
Setelah kejadian itu, Zee memutuskan untuk cuti kuliah terlebih dahulu, dia mengisi masa cutinya dengan ikut sang ayah ke kantor. Zee menjelma menjadi sosok wanita karir yang cantik dengan dandanannya yang elegan alnamun tetap mencerminkan anak gadis seusiannya.
"Zee, ayah baru baru ini telah bekerjasama dengan perusahaan baru dari Korea," jelas Bumi memberikan file pada Zee.
"Lalu, apa ada masalah ayah? Atau kontraknya tak sesuai dengan apa yang kita inginkan?" tanya Zee.
"Tidak nak, semuanya baik baik saja. Dan direktur utamanya begitu berbaik pada ayah," jawab Bumi.
"Lalu apa yang ayah khawatirkan?" tanya Zee.
"Semenjak enam bulan lalu, kita bekerja sama sekali lun ayah belum pernah bertemu dengannya" balas Bumi.
"Dia selalu saja mewakilkan pada sekretarisnya. Dan jika sangat penting, ayah hanya bisa menelponnya saja" sambung Bumi.
"Mungkin dia orang yang sangat sibuk ayah, dan menurut Zee jika semuanya masih dalam hal yang wajar dan tak merugikan kita, biarkan saja kita bekerja lewat sekretarisnya saja" jelas Zee.
"Ya, kau ada benarnya Zee. Hemm, sejak kapan putri ayah menjadi dewasa seperti ini?" ucap Bumi menggoda Zee.
"Aku harus segera dewasa ayah, karena aku sendiri. Tak ada kakak yang akan menjagaku, tak ada kakak yang akan bisa membelaku, dan tak ada kakak yang bisa ku peluk saat ku dalam sedih atau kesulitan," ucap Zee sambil menatap foto keluarganya yang terpampang jelas di dinding.
Bumi hanya bisa menepuk bahu Zee, menguatkan putrinya yang kini semakin dewasa. Setelah kejadian sebulan lalu dengan Alfa. Zee memutuskan menjauh dari Alfa maupun Sam, dan yang lainnya.
Kampus
Sudah sebulan Zee mengambil cuti tak masuk kampus, Sam semakin dekat dengan Abigail. Bisa dibilang mereka sudah berpacaran, namun baru mereka saja yang tahu.
Alfa semakin dingin, dan tak memperdulikan apapun selain kuliah, Zyvia begitu sedih melihat keadaan Alfa yang begitu mengenaskan.
Zyvia terus mencoba mendekati Alfa, dan ingin membantu dirinya agar tak berlarut larut dalam kesedihan. Sama seperti siang ini Alfa memainkan bola basket dengan penuh emosi, berlari terjatuh terus saja berulang sampai siku tangannya terluka dan berdarah.
"Kau begitu menyayangi Zee, Al? Kau sampai menyiksa diri karena dirinya, tidak bisakah kau lihat ada aku yang begitu menyayangimu?" tanya Zyvia menatap sedih Alfa.
"AAARRGGHHHHHH," teriak Alfa begitu frustasi karena Zee.
Dia sama sekali tak bisa bertemu dengan Zee, Alfa begitu gila karena tak bisa melihat Zee, mendengar suaranya saja dia tak bisa. Apalagi menemuinya dan menyentuhnya. Alfa begitu rindu pelukan gadisnya, mencium aroma rambut panjangnya, senyuman manisnya.
Alfa terduduk lemas di tengah lapangan basket, Alfa menunduk air mata dan keringat bercampur menjadi satu.
"Sampai kapan kau menyiksaku, princess? Sampai kapan kau akan membunuh perasaanku, aku akan mati secara perlahan karena rindu ini" ucap Alfa.
Zyvia berjalan kearah Alfa, berjongkok tepat di depannya, Zyvia membawa kotak obat kecil di tangannya dan juga air mineral.
"Sampai kapan kau akan menyiksa dirimu Alfa? Lihat dirimu sangat kacau," ucap Zyvia menatap sedih Alfa.
Alfa hanya menyunggingkan senyumnya, menatap tak suka pada Zyvia.
"Pergi kau!" hardik Alfa.
"Aku akan pergi setelah mengobati lenganmu," ucap Zyvia sambil mengambil obat merah di dalam kotak.
__ADS_1
"Aku katakan pergi!" teriak Alfa dengan begitu lantangnya.
"Terus saja kau berteriak! Aku akan tetap mengobati dirimu, sama halnya kau yang mengobati diriku saat itu," balas Zyvia.
Alfa diam, tak menjawab. Dengan cepat Zyvia memberikan obat merah pada luka Alfa, dan menutupnya dengan kain kasa.
Setelah itu Zyvia langsung berdiri, pergi dari snaa dan meninggalkan Alfa dengan sebotol air didepannya.
Alfa langsung meminum air itu dengan sekali tegukan, dan melemparkan botol itu sembarangan. Dengan langkah yang lemas, Alfa masuk kedalam ruang olah raga untuk membersihkan tubuhnya.
Di dalam ruangannya, Zee melamun menatap gedung gedung tinggi ibu kota di luar sana. Pikirannya teringat pada sosok yang sangat dia rindukan, sosok yang juga telah menyakiti dirinya, sosok yang sudah berkata kasar padanya.
"Apa kau merindukanku, Al?" gumam Zee.
Zee masih memakai kalung pemberian Alfa, kalung yang Alfa rancang sendiri, liontin itu berbentuk huruf ZA yang di desain begitu cantik.
"Aku merindukanmu Al, tapi aku juga belum siap untuk bertemu denganmu," sambung Zee.
