
Air mata terus mengiringi kepergian dirimu, menemani langkah tuk menemani kau kembali ke peristirahatan abadi. Dunia seakan ikut bersedih, pagi itu tak ada mentari yang menyinari, hanya ada rintikan hujan dan angin dingin yang menusuk kedalam sanubari.
Wajah-wajah yang sendu, penuh dengan kesedihan. Semuanya berkumpul berada di depan depan pusaran yang kini berhias banyak bunga, tanah basah itu telah menelan sosok yang begitu di cintai.
Tak ada yang membuka suara, hanya ada isak tangis yang terdengar. Sang ibunda masih bersimpuh memeluk nisan yang putra.
"Tenanglah, Nak disana! Ada ibu dan Ayahmu yang akan menjaganya," ucap Tia sembari terus mengusap nisan Alfa.
Sam terus duduk di samping makam Alfa, wajahnya tak pernah di angkat, air matanya terus menerus tanpa henti. Tangannya masih menggenggam erat tanah basah itu, seakan itu adalah tangan Alfa.
Aldo dan Intan berdiri di belakang Sam, setia menemani sang putra. Sedangkan keluarga Putra tak lepas di belakang Tia. Hanya, Zyan yang tak ada.
"Tia, berdirilah! Kuatkan dirimu, kita harus mengihklaskannya, dengan begitu Alfa akan tenang disana!" pinta Azura sembari mengusapnya dari belakang.
Tia menengok menatap Azura, dia mengangguk ia. Namun, kemudian air matanya keluar dengan begitu deras saat mengingat Zee.
"Azura, putriku? Bagaimana dengan dirinya, aku tak akan bisa tahan melihat dia menderita. Zee, putriku, bagaimana dia tanpa adanya Alfa," isak Tia memeluk tubuh Azura.
Seketika tubuh Ars lemas, untung saja ada Ken yang menangkapnya, Ars menangis hebat mengingat akan seperti apa Zee saat melihat Alfa yang sudah tiada.
"Ken, dimana putriku? Dengan siapa, dia?" tanya Ars lirih.
"Zyan, dia bersama dengan Zee. Paman, tenanglah!" pinta Ken.
Ars diam kembali menatap pusaran sang putra, air matanya kembali menetes. Mengingat bagaimana dulu dia menyiksa sang istri sampai ada nya Alfa di dalam rahimnya.
"Maafkan aku, aku sudah gagal menjadi Ayah yang baik tuk dirimu, Alfa!" seru Ars.
Semua orang disana menangis melihat akan bagaimana kesetiaan, rasa cinta dan sayang dari keluarga besar mereka.
Tak lama, terdengar suara kursi roda yang semakin terdengar, sosok gadis yang masih berbalut perban di kepalanya itu terduduk diam. Tatapannya kosong, entah apa yang dia pikirkan. Sedangkan Zyan yang mendorong kursi itu sudah menangis hebat.
Semuanya menatap kedatangan Zee, Kiara berlari memeluk tubuh sang suami. Menenangkan Zyan agar bisa tegar demi Zee.
Azura dan Tia berpaling tak ingin melihat sang putri yang sekarang beras di depan pusaran Alfa. Ars semakin lemas hingga terduduk di tanah.
"Aku ada disini, aku disini Al. Kau mendengar ucapanku bukan? Bangun, aku mohon bangun Al! Jangan bercanda denganku, hari ini aku sangat lelah. Aku ingin, kau memelukku! Kau membelai diriku! Alfa, kenapa kau diam, jangan buatku marah!" pinta Zee sambil menatap nisan Alfa.
Hiks, hiks, hiks, suara tangisan Sam barulah terdengar. Setelah dia diam dan terus menunduk, duduk disana.
"Hah, hah, hah, sudahlah Zee. Biarkan dia tidur dengan tenang!" pinta Sam yang menunduk.
Zee menatap nanar Sam, terlihat kemarahan disana. Air mata Zee menetes membasahi wajah pucatnya.
