Takdir Cinta

Takdir Cinta
Kembali Seperti Dulu


__ADS_3

Sebulan telah berlalu dan kini Bunga tinggal di apartemen mewah milik Lia , karena bagaimanapun bagi Lia , Bunga tengah mengandung cucunya . Cucunya tak bersalah meski Bunga mengandung cucunya karena kejadian yang sangat tercela dengan menjebak Rafli .


Rafli pula selama sebulan merasa uring-uringan tidak jelas meski ia bisa menyentuh Ana namun tak merasa puas karena melakukannya saat Ana tak sadarkan diri. Amarah Rafli ia lampiaskan kepada para pegawainya bahkan Bianca tekena semburan amarahnya setiap saat.


'' Ada apa lagi mama ke kantor " ucap Rafli dingin menatap Lia yang kini kembali berkunjung ke kantornya .


'' Jika mama ingin membahas tentang aku dan Bunga , maka tak akan pernah ada '' ucap Rafli kembali fokus kepada berkas di hadapannya...


'' Mama hanya ingin memberitahu . Mama akan menemani papa mu berobat " ucap Lia terhenti sejenak .


'' Lalu apa masalahnya " tanya Rafli acuh .


'' Mama ingin menitipkan Bunga . Mama minta kau menjaganya " cicit Lia , sesaat membuat Rafli menatapnya tajam.


'' Bagaimanapun . Bunga mengandung anakmu kan " ucap Lia memelas ...


'' Mama tau . Bunga itu menjebakku dan kini dokter Wicak pun menghilang bak di telan bumi . Beraninya dokter laknat itu menyimpan bibit unggulku secara diam-diam dan menyuntikkannya kepada rahim j*lang itu " ucap Rafli menggeram . Anak buah Rafli kini sedang memburu dokter Wicak .Rafli merasa Bunga berkerja sama dengan orang lain tapi tak tau siapa . Bunga begitu keras tak mengakuinya.


'' Tapi Rafli mama hanya seminggu saja ....." ucapan Lia terhenti saat melihat sorot tajam anak kesayangannya .


'' Sedetik saja , aku akan buat wanita itu menderita . Mama tau , betapa menderitanya aku ma , saat Ana mengacuhkan ku dan itu semua karena wanita si*lan itu " sarkas Rafli .


'' Mama sewa saja orang lain untuk menjaganya tapi jangan aku . Urusan ku banyak . Jika mama tetap memaksa maka aku akan buat Bunga melahirkan bayinya sebelum waktunya tiba " ucap Rafli tegas.


'' Rafli , tapi itu darah daging mu " bentak Lia baginya anaknya kini tak berperasaan.


'' Apa peduliku . Aku tak menginginkannya sejak awal " ucap Rafli .


'' Jika mama kesini untuk membahas itu , maka aku begitu sibuk . Pintu keluar ada disana jika tak ada yang perlu mama bicarakan " imbuh Rafli , ia tak ingin meluapkan emosinya kepada wanita yang melahirkannya . Cukup sudah berkata kasar yang selalu ia sesali sesudahnya , namun Rafli tidak cukup pintar untuk mengendalikan emosinya .


Dering ponsel di handphone Rafli berbunyi , ia melihat nomor lapas dimana Willy di tahan. Tentu saja membuat Rafli segera menggeser tombol hijau , ia akan membuat Willy menderita jika pria itu membuat ulah kembali .


Rafli segera mengambil kunci mobilnya dan mengatakan pada Bianca untuk membatalkan meetingnya yang akan berjalan satu jam kedepan.


Kedatangan Rafli tentu saja membuat gempar para petugas lapas menyambut Rafli dengan ramah . Rafli terlibat pembicaraan cukup penting dan kini di hadapannya ada jenazah Willy yang baru saja menghembuskan nafas terakhir dua jam yang lalu .


'' Mana makanan yang ia makan tadi " ucap Rafli dan sesaat mencium aroma makanan yang dimakan Willy sebelum Willy mati keracunan makanan.


Rafli berjalan menuju rekaman CCTV yang sekitar tiga jam yang lalu Willy kedatangan tamu . Rafli menajamkan matanya namun sialnya ia tak mengenali wanita yang mengenakan jilbab serta kaca mata hitam tersebut.


Kini bertambah lagi tugas Rafli untuk ikut menyelidiki pelaku yang memberi racun kepada Willy . Senyum Rafli mengembang sempurna , ia akan menekan Bunga dan bercerita tentang kematian Willy . Rafli yakin Willy sengaja dilenyapkan oleh orang yang ingin menghancurkannya . Rafli tak perlu mengotori tangannya untuk membunuh Willy namun tak akan lama tangannya akan membuat dalang dari semua ini menderita dengan penderitaan lebih sakit saat kematian datang menghampiri.


.


.

__ADS_1


.


'' Mas ingin bicara Ana " suara bariton Rafli menghentikan langkah kaki Ana menuju dimana kamar Jelita berada. Rafli menarik paksa tangan Ana secara paksa , Ana tak berontak kali ini . Meski berontak pun usahanya tetap sia-sia melawan pria di depannya .


