Takdir Cinta

Takdir Cinta
251


__ADS_3

Hari itu menjadi hari bahagia tuk Alex dan Zee, mereka akhirnya meresmikan cinta mereka ke jenjang yang lebih baik.


Malam harinya, mereka mengadakan pesta kecil-kecilan. Semuanya berkumpul, Alya begitu asyik dengan Wiliem membuat Alex iri padanya. Zee menyadari itu, lalu berbisik padanya. "Jangan menatap mereka seperti itu! Biarkan Alya menjadi anak dari Wiliem, nanti kau juga bisa memiliki anak lain".


Alex yang mendengarnya hanya tersenyum senang, mencium pucuk kepala Zee.


"Ayah, Bunda lihatlah keluarga besar kita. Aku menjaga mereka, sebisa mungkin aku akan terus membuat mereka selalu bersama dengan kebajagiaa," batin Ken.


Sebagai kakak tertua, dia memang mempunyai beban yang berat. Menjaga, menolong, mendengarkan semua keluh kesah mereka. Menerima dan selalu mengalah tuk mereka.


"Sayang, lihatlah adik-adikku terlihat bahagia. Terimakasih, kau sudah menyayangi mereka, menjaga mereka dari dekat mau pun jauh," ucap Ara.


"Mereka sudah menjadi tanggung jawab ku. Semenjak orangtua kita semua tiada. Aku merasa harus bisa menjaga mereka semua," balas Ken dengan tersenyum.


Ara tersenyum mengangguk ia, Ken memeluk sang istri dari samping. Senyuman Ken benar-benar menandakan dirinya bahagia dan begitu lega.


Tak lama kemudian, terlihat sebuah mobil berhenti di depan halaman rumah Zee, terlihat sosok remaja dengan rambut pirang nya turun dari mobil.


Semua mata tertuju padanya, sosok remaja itu begitu cantik walaupun dengan dandanan yang tomboy.


Dia tersenyum saat melihat semua orang menatapnya. Ken dan Ara tersenyum lebar melihat adik paling kecil mereka.


Langka kaki sang remaja putri itu semakin cepat saat melihat sang kakak berdiri serah menatapnya dengan senyuman yang manis.


"Kakak," teriaknya seraya berhambur di pelukan sang kakak.


Tubuh itu di dekap dan berputar seakan kemidi putar saja.


"Aku merindukan dirimu, kak," serunya seraya berdiri di depan sang kakak.


Sedangkan sang kakak hanya diam namun tangannya terus membelai rambut sang adik.


Abigail dan yang lainnya menghampiri sang remaja putri tersebut. Bergantian memeluknya, seperti Zyan dia mencium pipinya dengan gemas.


"Aku merindukan mu sayang," ucap Zyan.


"I miss you to, kak Zyan," jawabnya serah tersenyum.


Ken dan Ara masih berdiri di tempatnya, membuat remaja putri itu berlari cepat memeluk tubuh Ken. Mungkin bisa di bilang melompat tuk bisa memeluk tubuh sang kakak.


"Hey,, Hey,, kau itu sudah besar bukan lagi anak usia 10 tahun yang harus ku gendong," ucap Ken dengan nada sewot.


"Bairakan saja, aku rindu memelukmu seperti ini!" serunya yang masih bergelayut di tubuh Ken.


Semuanya tertawa melihat ke manjaan Vanya Anatasya, gadis yang sudah berumur 20 tahun itu akan tetap menjadi anak kecil yang manja jikq sudah berada dekat dengan Ken dan Ara.


"Haish, coba kalau liat Rio dan Rino yang melihatmu dengan rasa geli. Mereka adik-adikmu tapi kenyataannya kau lah yang menjadi adiknya!" seru Sam.


"Aahh,, kau selalu saja berkata seperti itu padaku!" sewot Vanya.


"Anya, jaga nada bicaramu!" perintah Ara.


Vanya hanya bisa tersenyum kuda karena mendapat omelan dari Ara. Alex dan Wiliem yang tak tahu hanya bisa diam memperhatikan.


"Anya, kemari!" pinta Sam.

__ADS_1


Dengan malas, Vanya pun melepas pelukannya dari Ken, dan berjalan ke arah Sam dengan malas.


Abigail hanya tersenyum tipis karena melihat Anna yang tertindas.


Vanya pun duduk di samping Sam, tapi setelah duduk bersama sifat manjanya kembali muncul. Terua bergelayut di lengan Sam, tanpa malu pun Vanya meminta Abigail menyuapi dirinya.


Mereka semua begitu menyayangi Vanya sama hal menyayangi Zee. Karena bagi mereka, Zee dan Vanya itu adik terkecil yang harus terus di jaga.


Saat Vanya menatap ke arah Zee, matanya terbuka lebar. Dadanya berdetak cepat, melihat sosok lelaki yang duduk di samping Zee.


"Kak Al," ucap lirih Vanya.


Abigail dan Sam pun menatap Vanya lalu mengikuti arah matanya yang sedang menatap Alex.


"Bukan, sayang. Dia orang lain, hanya mirip saja dengan Alfa," ucap Abigail.


"Benarkah? Aku kira dia kak Al," jawab Vanya sedih.


"Pergilah, sapa dia! Karena dia kekasih Zee!" pinta Sam.


Vanya pun mengangguk ia dia pergi menghampiri Zee dan Alex. Mata Vanya tetap saja berkaca-kaca karena merasa dia Alfa.