"Diam kau, Sam! Alfa akan bangun, dia hanya sedang tidur saja. Dia akan menurut padaku, Alfa akan bangun!" teriak Zee sembari menangis.
Zyan memeluk tubuh Zee dari belakang dengan kuat, agar Zee tak terjatuh.
"Lepas, lepaskan aku Zyan! Aku hanya ingin di peluk olehnya. Oleh lelaki kurang ajar ini, dia, ya dia lelaki yang sudah membohongi diriku! Aku, aku hanya ingin di peluk oleh kekasihku, lelakiku, Alfa Reza!" pinta Zee.
Zyan hanya bisa menurut, dia melepas pelukan itu. Semua orang begitu sesak melihat keadaan Zee yang begitu rapuh, masih tak percaya akan kematian Alfa.
Buughhh, Zee menjatuhkan tubuhnya ke bawah. Zee merangkak mendekati makam Alfa. Tubuhnya gemetar, kotor dan terlihat darah keluar dari kakinya.
Zyan ingin membawanya, namun di larang oleh Bumi. Zee terus merangkak, mengusap nisan itu.
"Al, aku harus bagaimana? Jika kau tak ada disisiku, siapa yang akan bersamaku? Kenapa kau tak membawaku bersamamu? Kenapa kau meninggalkanku dengan cinta, sayang, kesetiaan, jika akhirnya kau pergi dari diriku?" ucap Zee sangat lirih.
"Huwaaa,,, kau jahat, jahat, Alfa. Kau lelaki jahat!" teriak Zee begitu menyayat di dalam hati.
"Bunda, Tante, tolong beritahu Alfa! Ada aku disini, kenapa dia tak mau bangun?" tanya Zee sembari menatap Azura dan Tia.
Azura dan Tia hanya diam, menangis hebat karena Zee. Sam menatap wajah Zee, sungguh hatinya sakit, mungkin sangat hancur. Sam berdiri memutari makam Alfa dan menghampiri Zee.
"Zee," panggil Sam lirih sembari berjongkok di depannya.
__ADS_1
"Sam, kau terus bersamanya bukan? Tolong, buat Alfa bangun, kau boleh memukulnya! Asalkan, dia bisa bangun!" pinta Zee sembari menggoyangkan tangan Sam.
Sam memeluk Zee, dan membisikkan sesuatu. Seketika, Zee diam mematung. Tangannya bergetar menyentuh perut ratanya. Matanya menatap penuh pada Sam.
"Jangan lagi menangis! Biarkan dia tidur dengan tenang! Kuatkan dirimu untuk dirinya," ucap Sam.
Sam mengangkat tubuh Zee kembali ke kursi rodanya, menatap Zyan tuk membawanya pulang. Zyan dan keluarga yang lain kembali terlebih dahulu. Meninggalkan, Sam yang masih setia duduk disana.
"Kau, akan bagaimana dengan semua ini? Kau kembali padaku, atau berjalan dengan dirinya?" tanya Abigail.
"Abi, aku akan bersama dirimu. Dan akan terus menjaganya dengan semampuku!" seru Sam.
Abigail, memeluk tubuh Sam dari samping, menangis karena dirinya sangat takut akan berpisah dengan Alfa. Tapi, dugaannya salah.
"Mulai sekarang, kau dan aku harus tetap bersama dengan Zee. Dimana pun, kemana pun dia pergi," ucap Sam sembari membalas pelukan Abigail.
"Aku berjanji akan semua itu, aku akan selalu berada dengannya!" ujar Abigail.
Wwuussshhhhsss,,,
Angin mengelilingi pusaran Alfa, menjatuhkan daun yang berguguran disana. Menerbangkan ribuan kelopak bunga yang berada di atas makan Alfa. Tapi, tidak dengan bunga lyli yang tetap diam tak bergerak sama sekali.
"Pergilah! Tenanglah, ada aku dan Sam yang bersama dirinya!" ucap Abigail dalam hati.