'' Kenapa di kunci " protes Ana saat Rafli mengunci pintu ruang kerjanya.


'' Kenapa kau takut dengan suami mu sendiri '' tanya Rafli berjalan mendekati Ana ...


'' Sudah cukup . Katakan ada apa " tanya Ana mendorong tubuh Rafli yang ingin menghimpit tubuhnya . Rafli mengusap wajahnya kasar sampai saat ini Ana menolaknya begitu keras...


'' Duduklah " ucap Rafli menarik kuris untuk Ana duduk namun Ana memilih duduk di sofa panjang . Terlihat Rafli mengaktifkan laptopnya yang telah terdapat rekaman CCTV kejadian di lapas. Ana mengamati dengan teliti rekaman yang di perlihatkan oleh suaminya sementara Rafli lebih tertarik mengamati wajah istrinya yang terlihat begitu serius.


'' Mas , seperti nya aku mengingat jilbab yang wanita ini kenakan . Tapi kan jilbab ini tidak hanya satu di dunia ini " tukas Ana...


'' Bagaimana ceritanya " ucap Rafli meksi secuil harapan ia masih tetap berharap. Ana menceritakan semua yang terjadi seminggu yang lalu saat Ana tengah menikmati waktu bersama sahabatnya yang tumben sekali lengkap saat itu. Saat mereka memutuskan menghadiri panti asuhan dan panti jompo , membuat Ana serta sahabatnya memutuskan untuk membeli baju muslim dengan pakaian senada. Mereka tiba di sebuah butik bernuansa islami di salah satu mall terbesar di Berlin , membuat mereka dengan mudah mendapatkan baju muslim dengan bentuk dan warna senanda. Pandangan Ana tertarik pada Jilbab yang di hiasi permata cantik berbentuk bundar di tengahnya , harganya cukup fantastis namun Ana yang ingin membelinya segera mengambilnya namun sayang tangan Ana kalah star dengan tangan wanita lain yang begitu cepat mengambilnya , Ana berlalu pergi saat ia dan wanita itu saling bertatapan penuh kebencian saat itu.


'' Viona , wanita itu mirip dengan Viona meski tampilannya jauh berbeda namun aku bisa melihat tatapan kebenciannya padaku . Wanita yang tergila-gila padamu yang mengambil jilbab itu . Aku malas berdebat dengannya maka aku membiarkannya. Tapi sayangnya jilbab itu hanya di produksi lima di dunia " ucap Ana kesal.


'' Viona " gumam Rafli .


'' Berarti Viona ada di Berlin '' imbuhnya.


'' Mungkin saja. Aku tak tertarik mengurusinya " ketus Ana mengingat kejadian di Indonesia beberapa tahun yang lalu membuatnya begitu kesal.


'' Bukan kah Jimmy mencari Viona namun tak kunjung ketemu . Ana tak pernah salah jika mengenali wajah seseorang . Tapi apakah ia Viona . Jika benar jilbab itu hanya diproduksi lima di dunia dan benar apa yang Ana katakan, maka besar kemungkinan jika Viona yang melakukannya . Jika itu benar , maka aku akan membuat Viona menderita " batin Rafli .


" Aakkhhh mas apa yang kau lakukan " ucap Ana terperanjat saat Rafli menarik tangan Ana hingga duduk di pangkuannya .


'' Biarkan seperti ini sebentar saja " lirih Rafli ,membuat Ana diam tak bergerak.


Rafli menghirup aroma tubuh Ana yang setiap malam ia peluk , sedangakan Ana rindu dengan suasana seperti saat ini namun rasa kecewa tetap ada di hati Ana kini hingga isak tangis Ana terdengar.


'' Maafkan mas . Apa kau tak tersiksa berjauhan dengan mas dan mendiami mas secara terus menerus '' ucap Rafli lirih .


'' Mas tersiksa Ana. Sangat tersiksa . Wanita yang begitu mas cintai menghukum pria nya yang tak sengaja melakukan sebuah kesalahan . Apa yang harus mas lakukan agar kita kembali seperti semula '' ucap Rafli dengan mata berkaca-kaca.


'' Disaat sulit seperti ini mas membutuhkanmu memberikan mas semangat , bukan mengacuhkan mas . Malah masalah dalam rumah tangga kita tak akan selesai . Bukankah komunikasi salah satu kunci terbaik Ana . Buang pikiran jijikmu terhadap mas . Kau fikir , mas tidak jijik dengan diri mas sendiri '' ucap Rafli menarik nafasnya dalam , sudah cukup Ana mendiaminya.


'' Tatap mata mas Ana , jangan diam saja '' pinta Rafli namun Ana tak bergeming masih sibuk dengan tangisannya .


'' Tatap mata mas Ana '' ucap Rafli menarik wajah Ana agar menghadap kearahnya.


'' Katakan , jika kau tak mencintai mas lagi '' ucap Rafli seraya menghapus air mata Ana yang tak hentinya mengalir .


'' Katakan kau tak mencintai mas . Jika iya , mas akan mencoba merelakan mu pergi . Tapi yang harus kau ingat , mas disini masih menerimamu jika kau kembali '' ucap Rafli dengan air mata yang ikut menetes , tak mudah baginya berbicara seperti itu kepada wanitanya .