"Anya," panggil Zee. Saat melihat Vanya berdiri di depannya.


"Kak Zee, dia siapa?" tanya Vanya menatap Alex.


Zee menatap Alex dan mengangguk ia. Alex pun menyodorkan tangannya, tapi Vanya tetap diam dan menatapnya saja.


Zee yang melihat Vanya sudah menahan tangisnya pun mengisyaratkan pada Alex tuk memeluknya.


"Huwaa,,, kenapa kau begitu mirip dengan kak Al. Aku, aku merindukannya," isak Vanya.


Alex begitu tersentuh dengan semua perasaan sayang mereka pada sosok Alfa. Alex mengusap rambut dan punggung Vanya dengan pelan.


Semua orang terlihat terharu, sosok Vanya adalah gadis kecil kesayangan Alfa di masa hidupnya. Oleh karena itu Vanya sampai menangis hebat saat bertemu dengan Alex.


"Sudah jangan menangis! Sekarang ada aku, yang akan jadi Kak Al mu. Karena namaku juga Alex," ucap Alex.


Vanya menatap Alex dengan masih menangis, Alex menghapus air mata Vanya. Dan membuat Vanya tersenyum, dia seakan bertemu kembali dengan Alfa.


"Mommy," teriak Alya dari jauh bersama dengan Wiliem.


Vanya menengok kebelakang dan melihat adik kecilnya berlari ke arahnya.


"Al," teriak Vanya tak kalah heboh. Sedangkan Alya pun sama tersenyum melihat sang kakak.


Huph,,, mereka berpelukan. Alya sudah berada di gendongan Vanya. Mereka benar-benar saling melepas rindu.


"Darimana kau?" tanya Vanya.


"Membeli es krim bersama Daddy," jawab Alya polos.


"Daddy? Daddy siapa?" tanya Vanya.


"Emmmpph, Anya. Yang di maksud Daddy oleh Al itu saudara kembar Alex," jelas Zee.

__ADS_1


"Ahhh, kak Alex juga kembar sama seperti kak Zee?" tanya Vanya.


"Ya, kami kembar. Dan itu dia Wil, dia adikku!" seru Alex seraya menunjuk Wiliem yang berjalan ke arah mereka.


Vanya pun berbalik dan melihat seperti apa wajah kembaran Alex. Dan saat pertama melihat Wiliem mmbuat Vanya memicingkan matanya. Seakan mengingat sesuatu.


"Aku pernah melihatnya, tapi dimana yah?" batin Vanya.


Sendangkan Wiliem begitu terkejut saat melihat ada Vanya di sana. Mata Wiliem pun bertemu dengan Vanya, dan benar saja saat mereka saling berhadapan keduanya sama-sama melontarkan. "Kau, kenapa ada di sini?" ucap Wiliem dan Vanya bersamaan.


Sontak saja, teriakan Wili dan Vanya membuat semua menatap pada mereka.


"Ada apa? Kalian saling kenal?" tanya Zee.


"Tidak!" jawab singkat Wili dan Vanya bersamaan.


"Ada apa dengan kalian? Kenapa begitu kompak?" tanya Alex.


"Tidak!" seru mereka kembali bersama.


Semua orang tertawa melihat tingkah Wiliem dan Vanya. Tapi tidak dengan Vanya yang terlihat begitu kesal bertemu dengan Wiliem.


"Kenapa aku harus bertemu om-om mesum seperti dirimu, sih!" seru Vanya.


"Astaga, kau bilang apa? Om-om mesum, dasar tak sopan. Aku masih muda, bukan Om-om yang kau katakan!" balas Wiliem.


"Vanya! Jaga bicaramu!" perintah Sam.


"Kak, kau tahu apa yang dia lakukan saat di kampus, dia Om-om mesum!" seru Vanya.


Membuat mata Wiliem melotot penuh menatap Vanya, dan pernyataan Vanya pun membuat semua orang menatap Wiliem.


"Kalian salah paham, jangan dengarkan anak kecil ini!" pinta Wiliem.


Dengan cepat Wiliem menarik Vanya masuk ke dalam rumah Zee, itu menambah rasa curiga lagi pada mereka bedua.


"Apa yang terjadi pada mereka?" tanya Ara.


"Entahlah, rasanya sangat rumit," jawab Ken.


Wiliem terus menarik Vanya ke dalam rumah.


"Apa yang kau katakan? Itu semua kesalahan saja," ucap Wiliem.


"Apa kau bilang? Kesalahan, kau menciumku dan memelukku tanpa ijin!" seru Vanya.


"Haish, saat itu aku menolongmu. Jika tak ada aku, kau pasti sudah jatuh mencium lantai!" balas Wiliem.


"Lebih baik aku mencium lantai, dari pada di cium Om-om mesum seperti dirimu!" ujar Vanya seraya melotot pada Wiliem.


"Kau, akan ku pastikan kau akan mencintai Om-om mesum ini. Ingat itu!" ancam Wiliem seraya pergi keluar.


"Tidak akan, dan selamanya tidak akan pernah mencintai Om-om mesum seperti dirimu!" teriak Vanya.


Emosi Vanya benar-benar memuncak penuh karena Wiliem. Vanya masih ingat betul bagaimana pertemuan pertamanya dengan Wiliem.

__ADS_1


Selamat membaca


__ADS_2