Takdir Cinta

Takdir Cinta
258


__ADS_3

Leo begitu panik saat melihat tubuh Zyvia yang terluka lemas di bawah lantai. Leo segera membuka pintu tersebut dan menompang tubuh Zyvia di tubuhnya.


"Via, bangun nak. Kau kenapa?" tanya Leo panik.


"Aahh,, Via, tanganmu berdarah nak. Apa yang kau lakukan?" tanya Cessi.


Terlihat tangan Zyvia sudah bersimbah darah, ternyata Zyvia menyayat lengannya dengan pecahan kaca. Leo begitu panik dan langsung menggendong sang putri ke depan Zyvia sudah tak sadarkan diri. Sedangkan Cessi menangis hebat mengikuti sang suami.


"Tolong,,, tolong,,," teriak Cessi.


Barulah para pegawai menghampiri dan melihat keadaan Zyvia dengan luka di lengannya membuat mereka merasa kasihan.


"Apa dari kalian ada yang bisa membawa mobil?" tanya Cessi dengan terbata.


"Tidak ada Nyonya. Kami hanya bisa mengunakan delman saja," seru seseorang.


"Leo, biarkan aku saja yang menyetir mobilnya. Kau tolong tangani Zyvia di belakang," ucap Cessi.


Saat Leo sibuk menghentikan darah di tangan Zyvia. Cessi berusaha menghilangkan mobil. Namun, naas mobil itu tak mau mental membuat Cessi frustrasi seraya memukul setir mobil.


Zee dan Alex yang sudah bersiap pergi pun di buat kaget saat mencari oenjaga Villa tak ada. Dan saat keluar melihat banyak warga yang sedang berbisik-bisik dengan wajah yang cemas.


"Permisi, bu ada apa yah? Kok cemas seperti itu?" tanya Zee.


"Anak, dari Nyonya kami mencoba melakukan bunuh diri dan sekarang mereka sedang kesusahan karena mobilnya tak mau menyala," jawabnya.


"Astaga, Zyvia," seru Zee seraya berlari masuk ke ruang tamu menemui sang suami.


"Alex, kita harus membantu Aunty dan Uncle, sekarang juga!" pinta Zee.


Zee menarik tangan Alex menuju mobil mereka dan langsung menuju tempat Villa utama di sana. Terlihat dari jauh, Leo sedang membalut luka di tangan Zyvia, sedangkan Cessi berusaha menyalakan mobil.


Mobil Alex berhenti tepat di depan sana, Zee bergegas turun dengan membawa kotak 3K di tangannya berlari ke arah Leo.


Air mata Leo masih terus mengalir di wajah tuanya. Melihat sang putri yang tak berdaya. Dengan sigap Zee menarik tangan Zyvia membuka kembali balutan kain tersebut.


"Hey, apa yang kau lakukan?" hardik Leo, tanpa melihat siapa yang berada di depannya.


Zee hanya diam tanpa menjawab, tanpa melihat Leo dan sama sekali tak mau melihat wajah Zyvia. Zee hanya mencoba memperlambat aliran darahnya saja.


Cessi yang melihat Zee dan Alex di sana begitu terkejut. Apalagi dengan yang Zee lakukan pada sang putri, Cessi turun dari mobil tersebut.

__ADS_1


"Zee," panggil Cessi seraya berjalan menghampirinya.


Leo yang mendengar Cessi memanggil nama Zee pun terkejut, lalu menatap sosok wanita cantik di depannya. Matanya melebar sempurna saat melihat jika itu adalah Zee.


"Sebaiknya segera bawa dia ke mobilku! Sebelum dia kehabisan darah!" ucap Zee dengan nada memerintah dan juga dingin.


Alex membukakan pintu tuk Zee di samping kemudi, lalu menatap ke arah Cessi dan Leo dengan mengangguk tuk membolehkan mereka tuk masuk.


Leo dan Cessi pun membawa Zyvia dengan mobil Alex. Dengan sikap diam Zyvia yang tetap melihat lurus tanpa suara. Membuat Cessi dan Leo hanya bisa diam dengan menatap punggung Zee.


Alex membawa mobilnya dengan kecepatan tinggi. Sudah biasa tuk Alex saat mengemudikan mobil dengan cepat. Selang tiga puluh menit akhirnya mereka sebuah klinik disana.


Alex membukakan pintu mobil tuk Cessi dan Leo. Mereka segera masuk ke dalam klinik, di susul oleh Zee dan Alex di belakang. Entah kenapa Zee tak ingin segera pergi dan mungkin saja berdoa agar Zyvia bisa mati saja. Tapi tidak, hati Zee begitu baik, dia membenci Zyvia tapi masih ada rasa empati dari dirinya tuk Zyvia.


Dokter segera melakukan pertolongan tuk Zyvia, Cessi dan Leo ikut masuk keruang UGD. Sedangkan, Alex dan Zee duduk di ruang tunggu. Tak ada satu kata pun dari Zee saat itu, tatapan matanya begitu kosong. Alex menggenggam tangan Zee dengan erat.


"Apa kita pergi sekarang? Kita sudah membantunya bukan?" tanya Alex.


"Baiklah, aku ingin segera pergi. Ini akan menjadi yang pertama dan terakhir lagi tuk ku bertemu dengan mereka," jawab Zee.


Alex pun merangkul tubuh sang istri, dan segera pergi dari sana. Zee benar-benar gemetar saat melihat banyak darah di tangan Zyvia. Entah kenapa juga dia merasa sedikit lega saat ini.


