Takdir Cinta

Takdir Cinta
Pertemuan


__ADS_3

Rafli menggendong Ana ala bridal style dari ruang kerjanya menuju kamar mereka. Para pelayan yang melihatnya kembali tersenyum , tak ada lagi emosi dari Rafli yang satu bulan ini mudah sekali marah dan suara ketus Ana tak akan terdengar kembali .


Ceklek .


'' Semua sudah mas ganti dengan yang baru sayang , semua nya " ucap Rafli mengerti tatapan Ana. ..


'' Syukurlah mas , bagaimanapun aku pernah tidur disini dan menghabiskan malam bersamamu . Aku tak ingin bekas " ucap Ana merebahkan tubuhnya di ranjang yang begitu terasa empuk . Rafli pun tersenyum ikut merebahkan tubuhnya.


'' Bahkan kamar laknat itu berada di ujung sana. Padahal kamar itu sangat nyaman dan luas , sekarang kamar itu menjadi gudang " ucap Rafli menghela nafas panjang .


'' Terima kasih mas . Sudah mengerti aku " ucap Ana memeluk tubuh suaminya .


'' Apapun akan mas lakukan untuk mu . Kita lupakan semua yang terjadi dan kita mulai buka lembaran baru " ucap Rafli membelai wajah Ana menggunakan jari telunjuknya , alis , mata , bulu mata yang lentik , hidung mancung yang kecil , dan bibir Ana yang begitu ranum serta dagu Ana yang begitu indah.


'' Sempurna " ucap Rafli .


'' Apa perlu kita pindah dari mansion ini " ucap Rafli menawarkan .


'' Jika iya , mas akan melakukannya " imbuhnya seketika Ana membuka matanya .


'' Tidak perlu mas . Aku sudah sangat betah disini " ucap Ana , ia tak ingin begitu repot untuk pindah . Meski kenyataannya Ana tak akan repot sama sekali .


'' Mas aku lelah , mau tidur " ucap Ana tak bisa menahan rasa kantuknya .


'' Baiklah . Ayo kita tidur " jawab Rafli , hatinya begitu damai dan tenang jika sudah berbaikan dengan Ana .


.


.


.


Ana menyiapkan pakaian kantor untuk Rafli dan setelah itu ia kebawah untuk mencari keberadaan Dewa serta Arjuna , dua bocah tampan itu tak pernah terabaikan oleh Ana meski mempunyai tiga anak lainnya dan satu bayi besar .


'' Bunda " ucap Arjuna mencium pipi sang Bunda , sementara Dewa hanya menyapa sang Bunda dengan begitu ramah.


" Kau kecentilan sekali '' cibir Dewa.


'' Biar saja. Iyakan Bunda '' ucap Arjun yang memang terkenal bocah itu begitu mudah merayu dan memang sedikit genit seperti Frans sahabat Rafli , namun Arjuna mampu menghidupkan suasana agar terasa ramai penuh canda tawa.


'' Pagi bunda '' cicit Victoria malu , Ana dan Arjuna menyambutnya dengan ramah tapi lain hal nya dengan Dewa. Dewa enggan sekali menatap anak cantik di depannya tersebut.


'' Ayo sayang duduklah . Akhirnya kau mau juga sarapan bersama disini '' ucap Ana menghampiri Victoria yang terasa langkahnya begitu kaku.


'' Tunggu ya , bunda akan siapkan sarapan untuk kalian " ucap Ana dan diangguki ketiganya.


Setelah sarapan Dewa dan Arjuna berpamitan kepada Ana karena mereka harus segera pergi kesekolah dan hal yang sama juga di lakukan oleh Victoria.


Ana menatap geli kelakuan Arjuna yang hobi sekali menggoda Victoria yang ternyata anak itu cukup cerewet saat berbicara dengan Arjuna sementara Dewa cuek saja tak memperdulikannya.


'' Ana " suara melengking Rafli terdengar dari pintu yang sedikit terbuka . Ana menghela nafasnya panjang saat ia tau kalau bayi besarnya itu begitu merepotkan melebihi Dewa dan Arjuna yang telah mandiri .


'' Ada apa mas " tanya Ana .


'' Pakaikan mas , dasi " ucap Rafli yang memang seperti biasanya Ana yang memakaikan dasi untuk suaminya bahkan tak jarang Ana yang memakaikan seluruh apa yang melekat pada tubuh suaminya .


'' Kau terlihat sedikit kurus mas " ucap Ana memperhatikan lekat tubuh suaminya.


