
Vanya dan Wiliem yang menghabiskan malam dengan berjalan-jalan dengan Elina dan kedua adiknya begitu pula dengan Laudya yang selalu ikut serta dengan mereka. Menjelajahi pinggiran kota yang berkelap-kelip di sana. Salju yang turun tak membuat mereka tetap diam di dalam hotel.
“Aku ingin melihat toko baju itu, bagaimana kalau kita masuk?” tanya Elina pada Vanya dan Laudya.
“Baiklah, aku juga kekurangan baju hangat,” jawab Vanya seraya menggandeng keduanya.
Laudya hanya tersenyum dengan tingkah Vanya, dia merasa antara Elina dan Vanya sama saja seperti anak kecil yang penasaran dengan apa pun.
Sementara para wanita sedang menghabiskan uang mereka, ketiga lelaki itu memilih menunggu di kedai kopi yang tak jauh dari sana.
“Ar, berapa usiamu?” tanya Wiliem.
“Aku dan kedua kakakku hanya berbeda dua tahun, usiaku sembilan belas tahun,” jawab Arga.
“Berarti, kau berusia dua puluh satu tahun?” tanya Wiliem pada Messi.
Messi hanya mengangguk karena sedang menyeruput kopi panasnya, Wiliem pun hanya mengangguk mendapat jawaban darinya.
“Tuan Wil, apakah benar jika dulu kau dekat dengan Nona Lau?” tanya Arga ragu-ragu.
“Ya, kau benar. Aku dulu adalah teman satu kampus dengan Laudya, begitu pula Alex,” jawab Wiliem.
“Memangnya, kenapa kau bertanya seperti itu?” sambung Wiliem menatap Arga.
Arga hanya tersenyum, “Tidak ada, aku hanya penasaran saja pada hubungan kalian sepertinya sangat dekat.” Arga kembali meminum coklat panasnya.
Messi masih tak ingin ikut dalam pembicaraan karena memang sikapnya yang terkesan masa bodoh. Apalagi jika menurutnya, itu adalah hal yang sangat tak penting tuknya. Messi hanya menjadi pendengar tuk kedua lelaki itu.
“Kau menyukai Laudya, Ar?” tanya Wiliem hati-hati.
“Menyukai seperti apa yang anda maksudkan?” tanya Arga balik.
Wiliem mengerutkan keningnya, merasa ada sesuatu pada Arga dan Laudya. Messi pun menatap ke arah sang adik dengan tanda tanya.
“Wanita sepertinya pasti sangat di sukai oleh kaum adam, Tuan. Apalagi, Nona Laudya begitu cantik mantan seorang model. Tentu aku yang lelaki normal sangat menyukai dirinya,” jawab Arga.
“Namun, anda juga tahu kalau hidupnya mempunyai masa kelam yang membuatnya menjadi wanita penghibur dan alat kejahatan seseorang. Itu dua sisi yang mengerikan bagiku,”sambung Arga dengan menggelengkan kepalanya.
“Lalu, bagaimana menurutmu? Apa kau menyukai sesuatu yang berbeda pada dirinya,?” tanya Wiliem.
“Kau hanya merasa kasihan padanya, Ar. Kau hanya merasa simpati pada hidupnya yang mengenaskan,” ucap Messi tanpa menatap sang adik.
Arga tersenyum sembari menunduk, “Apa itu benar? Aku masih tak paham dengan rasa suka yang aku rasakan.”
Wiliem hanya tersenyum melihat Arga dan Messi. Dia begitu teringat akan dulu antara dia dan Alex, Saat itu juga Wiliem yang tak pernah bergaul merasa bingung dengan perasaannya.
__ADS_1
“Hidupmu masih panjang, kau harus menjadi lelaki yang hebat, Ar. Apalagi, kalian berdua berada di bawah bimbingan dari Wildan, aku yakin akan hidup kalian lima atau sepuluh tahun kedepan,” ucap Wiliem menepuk bahu keduanya.
“Aku harap bisa membuat dunia menerimaku. Dimana pun aku berada, aku berharap semua itu terjadi padaku,” balas Messi.
