
Wiliem masih tertidur pulas di balik selimut tebalnya.
Lelaki itu masih belum sadar apa yang sudah terjadi padanya kemarin, semuanya terasa kabur karena memang dia tidak sadar akibat obat perangsang tersebut .
Sedangkan apa yang terjadi pada kedua wanita itu pagi ini, tidak ada yang tahu akan nasib dari Laudya yang entah kemana perginya.
Emmmpphh…
Wiliem meregangkan tubuhnya yang terasa pegal dan mencoba membuka kedua matanya yang teramat lengket. Namun secara perlahan, Wil melihat sebuah lampu tepat di atasnya yang membuatnya menyipitkan matanya.
“Dimana aku? Tubuhku kenapa sakit semua?” tanyanya pada diri sendiri.
Wiliem mencoba bangun, namun pusing di kepalanya membuat lelaki itu kembali berbaring. Wil mellihat tubuhnya yang tak berpakaian, dia begitu heran dan merasa begitu janggal.
“Apa yang terjadi, kemana bajuku. Aku tak memakai baju, apa-apa ini. Wiliem memaksakan tubuhnya tuk bangun dan melangkah ke kamar mandi menguyur semua tubuhnya dengan air dingin.
Setelah merasa kedinginan, Wil pun kembali ke kamar dan memakai bajunya. Ada bau alcohol dan sebuah parfum wanita pada kemeja. Wiliem yang sama sekali tidak bisa mengingat pun membuat kepalanya berasa di pukul dengan palu.
“Vanya, dimana wanita itu. Setelah pergi begitu saja, apakah dia kembali ke hotel,” ucap Wiliem beranjak keluar dari kamar tersebut.
Wiliem mencoba bertanya pada resepsionis atas nama siapa dia cek in di hotel tersebut, ternyata mengunakan namanya dan juga kartu kreditnya.
Saat bertanya dengan siapa dia kemari, resepsionis itu hanya berkata dia diantar oleh seorang wanita setelah itu pergi begitu saja.
Wiliem ynag tidak mendapat identitas wanita itu pun,
akhirnya pergi dan kembali ke hotel dimana dia dan yang lainnya menginap.
“Vanya, apakah dia menangis semalaman karena ucapanku?” batin Williem terus bertanya-tanya.
^^^^^^^^^^°°°
Di ruang VVIP, Vanya di kejutkan karena melihat Zee yang tidur di sampingnya dengan posisi duduk. Disofa terlihat Ken dan Alex. Air mata Vanya mengalir saat melihat wajah Alex, Vanya seakan melihat Wiliem suaminya yang telah menyebutnya seorang la**ng.
Vanya memiringkan tubuhnya karena tidak ingin melihat Alex, terdengar suara pintu terbuka ternyata Wildan yang masuk dengan senyumannya.
Vanya menengok dengan mata yang basah, membuat Wildan berjalan cepat menghampirinya. Wildan berjongkok di depan Vanya dengan mengusap air matanya.
“Aku ingin keluar!” pinta Vanya lirih.
Wildan mengangguk, mengambil kursi roda dan segera
menggendong Vanya dan mendudukkannya di sana.Wildan dengan sabar mendorongnya perlahan keluar ruangan. Pagi itu mentari bersinar setelah hilangnya salju.
“Apa kau tak merasa dingin?” tanya Wildan.
“Dinginnya udara tidak lebih dingin dari hatiku,” jawab
Vanya lirih.
Wildan mencengkram erat dorongan kursi roda itu mendengar jawaban dari Vanya, sungguh malang nasibnya wanita muda ini. Masa mudanya harus
__ADS_1
terampas karena kehilangan keperawanannya tanpa sengaja, hamil di usia muda dan setelah itu menikah dengan tragedi penusukan. Setelah hamper satu tahun, suaminya berhianat dengan tidur dengan wanita yang menjadi mantan kekasihnya.
“Jangan berkata seperti itu! Hidupmu masih panjang, kau wanita kuat,” ucap Wildan menghibur Vanya.
