
Kejadian siang itu benar-benar membuat Alya tak mau bertemu dengan Wil. Sedangkan, Zee dan Alex tak bisa membujuknya. Anak itu begitu keras kepala seperti mendiang ayahnya Alfa.
Setelah kepulangan Alya dan Vanya. Zee memberikan gaun tuk mereka berdua, tuk acara nanti malam.
Pukul tujuh malam, Alya sudah cantik dengan dress pinknya, Vanya juga sudah cantik dengan dres senada dengan Alya namun lebih muda saja warnanya. Zee pun memilih warna dres panjang dengan aksen blink-blink berwarna pink muda.
Alex sudah memakai tuxedo berwarna silver. Menyesuaikan dengan warna ketiga bidadarinya. Mereka pun sudah siap tuk berangkat, terdengar suara mobil di luar. Dan ternyata Wiliem datang dengan memakai tuxedo berwarna biru dongkar memasuki rumah Zee.
"Selamat malam semuanya," sapa Wil.
Semua orang terkejut melihat Wil datang ke rumah, Alya yang mendengar suara Wil. Memilih bersembunyi di balik Vanya.
"Kau kemari? Dengan siapa?" tanya Zee.
"Bukannya, aku selalu kemari jika ada pertemuan? Lalu kenapa kau bertanya?" tanya balik Wil.
"Ya, aku kira kau akan pergi bersama dengan Erika. Makanya, aku bertanya," jawab Zee.
"Erika, tentunya datang bersama dengan keluarganya. Tuk apa aku datang dengannya?" tanya Wil.
"Sudahlah! Lebih bak kita segera berangkat!" pinta Alex.
"Vanya kau ikut denganku!" pinta Wil.
Vanya terkejut dengan ucapan, Wil. Lalu menatap ke arah Zee. Zee mengangguk ia memberikan jawaban tuk segera mengikuti Wil.
"Al, mau bersama dengan kak Anya dengan Daddy?" tanya Vanya.
"No. Al bersama dengan Mommy saja!" seru Alya.
Wiliem hanya bisa menghembuskan napas panjang. Karena, Alya masih saja marah padanya.
Wil membukakan pintu tuk Anya, Vanya masuk begitu saja tanpa berubah sepatah kata pun. Wil kemudian masuk dan menjalankan mobilnya lalu bergegas mengikuti mobil Alex.
Di dalam mobil, Vanya hanya diam memandangi keluar jendela. Sedangkan, Wil melirik ke arah Vanya sebentar. Melihat betapa cantiknya Vanya malam ini.
"Kenapa, Alex dan Zee membawa Vanya dalam pesta? Apa mereka berniat menge akan Vanya pada kolega-kolega lain?" batin Wil.
"Lalu kenapa juga, Vany berdandan cantik seperti ini?" batin Wil begitu kesana karena merasa cemburu.
"Kenapa, aku begitu saja menuruti ucapan dari Wil? Suasananya jadi seperti ini kan?" batin Vanya.
Tak lama kemudian mobil mereka memasuki mansion yang begitu mewah, sangat begitu megah. Sudah terlihat banyak orang disana dengan berpakaian sangat rapih dan tentunya mahal.
Vanya tak menyangka akan ikut acara yang begitu besar seperti ini. Karena, terakhir dia mengikuti acara ini saat usianya berumur 12 tahun yang lalu.
"Apa kau gugup?" tanya Wil.
"Ya, ini sangat ramai. Aku jadi takut mempermalukan Kalian smeua," jawab Vanya.
"Santailah, tidak apa. Disini kau hanya harus diam dan sedikit tersenyum saja," ucap Wil.
Vanya menatap Wil, lalu mengangguk ia mengerti. Wil turun dari mobilnya, lalu membuka pintu mobil tuk Vanya.
Sudah banyak wartawan dan semua orang disana yang berbisik membicarakan Wil yang datang dengan gadis cantik. Kecantikan, Banyak memang diturunkan oleh Intan, dia berwajah asia plus timur tengah.
Wil menautkan tangan Vanya pada lengannya, membuat Vanya semakin berdebar tak karuan. Namun, Wil merasa begitu senang karena berhasil membuat Vanya hanya bisa diam tak berkutik.
Alex berjalan dengan menggandeng tangan mungil Alya, sedangkan Zee sudah melingkarkan tangannya di lengan Alex.
Mereka dia sambut dengan sangat antusias oleh semua kolega di sana. Memberikan senyuman paling baik tuk keluarga Sander.
__ADS_1
Ada sosok yang begitu marah, terbakar cemburu saat melihat Wiliem datang dnega. sosok gadis cantik disampingnya. Apalagi, tangan Wil tak lepas menggenggam tangan Vanya.