'' Perasaanmu saja sayang " elak Rafli , satu bulan Ana mencuekinya membuat Rafli tak menikmati makanan yang masuk dalam mulutnya , bahkan jam makan Rafli di katakan begitu buruk , harinya hanya di habiskan untuk bekerja dan marah-marah saja berharap hari cepat berlalu.


'' Tidak mas , aku yakin kau kurusan " kekeh Ana..


'' Tunggu disini " ucap Ana dan segera mengeluarkan timbangan digital milik nya . Rafli tersenyum masam karena tak mungkin mengelak lagi .


Ana terperanjat kaget tak percaya dalam sebulan ini , berat badan Rafli turun nyaris 10 kg .


'' Mas nanti kamu harus makan yang teratur. Aku gak mau klo mas kurusan begini " ucap Ana.


'' Itu pasti sayang. Jika kau yang mengurus mas pasti semua akan baik-baik saja " ucap Rafli menarik pinggang ramping istrinya dan menciumnya . Awalnya ciuman itu hanya kecupan - kecupan ringan namun hasrat Rafli merayap naik hingga menuntun Ana kearah ranjang.


'' Mas , kau mau ke kantor . Ada meeting penting kan " ucap Ana mengingatkan .


'' Tak ada yang penting selain dirimu Ana " ucap Rafli berat dan segera menyerang Ana.


Rafli siap siaga mengarahkan senjata miliknya untuk pertempuran pagi yang bergelora , namun suara ketukan pintu dan suara cempreng Jelita membuat Ana mendorong tubuh suaminya membuat Rafli terjungkal kebelakang .


'' Ana " teriak Rafli geram , hasrat yang tak tersalurkan dan b*kong yang cukup sakit terhempas.


" Ayah , bunda buka pintunya " ucap Jelita berteriak.


'' Nanti malam saja mas . Ada jelita " ucap Ana dan secepat mungkin mengambil dress di dalam lemari pakaiannya , karena dress yang ia pakai tadi telah tak berbentuk lagi akibat ulah suaminya .

__ADS_1


'' Lalu bagaimana dengan nasib mas " ucap Rafli memelas


'' Sudah mas , pakai baju mu cepat " ucap Ana dan seketika Rafli segera pergi ke kamar mandi untuk bermain solo saat Ana akan membuka pintu agar Jelita bisa masuk ke kamar mereka.


.


.


.


Ana kini tengah berada dalam perjalanan bersama Rafli.


'' Mas kita mau kemana '' tanya Ana.


'' Kita akan keapartemen mama '' jawab Rafli dan tersenyum pada Ana.


Terlihat banyak bodyguard yang berjaga di salah satu unit apartemen milik Lia . Para bodyguard menunduk hormat saat melihat kehadiran Rafli dan juga Ana . Rafli menekan password dengan yakin.


Klik Pintu apartemen terbuka .


Rafli dan Ana berjalan masuk saat melihat ruang tamu apartemen begitu berantakan dan mereka mendengar suara isak tangis seorang perempuan.


'' Bunga '' ucap Ana kaget dan seketika menatap Rafli sengit.


" Kenapa di apartment mama isinya Bunga dan lagi kenapa Rafli tak mengatakannya tadi jika ingin mengajaknya bertemu Bunga " batinnya.


'' Kita akan menyelesaikan masalah ini . Aku yakin Bunga hanya pion dan hanya Bunga kunci saat ini untuk membongkar semuanya '' bisik Rafli .


'' Kenapa kalian kemari hah ! Apa kalian puas saat mengetahui Willy telah tiada . Aku membenci kalian " bentak Bunga dan mendadak ingin segera menyerang pria di hadapannya saat ini yang menatapnya tenang .


'' Jangan pernah kau mencoba menamparku " ucap Rafli dengan rahang yang mengeras.


'' Kedatanganku kemari , ingin mengajakmu bekerja sama " imbuhnya menatap Bunga yang kini menatapnya sengit.


'' Mas , izinkan aku yang berbicara pada Bunga " ucap Ana lembut menatap Rafli penuh harap. Ana berharap Bunga mau berbicara dengannya karena sudah di pastikan hanya akan ada keributan jika Rafli yang berbicara.


'' Baiklah , tapi mas akan tetap disisimu " ucap Rafli , dan diangguki Ana , paling tidak Ana akan mengajak Bunga bicara pelan-pelan.


