipermudah dan diperlancar. Segala beban yang dulu dipukul, satu per satu mulai terangkat dan terasa melegakan.
Setidaknya dengan kepergian Bian aku bisa sejenak rehat, sebab Bagas pasti tak akan lagi menceraikanku kala sudah melahirkan nanti. Kuharap ia akan benar-benar bisa berubah pikiran.
"Astagfirullahaladzim!" pekikku kala taksi yang ditumpangi berhenti secara mendadak. Allahuakbar, ada apa ini?
"Mohon maaf, Bu a—"
Perkataan sang supir terhenti karena gedoran pintu yang berasal dari arah samping. Netraku membulat tak percaya kala melihat wajah merah padam Bagas yang begitu menyeramkan.
"Terima kasih yah, Pak," kataku seraya menyerahkan uang sebagai ongkos, tapi bapak itu malah menggeleng tegas.
"Bagaimana dengan Ibu? Saya takut terjadi sesuatu ya—"
"Gak papa, Pak, itu suami saya," potongku cepat dan segera melesat keluar. Menetralkan gemuruh dalam dada lantas memasang senyum semampuku. Tenang, Btari. Tenang.
"Ikut saya!" tegasnya seraya menyeretku dengan tergesa, bahkan ia pun mendorong tubuhku kala memasuki mobil. Allahuakbar, apalagi ini? Kesalahan apa yang sudah kuperbuat?
"Pelan-pelan, Mas, aku gak mau mati konyol gara-gara ini," cicitku yang malah Bagas balas tawa mengerikan. Ya Allah, Ya Rabbi, apa yang harus kulakukan kini?
Bagas sedang dalam keadaan emosi yang tidak stabil, dan aku takut ia kembali berulah di luar batas wajar. Sangat,
"Pembohong! Kamu pembohong, Btari!" makinya seraya memukul stir mobil kasar dan menatap tajam ke arahku.
Aku menggeleng tak mengerti, tapi ia justru kembali menggelegarkan tawa setan. Sangat amat mengerikan, dan aku benar-benar ingin segera keluar dari mobil ini.
Secara tiba-tiba ia mengerem mobilnya, beruntung aku menggunakan sabuk pengaman dan tak terlalu terpental ke depan, walau perutku sedikit bergejolak sakit. Aku mengelusnya lembut, berharap rasa keram itu akan segera hilang.
__ADS_1
Ia menghadap padaku, dan aku beringsut menjauh tapi tubuhku sudah mentok ke pintu. Seringai jahat terpatri di sana, tanpa izin Bagas langsung mencengkram kuat rahangku. "Dasar istri tak tahu diri!" Bagas kembali memaki, dan itu sangat menusuk hati.
Tanpa rasa iba Bagas menyentak kepalaku hingga terbentur kaca mobil. "Pecundang, hanya berani main belakang. Kenapa tak langsung saja kalian menikah di depan mata saya, hah?"
Kupejamkan mata sejenak, meredam gejolak dalam dada yang kian memberontak hebat. Bagas salah paham, ia sudah sangat keliru dalam menarik kesimpulan.
"A-ak-aku bisa jelaskan, Mas," lirihku dengan suara bergetar antara takut dan juga menahan tangis agar tak pecah.
Tawa Bagas menguar, netra itu tak pernah lelah menghunus tajam. "Simpan semua omong kosong kamu itu, Btari!"
"Mas yang tenang, istigfar, aku jelasin semuanya pelan-pelan yah, Mas," pintaku selembut mungkin. Sekuat tenaga aku meredam amarah, jangan terpancing, Btari. Sabar.
Ia tak menurut dan malah kembali duduk tenang di balik kemudi, menjalankan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Aku semakin takut terlebih kala ia menyalip kendaraan lain yang berada di depan sana. Bahkan bunyi klakson sudah saling bersahutan, tak jarang makian dari pengendara lain pun ikut meramaikan.
"Kalau mau mati jangan ajak-ajak aku!" teriakku dengan napas memburu cepat, sebab lampu merah sudah menyala, hanya berjarak beberapa meter lagi, tapi dengan angkuhnya Bagas malah menyeringai setan.
"Sehidup semati, bukankah itu ide yang bagus, Btari?"
Allahuakbar. Setan apa yang tengah bersemayam nyaman dalam diri Lelaki itu. Aku masih ingin hidup, Bagas benar-benar sudah kelewatan. Ia terlalu egois dan menganggap apa pun yang dilakukannya benar.
