
Kini Rafli dan Ana telah di rawat di rumah sakit Charite yang di kenal merupakan rumah sakit yang terbaik kelima di dunia dan terbaik di Eropa , lagi pula perusahaan pusat keluarga Wijaya beroperasi di daerah Berlin membuat Wijaya memilih rumah sakit tersebut serta dokter terbaik mengenai saraf ia panggil dari berbagai penjuru rumah sakit di dunia demi kesembuhan anak dan mantunya .
Bunga yang saat itu telah mengetahui keadaan Ana dari pembantu Lia pun kini ikut terbang ke Berlin .
* Flashback *
Awalnya Bunga berniat ingin berpamitan pada Lia dan Wijaya yang ia dengar ada di kota J , Bunga bermaksud berkunjung ke mansion Wijaya namun kabar mengejutkan ia dengar saat bisik-bisik pelayan membicarakan keadaan komanya Rafli dan Ana , apalagi keadaan Ana makin memburuk kala itu membuat Bunga mengurungkan niatnya untuk kembali ke Inggris.
Bunga diantar dengan supir keluarga Wijaya kerumah sakit milik keluarga Wijaya kala itu , tanpa sengaja tatapannya tertuju pada anak kecil yang dekat dengannya dulu tengah menangis terisak karena rindu sang ayah yang tak kunjung bangun membuat Lia kesusahan menenangkannya dan di lihat pula sang ibu yang kesusahan merawat Rava yang juga terlihat rewel , Bunga berbalik hendak menuju ruangan Ana namun Lia lebih dulu memergokinya membuat Bunga berjalan menunduk mendekati Lia karena masih merasakan takut .
" Bunga , bantu aku merawat cucuku selama Ana dan Rafli kembali sadar " ucap Lia memelas , ia tak percaya cucunya di rawat sembarangan orang .
" Tapi jangan melebihi batasanmu " ucap Lia memperingati.
" Jika Bunga memang di butuhkan , Bunga akan membantu demi kak Ana " ucap Bunga lirih , air matanya menetes.
" Dan Bunga akan mengerti batasan Bunga , Tante " ucap Bunga , ia merasa pantas jika semua orang kecewa padanya .
'' Masuklah dulu kedalam dan bantu aku membujuk Jelita , bocah itu susah makan " ucap Lia dan diangguki Bunga.
'' Ibu '' ucap Bunga lirih dan air matanya menetes.
'' Maafkan Bunga Bu ...hiks...hiks... Maafkan Bunga " Isak Bunga saat melihat Bi Jum.
'' Ibu telah memaafkan anak ibu , ibu tak mungkin marah. Tapi ingat jangan melakukan kesalahan kembali , jika tidak kau tak akan melihat ibumu lagi " ancam Bi Jum menahan sesak di dadanya , berapa kali Bunga memohon bertemu namun wanita paruh baya ini menolak karena kecewa kepada putrinya yang telah ia peringati agar tak menganggu keharmonisan keluarga majikannya yang memperlakukannya selayaknya keluarga .
'' Bunga janji Bu . Bunga janji , demi apapun " ucap Bunga serius dan lalu di peluk Bi Jum.
'' Bunga , ayo coba tenangkan Jelita " pinta Lia , ia telah memaafkan Bunga sejak lama karena Ana sendiri telah memaafkan Bunga meski rasa kecewa serta was-was itu masih ada . Lia akan memerintahkan Ida untuk khusus mengawasi Bunga nantinya , ia tak mau salah untuk kedua kalinya . Jujur saja , Lia sebenarnya hanya membutuhkan Bunga untuk mengurus cucunya saja , terutama Jelita yang memang begitu manja karena Rafli memang begitu memanjakannya.
.
.
.
Tiga bulan lebih Rafli dan Ana telah koma namun keadaan masih sama saja membuat Gunawan kian bersedih melihat gairah hidup cucunya Dewa semakin tak bersemangat , banyak motivasi yang ia berikan untuk Dewa agar semangat namun Dewa terlihat acuh.
Jika Gunawan bersedih sama halnya dengan Jimmy yang pusing bukan kepalang . Perusahaan yang begitu sibuk serta urusan mencari dokter ia turut ikut serta di tambah kini Rahma dan ibu mertuanya merengek ingin kembali ke kota J karena Laras ingin sekali melihat cucunya yang telah lahir satu bulan yang lalu , kebohongan besar terpaksa Gunawan dan keluarga Wijaya buat agar keadaan Laras yang baru saja membaik tidak kembali drop.
Pintu diruangan Jimmy di ketuk dan Rahma pun masuk setelah sang suami mengizinkan .