“Aku ingin menjadi Dokter yang hebat sepertinya. Aku ingin bisa membantu siapa pun dengan ilmu yang aku punya,” ucap Vanya.
“Semoga saja, apa yanyg kalian inginkan bisa terwujud,” balas Wiliem tersenyum.
Di dalam toko ketiga wanita itu masih berburu baju yang mereka cari, saat sedang asyik dan mencoba salah satu bajunya. Laudya di datangi kedua lelaki di sana dan membawanya ke dalam toilet, sedangkan Vanya yang baru saja keluar memakai baju yang dia pilih.
“Bagaimana, bagus tidak?” tanya Vanya tanpa melihat siapa yang ada di depannya.
“Apa pun yang kau kenakan akan terlihat bagus padamu,” jawab Roy dengan tersenyum.
Deg
Vanya memutar tubuhnya dengan perlahan. Melihat siapa lelaki yang berada di depannya itu, mata Vanya membulat saat melihat Roy yang sedang berdiri dengan tersenyum menatapnya.
“Roy, ka-kau di sini?” tanya Vanya dengan gugup.
Roy mengangguk dan melihat Vanya dari ujung rambut sampai ujung kaki, “Tentu aku di sini, Milan adalah rumahku. Apa kau lupa itu?”.
“Maksudku, sedang apa kau di sini?” tanya Vanya seraya mencari keberadaan dari Elina dan Laudya.
“Siapa yang kau cari? Apa Laudya dan satu teman wanitamu itu?” tanya Roy seraya mengikuti arah dari mata Vanya.
“Anh, kau terlihat sangat takut kehilangan mereka. Ada apa, Vanya? Apa kau tahu, jika Laudya itu mantan kekasih dari suamimu,” jawab Roy mengandung pertanyaan.
“Apa yang ingin kau katakan? Setelah lepaskan mereka berdua!” pinta Vanya menatap Roy.
Roy tersenyum menatap Vanya, Roy menunduk dengan rasa kesal karena Vanya sampai memohon tuk melepas Elina. Bahkan, memohon tuk melepas Laudya yang Roy pikir bisa menjadi boom waktu tuk Vanya dan Wiliem.
“Kencanlah denganku besok malam, aku akan menunggumu!” pinta Roy tersenyum.
“Apa kau gila? Jangan bercanda, Roy. Di sini ada suamiku dan juga keluargaku, bagaimana bisa aku keluar dan kencan denganmu?” balas Vanya begitu kesal.
“Aku tak ingin tahu, jika kau ingin melihat mereka berdua bisa selamat,” ucap Roy memperlihatkan Elina dan Laudya yang sedang di ikat oleh para pengawalnya.
Vanya menutup mulutnya, tak menyangka jika Roy bisa melakukan hal seperti itu, selama dia bersamanya Roy sangatlah lembut pada setiap wanita. Bahkan, dia sangat baik dan selalu membantu orang yang kesusahan.
“Roy, kenapa kau melalukan itu?” tanya Vanya dengan air mata yang mengalir di wajahnya.
Deg
Roy membulatkan matanya melihat Vanya yang menangis, tangannya gemetaran melihatnya. Roy mendekati Vanya dan mencoba meraih tangan Vanya. Namun dengan cepat Vanya menepisnya, bahkan wanita itu mundur ke belakang.
__ADS_1
Roy melihat tangannya yang mengambang di udara, betapa Roy sangat kecewa dengan sikap Vanya yang bahkan tak mau di sentuh olehnya. Bahkan dulu, setiap hari Vanya terus memeluknya saat bertemu dengannya.
Mereka bisa makan dalam satu tempat, tidur bersamaan dan selalu melakukan apa pun bersamaan. Banyak sekali teman-temannya sangat iri dengan pertemanan mereka yang layaknya kekasih.
“Kau menjauhi aku, Anh? Apa kau tak ingat dengan apa yang telah kita lalui dahulu?” tanya Roy begitu lirih.
“Kau bukan orang yang sama, kau bukan Roy temanku. Bahkan kau bukanlah, malaikat pelindungku. Kau orang asing bagiku!” seru Vanya dengan menangis.
