
Ana segera menuju dimana sang suami berdiri dan menjelaskan apa semua yang terjadi. Semua kata berusaha Ana keluarkan dan mengingatkan Rafli agar tidak kasar kepada Vini dan menatapnya seperti itu . Rafli menahan emosinya yang memburu , emosinya sedang tidak baik di tambah ia akan menemui Eric siang ini .
'' Vini , aku memperbolehkan mu bertemu dengan Rayana atas permintaan istriku dan ku harap , kau tau batasan mu yang sesungguhnya " ucap Rafli lembut namun begitu menusuk .
'' Ingatlah , suamimu yang menculik anak ku dan aku masih berbaik hati tidak melaporkan kalian ke kantor polisi . Bukan hal sulit bagiku untuk menghancurkan keluarga Permana . Maka ingat batasanmu , kau hanya ibu asuh salah satu putriku bukan orang tua kandungnya " imbuh Rafli dan bisikan itu cukup membuat air mata Vini mengalir deras , jantungnya seakan di remas begitu kuat atas perkataan Rafli .
'' Mas , apa yang kau ucapkan " ucap Ana begitu terkejut mendengarnya , Rafli bahkan tak memikirkan Jelita yang berada disana dan juga keberadaan Rayana di pangkuan Vini .
Melihat Vini menangis membuat Rayana juga ikut menangis .
'' Ayah jahat dan sudah buat mama Vini menangis . Ericana benci ayah ....hiks....hiks.... " Isak Ericana memeluk Vini .
Rafli yang biasa berpamitan saat akan pergi kepada keluarga kecilnya tak di lakukannya saat ini . Tanpa mereka sadari bahwa Chantika dan Rahma mendengarkan itu semua , Chantika begitu marah dan ingin mengusir Vini namun cekalan tangan Rahma menahannya dan juga menjelaskan untuk meredahkan emosi ibu hamil tersebut , emosi Chantika memang mudah meledak saat kehamilan keduanya ini .
'' Ayah Ericana gak jahat kok dan mama Vini menangis bukan karena ayah " ucap Vini mencoba meredahkan tangisannya.
'' Mama gak bohong " tanya Ericana dan diangguki Vini dengan mantap , Rafli dapat melakukan apapun bahkan ia tega berbuat hal tersebut kepada Ana , tidak bisa di pungkiri jika Rafli akan melakukan hal yang sama pada Ericana Putri kecilnya itu .
'' Maafkan suamiku ya Vini. Aku benar-benar minta maaf " ucap Ana tidak enak hati , di kira dengan tidak adanya mama mertuanya saat ini sudah tak ada lagi yang membenci Vini saat wanita itu berkunjung tapi dugaannya salah . Ana juga menyadari Rafli mengizinkan Vini untuk berkunjung melihat Ericana karena tepaksa , sangat terpaksa .
'' Ini bukan salah suamimu mbak , jika kami berada di posisi itu pasti juga melakukan hal yang sama " ucap Vini mengusap bahu Ana , agar wanita itu tak usah kepikiran.
Kedatangan Chantika dan Rahma menghentikan obrolan mereka sejenak . Jelita yang di tawari jalan-jalan langsung bersorak senang berbeda dengan Ericana yang menolak ajakan mereka .
'' Ericana masih rindu dengan mama Vin " ucap Ericana menolak ajakan. Rahma dan hal ini membuat Chantika berwajah masam menatap Vini , bahkan senyum yang Vini torehkan hanya di balas dengan wajah datarnya .
'' Mbak aku pamit ya ajak anak-anak " ucap Rahma kepada Ana dan Rahma juga berpamitan kepada Vini . Namun Chantika hanya berpamitan kepada Ana , jangankan untuk berpamitan kepada Vini bahkan senyum pun tak Chantika berikan untuk wanita yang baginya merusak suasana bahagia dalam mansion Jimmy . Chantika melengos pergi enggan untuk berucap satu katapun bahkan ia muak dengan situasi saat ini . Ana kembali menghela nafas atas sikap Chantika dan lagi-lagi Ana harus meminta maaf atas kesalahan yang tak ia lakukan dan Vini juga lagi-lagi kembali memahami .
.
.
.
Disisi lain di perusahaan milik Rafli yang sedang di kelola Jimmy mendadak heboh karena mereka kedatangan owner di perusahaan tersebut , sebagaimana pemilik /pemegang saham terbesar.
Para petinggi memberi hormat saat Rafli dan Jimmy berjalan beriringan memasuki lobi perusahaan dan tak lupa karpet merah terbentang untuk menjadi tapak berjalan sepatu pantofel mereka. Terlihat begitu berwibawa dan berkharisma begitu kuat saat semua orang menatap kagum sang pemilik.