'' Bunga ada hal yang ingin kami bicarakan denganmu " ucap Ana lembut .


'' Pergi aku tak ingin melihat kalian " teriak Bunga.


'' Tidak..... Willy pergi meninggalkanku.... hiks....hiks.... Willy kembali Willy , bagaimana dengan anak kita Willy " ucap Bunga terduduk lemas seraya menangis.


'' Bunga ada aku disini , aku pasti membantu mu " ucap Ana ingin duduk di samping Bunga.


'' Jangan merasa sendirian Bunga . Ada aku disini '' ucap Ana ingin merangkul Bunga namun di tepis oleh Bunga .


'' Pergilah kak . Kau pasti tertawa kan dengan apa yang menimpaku saat ini...hiks...hiks.... " Isak Bunga.


'' Bunga , jika aku tertawa . Aku pasti tak akan mungkin repot kesini. Ini semua demi kebaikan kita semua Bunga , jangan sampai ada korban yang lainnya " ucap Ana.


''Baiklah , jika kau tetap hanya menangis dan tak ingin bicara padaku . Aku dan Rafli akan pergi " ucap Ana , membuat Bunga menyambar tangan Ana cepat.


'' Kak . Aku mau bicara dengan kakak " ucap Bunga .


'' Kau belum melihat kan . Siapa penyebab kematian Willy " ucap Ana dan diangguki Bunga lemah .


'' Ini Bunga lihat lah video ini . Apa kau mengenalinya " ucap Ana dan Bunga kini fokus kepada video itu.


'' Kak tolong di zoom " pinta Bunga dan segera Ana melakukan nya .


'' Apa kau mengenalinya " tanya Ana .


'' Aku mengenali tai lalat itu kak . Aku yakin dia orang yang sama " ucap Bunga refleks membuat menjadi pias .


'' Katakan Bunga . Siapa " tanya Ana .


'' Bukan siapa-siapa kak " ucap Bunga lirih , ia tak ingin anaknya kenapa-napa.


'' Katakan pada kami Bunga . Aku dan suamiku berjanji akan membantumu . Aku sungguh tak berbohong " ucap Ana memaksa.


" Apa pria kejam ini mau membantuku untuk menyelamatkan anakku jika aku mengatakan kebenarannya . Disini banyak nyawa yang terancam kecuali pria kejam ini " batin Bunga .


" Ingat Bunga , kau hanya menjadi alat untuk menghancurkan rumah tangga kami . Kau dijadikan kambing hitam juga yang akan menanggung semua nya . Jadi cepat katakan padaku siapa dalangnya " ucap Ana.


" Jika aku mengatakannya , apa kak Ana akan mengabulkan permintaanku dan mau membantuku " tanya Bunga.


" Jika aku bisa akan aku kabulkan permintaan mu dan aku bantu semampuku " ucap Ana. Bunga beranjak dan membuka lemari kecilnya terlihat ada foto anak kecil yang begitu tampan terlihat berwajah bule mengikuti sang ayah.


" Dia anakku dan Willy kak . Namanya Geilo . Anakku menghilang kak , tolong bantu aku mencarinya " ucap Bunga tanpa ia sadari membuat Ana dan Rafli begitu geram.

__ADS_1


" Kau memang j*lang Bunga " umpat Rafli .


" Kau keterlaluan Bunga . Jika kau telah punya anak sebesar ini , berarti suamiku bukan yang pertama menyentuh mu " ucap Ana menahan sesak di dadanya .


" Kita lebih baik pergi Ana " ucap Rafli karena ia tau , Ana tak baik-baik saja.


" Maafkan aku kak " lirih Bunga.


" Ck. Semua sudah terjadi Bunga dan waktu tak akan bisa berputar mundur. Kami akan berusaha membantu mencari anakmu " ucap Ana.


" Iya kan mas " tanya Ana , Ana segera mendelik kan matanya saat Rafli hendak menolak .


" Emmmm " hanya kata itu yang keluar dari mulut Rafli . Rafli ingin sekali menghabisi Bunga saat ini juga jika tak ada Ana saat ini , bukan karena uang yang ia berikan kepada Bunga untuk rasa bersalahnya tapi Bunga berani sekali menipu dan menuduhnya yang telah menghancurkan hidup Bunga tapi nyatanya Bunga hanya wanita bekas pakai baginya .


" Kak " ucap Bunga.


"Ada apa Bunga " tanya Ana.


" Apa kakak akan mengabulkan satu permintaanku " tanya Bunga meragu .