"Seru bukan?" tanyanya dengan mata melirik ke arah lampu merah, dan aku baru sadar bahwa mobil ini sudah berhenti. Alhamdulillah, Ya Allah, Alhamdulillah.
"Gila kamu, Mas!"
"Ya saya memang gila, Btari," sahutnya tanpa dosa. Allahuakbar, ia sudah seperti manusia yang kehilangan akal. Benar-benar sulit untuk dikendalikan.
Saat lampu hijau sudah menyala ia kembali memacu kendaraannya, tidak sekencang tadi, bahkan pelan. Syukurlah ia sedikit waras untuk tak lagi membuatku sport jantung.
"Mas," panggilku sepelan dan selembut mungkin. Berharap ia bisa sedikit berdamai denganku. Hanya lirikan sinis yang lelaki itu berikan.
Aku menghela napas berat. "Soal masalah di bandara tadi, ok, aku minta maaf karena gak terus terang sama kamu kalau ada Mas Bian juga di sana. Aku minta maaf, tapi aku gak bohong soal nganter Ibu. Beliau juga ada bersama aku," terangku menjelaskan.
"Kenapa kamu membiarkan Bian pergi?" Pertanyaannya pelan tapi begitu tajam dan menusuk.
__ADS_1
"Ada hak apa aku melarangnya?"
Tak ada jawaban yang lelaki itu utarakan, hal itu jelas membuatku cemas bercampur kesal. Bukankah itu kabar baik? Dengan begitu kami akan lebih bisa menikmati pernikahan ini.
"Sudah sampai. Turun!"
Aku melihat ke arah sekitar, kenapa ia malah menghentikan kendaraan beroda empat ini di kediaman ayah?
Tanpa kata ia langsung membuka pintu kemudi dan turun, bahkan dengan santainya ia duduk bak mobil seraya bersidekap dada. Sikap Bagas sungguh aneh dan mencurigakan.
Tadi ia seperti manusia yang lepas kendali dan dipenuhi emosi, tapi kini ia malah terlihat begitu santai dan tenang. Hal ini sungguh sangat membingungkan.
"Apa perlu saya bukakan pintunya, Btari!" teriak Bagas karena aku yang tak kunjung turun dan malah asik bergelut dengan pikiran yang sudah bercabang ke mana-mana.
Tanpa pikir panjang lagi aku pun turun serta berdiri di sisinya. Melirik Bagas sekilas lantas kembali menunduk dalam. Secara tiba-tiba aku merasakan ada sebuah tangan yang merangkul pundakku.
Aku terpaku beberapa detik, sampai pada akhirnya memberanikan diri untuk melihat netra Bagas yang kini menyorotkan keteduhan, sangat jauh berbeda seperti tadi. Ada apa?
"Maafkan saya, Btari, saya harap dengan cara ini kamu bisa menemukan arti bahagia yang kamu cari dan inginkan," katanya dengan nada rendah menenangkan.
"Makasud kamu?"
Untuk kali keduanya aku melihat senyum tulus dan indah yang terpancar dari wajah tegas Bagas. "Saya talak kamu, Btari."
Tubuhku membeku seketika, air mata sudah terasa membayang di pelupuk netra. Kuberanikan diri untuk menatap lekat ke arahnya, tapi ia malah menghindar dan menjauh.
"Seperti permintaan kamu waktu itu, aku pulangkan kamu pada Ayah," katanya berhasil membuatku terisak pilu. Dadaku seperti dihimpit ribuan ton baja tak kasatmata, sakit dan tak lagi bisa bernapas seperti biasa. Sesak.
"Kamu gak lagi bercanda, kan, Mas? Ka-ka-mu—"
"Maafkan saya, Btari," ungkapnya lantas pergi dan kembali memasuki mobil. Pertahananku langsung meluruh, kakiku lemas tak bertulang, bahkan tak lagi mampu untuk menopang. Allahuakbar.
"Bangkitlah, Nak, Ayah tahu kamu kuat, kamu hebat," bisik seseorang dengan dibarengi rengkuhan hangat. Aku pun mendongak dan mendapati senyum teduh ayah yang menenangkan. Tanpa dapat dicegah lagi aku terisak dalam pelukannya.
__ADS_1
"Mas Bagas menceraikan, Btari, Ayah," lirihku di sela isakan. Tak ada sahutan yang beliau berikan, tapi elusan lembut yang diberikan sudah cukup mewakilkan.