Semua orang menunduk hormat namun tak di balas senyum oleh Rafli karena kedatangannya kesini bukan karena ingin mengetahui perkembangan perusahaan melainkan akan memenuhi permintaan musuh bebuyutannya. Rafli mempercayakan perusahaan miliknya untuk di kelola oleh Jimmy yang menduduki posisi CEO.
Rafli melihat cara kerja sekretaris Jimmy yang seorang pria paruh baya yang cukup memuaskan. Kali ini Jimmy meminta Rafli untuk memimpin rapat sekali-kali dan Rafli menyanggupinya karena jam janji temu dengan Eric masih tersisa cukup lama.
Ruang rapat memiliki aura berbeda saat ini , para kaum hawa baik muda ataupun sudah menua sekalipun menatap Rafli penuh damba dan hal itu tak terasa asing bagi Rafli dan Jimmy . Awal tatapan kagum mereka menjadi menciut saat Rafli memberi ucapan menghunus tajam akan beberapa pekerjaan yang tak sesuai dengan ke inginannya . Rapat akhirnya selesai dengan hasil akhir beberapa divisi harus memperbaiki kinerja mereka...
__ADS_1
Eric berjalan menuju ruang dimana Rafli berada .
'' Apa pak Rafli ada " tanya Eric pada seseorang yang menjabat sebagai sekretaris.
'' Ada tuan " ucapnya dan berdiri mengetuk pintu dimana Rafli berada di dalam .
Ceklek .
" Siang tuan " ucapnya .
'' Tuan , ada tuan Eric ingin bertemu dengan anda " imbuhnya berbicara hormat di ikuti tubuh yang menunduk hormat meski posisi Rafli membelakangi nya. Sedangkan Jimmy kini di buat kesal oleh Rafli karena ia meminta Jimmy untuk tiduran santai di kamar pribadi yang terdapat diruangan tersebut .
'' Suruh ia masuk dan saya tak menerima tamu siapapun termasuk nona Ana dan Abdi Wijaya ataupun yang lainnya " ucap Rafli tegas dan diangguki sekretaris. Keluarganya sudah mengetahui jika Rafli datang ke kantor karena ingin bertemu dengan Eric , Abdi dan Gunawan telah mewanti-wanti nya untuk tidak bersikap buruk begitu juga Ana yang mengalami kekhawatiran jika sang suami bertemu dengan Eric dan berpesan pada Jimmy untuk menjadi penengah bila terjadi keributan namun Jimmy lebih patuh pada Rafli meski hatinya begitu menolak . Beruntung Jimmy telah mengambil pistol di laci kerjanya , tak ingin di saat Rafli yang emosinya meledak malah meledakkan kepala Eric nantinya.
Eric memasuki ruangan CEO tersebut saat di persilahkan masuk . Berdiri , Eric masih berdiri tepat di hadapan kursi kebesaran yang masih memunggunginya .
'' Eheem.... " dehem Eric , hatinya mengumpat kesal pada pria yang menduduki kursi tersebut .
'' Apa begitu caramu bertamu " cibir Rafli dengan suara tertahan sementara tangan itu terlihat mengepal .
'' Apa cara mu begini yang menyambut seorang tamu " ucap Eric menahan kekesalannya .
'' Ck , tamu yang tidak pernah di harapkan kedatangannya " jawab Rafli dan seketika kursi itu berputar menghadap Eric , terlihat senyum mengejek Rafli berikan .
'' Aku tidak suka basa basi , apa tujuanmu " tanya Rafli to the point. Ia sungguh muak melihat wajah sok imut pria di hadapannya ini .
'' Coba kau ulangi ucapanmu " ucap Rafli dengan suara naik satu oktaf.
'' Ku rasa ayah dari Ericana ini tak salah mendengarnya dan ku rasa suami dari wanita bernama Ana Gunawan tidaklah tuli " ucap Eric masih cukup santai , ia suka melihat wajah Rafli merah padam saat ini .
'' Jangan sebut nama wanitaku " ucap Rafli menarik kerah kemeja yang di gunakan Eric , namun pria itu tersenyum mengejek . Jika bukan daya tarik Ericana yang begitu memikat dan keturunan dari keluarga baik-baik , mana sudi ia berharap Rafli menjadi besannya , mau jadi apa anaknya nanti jika melakukan setitik saja kesalahan.
'' Bajingan kau '' umpat Rafli , tanpa di duga asbak rokok mengenai tepat pelipis Eric . Eric menghempaskan tangan Rafli dengan kasar , jangan harap ia mau mati konyol disini . Tujuannya membuat Rafli memenuhi keinginannya namun jika sudah melukainya ia tak akan diam saja.
'' Aku tak akan sudi menjadikan keturunanmu menjadi mantuku . Apalagi memiliki besan sepertimu " sarkas Rafli . Emosinya mulai merayap dan Rafli seketika bangkit dari kursi kebesaran tersebut .
'' Ck , apa kau tak bisa sopan terhadap calon besanmu " ucap Eric.