__ADS_1


'' Jawab mas Ana , jangan hanya diam. Jangan fikirkan anak-anak atau bertahan demi anak-anak karena anak-anak akan ikut dengan bundanya . Jika kau tak mencintai mas lagi , mas akan pergi dari mansion ini , mas tak akan membawa apapun , semua aset mas atas nama mu dan anak-anak kita . Mas tidak sanggup jika begini terus '' ucap Rafli mencoba membangunkan tubuh Ana namun Ana malah memeluknya erat.


'' Aku masih mencintai mu mas '' ucap Ana sambil menangis tersedu.


'' Tapi aku takut kecewa kembali mas . Mana mungkin dengan mudah aku tak mencintaimu mas , aku hanya sedang marah dan kecewa padamu mas '' imbuhnya memukul pelan dada suami meluapkan semua kekesalannya.


'' Aku bersikap acuh padamu hanya belajar jika suatu saat mas menikahi Bunga . Aku tak ingin di madu mas '' Isak Ana..


'' Mas lebih memilih mati dari pada harus menikahi perempuan lain . Dihati dan fikiran mas tak ada sedikitpun niat mengkhianati mu. Kita harus bersama Ana , buktikan kepada orang yang menginginkan perpisahan kita agar mereka gigit jari . Mas membutuhkanmu Ana '' ucap Rafli menatap manik indah sang istri.


'' Katakan jika kau mencintai mas '' ucap Rafli lembut .


'' Aku masih mencintaimu mas '' jawab Ana lalu di balas ciuman penuh cinta yang Rafli berikan di bibir Ana , tak ada nafsu disini hanya rasa kerinduan yang begitu memuncak. Meksi Rafli sering mencium Ana saat Ana tengah tertidur , meski Rafli juga sering berhubungan intim dengan Ana saat wanita itu diberinya obat tidur namun hal itu hanya menghapus kerinduannya sesaat . Bagai bermain dengan boneka yang berbentuk istrinya saja , tanpa ******* dan tanpa serangan menggoda apapun dari istrinya yang biasanya mampu membuatnya menggebu-gebu.


Rafli menghapus sisa salivanya yang masih tersisa di bibir merah jambu istrinya itu. Rasa legit yang selalu menjadi candunya.


'' Berjanjilah untuk berada disisi mas hingga maut memisahkan kita. Jika kau mengkhianati nya atau mengingkarinya apalagi mencoba pergi , maka perhatikan wajah terakhir mas saat itu . Karena saat itu juga mas lebih memilih mati Ana '' ucap Rafli lirih dalam posisi kening mereka saling menyatu .


'' Berjanjilah , agar mas tidak membuat ku kecewa dan bersedih kembali .Maka aku akan menepati janji yang mas pinta '' ucap Ana .


'' Mas berjanji Ana '' ucap Rafli tegas .


'' Aku juga berjanji mas '' ucap Ana mengecup singkat pipi suaminya.


'' Kenapa di pipi . Mas kan suamimu dan kita sudah dewasa. Ciumnya disini dong ( menunjuk bibirnya yang kini sengaja di monyongkan ) '' ucap Rafli menatap penuh damba pada istri nya ..


Cup


Ana mencium b*bir suaminya yang begitu lucu . Niat dan mintanya hanya kecupan tapi Rafli tetap lah Rafli , ia menahan tengkuk sang istrinya dan m*Lum*t bibir ranum tersebut , lidahnya menerobos masuk mengabsen seluruh yang berada di dalamnya . C*mbuan itu semakin panas dan menuntut kala Ana membalasnya .


'' Apa mas boleh memintanya lebih " tanya Rafli penuh harap dan diangguki Ana.


'' Mas merindukanmu sayang " ucap Rafli merebahkan Ana di sofa panjang super empuk itu .


'' Mas kenapa disini " tanya Ana.


'' Memangnya kenapa " tanya Rafli balik , namun tangannya tak berhenti menyapa setiap jengkal kulit putih susu istrinya itu .


'' Nanti jika ada yang mendengar gimana " ucap Ana beralasan.


'' Jangan mencari alasan sayang. Ruangan ini begitu kedap suara " ucap Rafli lalu menyerang istrinya tanpa ampun , tak membiarkan otak Ana untuk mencari alasan untuk menghindar. Rafli membuat otak Ana lumpuh seketika saat sentuhan Rafli membawanya terbuai , sentuhan yang ia rasakan selama sebulan ini yang hanya dimimpinya tapi sesungguhnya itu adalah kenyataan. *rangan , d*sahan sepasang suami istri itu saling bersahutan , menyebutkan nama masing-masing yang di cintainya.


Ana tergolek lemas saat sang suami baru saja menyudahi serangannya , Rafli tersenyum simpul dan kini adiknya kembali bereaksi lagi saat melihat senyum manis sang istri. Ana hanya pasrah menerima semua yang Rafli berikan untuknya.


Jangan lupa like dan komentarnya.

__ADS_1


Selamat membaca 😊


__ADS_2