
Pertemuan malam itu tidak seperti yang di harapkan.
Alina tetap tidak mengijinkan Adam untuk menikahi Anisa. Alasan yang paling utama adalah bagi nya ini terlalu tiba-tiba. Alina merasa ada yang aneh dengan semua ini.
"Maaf Dam, tapi kalau kamu benar-benar serius ingin menikah dengan Anisa, kamu harus membuat aku yakin dan percaya dengan hubungan kalian ini." Ucap Alina.
"Memang nya sekarang kamu belum percaya?"
"Bukan belum tapi tidak!"
"Baiklah. Aku akan membuat kamu percaya kalau aku sungguh-sungguh dengan niat ku untuk menikahi Anisa."
"Aku tunggu pembuktian nya." Ucap Alina.
"Sekarang ayo kita pulang." Alina memegang tangan Anisa.
Anisa terlihat seperti hendak menolak.
"Tidak apa-apa Nis. Kamu pulang saja dengan Alina." Ucap Adam saat Alina mengajak Anisa untuk pulang.
"Maaf kak, tapi Anisa datang bersama Adam. Jadi Anisa juga akan pulang bersama Adam. Anisa tidak mau merepotkan kakak dan suami kakak."
"Aku tidak merasa di repotkan kalau hanya untuk mengantar mu pulang." Sambung Raka.
"Terima kasih banyak kakak ipar. Tapi aku tetap akan pulang dengan Adam. Dengan calon suami ku." Ucap Anisa dengan sinis.
Alina bisa menangkap nada sinis dari ucapan Anisa. Hal itu semakin membuat Alina yakin, ada sesuatu yang tidak di ketahui nya.
"Oke, baik! Kamu boleh pulang dengan Adam. Dan kamu Adam, pastikan Anisa sampai rumah dengan selamat. Jika terjadi sesuatu pada nya, kamu orang pertama yang akan aku cari."
.
__ADS_1
.
.
Alina memasuki sebuah restoran.
Mengedarkan pandangan nya mencari seseorang.
"Selamat siang bu Alina." Sapa Niko langsung berdiri dari duduk nya begitu Alina menghampiri nya.
"Ya, siang pak Niko."
"Mari bu, silahkan duduk."
"Terima kasih."
"Ada apa ibu ingin bicara dengan saya?"
"Tentang apa bu?"
"Tentang suami saya. Apa kamu mengenal pacar atau teman wanita suami saya, sebelum kami menikah?"
"Maaf bu, tapi kalau masalah pribadi pak Raka, seperti masalah percintaan nya, saya tidak tahu bu."
"Apa kamu tahu, suami saya dan Adik saya Anisa sudah pernah saling mengenal sebelumnya?"
"Seperti nya belum. Karena selama saya bekerja sebagai asisten Pak Brata dan sesekali menjadi supir keluarga, saya tidak pernah melihat adik bu Alina sebelum nya."
Perasaan Alina menjadi sedikit lega setelah mendengar penjelasan dari Niko.
"Tapi.." Lanjut Niko sedikit ragu.
__ADS_1
"Tapi apa?" Tanya Alina dengan cepat.
"Bukan apa-apa bu. Saya hanya penasaran saja kenapa bu Alina bertanya seperti itu? Apa bu Alina curiga pak Raka ada hubungan dengan mbak Anisa?"
"Saya hanya ingin memastikan saja."
"Memastikan... maksud ibu?"
"Akhir-akhir ini sikap mas Raka seperti berbeda. Dia terlihat sangat peduli apapun itu tentang Anisa. Dan bahkan dia menjadi sangat ingin tahu semua tentang Anisa."
"Kenapa ibu tidak menanyakan nya langsung kepada pak Raka?"
"Tidak mungkin. Dan kalaupun dugaan saya benar, mas Raka tidak mungkin akan memberitahu saya yang sebenarnya. Makanya saya berniat untuk mencari tahu sendiri."
"Sebelum nya maaf kalau saya lancang, bu. Tapi memang beberapa kali saya melihat keanehan antara pak Raka dan mbak Anisa."
"Keanehan? Keanehan macam apa yang pak Niko maksud?"
Niko pun mulai menceritakan semua hal yang pernah dia lihat yang menurut nya aneh.
"Saya semakin yakin ada sesuatu yang di sembunyikan dari saya."
"Kalau masalah itu, saya tidak berani menyimpulkan apa-apa bu."
"Pak Niko... saya bisa minta bantuan pak Niko?"
"Kalau saya bisa, pasti saya bantu bu"
"Kamu tolong cari tahu tentang teman-teman wanita mas Raka sebelum kami menikah. Pastikan kamu tahu semua nya. Saya ingin tahu, apakah mas Raka dan adik saya pernah memiliki cerita di masa lalu yang tidak saya ketahui."
...*****...
__ADS_1