Kring, kringgg,
Suara telpon berbunyi, Zee langsung mengangkat ganggang telpon itu.
"Hallo, ini dengan perusahaan Putra Company. Ini dengan siapa?" tanya Zee.
Tak ada suara di sebrang, yang terdengar hbaya hembusan napas saja.
"Hallo, hallo, apa anda masih berada disana? Tolong katakan sesuatu, ada perlu apa?" tanya kembali Zee.
"Ini suara Zee, princessku, kembaranku, setengah jiwaku, Zee aku sungguh merindukanmu sayang," batin Xion.
Setelah menetralkan perasaannya, Xion menjawab ucapan Zee.
"Ekhem, maaf nona. Saya ada keperluan dengan pak Bumi, bisa saya berbicara dengan beliau?" tanya Xion.
"Z-Zyan, kaukah itu? Kau Zyan bukan, kau kakaku Zyan bukan?" tanya Zee terbaru dengan air mata yang sudah mengalir deras.
Lexion menutup mulutnya, agar Zee tak bisa mendengar isakan tangisnya. Ternyata Zee bisa langsung mengenali dirinya dengan sekali mendengar suaranya.
"Zyan, aku mohon berbicaralah! Katakan sesuatu, kau Zyan ku kan? Kau kakakku bukan?" teriak Zee.
"Maaf, nona anda salah orang. Saya Xion Liu, bukannya Zyan," jawab Xion.
"Jangan bercanda kau, kau itu Zyan ku! Zyan ku mohon pulanglah, aku merindukanmu, aku ingin memelukmu Zyan," ucap Zee ditengah isak tangisnya.
Bumi yang baru saja selesai meeting begitu terkejut dengan kedaaan Zee yang menangis dan berteriak menyebut nama Zyan.
"Princess ada apa, nak?" tanya Bumi memeluk sang anak.
"Ayah, ini Zyan, ini Zyan kita yang menelpon," jawab Zee seraya memberikan gagang telpon tersebut.
__ADS_1
Bumi mengaktifkan mode loudspiker, dan menunggu suara sang penelpon.
"Hallo, ini dengan siapa? Saya Bumi pemilik perusahaan Putra Company," ucap Bumi.
"Maaf, pak. Ini saya Xion Liu ingin berbicara dengan anda, mengenai kerjasama kita" jawab Xion.
"Ah, ternyata anda tuan Xion. Maaf atas keslah pahaman yang baru saja terjadi, tadi adalah putri saya pak," jelas Bumi.
"No problem, saya mengerti pak. Ya, walaupun saya sedikit terkejut mendengar putri anda memanggil saya dengan sebutan Zyan," ucap Xion.
"Ayah, apa kau tidak ingat? Itu suara Zyan, ayah dia Zyan kita," seru Zee masih dengan menangis.
"Zee, apa kau tak dengar dia adalah Xion Liu. Direktur Xion Company sayang," balas Bumi yang memandang sedih sang putri.
Lexion begitu sedih mendengar suara tangisan Zee, hatinya begitu tersayat, sebisa mungkin Xion menahan rasa sedihnya. Kenzia menyaksikan apa yang terjadi pada Xion, dan juga mendengar percakapan sang adik dengan Zee dan ayahnya.
Kenzia menangis hebat, dadanya begitu sakit, mendengar isakan Zee, menyebut nama Zyan, mencurahkan semua perasaannya.
"Maaf, tuan Xion. Telponnya saya tutup dahulu, sekretarisku akan menelpon anda kembali," ucap Bumi.
Tut,,, tut,,, tut,,, sambungan telpon di putus oleh Bumi. Xion terduduk lemas bersederkan kursi.
"Princess, maafkan aku, maafkan aku sayang" ucap Xion sambil menangis.
Kenzia masuk dan langsung memeluk tubuh Zyan, menangis dengan hebatnya, Xion membalas peluk sang kakak dengan erat. Mencoba tegar karena melihat sang kakak yang menangis hebat di dekapannya.
"Sudah kak, jangan menangis! Jangan lagi kau keluarkan air mata berhargamu," ucap Xion sambil mengusap punggung Kenzia.
"Princessku, dia menangis Xion. Dia merindukan kita, dia begitu menyayangi kita, dia membutuhkan kita di sampingnya, kakak ingin sekali memeluknya Xion" ucap Kenzia.
Kenzia merajuk mengoyangkan tubuh Xion. Sedangkan sang adik hanya bisa diam, menatap sang kakak.
"Ayo kita pulang! Ayo kita temui keluarga kita Xion," ucap Kenzia.
Xion masih tetap diam tak menjawab ucapan sang kakak. Kenzia mengerutkan dahinya merasa aneh.
"Kenapa kau diam, Xion. Bukannya kau yang berkata, kemana pun aku pergi kau akan ikut denganku?" tanya Kenzia.
Lexion mengangguk dengan cepat, dan tersenyum menatap sang kakak, Xion mencium tangan sang kakak.
"Apapun yang kau inginkan, kakak. Aku akan lakukan dengan senang hati, dan akan selalu ku lakukan dengan cepat," jawab Xion.
"Kau memang adikku, Zyan Lexion Putra," ucap Kenzia seraya mencium kening dan pipi Xion.
Lexion dan Kenzia saling berpelukan, sedangkan di balik pintu ada Kiara dan Kenzio bersama twins di gendongan mereka.
"Sebentar lagi, kalian akan bisa bertemu dengan oma dan opa sayang," ucap Kiara pada Rio dan Rino.
Kenzio menatap bahagia dengan keputusan sang istri dan adik iparnya.
__ADS_1
Bersambung💞💞💞