Mobil tersebut terus melaju dengan cepat, melewati perdesaan dan kebun teh yang begitu hijau terhampar luas.


Zee menyenderkan kepalanya di bahu Alex, tanganmu kembali menggenggam tangan Alex. Alex begitu senang melihat Zee yang kembali manja pada dirinya. Berharap saat pergi dari sini membuat Zee merasa lebih baik dan melupakan kembali rasa sakitnya.


"Aku berjanji akan membawa Zee kemana pin yang membuatmu tersenyum. Aku akan membahagiakan kekasihmu, Alfa. Aku berjanji pada dirimu," batin Alex.


Sedangkan di dalam klinik, Cessi dan Leo pergi keluar setelah melihat Zyvia sudah di tangani dengan baik, luka di tangannya sudah di jahit dan tak lagi mengeluarkan darah. Hanya saja, Zyvia masih belum sadarkan diri.


"Kemana, Zee? Bukannya dia juga ikut masuk kemari?" tanya Leo memperhatikan sekeliling.


Cessi pun berjalan cepat ke arah loby tapi ternyata tak ada Zee dan Alex disana.


"Apakah mereka sudah pergi? Kenapa, mereka pergi begitu saja, kita belum sempat berterimakasih pada mereka," seru Leo.


"Zee, dia bilang membenci Zyvia dan keluarga kita. Tapi, coba kau lihat Leo dia juga yang menolong Zyvia. Hatinya benar-benar baik, tulus, anak-anak Azura sama seperti Ibunya orang yang baik," ucap Cessi.


"Bumi dan Azura memiliki anak-anak yang baik, berbudi dan penuh kasih sayang," balas Leo.


Selama satu jam Zyvia tak sadarkan diri, Cessi dan Leo tetap menunggu sang anak bangun. Di usia mereka yang tak lagi muda, sangatlah melelahkan menunggu seperti itu.

__ADS_1


Mata Zyvia terbuka dengan perlahan, menatap wajah sang Mommy dan Daddy. Air mata, Zyvia mengalir deras mengingat akan dirinya yang ingin mengakhiri hidupnya.


"Dad, Mom," panggil Zyvia lirih.


Cessi dan Leo pun memyahuti panggilan sang putri dan tersenyum. "Ya, nak. Apa kau sudah merasa lebih baik?"


"Maaf, maafkan aku yang bodoh melakukan itu," isak Zyvia seraya menggenggam tangan keduanya.


"Hushhh, sudah jangan banyak bicara dulu! Kau istirahat saja dulu!" pinta Leo.


Tok...tok...tok... Terlihat suster masuk kw dalam membawa obat dan terlihat sepucuk surat.


"Permisi Tuan, Nyonya, ini ada surat dari wanita muda yang datang bersama kalian," ucap suster seraya memberikan surat tersebut.


"Surat dari wanita muda? Siapa dia Mom?" tanya Zyvia.


"Zee, wanita itu Zee. Dia yang sudah menolong dan membawa mu kemari," jawab Leo.


Zyvia menggeleng tak percaya. Karena, dia tau jika Zyvia begitu membenci dirinya. Air matanya mengalir deras.


Cessi membuka surat tersebut, membaca satu persatu kata yang di tulis oleh Zee.


Zyvia.


*Manusia bodoh yang pernah aku kenal dan temui. Apa yang kau lakukan dengan memotong urat nadimu? Tak cukup kah hidup mu selama ini telah menyusahkan kedua orangtuamu, merepotkan mereka dengan kegilaanmu? Rasa penyesalanmu tak akan membuat kekasihku kembali hidup. Rasa benci ku padamu pun tak akan bisa menghidupkan lagi kekasihku.


Aku harap mulai sekarang hiduplah menjadi sosok yang baru, kuburlah semua masa lalu itu, lupakan juga semua tentang kekasihku. Belajarlah membuka lembaran baru di hidupmu dan juga hatimu*.


Cessi menangis membaca isi surat tersebut. Leo pun mengambil surat itu lalu membacanya.


"Zyvia, berbahagia lah Zee tak lagi membenci dirimu, dia sudah mengikhlaskan semua yang kau lakukan padanya. Dan asal kau tahu, Zee memiliki seorang anak dari Alfa," ucap Leo.


Zyvia semakin syok mendengar semuanya. Dirinya merasa begitu menyesal akan semua perbuatannya. Rasa cinta yang dia miliki memang telah membunuh rasa simptinya, membunuh semua kebaikan orang-orang di sekelilingnya. Dan sampai membunuh sosok yang menjadi belahan jiwanya.


"Zee, maafkan aku, maafkan aku. Maafkan aku telah berdosa padamu dan Alfa," isak Zyvia sembari memeluk surat tersebut.


Tangisan penyesalan Zyvia begitu menyayat hati orangtuanya. Membuat Cessi tak kuasa menahan rasa sakit di hatinya melihat anaknya selalu terpuruk. Dan menangis terus menerus.


"Aku berjanji akan pergi dari sini, aku berjanji akan menjalani hidupku yang baru, aku akan berubah Zee. Aku akan menjalani sisa hidupku dengan lembaran baru. Terimakasih sudah memaafkan diriku," batin Zyvia.


Jangan LUPA ya.. kawan kawan tinggalkan jejak nya...

__ADS_1


TERIMAKASIH


__ADS_2