"Wah, siapa gadis beruntung itu? Dia begitu cocok dengan Tuan Wil,"
"Ya kau benar. Aku kira putri dari Tuan Diago yang akan berjalan di samping Tuan Wil. Ternyata bukan, siapa ya gadis itu?"
"Entahlah, aku juga baru melihatnya. Dia begitu cantik, elegan dengan dandanan yang begitu natural,"
Wil merasakan tangan Vanya menjadi dingin, membuatnya berbisik pada Vanya, "Jangan tegang, atur napasmu dengan benar. Tak ada yang perlu kau takutkan!".
"Aku begitu canggung, sedari tadi mereka membicarakan aku dan dirimu," ucap Vanya.
"Biarkan saja! Itu sudah biasa, aku rasakan. Jadi nikmatilah, menjadi Nyonya Wiliem tuk malam ini," bisik Wil.
Vanya hanya bisa menelan saling nya. Lalu mencubit lengan Wil, karena kesal. Sedangkan, Wil malah tersenyum di buatnya.
Erika semakin cemburu dengan tingkah Wil dan Vanya. Apalagi, Wil tersenyum begitu tulus saat bersama Vanya.
"Kenapa kau membawa gadis itu? Dan bukannya bersama denganku, apakah selama sebulan ini aku masih belum pantas bersanding dengan dirimu?" batin Erika.
Gadis itu begitu kesal sampai membuatnya meremmas gaun yang dia pakai. Ekspresinya begitu terlihat marah dan cemburu.
Alex dan Wil pun menyapa semua kolega-kolega mereka. Mengenalkan satu sama lain, Alya begitu di sukai oleh semua ibu-ibu disana karena sikap dan sifatnya yang menggemaskan namun tetap sopan. Membuat, Alex, Zee dan Wil begitu bangga padanya.
"Tuan Wil, apakah ini calon istri anda?"
"Calon istri? Oh, tentu bukan. Tapi, dia calon ibu dari anak-anakku," jawab Wil.
Zee dan Vanya begitu terkejut dengan jawaban Wil. Sedangkan, Alex hanya tersenyum renyah mendengar itu.
Vanya semakin menjadi gugup disana, tapi dia juga tak bisa pergi begitu saja. Karena akan membuat jelek nama keluarga Sander.
"Wow, calon ibu ternyata. Dia begitu cantik dan muda, sepertinya anda akan mendapatkan banyak anak dari Nona ... -?"
Membuat semua yang berada di sana menatap ke arah Vanya dengan serempak.
"Yang anda maksud adalah Aldo dan Intan Ayu tangan kanan dari Tuan Raya?" tanya lelaki paruh baya.
"Ya, anda benar Tuan Robert. Aldo sosok lelaki yang dahulu menguasai semua perusahaan di Singapore," jawab Alex.
"Wah, ini begitu mengejutkan. Malam ini kita semua kedatangan sosok anak pengusaha terkenal pada masanya," ucap Robert.
Vanya menunduk malu akan semua kenyataan pada dirinya. Sosok yang selama ini dia sembunyikan dari orang luar.
"Ekhem, anda terlalu berlebihan Tuan Roberto," ucap lelaki bersuara bariton.
Ternyata Zyan dan Sam sudah berdiri tegap tepat di belakang mereka. Vanya mengangkat wajahmu terlihat sosok Sam sedang menatapnya.
"Lexion Putra, anda juga datang?" tanya Robert.
"Tentunya, karena aku masih memegang perusahaan dari Lexion Company," jawab Zyan.
"Selamat malam, Nona Kim," sapa Robert.
Abigail hanya tersenyum membalas sapaan dari Robert. Kiara dan Abi menghampiri Vanya lalu cipika-cipiki begitu juga pada Zee.
"Wah,,, wah,,, ternyata kalian adalah keluarga dari kalangan terkenal. Aku sungguh tak menyangka jika kalian saling kenal," ucap Diago sambil berjalan ke arah mereka.
"Anda salah, Tuan Diago. Kami bukan hanya saling kenal, tapi kami semua satu keluarga," ucap Zee.
Diago dan Robert mengerutkan keningnya begitu pula semua orang disana yang terkejut akan jawaban dari Zee.
__ADS_1
"Maksud anda, Nona Zee?" tanya Robert.
Tak lama kemudian sosok yang mempunyai mansion pun keluar yaitu Tuan dan Nyonya Luis dengan sepasang suami istri di samping mereka.
"Selamat malam, Tuan dan Nyonya sekalian. Saya Luis akan memeperkenalkan sosok yang sangat berjasa di hidup keluarga kami. Sepasang suami istri yang begitu hebat. Mereka adalah Tuan Ken Liu dan Nyonya Aurora Kenzia Putri," ucap Luis.
Mendengar nama sang kakak di sebut membuat snah adik-adik menengok ke arah podium. Terlihat Ara dan Ken berdiri disana dengan sangat serasi. Begitu berwibawa, begitu elegan.