Jimmy menghembuskan nafasnya kasar , alasan apalagi yang harus ia buat , dulu karena urusan kantor yang sibuk lalu kesehatan ibu mertuanya , lalu ia kembali beralasan karena urusan kantor hingga membuatnya terpaksa tidur di apartemen dengan alasan keluar kota dan terkahir ia terpaksa harus berbohong karena sakit membuat dirinya harus berakting sakit .
'' Mau alasan apalagi " tanya Rahma menahan geram.
'' Ibu ku hanya mau bertemu dengan mbak Ana serta cucunya " ucap Rahma dingin , membuat Jimmy ingin rasanya menghilang saja .
'' Katakan padaku , ada apa sebenarnya " tuding Rahma membuat Jimmy berfikir apakah akan menceritakan semuanya atau tidak .
'' Berjanjilah untuk tenang dan jaga rahasia ini " ucap Jimmy pelan , ia menghela nafasnya dalam agar bisa leluasa menceritakan apa yang terjadi .
__ADS_1
Jimmy mulai menceritakan semuanya dan terlihat Rahma menutup mulutnya serta air mata yang terus mengalir deras mengiringi tiap cerita Jimmy.
'' Jika kau tak mampu mendengar cerita berikutnya , aku akan berhenti '' lirih Jimmy , pria yang tak pernah menangis itu kini kembali menitihkan air matanya.
'' Lalu , bagaimana dengan keponakanku nantinya serta nasib mbak Ana kenapa setragis ini " Isak Rahma .
'' Kau harus menemukan dalang utamanya Jimmy " teriak Rahma segera di bekap mulutnya oleh tangan Jimmy .
'' Tenangkan dirimu , nanti ibu mendengar " pinta Jimmy lirih membawa Rahma dalam pelukannya .
'' Aku tidak bisa tenang Jim ,sungguh. Bagaimana jika ibu mengetahuinya , kita tidak mungkin terus berasalan . Sementara kapan mereka sadar kita tak tau " Isak Rahma kembali .
'' Tahan ibu sebisa mungkin selama sebulan ini. Kita berdoa yang terbaik dan terus berusaha , karena ini keputusan bapak dan demi kesehatan ibu " ucap Jimmy menatap mata sembab yang terus mengalirkan air mata itu dengan perih.
'' Aku akan berusaha Jim . Tolong lakukan yang terbaik " pinta Rahma.
'' Tanpa kau pinta , aku akan melakukan yang terbaik " ucap Jimmy .
.
.
.
Bunga dan Bi Jum kini sedang di taman belakang yang begitu luas lahannya , terlihat taman bunga serta kolam renang dan kolam ikan yang begitu memanjakan mata , tak ada kebun sayur dan buah disini berbeda dengan mansion Rafli di kota J yang kini di jaga oleh pelayan dan Baim serta tim nya . Terkadang Devan juga kesana ( mansion Rafli ) diperintahkan oleh Wijaya untuk mengurus usaha Rafli yang berada di Asia tepatnya di seluruh Indonesia dan sekitarnya terutama yang berada di kota J yang menjadi pusat perusahaan milik Rafli pribadi yang kini atas nama sang istri pemegang saham terbesar. Alex sendiri dititipkan dimansion Rafli agar Devan bisa fokus untuk bekerja , komanya Rafli cukup membuat perusahaan itu posisinya bergeser turun satu peringkat sementara peringkat tertinggi masih perusahaan Wijaya yang mengunggulinya , perusahaan Rafli berada di peringkat tiga saat ini . Kini Devan mulai fokus pasca kesedihannya di tinggal Alexa , ia akan membuat perusahaan itu menjadi peringkat paling teratas.
.
.
.
Para dokter memasuki ruang rawat Rafli yang saat ini menunjukkan perkembangan cukup pesat , para dokter bernafas lega karena Rafli mampu melewati masa kritisnya di ikuti ucapan syukur para keluarga yang lainnya .
Namun wajah Lia mendadak cemas , apa jawabannya saat Rafli menanyakan Ana dan bayi kembarnya itu .
" Bagaimana ini pa " ucap Lia menangis terisak di dekapan sang suami .
" Kita harus mengatakannya perlahan , tapi tidak saat ia sadar . Biar papa yang bicara padanya " ucap Abdli lirih dan diangguki Lia .
" Mama tak sanggup berkata pa . Mama takut keadaan Rafli nanti malah memburuk " ucap Lia dan di mengerti oleh Abdi.
Esoknya Rafli telah bergumam dengan menyebut nama Ana dengan begitu pelan membuat Lia segera membangunkan sang suami yang memang memilih tidur disana bersiap jika Rafli mulai terbangun.