“Tolong bawa aku ke taman, Kak!” pinta Vanya dengan menunjuk ke arah taman.
Wildan dengan sabar terus menuruti apa yang Vanya mau, setelah berada di taman Vanya yang duduk di atas kursi roda pun mencoba berdiri tanpa memberitahu Wildan pun terjatuh di atas rumput yang basah karena embun.
“Aww!!” pekik Vanya seraya memegang kakinya yang terasa linu.
“VANYA!!!” pekik Wildan tak kalah terkejut.
Wildan yang melihatnya pun bergegas membantu Vanya kembali duduk di kursi roda, Vanya meringis kesakitan wajahnya pucat karena menahan sakit di kakinya.
“Kau tidak apa-apa?” tanya Wildan berjongkok di depan Vanya sembari melihat tubuh dan juga
kakinya.
“Sakit, kakiku sangat sakit. Rasanya begitu ngilu, Kak,” jawab Vanya menahan air matanya.
Wildan dengan perlahan membuka selimut yang menutupi kaki Vanya. Vanya yang sejak bangun belum melihat kakinya pun merasa terkejut karena terdapa gips di kakinya.
“Ada apa dengan kakiku, Kak?” tanya Vanya menatap Wildan penasaran.
Wildan berdiri setelah mengecek kaki Vanya dan duduk di sampingnya. Wildan memutar kursi rodanya agar bisa berhadapan dengannya.
“Kau ingat malam itu, dimana kau tertabrak mobil?” tanya Wildan.
Wildan menggeleng, membuat Vanya mengembuskan napas lega dengan mengusap dadanya. Tapi terlihat jelas kesedihan di wajah Wildan yang membuat wanita itu kembali khawatir.
“Apa lagi, kenapa wajahmu sedih?” tanya Vanya.
“Kau mungkin tidak bisa berjalan selama dua bulan kedepan. Karena retak di kakimu sanagtlah parah, tapi kau jangan khawatir aku punya dua dokter hebat di sisiku,” ucap Wildan menghibur Vanya.
“El dan Ar pasti akan mejadi Dokterku bukan?” tanya Vanya.
Wildan mengangguk, “ Ya, mereka adalah Dokter muda yang sangat pintar.”
Vanya mencoba tersenyum di balik lukanya, Vanya tidak perduli akan sikap Wiliem padanya nanti. Rasanya sudah sangat sulit tuk dirinya memaafkan suaminya itu, masih terngiang di telinganya sebutan yang Wiliem sematkan tuk dirinya yaitu wanita la**ng.
“VANYA!!!” teriak Zee yang terlihat keluar dari ruangan.
Disusul oleh Alex dan Ken yan keluar dan berteriak memanggil nama Vanya dengan raut wajah cemas. Wildan dan Vanya yang mendengar teriakan dari ketiganya hanya terbengong karena terkejut.
“KAK!!” teriak Vanya begitu lantang karena merasa tak tega melihat ketiga kakaknya yang terlihat cemas.
Zee, Ken dan Alex yang mendengar suara Vanya pun mencari ke seluruh arah dan menemukan Vanya yang sedang melambaikan tangannya, terlihat Vanya ada di taman bersama dengan Wildan.
“Astaga, Anya.” Zee yang sudah menahan air matanya pun akhirnya membiarkan butiran bening itu lolos dari matanya.
Ken dan Alex yang juga meras lega pun berjalan dengan cepat menghampiri Vanya. Ken menatap tajam Wildan lalu memukul lengannya, sedangkan Alex langsung memeluk Vanya dengan erat.
__ADS_1
“Kau membuat jantungku berdetak sangat kencang karena rasa takutku!” ujar Alex mencium kepala Vanya.
Mata Vanya membelalak mendengar ucapan Alex yang begitu mencemaskannya. Vanya yang sedari tadi tak membalas pelukan Alex pun akhirnya memeluknya denga erat. Vanya bahkan menangis di pelukan Alex.
