Takdir Cinta

Takdir Cinta
261


__ADS_3

Wiliem masih saja memandangi Vanya dengan Sam. Entah kenapa tatapannya tak bisa berpaling dari Vanya.


"Haish,,, ada apa denganku? Kenapa begitu memperhatikan gadis itu, siapa dia. Dan siapa aku?" batin Wili.


Di dalam ruang inap, Abigial sedang mengusap kepala Alya dengan begitu lembut. Terlihat percaya yang berwarna merah, Abigial menitikkan air matanya.


"Bangun sayang, jangan membuat kami semu sedih. Al itu anak yang kuat, lihat perut aunty sudah sangat besar. Sebentar lagi, adik Alya akan lahir," ucap Abigail.


Abi menghapus air matanya, mengecup tangan mungil Alya. Lalu mencium keningnya sangat lama.


"Aunty keluar dulu ya nak, segeralah buka matamu!" pinta Abigail.


Abigail pun berharap keluar dengan sangat pelan. Tiba-tiba perutnya terasa sakit, lalu terlihat cairan bening mengalir dari kakinya dan sedikit bercampur darah.


"Aaahhhh,,, perutku. Sakit sekali," rintih Abigail mencoba terus berjalan dan berhasil membuka pintu.


"Tolong," rintih Abigail saat melihat Wiliem yang berdiri dekat jendela.


Wiliem yang mendengar itu pun menegok ke arah pintu. Terlihat Abigail sudah kesakitan, Wiliem menangkap tubuh Abigail yang sudah lemas.


"SAM,,,!!" teriak Wiliem.


Sam dan yang lainnya pun menengok ke arah Wiliem yang berteriak. Sam terkejut saat melihat Abigail sudah mengeluarkan darah.


Sam dan yang lainnya berlari ke Abigail. Sam mwnggendong Abigail, Vanya memanggil Dokter. Abigail dengan cepat dibawa ke ruang persalinan.


Semua orang panik dan tegang. Sam sudah gelisah karena begitu lama tak ada suara bayi. Sedangkan Wiliem terduduk lemas karena masih ada darah Abigail di tanganmu. Wiliem begitu gemetar saat menangkap tubuh Abigail, kemejanya pun tak luput terkena darah.


Vanya mendekati Wiliem, memegang tangannya yang masih saja gemetar.


"Sudah tidak apa, kenapa tanganmu masih begitu gemetar?" tanya Vanya.


"Ini pertama kalinya aku melihat sendiri wanita yang akan melahirkan. Dan tanganku sempat memegang perutnya, terlihat banyak darah uang keluar," jawab Wiliem.


Vanya menarik tangan Wiliem, mereka pergi ke toilet. Disana terlihat sepi, jadi Vanya menarik Wiliem masuk ke dalam toilet wanita.


Wiliem masih saja diam dengan menatap tangannya yang sedang di bersihkan oleh Vanya.


"Tidak apa-apa. Semua proses melahirkan itu memang sangat menyakitkan," ucap Vanya.


Vanya sudah membersihkan darah di tangan Wiliem, lalu mengeringkannya dengan tissu.


"Sudah, darahnya sudah hilang. Jadi, jangan gemetar lagi!" pinta Vanya.


Wiliem menatap wajah Vanya, dia teringat akan ciuman Sam pada Vanya. Seketika dadanya begitu kesal dan berdegup begitu kencang.


"Ada apa? Sejak tadi kau diam saja, kenapa juga kau melihatku seperti itu?" tanya Vanya.


Vanya menjadi mode waspada, Wiliem terlihat aneh sejak tadi. Apalagi sekarang mereka berada di toilet dan hanya berdua saja.

__ADS_1


Terdmegar suara wanita dari luar. Membuat Wiliem mendorong tubuh Vanya tuk masuk ke dalam bilik toilet tersebut dan menutupnya. Bahkan, Wiliem menguncinya.


"Kenapa kau menguncinya?" bisik Vanya.


"Apa kau mau, kita dikira berbuat mesum dalam toilet?" tanya Wiliem.


Vanya hanya menggeleng dengan patuh dia pun hanya diam. Jarak mereka begitu dekat, karena toilet itu memang sangat sempit. Apalagi, tubuh Wiliem memang besar kekar, sampai akan menutupi tubuh mungil Vanya.


Wiliem menatap wajah Vanya, terutama bibirnya. Setiap melihat bibir itu, Wiliem akan kembali kesal. Entah kenapa dia sampai tak rela jika ada yang menyentuh bibir Vanya. Apa karena, Vanya pernah bilang jika ciuman pertamanya adalah dirinya.


Tanpa aba-aba lagi, Wiliem sudah mencium bibir Vanya. Melummatnya dengan begitu lembut, Vanya yang terkejut pun memberontak memukul dada bidang Wiliem.


Bukannya melepaskan, Wiliem semakin menarik tubuh Vanya ke dalam pelukannya. Sampai tak ada sedikit pun jarak di antara mereka.


Wiliem masih memainkan bibir Vanya, menguasai permainan itu. Vanya yang sudah lelah memukul dada bidang Wiliem pun. Akhirnya hanya bisa pasrah dengan Wiliem.


"Hah,,, hah,,, hah,,," suara napas keduanya pun tersenggal karena kehabisan napas.


Vanya menatap Wiliem dengan tajam, sedangkan Wiliem terlihat puas karena sudah mencium bibir Vanya.


"Dasar, Om mesum! Kau mencuri ciumanku lagi," seru Vanya.


"Bukannya, tadi Sam juga menciummu di bagian bibir? Lalu kenapa kau marah saat, aku mencium dirimu?" balas Wiliem.


