Takdir Cinta

Takdir Cinta
Viona


__ADS_3

Vini bangun pada saat subuh tiba , setelah sholat subuh Vini merasa hatinya kini kembali tenang setelah menumpahkan semua keluh kesahnya selama ini .


Niat hati ingin membuat sarapan untuk suami dan anaknya namun langkah kakinya terhenti saat mendengar suara gosip dari beberapa pelayan saat membahas suaminya .


'' Ku kira den Eric menikahi nona Ana ternyata wanita lain " ucap pelayan 2 .


'' Tapi kan tak kalah cantik bahkan lebih muda " sahut pelayan 3.


'' Tapi aku tidak yakin , apa benar den Eric benar mencintai istrinya " jawab pelayan 2.


'' Ku harap begitu . Tapi bukankah kau dengar sendiri berita yang beredar bahwa den Eric dan nyonya Vini telah memiliki anak di luar Pernikahan , berarti bisa jadi den Eric mencintai istrinya saat ini " ucap pelayan 4.


'' Ya jika begitu aku turut senang , aku merasa kasihan dengan den Eric jika tiap kemari hanya duduk termenung di gazebo atau taman bunga itu " keluh pelayan 3.


'' Ya , kau tau sendiri villa ini den Eric persembahkan untuk nona Ana dan taman bunga yang ada di belakang yang mendesainnya nona Ana sendiri dan den Eric mengabulkannya . Namun siapa sangka mereka tak berjodoh semenjak pria jahat itu datang dan hanya bisa membuat den Eric sering menangis disini " ucap Pelayan 4 begitu kesal dengan Rafli .


'' Sudahlah yang terpenting den Eric bahagia dengan hidupnya saat ini dengan begitu den Eric tak terus mempunyai niat untuk merebut Ana. Karena aku tak menyukai seorang perebut milik orang lain " ucap pelayan 2.


'' Dan juga jika den Eric bahagia kita semua pun tenang " imbuhnya dan di sambut seruan setuju pelayan lainnya .


Vini yang mendengar itu semua meneteskan air matanya , menangis dalam diam itu lah yang bisa ia lakukan .


'' Apa harus sesakit ini mencintaimu mas . Sebesar apa rasa cintamu pada wanita itu mas , apa melebihi yang aku tau selama ini . Jahat sekali kau bahkan mengajak ku kemari " batin Vini .


" Tapi aku gak boleh lemah dan gak boleh menyerah bagaimanapun mas Eric suamiku dan hanya suamiku , dan aku hanya ingin menikah sekali seumur hidupku . Cukup aku harus kuat , semakin mas Eric kuat menutup pintu hatinya maka aku akan semakin kuat untuk menerobos masuk . Aku akan memperjuangkan cinta dan rumah tangga kita dengan caraku mas meski sesulit apapun itu , cukup air mata saja yang aku keluarkan . Tapi jika aku lelah maka aku akan pergi " gumam Vini dan kini ia mulai tersenyum .


" Astaga nyonya Vini maafkan saya tidak sengaja " ucap pelayan 2 penuh takut saat kemoceng tak sengaja menyapa wajah mulus Vini .


" Tak apa , kau tak sengaja " ucap Vini lembut bagaimana ia ingin marah dengan hal sepele itu meski wanita di hadapannya ini biang gosip yang membuat hatinya menjadi sedih .


" Maafkan saya nyonya " ucap pelayan 2.


" Sudah , kau lanjutkan saja pekerjaan mu . Aku mau membuat minuman untuk suami dan anakku " ucap Vini dan berlalu untuk menuju dapur .


Para pelayan menyapa Vini dengan ramah dan mencoba menawarkan bantuan kepada nyonya mereka namun Vini menolaknya dengan halus .


" Nyonya . Boleh aku bertanya " tanya pelayan ke tiga sopan .


" Mau bertanya apa " ucap Vini ramah .


" Apa den Eric masih marah kepada kami karena nona kecil elergi " tanya pelayan 3 mewakili rasa tanya teman seperjuangannya .


" Suamiku kini sudah tak marah . Kalian tak perlu cemas " ucap Vini tersenyum lebar .


" Karena akulah yang dimarahi nya " batin Vini .


" Syukurlah . Biasa den Eric sangat sensitif dan kami bersyukur dengan hadirnya nyonya bisa membuat den Eric memulai kembali hidupnya " ucap Pelayan 3 tersenyum lebar..


