
"Aku harus menemukan Anisa lebih dulu, sebelum Alina bertemu dengan nya!" Gumam Raka sambil terus berpikir bagaimana dia bisa menemukan Anisa tanpa Alina tahu.
"Adam! Dia pasti tahu. Aku tidak percaya saat dia bilang dia tidak tahu tentang keberadaan Anisa."
Diam-diam Raka akhirnya mengikuti Adam kemana pun dia pergi. Hingga akhirnya pada sore hari, mobil Adam terlihat memasuki basement sebuah apartemen.
"Apartemen ? Untuk apa Adam kesini? Setahu ku dia tidak tinggal di apartemen." Gumam Raka sambil terus memperhatikan gerak gerik Adam.
Dari kejauhan Raka terus mengikuti Adam. Sampai Adam berhenti di depan salah satu unit di apartemen itu dan menunggu seseorang membuka kan pintu untuk nya.
Benar kan dugaan ku!
Dengan cepat Raka langsung berlari menghampiri Adam dan Anisa.
"Sudah ku duga kamu yang menyembunyikan Anisa! Dasar b*jingan!!!" Satu kepalan tangan Raka mendarat di wajah Adam hingga Adam hampir saja jatuh.
"B*jingan???"
~Buggh
Adam membalas Raka hingga keluar sedikit darah dari sudut bibir nya.
"Stop!!! Berhenti kalian berdua!!!" Teriak Anisa.
Teriakan Anisa membuat Raka mengalihkan pandangan nya pada Anisa.
Anisa yang saat itu mengenakan pakaian yang sedikit menunjukkan bentuk tubuh nya, membuat perut nya yang sudah mulai membesar terlihat sangat jelas.
__ADS_1
"Anisa.. perut kamu? jadi benar kamu hamil ?"
Sebelum Anisa menjawab, Adam dengan cepat sudah berdiri di depan Anisa dan menghalangi pandangan Raka.
"Anisa, jawab aku!" Desak Raka.
"Aku tahu kamu kakak ipar Anisa, tapi kamu tidak berhak ikut campur urusan pribadi Anisa." Selah Adam.
"Aku tidak bicara dengan mu! Aku sedang bertanya pada Anisa! Kamu yang terlalu ikut campur."
"Aku? Ikut campur? Oh.. jelas saja karena aku ini calon suami Anisa. Sedangkan kamu? Kamu siapa? Lebih baik kamu pergi dari sini."
"Aku tidak akan pergi dari sini sebelum Anisa mengatakan anak siapa yang sedang di kandung nya!"
"Sudah jelas ini anak aku!" Ucap Adam penuh keyakinan.
"Kamu gila Raka! Atas dasar apa kamu mengatakan hal gila seperti itu!"
"Karena kita pernah melakukan nya! Kamu lupa?"
"Stop!!! Diam!!! Jangan pernah mengatakan hal itu lagi !!! Itu kesalahan terbesar yang pernah aku lakukan. Aku tidak mau mendengar dan mengingat hal itu !!!" Anisa menutup kedua telinga nya.
"Jadi benar itu anak ku?" Desak Raka.
"Iya! Ini anak kamu! Puas kamu??? Sekarang kamu pergi dari sini. Aku tidak ingin lagi melihat wajah kamu. Aku bahkan sudah menganggap kamu mati !"
"Aku tidak akan pergi Anisa karena aku harus bertanggung jawab terhadap anak ku."
__ADS_1
"Tidak perlu repot- repot mengurusi anak yang ada dalam kandungan ku ini. Aku dan anak ini tidak membutuhkan kamu. Sudah ada Adam yang bersedia menjadi ayah nya."
"Tidak!!! Itu anak ku! Bukan Adam!"
"Mau kamu ini sebenarnya apa Raka?"
"Mau aku? Aku mau kamu mengijinkan aku untuk bertanggung jawab terhadap kehamilan kamu. Aku akan menikahi kamu!"
"Menikah??? Kamu benar-benar sudah gila Raka! Sudahlah, lebih baik kamu pergi dan jangan pernah temui aku lagi." Kata Anisa langsung berbalik hendak masuk ke dalam apartemen.
"Aku akan menceraikan Alina dan memberitahu apa yang sebenarnya terjadi."
Langkah Anisa terhenti saat mendengar kata-kata Raka.
"Kamu sadar dengan yang baru saja kamu ucapkan Raka?"
"Ya! Tentu saja. Aku tidak ingin menjadi laki-laki yang tidak bertanggung jawab."
"Baiklah. Terserah kamu! Kalau kamu ingin melihat ku mati bersama janin ini, silahkan kamu beritahu semua kepada kak Alina! Aku lebih memilih mati daripada secara terang-terangan menghancurkan kakak aku sendiri."
"Anisa, jangan mengancam ku seperti itu."
"Keputusan ada di tangan kamu."
Kali ini Anisa benar-benar masuk di ikuti oleh Adam, meninggalkan Raka seorang diri.
...*****...
__ADS_1