"Silakan, Tuan Ken katakanlah sesuatu tuk menyambut pesta ini.
Mata Ken dan Ara tertuju pada semua adik-adiknya yang berada tepat di tengah kerumunan. Begitu pula dengan sang adik, tak percaya melihat kedua kakaknya berada di podium.
"Hallo selamat malam semuanya, mungkin sebagian dari anda-anda semua sudah mengenal saya dan istri sebagai seorang Dokter. Tapi, malam ini saya akan mengenalkan diri saya kembali dan istri saya dengan status yang berbeda," ucap Ken.
"Saya Kenzio Liu dan ini istri saya Aurora Kenzia Putri, anak pertama dari Bumi Raya Putra pengusaha Indonesia yang merajai Singapore dan Amerika. Sedangkan saya adalah cucu dari Liu En Pengusaha dari negri Tiongkok. Dan harap anda semua tahu, Zee dan Lexion adalah adik dari Kenzia," ucap Ken.
Semua orang kembali di kejutkan oleh kenyataan ini, pantas saja sikap dari Zee dan Zyan mengingatkan semua orang pada sosok Bumi dan Azura.
"Mereka menikahi, pewaris tahta dan pengusaha dari negri sebrang. Park Kiara pewaris dari Park Grup, sedangkan Kim Ae Ri adalah penerus tahta dari Korea, yang menikah dengan Samudera Andero putra dari Aldo dan Intan" sambung Ken
Semua orang berbisik sambil menatap mereka, Roberto dan Diago sangat terkejut mengetahui silsilah keluarga Zee. Alex dan Wil pun tersenyum tipis mengingat bagaimana semua orang segan pada keluarga mereka. Tanpa semua orang tahu, keluarga besar Zee membuat mereka semakin tunduk.
"Astaga, kekuasaan mereka begitu besar jika di gabungkan. Jangan, macam-macam pada keluarga mereka,"
"Ya, benar. Jangan sampai kita mempunyai masalah dengan mereka, apalagi sampai menyinggung mereka,"
"Penjilat, bermuka dua, seperti itu lah mereka setelah mengetahui kita yang sesungguhnya," ucap Sam.
"Terimakasih, mungkin itu saja yang saya sampaikan. Dan saya berharap pada anda sekalian, tuk tidak melihat seseorang itu hanya dari kelasnya saja, tapi cobalah menerima dia apa adanya," ucap Ken.
Sambutan tersebut pun sekaligus membuka perjamuan disana. Ken berpelukan dengan Luis begitu pula Zee.
Vanya mendekati Sam lalu memeluknya, Sam mencium kening Vanya. Dan lagi, Wil hanya bisa memalingkan wajahnya. Sedangkan, Vanya inget akan perkataan Wil. Saat Sam akan mencium pipinya, Vanya menghindar.
"Aku sudah besar, jangan mencium seluruh wajahku jika ada di luar," ucap Vanya.
Sam memicingkan matanya menatap Vanya, lalu melihat Wil.
"Apa kau sudah memiliki kekasih?" tanya Sam.
"Kak, aku kan sudah besar. Usiaku sudah 20 tahun, bukan lagi anak yang berusia 10 tahun," jawab Vanya.
Wil tersenyum tipis saat, Vanya menolak di cium oleh Sam. Entah kenapa hatinya begitu senang.
Ara dan Ken menghampiri semua adiknya, Zee memeluk Ara, Alya sudah gendong pada Ken dengan manja. Terlihat begitu harmonis keluarga besar itu.
"Apakah harus, kakak memberitahukan siapa kita yang sebenarnya?" tanya Sam.
"Aku sudah memikirkan semua ini, jadi dengan begini orang-orang ingin melakukan kejahatan pada kita akan lebih waspada. Karena, kakak mempunyai banyak sekutu," ucap Ken.
"Ada apa? Apa sudah ada yang terjadi?" tanya Zyan.
"Perusahaan yang di pegang oleh Uncle Leo sudah bangkrut. Dan tak ada yang tahu nasib mereka seperti apa," jawab Ara seraya menatap Sam.
Abigail dan Vanya menatap Sam, merrka sedih mengingat akan Leo, Cessi dan Zyvia. Tapi, Sam terlihat biasa saja. Tak terlihat ke khawatiran atau kesedihan di wajahnya.
"Mana mungkin, kak. Bukannya, Uncle sudah memegang perusahaan itu sangat lama?" tanya Zee.
"Sebaiknya kita bicarakan itu, nanti. Banyak telinga dan mata-mata di sini," ucap Alex.
Semuanya pun mengangguk, kembali menikmati pesta malam itu. Suasana yang semula tegang, mulai berangsur baik dan lebih tenang.
__ADS_1
Malam semakin larut, pesta lun semakin asyik saja. Bagi yang masih lajang puncak acara malam hari begitu di nanti.