'' Pria ini sengaja memancingku " batin Rafli mengumpat.
" Pergilah sebelum aku menghabisi mu . Kasihan istrimu bila menjanda , apalagi sebentar lagi akan melahirkan " ucap Rafli tak main-main kali ini .
" Aku tak akan pergi hingga kau menuruti apa kemauan ku " ucap Eric mulai serius ...
__ADS_1
" Pergilah b*jingan jika kau masih ingin hidup " bentak Rafli .
" Aku begitu muak melihatmu " imbuhnya .
" Aku ingin keluargaku bebas bertemu dengan Ericana " ucap Eric menatap Rafli dengan serius. Sementara Rafli tersenyum sumbang.
" Itu hanya dalam mimpi dan angan keluargamu . Berhentilah bermimpi Eric " ucap Rafli dengan tatapan remeh .
" Aku masih berbaik hati tak membuatmu membusuk di penjara . Aku bisa melakukannya dengan mudah . Dan kini kau tak tau diri " sarkas Rafli . Benar , Rafli bisa melakukannya dengan mudah namun pria ini masih memiliki sedikit perasaan mengingat Eric pernah menyelamatkan nyawanya saat menyelamatkan Ana. Namun Rafli pria yang miliki sedikit hati nurani itu , tak suka dengan orang yang tak tau diri atau melunjak seperti Eric.
" Aku ingin Ericana menjadi menantuku , bagian dari keluarga Permana " ucap Eric lantang membuat emosi Rafli kini memenuhi aliran darahnya .
" B*JINGAN KAU ....!!! " teriak Rafli .
Bughhh Satu tendangan keras berhasil menumbangkan tubuh Eric dan seketika Jimmy yang berada di kamar mencoba keluar namun sial pintunya di kunci oleh Rafli dari luar ..
" Rafli buka pintunya " teriak Jimmy namun suaranya tak tembus untuk berada di luar .
" Sial " umpat Jimmy , di luar masih saja terjadi keributan antara Rafli dan Eric....
" Sampai matipun aku tak akan membiarkan anak ku untuk menjadi menantumu " geram Rafli dan menendang tubuh Eric cukup kuat , Eric dan Rafli terlihat penuh lebam karena saling memukul , bahkan meja kerja Jimmy telah jungkir balik dan isi di atasnya begitu berhamburan , lembaran yang nilainya ratusan juta rupiah tak berarti bagi Rafli. Kini niatnya untuk menghabisi pria tak tau diri di hadapannya . Berani sekali meminta Ericana menjadi menantunya .
Dor...
Suara tembakan mampu membuat kunci pintu kamar terbuka .
'' Jangan ikut campur Jimmy atau aku tak segan membunuhmu " bentak Rafli membuat Jimmy berhenti sejenak. Entah apa yang terjadi , keadaan Eric cukup memprihatinkan .
'' Aku tak ingin kau menjadi seorang pembunuh. Ingat keluargamu Rafli " ucap Jimmy namun Rafli semakin kuat mencengkram leher Eric hingga wajahnya Eric cukup memerah . Eric yang tak tahan karena nafasnya hampir di ujung segera menendang Rafli tepat di bagian perutnya , Rafli mundur seketika dan Jimmy segera bergerak cepat membantu Rafli berdiri namun tak mengizinkan Rafli untuk kembali menyerang .
'' Pergilah tuan Eric , kami harap ini terakhir kalinya kami melihatmu " ucap Jimmy .
'' Aku tidak ...akan ke... keluar Jim " ucap Eric .
'' Aku ... ingin bicara dengan Rafli " imbuhnya .
'' Dan aku menolak inti yang kau bicarakan . Aku tak akan mengizinkan keturunanku menikah dengan keturunan mu " bentak Rafli dan berusaha memberontak .
'' Kau harus menuruti nya Rafli. Karena aku mempunyai kartu As mu " ucap Eric tersenyum simpul , mengusap ujung bibirnya yang berdarah.
'' Kau lihatlah " ucap Eric melemparkan dua lembar foto dan terlihat jelas foto Rafli dan Ana yang berada di rumah sakit . Rafli terbelalak kali ini , cukup terkejut . Pantas saja pria ini begitu menantangnya .
'' Aku rasa kau cukup mengerti , ku tunggu keputusan mu atau aku akan memberitahukan perbuatan mu pada Ana " ucap Eric , kini ia mulai menegakkan tubuhnya untuk berlalu keluar meninggalkan Rafli yang bungkam seribu bahasa , Eric tau betul titik kelemahan Rafli adalah seorang Ana dimana Ana dulu juga pernah menjadi titik kelemahannya. Sementara Jimmy mempunyai tanda tanya besar saat melihat Rafli tak berkutik .
__ADS_1
Jangan lupa like dan Komentarnya.
Selamat membaca 😊