Terlihat selintas banyangan Alfa yang tersenyum menatap dirinya dan Sam, air mata Abigail menetes deras, dadanya sesak karena harus melihat Alfa dengan kondisi seperti itu.
"ALFA!!" teriak Abigail tanpa sadar sembari mengangkat tangannya.
Sam yang melihat itu pun langsung menatap kesembarang arah, seperti sedang mencari sesuatu.
"Dimana, Abi? Dimana Alfa berdiri? Kau melihatnya bukan? Dimana dia?" tanya Sam begitu sedih.
"Sam, dia sudah pergi. Alfa tersenyum pada kita," jelas Abigail sembari memeluk Sam.
*************************************************
Ratusan purnama berlalu
Walau kau usir aku di hidupmu
Tapi cintaku tetap diam
Ratusan purnama berlalu
Sendirian aku tanpa cinta
Tak pernah ada cinta yang lain
Hatiku terbuka hanya untukmu
Duhai cinta, enggan menawar rasa
Gelombang marahmu terlalu berlebih
Berderit-derit bunyi jantungku
Bila kukenang wajahmu
Biar jauh jarak pandang kita
Namun hati dan jiwaku
Selalu merasa di sisimu
Duhai cinta, sulit 'ku meraba
__ADS_1
Diam dan dinginmu mengapa?
Ribuan hari 'ku mengingatmu
Membaca semua puisimu
Mengering raga ini menantimu
Ratusan purnama cinta kita
Kembali
Duhai cinta, enggan menawar rasa
Gelombang marahmu terlalu berlebih
Berderit-derit bunyi jantungku
Bila kukenang wajahmu
Biar jauh jarak pandang kita
Namun hati dan jiwaku
Selalu merasa di sisimu
Duhai cinta, sulit 'ku meraba
Diam dan dinginmu mengapa?
Ribuan hari 'ku mengingatmu
Membaca semua puisimu
Mengering raga ini menantimu
Ratusan purnama cinta kita kembali lagi
Ratusan purnama cinta kita kembali
Penulis lagu: Anto Hoed
Lirik Ratusan Purnama ©
Penggalan syair lagu itu terus berputar di dalam kamar Zee, lagu itu seakan menceritakan dirinya dengan sang kekasih hati.
Sudah seminggu berlalu, setelah kepergian Alfa. Tak pernah lagi ada tawa dan kehangatan di dalam rumah itu, apalagi senyuman dan ucapan nada manja dari Zee. Gadis itu diam, membisu dan terus menangis dengan segala rasa kehilangannya.
Malam itu, Zee tidur dengan memandang bulan dari jendela kamarnya. Terlihat butiran bening itu terus menetes di sudut matanya.
"Malam ini, temani aku tidur! Jangan lepaskan pelukanmu dariku! Lelapkan aku dalam semua mimpi indah bersamamu!" pinta Zee.
Setiap malam sebelum menutup matanya, Zee akan terus berucap seperti itu. Seakan ada Alfa bersamanya, dan memeluk dirinya. Padahal setiap malam Zyan lah yang terus diam-diam menemani dan memeluk Zee.
Semua keluarga akan menangis jika mendengar ucapan Zee dan melihat Zyan yang terus melakukan itu.
"Tidurlah sayang! Aku akan selalu ada bersamamu, aku akan terus menemani dirimu sampai kapan pun. Dan saat waktu itu tiba, aku akan melepasmu dengan semua senyumanku," ucap Zyan mencium kening Zee dengan penuh kasih.
Bersambung💞💞💞
**Hay, hay, semua nya nikmatilah bab penuh air mata ini!! Jangan menanyakan kenapa aku meniadakan Alfa. Karena itu sudah alurnya,,, kalian menangis aku bahagia.
Tapi, sedih juga karena tak ada yang meng LIKE 😭😭 ada dengan kalian semua? Jahat sekali padaku!!!
Aku ingatkan kembali tinggalkan jejaknya ya,,, sebelum membaca!!! LIKE itu penting UNTUKKU !!!
__ADS_1
TERIMAKASIH**.