" Jika bisa aku akan mengabulkan " ucap Ana.


" Izinkan anak yang ku kandung mendapatkan statusnya dan diakui sebagai keturunan Wijaya " ucap Bunga memancing emosi Rafli sementara Ana hanya menunduk , hatinya begitu sakit saat ini .


" Apa maksudmu Bunga , jangan berharap lebih . Dasar wanita rubah " ucap Rafli kasar.


" Hanya itu permintaan dariku . Aku akan menggugat cerai mu setelah melahirkan . Aku hanya butuh status untuk anakku . Aku tak ingin nanti anakku di pandang rendah masyarakat " cicit Bunga.


" Jika kau bermimpi untuk menikah denganku maka itu hanya sekedar mimpimu . ***** " ucap Rafli mencengkram kuat rahang Bunga , terlihat kuku panjang Rafli menciptakan goresan luka di pipi Bunga.


'' Mas lepaskan tanganmu . Pipi Bunga berdarah " ucap Ana membuat Rafli segera menghempaskan wajah Bunga kasar.


'' Bunga , aku tak bisa membagi suamiku " ucap Ana lirih dengan mata berkaca-kaca.


'' Aku hanya ingin status untuk anakku saja kak , gak lebih hanya untuk statusnya dimata hukum saja " Isak Bunga .


'' BUNGA " bentak Rafli dengan suara menggelegar sementara tangan Rafli menggantung di udara karena Ana menahannya cukup kuat .


'' Dia seorang wanita , mas " ucap Ana membuat hati Rafli luluh dengan mudah.


'' Aku hanya butuh status anak ini kak . Setelah lahir aku akan pergi bersama anak ini . Hanya itu permintaanku dan tolong temukan Geilo " ucap Bunga , ia tak ingin Ana kembali menyanggahnya .


" Tapi apa kau akan membantu kami untuk menangkap orang itu '' tanya Ana sedangkan Rafli begitu geram saat ini .


'' Aku janji kak , akan membantu kalian '' ucap Bunga tegas , niatnya untuk mendapatkan Geilo begitu sangat besar.


'' Baiklah , aku....aku.... aku ... akan membiarkan suami ku menikah denganmu '' ucap Ana lirih lalu berlari keluar dari apartemen Bunga . Air mata Ana mengucur deras karena ucapannya sendiri begitu menyakiti hatinya .


'' Aku tak segan membunuhmu Bunga bersama anak sialan itu , jika masalah ini telah beres " batin Rafli , segera menyusul wanita yang begitu penting dalam hidupnya .


Ana di tahan oleh bodygaurd milik Lia sehingga dengan mudah Rafli menghampirinya .


" Ayo kita pulang " ucap Rafli menarik lengan Ana cukup kasar.


" Mas , kau menyakitiku " ucap Ana saat merasa lengannya cukup sakit menerima cekalan tangan Rafli.


" Mana lebih menyakitkan cekalan ini atau perasaan kita " sarkas Rafli .


" Aunty " ucap Ericana membuat Ana menghentikan langkahnya di ikuti juga Rafli yang menatap bocah cantik berlari ke arah istrinya .


". Astaga , ada Rafli " gumam Vini begitu tak mengira.


" Ericana rindu aunty " ucap Ericana memeluk Ana tanpa di duga . Sedangkan Rafli pikirannya berkeliaran kemana - mana.


" Mbak Ana " sapa Vini kikuk .


" Vini " ucap Ana tersenyum


" Ericana , ayo kita harus ke kantor Daddy " ucap Vini karena ia ingin secepat mungkin pergi saat ini , bertemu Rafli begitu mengancam tentang Ericana saat ini. Vini tak punya kuasa penuh terhadap Ericana , ia takut jika Rafli mencurigai tentang Ericana , apalagi Rafli menatapnya dan sesekali menatap Ericana secara bergantian.


" Tapi mama . Ericana kangen sama aunty ' ucap Ericana dengan wajah menggemaskannya.


" Vini biarkan Ericana bersama kami " pinta Ana .


" Tapi aku minta maaf mbak , Eric sudah menunggu kami " ucap Vini membuat Rafli mengepalkan tangannya .


"Brengsek , apa maksud Eric dengan mendekatkan Ana dengan istri serta anaknya itu. Cara yang begitu murahan " batin Rafli jiwa cemburunya membara dan telah siap siaga.


Jangan lupa like dan komentarnya.


Selamat membaca 😊

__ADS_1


__ADS_2