“Kak Al, Kak Al, hiks … hiks,,, Vanya … hiks.” Vanya
menangis hebat di pelukan Alex.
Zee yang mendengar Vanya menyebut Al pun langsung memeluk sang adik dari samping, Zee memejamkan matanya mencoba tenang agar tidak
menangis.
“Ada kami bersamamu, jangan takut Anya. Kau bisa bersembunyi di pelukanku, sayang!” perintah Alex mencoba membuat Vanya berhenti menangis.
Alex terus menciumi kepala Vanya berharap sang adik
menghentikan tangisnya, Zee merasa ada yang aneh dengan tatapan Wildan Ken yang terlihat geram dan begitu emosi melihat keadaan Vanya yang terus menangis.
Bahkan Ken dan Wildan menahan sesuatu saat melihat Vanya menangis. Tangan Ken mengepal sangat erat. Zee merasa ada yang tidak beres yang tidak dia ketahui.
Setelah tangisan Vanya berhenti, Alex mendorongnya kembali masuk ke dalam ruangan. Vanya diam tak banyak bicara, Zee masih duduk di samping ranjangnya.
"Anh, ada apa sayang? Kenapa kau selalu menangis dan setelah itu diam seribu bahasa? Apa ada yang tidak ku ketahui di sini, tolong jawab aku!" pinta Zee menatap Vanya yang menunduk. Setelah itu menatap Ken dan yang lainnya.
"Zee, biarkan Vanya istirahat dulu, Ok?" ucap Ken.
"Kak, aku sudah menahannya sejak kemarin. Dan tidak ada satu orang pun yang mengatakan apa pun padaku," balas Zee mulai tak sabaran.
"Anh, kemana suamimu? Apa dia tahu kau berada di rumah sakit?" tanya Zee menatap sang adik.
Vanya hanya menggeleng dan menunduk memberi jawaban pada Zee.
"Tidak tahu, lalu dimana Wiliem? Dan, kenapa kau bisa seperti ini, kemana kau malam-malam pergi ke tempat jauh itu. Sedang apa dan dengan siapa kau di sana?" Zee memberondong pertanyaan pada Vanya yang masih terlihat menunduk.
"Astaga, Zee. Kau sedang apa? Jangan membuat Vanya tertekan dengan semua pertanyaanmu!" seru Alex pada sang istri.
"Lex ... !!" ucapan Zee terpotong karena Vanya berkata.
"Aku pergi menemui Roy, aku dan dia makan malam bersama. Setelah itu Wiliem datang dengan kemarahannya, kami berdebat di tempat itu. Wiliem mengatakan sesuatu yang membuatku tak tahan terus-terusan disana, aku memilih pergi dan tanpa sengaja sebuah mobil menabrakku," ucap Vanya.
Zee menutup mulutnya karena tak menyangka, jika Vanya pergi menemui Roy. Ponakan dari Zidan sendirian malam-malam.
"Vanya apa yang kau lakukan. Kenapa kau menemuinya, apa kau tidak tahu jika mereka orang-orang yang berbahaya?" tanya Zee begitu geram pada sang adik.
"Dia itu temanku, Kak. Aku tahu siapa Roy, bagaimana dia yang sebenarnya," jawab Vanya menatap Zee.
"Sudah-sudah hentikan perdebatan kalian! Zee, kau dan Alex sebaiknya kembali ke hotel. Temui Wiliem dan tanyakan saja semuanya padanya!" perintah Ken.
Zee menghela napas panjangnya. Namun dia juga menuruti ucapan sang kakak, sebelum keluar Zee dan Alex mencium kening Vanya dan bergegas keluar tanpa berbicara apa pun lagi pada Vanya.
Vanya merasa tidak enak hati pada Alex, jika.dia menceritakan semuanya padanya. Walau bagaimana pun, Wil tetaplah saudara kembarnya. Sedangkan diq hanya orang lain yang dia sayangi akhir-akhir ini.
__ADS_1
Bersambung🍂🍂🍂