Roy memejamkan matanya karena semua ucapan dari Vanya, hatinya begitu sakit karena wanita yang dia cintai tak ingin dekat dengannya. Bahkan, Vanya sampai menangis karena takut padanya.
Roy tersenyum tipis karena itu, Vanya masih menangis memeluk dirinya sendiri.
“Ya, kau benar. Aku bukanlah, Roy temanmu, bukan lagi malaikat pelindungmu. Aku yang sekarang adalah Roy pewaris tunggal perusahaan yang telah suamimu hancurkan,” ucap Roy dengan penuh penekanan.
Vanya begitu terkejut mendengar itu, bahkan Vanya bisa melihat senyum jahat di wajah Roy. Vanya menggelengkan kepalanya tak percaya, namun Roy dengan cepat mengangguk, lalu maju memegang lengan Vanya dengan sangat erat.
Vanya terkejut dengan tingkah Roy yang berbuat kasar padanya. Cengkraman tangan dari Roy membuat Vanya merasa sakit dang mencoba melepaskannya.
“Lepaskan aku! Kau menyakiti aku, Roy,” ucap Vanya.
“Kau mengatakan apa, sakit? Kau sekarang begitu manja, Anh. Kau tidak sekuat dulu, kau juga menjadi wanita yang lemah,” balas Roy.
Roy mendekatkan wajahnya pada wajah Vanya dan membuat wanita itu memalingkan wajahnya. Roy berbisik dan mengatakan hal yang membuatnya merinding karena ketakutan.
“Kau mengatakan sakit, apa kau tahu apa yang selama ini aku rasakan saat bersamamu? Aku selalu merasakan sakit lebih parah dari ini, aku selalu melindungmu, aku yang selalu ada untukmu dan aku juga yang selalu ada di sisimu. Tapi, apakah kau membalas semua yang sudah aku lakukan padamu? Tidak Vanya, kau bahkan tidak bisa menyukai aku, kau bahkan bisa mencintai lelaki yan baru saja kau temui dari pada aku yang sudah bertahun-tahun denganmu,” bisik Roy.
Tubuh Vanya semakin bergetar karena mengetahui semua yang Roy rasakan selama ini, Vanya benar-benar tidak pernah berpikir jika Roy begitu tersiksa karena tak bisa memilikinya. Bahkan, Vanya berpikir jika Roy bahagia selalu bersama dengannya walaupun tidak ada ikatan apa pun.
“Ro-Roy, maafkan aku!” pinta Vanya dengan suara bergetar dan menangis.
Roy mulai melonggarkan cengkraman nya, memeluk tubuh Vanya dengan lembut. Roy mencium kepala sebelum dia pergi begitu saja tanpa berbicara apa pun.
Vanya yang melihat Roy pergi membuatnya terduduk di lantai, tubuhnya seakan tak bertulang, jantungnya menderu karena rasa kecewa, takut dan sakit menjadi satu.
“Maafkan aku, Roy! Maafkan aku,” isak Vanya yang masih memegang dadnya yang terasa sakit.
Elina yang terikat pun di lepaskan setelah pengawal itu melihat bos mereka telah pergi. Dengan cepat, Elina berlari ke arah Vanya yang terduduk di lantai.
“Vanya, kau tidak apa-apa?” tanya Elina cemas karena melihat Vanya menangis.
Vanya tak menjawab, hanya menggelengkan kepalanya saja, Elina langsung memeluk Vanya yang bergetar hebat. Laudya juga yang sudah di lepaskan pun berlari menemui Vanya yang menangis di pelukan Elina.
“Vanya, apa yang di lakukan oleh Roy padamu? Katakan padaku!” seru Laudya yang terlihat marah sembari mendekati Vanya dan Elina.
Tangisan Vanya semakin menjadi saat mendengar ucapan dari Laudya, Elina hanya bisa menenangkan sang teman dengan terus membiarkan Vanya menangis di pelukannya.
__ADS_1
Di dalam mobil, Roy yang masih teringat akan Vanya yang menangis saat di dekatinya, bahkan wanita itu terlihat sangat takut. Hati Roy sangat terluka, lelaki itu sampai menangis karena merasa sudah menyakiti Vanya.
Bersambung🍂🍂🍂