"Dasar gila. Sam itu kakakku, lalu siapa kau selalu menciumku seenak hatimu. Huh?" hardik Vanya.


"Minggir, kau. Aku ingin keluar!" perintah Vanya sewot.


"Berikan aku ciuman mu! Baru aku lepaskan dirimu," seru Wiliem.


"Astaga, dasar lelaki kurang ajar. Mesum tingkat dewa," ucap Vanya kesal.


Wiliem menatap tajam Vanya, dan berhasil membuat gadis itu ketakutan. Takut akan Wiliem berbuat lebih padanya, akhirnya Vanya pun menuruti kemauan Wiliem.


Vanya menarik kemeja Wiliem, hingga sedikit membungkuk padanya. Dengan cepat, Vanya mencium bibir Wiliem dan segera melepasnya. Namun, Vanya salah jika Wiliem akan melepaskannya. Kenyataannya, Wiliem menahan ciuman itu dan berlanjut dengan ciuman panas dari Wiliem.


Setelah beberapa menit, Wiliem melepasnya. Napas mereka naiknturun karena kehabisan oksigen. Dengan sangat kuat, Vanya mendorong tubuh Wil, lalu bergegas keluar dari sana.


Vanya berlari cepat dari sana, mulutnya hentinya mengumpat pada Wiliem. Tanpa dia sadari tingkahnya terlihat oleh Zee.


"Dasar, Om-om mesum. Astaga, dia memintaku menciumnya hanya karena melihat kak Sam mencium ku juga?" gerutu Vanya.


Vanya tak habis pikir dengan pikiran dari Wiliem. Gadis itu terus berjalan ke ruang bersalin, terlihat Ara baru saja keluar dari sana dengan tersenyum.


"Sam, selamat anakmu sudah lahir dengan baik dan sempurna. Bayi mu lelaki," ucap Ara.


Sam tersenyum lalu memeluk Ara karena begitu bahagia. Begitu pula dengan yang lainnya, ikut merasakan kebahagiaan atas kelahiran putra dari Abigail dan Sam.


"Masuklah, lihatlah anak dan istrimu!" perintah Ara.

__ADS_1


"Terimakasih, kak," ucap Sam.


Ara mengangguk lalu tersenyum melihat adiknya sekarang sudah menjadi seorang ayah.


Sam membuka pintu tersebut, terlihat Abi sedang menyusui sang putra. Dia begitu putih, gemuk dan sangat menggemaskan. Wajahnya begitu mirip dengan Aldo sang kakek. Air mata Sam mengalir melihat sang putra tuk yang pertama kalinya.


"Putra kita telah lahir, lihat dia seperti Ayah," seru Abigail.


Sam mengangguk ia, menggedong bayi mungil itu. Mencium lalu mendekapnya, Sam begitu bahagia melihat anak dan istrinya selamat.


"Kim Yuan, dia adalah cucu pertama keluarga Kim. Aku begitu bahagia, Abi. Terimakasih sayang," ucap Sam seraya mencium kening Abigail.


Terlihat kebahagiaan di ruang persalinan, sedangkan di kamar rawat inap. Zee dan Alex masih setia menemani putri kecil mereka yang masih belum juga sadar. Terlihat Wiliem masuk dengan wajah sendu, membuat Alex merasa aneh.


"Apa, Al masih belum sadar?" tanya Wili.


"Belum. Kau, darimana saja?" tanya Alex.


"Aaku, aku dari toilet. Membersihkan darah di kemejaku. Memang ada apa?" tanya balik Wiliem.


"Tidak ada, aku kira kau pergi," jawab Alex.


Zee menatap Wiliem penuh tanya. Ada apa antara Wiliem dan Vanya, karena sebelumnya Vanya mengumpat pada Wiliem.


Mata Alya terbuka, terdengar suara rintihan dari sang bocah. Membuat semua orang menatapnya dengan cemas.


"Al, you ok?" tanya Alex.


Alya hanya bisa diam menahan rasa sakit di kepalanya, seraya menatap Alex, Zee dan Wiliem. Lalu memcoba tersenyum.


"Mommy, Al mau makan masakan Mommy yang tadi pagi!" pintanya.


"Masakan apa, sayang? Maksudmu omlete yang Mommy buat?" tanya Zee.


"Ya, Al terjatuh karena ingin segera memakan makanan itu. Karena, saat membuka pintu kamar harumnya membuat Al lapar," jawab Alya polos.


"Astaga, nak. Kau lihat karena tak berhati-hati, kau menjadi terluka. Lain kali jangan seperti itu lagi, ok!" perintah Zee.


Alya tersenyum mengangguk ia, Alya melihat ke arah Wiliem yang berpura-pura marah padanya.


"Maaf, Dad, Mommy, Daddy. Alya tak akan melakukan itu lagi," ucap Alya dengan nada menyesal.


Wiliem begitu gemas melihat ekspresi dari Alya, membuat lelaki itu menghujani banyak kecupan tuk Alya. Sehingga terdengar gelak tawa dari sang putri.


Alya di beritahu jika, Abi sudah melahirkan membuat gadis kecil itu pun sangat senang dan ingin melihat sang adik barunya. Namun, karena Alya baru saja sadar maka Zee tak membolehkan Alya tuk pergi.


Hari itu menjadi hari lahir dari penerus pertama dari keluarga Kim. Kim Yuan, telah lahir dengan selamat. Alya pun sudah sadar dari kecelakaannya.


Tapi, tidak dengan hati Wiliem dan Vanya yang sedang perang dingin. Mereka berdua sudah melakukan sesuatu yang menurut mereka di luar batas kesadaran mereka.

__ADS_1


__ADS_2