" Baiklah . Aku keatas dulu ya , lanjutkan lah kerja nya . Jika bisa sarapanlah lebih dahulu " ucap Vini tersenyum dan melangkahkan kakinya menuju kamar dimana anak dan suaminya berada .


Sementara Eric dan Ericana tengah berendam di dalam bathtub yang penuh dengan busa dan mainan bebek disana . Ericana tertawa saat melihat Eric dengan sengaja menjahilinya .

__ADS_1


Suara ketukan pintu membuat Eric terpaksa untuk bangkit bersama Ericana dari dalam bathtub . Eric menggunakan kimono sementara Ericana hanya di lilit handuk kecil.


Ceklek


Senyum ceria terpancar di wajah Vini dan Eric mempersilahkannya masuk karena ia tau maksud kedatangan Vini saat melihat minuman di atas nampan .


Vini berinisiatif sendiri mengambilkan pakaian Eric seperti biasanya dan setelah itu ia mengambil alih Ericana untuk segera memakaikan baju. Sementara Eric bergegas kekamar mandi untuk mengenakan pakaiannya .


'' Aku minta maaf Vin untuk masalah semalam " ucap Eric dan diangguki Vini beserta senyuman .


'' Seharusnya aku bisa membuka hatiku untuknya melihat Vini dengan tulus mengurusku dan Ericana yang jelas anak kandung dari wanita yang ku cintai . Tapi hati ini merasa sulit sekali meski hanya sekedar berpaling untuk sedetik saja darimu Ana . Aku tau Vini melibatkan perasaannya disini " batin Eric , ucapan yang terkadang memuji Vini lalu menghempaskan nya sengaja Eric lakukan berharap agar perasaan Vini padanya segera luntur karena ia tak ingin menyakiti wanita yang telah mengurus Ericana dengan segenap hati .


Eric mengamati Vini yang tengah bersenda gurau dengan Ericana seketika senyumnya terbit saat membayangkan jika itu Ana namun senyum itu hilang seketika saat suara pelayan menyadarkan lamunannya . Eric mengusap wajahnya kasar memikirkan hal yang mustahil kini baginya , karena bagaimanapun Rafli tak akan melepaskan Ana bahkan bisa saja mengambil Ericana dengan cara apapun jika tau Ericana adalah anaknya yang masih hidup seperti hal nya dulu mengambil Ana dengan cara apapun darinya , apalagi Ana telah menegaskan tak akan meninggalkan suaminya berarti Ana tak akan memilih dirinya .


" Maaf mengganggu tuan dan Nyonya " ucap pelayan menunduk sopan.


" Sarapan sudah siap nyonya dan tuan " imbuhnya. .


" Terimakasih bi . Nanti kami akan turun " jawab Vini , Vini merasa heran kenapa wajah Eric mendadak kecut di pagi hari . Entahlah tak ada yang bisa menebak jalan pikiran suaminya itu yang mereka tau hanya rasa cintanya kepada seorang wanita yang telah bersuami.


" Ayo kita sarapan " ucap Eric dan segera membuat Vini menggendong Ericana namun gadis cilik itu menolak dan meminta di tintin menuruni tangga .


" Pelan-pelan sayang nanti jatuh " ucap Vini dan seketika juga Ericana berjalan dengan tenang .


Seusai sarapan pagi Eric menerima telepon dari Laurent jika mereka telah tiba di mansion Permana namun mereka tak menemukan Eric . Bukan Laurent yang rindu melainkan Excel yang merindukan papa nya.


'' Siapa yang menelpon mas '' tanya Vini .


'' Laurent , ia ada dirumah papa " jawab Eric singkat .


'' Setelah makan siang kita akan berangkat karena mama mengajak mereka ke mall " ucap Eric dan diangguki Vini . Vini dan Laurent tampak akur bahkan Laurent penuh harap jika Vini bisa menerobos hati Eric . Penyesalan dan rasa bersalah selalu menghantui Laurent dan tak akan tenang jika Eric tak bisa bahagia .


.


.


.


Bunga selalu menanti kehadiran wanita yang membuatnya kesal di mall selama ini namun wanita itu tak kunjung menampakkan dirinya .


'' Ku harap kali ini aku bisa bertemu dengannya. Yang perlu ku tahu bagaimana keadaan anakku " ucap Bunga di dalam mobil seraya mengamati mobil yang melewatinya sedari tadi .


Tok...tok...tok....


'' Kau " ucap Bunga saat melihat Viona yang tengah mengetuk pintu belakang mobilnya .