'' Ana " ucap Rafli lirih dengan jemari yang mulai digerakan pelan dan kelopak mata masih tertutup namun mulai bergerak.
'' Ana " imbuhnya.
'' Ana " ucap Rafli kali ini dengan kelopak mata terbuka lebar .
'' Dimana ini , dimana Ana " ucap Rafli pelan .
__ADS_1
'' Minum dulu ya " ucap Abdi menyodorkan Rafli minum sebelumnya ia telah membantu Rafli bersandar perlahan .
'' Sabar ya , sebentar lagi dokter kesini " ucap Lia yang telah menekan tombol khusus yang langsung tertuju pada ruangan dokter .
'' Ma , ini dimana , kenapa seperti rumah sakit , dimana Ana " ucap Rafli menyentuh kepalanya yang kini terasa pusing .
'' Nanti ya , kita tunggu dokter dulu " ucap Lia dan Rafli menurut.
Dokter Mark yang sebagai ketua dokter yang mengurus Rafli serta Ana memasuki ruang rawat Rafli . Dokter Mark tersenyum saat tak ada yang perlu di khawarirkan.
'' Puji syukur , pasien telah sehat dan hanya butuh sedikit pemulihan " ucap dokter Mark membuat Lia dan Abdi bernafas lega.
'' Kalau gitu saya permisi dulu " imbuhnya .
'' Terimakasih ya dok " ucap Lia dan diangguki dokter Mark ramah.
'' Ma , Ana dimana " tanya Rafli .
'' Ma , telepon Ana untuk kemari " ucap Abdi membuat kebohongan kembali paling tidak mampu membuat Rafli tenang beberapa saat pikirnya.
'' I....iya pa " ucap Lia gugup.
'' Pa , apa bayi kami baik-baik saja " tanya Rafli teringat akan kandungan Ana .
'' Papa , minta maaf. Kami semua gagal menyelamatkan mereka berdua '' gumam Abdi dengan kepala menunduk . Wajah Rafli mendadak mendung dengan tubuh yang bergetar hebat , tak lama tangisnya pecah menyayat hati , bayangkan saja bayi yang di nanti - nanti harus tiada karena peristiwa penembakan tersebut bahkan belum di lihatnya sama sekali.
'' Pa... ma.... hiks...hiks... lalu bagaimana dengan Ana , apa ia baik-baik saja saat mengetahui bayinya telah tiada " tanya Rafli terisak , kepalanya mendadak nyeri memikirkan semuanya.
'' Kau harus kuat nanti di depan istrimu , beri ia dukungan ya " ucap Lia air matanya juga lolos begitu saja.
'' Maafkan mas Ana , mas suami tak berguna menjagamu hingga kita harus kehilangan anak dalam kandunganmu " teriak Rafli memukul dadanya sendiri dan aksi itu segera di hentikan Abdi.
'' Dengarkan papa , biarkan anak kalian menjadi penolong kalian kelak. Belajarlah untuk ikhlas Rafli " ucap Abdi tenang.
'' Papa tidak berada di posisiku dan Ana. Bagaimana bisa kami untuk ikhlas. Takdir biasanya membiarkan orang tua lebih dahulu pergi dari pada anaknya namun kenapa anakku yang lebih dulu pergi pa " teriak Rafli masih menangis .
'' Bahkan aku belum sempat menggendongnya , mengadzankan nya , malah aku belum sempat melihatnya . Bahkan kesempatan melihat tak ada pa. Apa takdir sekejam ini padaku dan Ana pa , aku hanya butuh hidup bahagia dengan Ana serta anakku dan kalian semua " isaknya lirih.
'' Tenangkan dirimu nak. Jangan begini , kau juga harus semangat dan mencoba belajar untuk ikhlas. Ingat , kau masih mempunyai empat anak yang butuh perhatianmu , ada Jelita yang selalu manja padamu '' ucap Lia memeluk anak bungsunya tersebut.
'' Tapi aku tak bisa ikhlas ma , jika tentang anakku " lirih Rafli .
'' Jangan menangis , sebentar lagi Dewa dan Arjuna tiba dengan bapak mertua mu " ucap Lia memang ini waktu biasa Dewa datang bersama Gunawan.
'' Ibu mertuaku apa tau tentang ini semua " tanya Rafli dan di jawab gelengan oleh Lia..
'' Pak Gunawan memutuskan merahasiakan kejadian ini '' ucap Abdi , ia merasa menyindir dirinya sendiri.
'' Biar aku dan Ana memberitahukannya secara perlahan pa " ucap Rafli membuat hati Lia tak tenang , karena kondisi Ana sendiri belum ada kemajuan yang berarti saat ini..
Jangan lupa like dan komentarnya ya
__ADS_1
Sorry telat up nya