'' Kau selalu mencariku " ucap Viona senyum mengejek selalu menghiasi wajahnya.


'' Brengsek kau. Dimana anakku " tanya Bunga sarkas .


'' Hei tenang . Kau turuti permainan ku maka anakmu akan baik-baik saja " ucap Viona .

__ADS_1


'' Ayo kita ngobrol di dalam kafe " ucap Viona dan seketika Bunga menancap gas mencari parkiran di dalam mall .


'' Kena kau " gumam Viona.


Viona dan Bunga terlibat perbincangan yang serius membuat amarah Bunga meledak seketika saat Viona mengancam dirinya melalui anaknya .


'' Aku tau kau seorang ibu juga . Apa kau tak punya perasaan menyakiti hati seorang anak kecil " lirih Bunga dengan mata berkaca-kaca.


'' Kau juga seorang wanita apa kau tak tau bagaimana rasanya di khianati . Dan kini kau memintaku merusak hubungan orang yang ku sayangi. Bahkan kak Ana belum sama sekali sadar " imbuhnya memelas.


'' Apa peduliku dan aku tak peduli . Yang ku mau kehancuran mereka " ucap Viona acuh .


" Dan kehancuran mu " batin Viona.


" Kau fikirkan semua . Ingat anakmu ada di tanganku " ucap Viona melenggang pergi meninggalkan Bunga yang tengah galau seketika . Langkah Bunga yang lesu terhenti saat pelayan datang menghampiri nya .


" Maaf nona . Anda belum membayar " ucap Pelayan segera mencegah Bunga hendak keluar.


" Oh maafkan a...aku " gugup Bunga dan Segera mengeluarkan tiga lembar uang .


" Ambilah untuk mu kembaliannya . Maaf ku kira teman sialanku telah membayarnya " ucap Bunga menggerutu pelan mengutuk tindakan Viona hari ini .


" Terima kasih nona " ucap pelayan dan menyerahkan struk harga .


" Selain mengancamku ternyata dia juga menyuruhku membayar makanan dan minumannya " ucap Bunga sewot segera bergegas menuju mobil .


.


.


.


Viona memakirkan mobil miliknya dengan apik . Ia segera berjalan menuju ruang kerjanya di perusahaan terbesar di Berlin . Viona yang di kenal dengan nama Zumi kini bekerja di perusahaan milik Abdi Wijaya sebagai kepala divisi pemasaran. Baru satu bulan ia bekerja , sudah jauh ia mempersiapkan segala rencananya .


'' Maaf Bu Zumi . Sebentar lagi kita ada meeting dengan CEO " ucap sang asisten .


'' Baiklah . Perintahkan mereka untuk mempersiapkan semuanya . Saya tak ingin hari pertama kali saya rapat ada kesalahan begitu juga seterusnya dan diangguki semangat oleh sang asisten.


'' selamat bertemu Rafli tapi pasti kau tak mengenaliku . Dengan tai lalat serta lesung pipi baruku " batin Viona yakin akan penampilannya yang kini juga dilengkapi kaca mata .


" Aku akan menjadi penonton sekaligus dalang dari semua masalahmu nantinya karena orang licik dan pintar sepertimu lawannya adalah aku " batin Viona. Dengan mudah ia di terima sebagai ketua divisi pemasaran karena orang yang lama sudah pensiun , dengan kemampuan yang Viona miliki membuat HRD tersenyum puas mendapatkan karyawan terbaik dan Viona lulus dari puluhan calon terbaik lainnya.


Terlihat aura mencekam di ruang meeting yang di pimpin Rafli hari ini terlihat Bianca yang berpenampilan sexy di sebelahnya , Viona yang melihat itu merasa geram. Ingin sekali menghancurkan wajah cantik Bianca yang menurutnya sengaja menggoda Rafli .


" Tahan emosi . Belum saatnya . Jika tidak rencana ku akan gagal " batin Viona .


Tiba saat Viona menjelaskan tentang divisinya serta ide pemasaran yang di pastikan harus cemerlang seperti keinginan Rafli yang di kenal ingin mempunyai pegawai dengan otak yang sempurna .


" Wajahnya tak asing tapi siapa " batin Rafli saat memperhatikan Viona yang tengah fokus menjelaskan .


Viona melempar senyumnya kepada Rafli dan membuat Rafli menatapnya datar.

__ADS_1


Jangan lupa like dan komentarnya ya ...


Selamat membaca .


__ADS_2