Takdir Cinta

Takdir Cinta
259


__ADS_3

Pesawat yang di naiki oleh Zee dan Alex telah lepas landas. Perasaan Zee lepas semua sama seperti pesawat yang dia naik melepaskan semua bebannya. Terbawa angin dan menjelma menjadi awan yang akan hilang dengan seiring nya waktu.


"Semoga kau bisa mengerti apa yang aku utarakan, semoga kau menjadi olwanita yang kembali baik dan bisa menerima semua masa lalu mu sendiri dengan mengalahkan ego di dalam hatimu," batin Zee.


Alex menggenggam tangan Zee, menciumnya begitu mesra. Membuat hati Zee begitu senang.


"Lepaskanlah sekarang juga! Aku ingin kau bahagia tanpa mengenang masa lalu mu yang begitu buruk. Ingat, Zee ada aku dan Alfa bersama kita," ucap Alex.


Zee menatap sang suami dengan mata yang berkaca-kaca tapi terlihat juga senyuman manis di wajahnya.


"Aku akan melupakan semuanya. Mencoba tuk bisa tetap menguburnya dalam-dalam, tetaplah bersama dengan diriku!" pinta Zee.


Alex melingkarkan tangannya pada tubuh Zee, Zee begitu nyaman jika sudah berada dalam dekapan sang suami.


"Aku akan berada di sisimu sampai tua, sampai waktu memisahkan kita berdua," balas Alex.


"Terimakasih," ucap Zee seraya tersenyum pada Alex.


Tanpa mereka sadari, setiap harinya mereka selalu bersama menjaga Alya. Terlihat ikatan pertemanan yang terjadi begitu saja, perbedaan usia tak membuat mereka canggung atau terlihat ada batasan umur.


Wiliem dan Vanya seakan sedang menjaga anak mereka yang tak bisa diam barang sebentar saja. Apalagi, sekarang mereka sedang di arena bermain di dalam Mall. Alya memilih tinggal bersama dengan Wiliem di Finlandia. Membiarkan sang Mommy berbahagia dengan Daddy barunya.


"Kapan dia akan lelah? Ini sudah dua jam berlalu. Tapi, Alya masih sah asyik bermain?" tanya Wili.


"Apa kau lelah? Jika ia, aku akan memanggilnya tuk berhenti. Kita pulang saja," jawab Vanya.


Wiliem hanya tersenyum lalu mengangguk ia. Vanya pun berteriak memanggil sang ponakan tuk segera berhenti. Untung saja, Alya juga sudah merasakan lelah, jadi anak itu memutuskan tuk berhenti.


"Daddy, gendong! Al, sangat lelah," pinta Alya dengan nada manja.


Wiliem pun menggendong putrinya itu, membawanya keluar dari arena bermain. Mereka memutuskan tuk makan siang terlebih dahulu.


"Al, kau mau makan apa?" tanya Vanya.


"Pizza saja, kak. Alya sudah lama tak makan pizza," jawab Alya seraya tersenyum.


"Baiklah, kita akan pesan pizza saja. Lalu minumannya jus alpukat dan stobery?" tanya Vanya.


"Ok," jawab Wili dan Alya bersamaan.


Vanya pun memesan makanan yang sudah mereka sepakati. Alya begitu manja pada Wiliem, Vanya tersenyum melihat kedekatan mereka.


"Apa akan kembali ke Paris?" tanya Wili.


"He'em, setelah selesai liburan aku akan kembali menjalani kuliahku," jawab Vanya.


"Kak Anya, akan pergi jauh lagi dong? Alya akan rindu kakak," ucap Alya sedih.


"Tahun depan, kita masih bisa bertemu lagi. Kakak kan masih ada dua bulan lagi disini, jadi kita masih bisa bersama-sama," jawab Vanya serah membelai wajah Alya.

__ADS_1


"Yey,,, aku masih bisa bermain dengan kak Anya dan Daddy," sering begitu senang.


Wiliem tersenyum melihat Vanya, entah kenapa saat melihat dirinya membuat Wiliem senang. Entah rasa apa yang di rasakan Wiliem.


"Kau jangan berpikir macam-macam, Wil. Dia itu masih sangat muda, ingat akan usiamu!" seru Wiliem dalam hati.


Tak lama kemudian pesanan mereka pun datang, dua anak manusia itu terlihat seperti satu keluarga yang begitu harmonis. Sampai menjadi tontonan pengunjung lain, mereka semua berbisik tentang mereka.


"Wah, lihatlah anak perempuan itu begitu dekat kekasih Daddynya!"


"Ya, coba kau lihat wanita muda itu sepertinya juga sangat menyayangi anak dari lelaki itu,"


"Wah, pasangan yang begitu romantis dan harmonis yah, walau pun usia mereka sepertinya berbeda jauh."


"Tapi, coba lihat lelaki itu dewasa namun tetap tampan. Sedangkan wanita muda itu juga cantik. Aku rasa sangat cocok,"


Vanya dan Wiliem yang mendengar ucapan mereka pun hanya diam menunduk seraya menghabiskan makanan mereka. Mata Vanya dan Wiliem saling bertemu dan itu semakin membuat mereka menjadi canggung dan tak enak.


"Astaga, dasar ibu-ibu kenapa mereka berbicara seperti itu. Tidak tahu apa, kalau Om-om ini pasti sudah memiliki kekasih," batin Vanya.


"Astaga, Vanya pasti sangat malu berjalan dengan diriku yang sudah tua ini. Jangan sampai, Vanya berpikir yang tidak-tidak padaku!" batin Wiliem.


Alya yang sudah menghabiskan banyak pizza pun akhirnya merasa sakit perut. Tapi, tetap saja anak kecil itu masih saja bisa memakan kentang goreng dan jus stobery nya.


"Dad, kak," panggil Alya membuat keduanya terasa dari lamunan mereka.


"Ya, sayang," sahut mereka bersamaan.


"Cie,,, cie,,, cie,,, Daddy sama Kak Anya selalu berbicara bersamaan," ledek Alya.


"Husssttt, Al. Tidak boleh seperti itu, tidak sopan!" seru Vanya.


Alya pun langsung menutup mulutnya dengan tangan mungilnya. Membuat Wiliem tersenyum seraya menggelengkan kepalanya.


"Apa sudah selesai, kita pulang sekarang?" tanya Wiliem.


"Ok, ayo kita pulang!" balas Alya begitu bersemangat.


Wiliem pun membayar pesanan mereka, setelah itu keluar dari sana dengan bergandengan tangan. Alya berada di tengah Vanya dan Wiliem.


Vanya melihat ke arah Wiliem yang begitu menyayangi Alya. Walaupun, dia itu bukanlah anaknya, Vanya bersyukur karena Alya bisa merasakan kasih sayang dari sosok Ayah, biarpun itu bukanlah Alfa.


"Kau bisa tenang kak, lihat putri begitu bahagia dengan Wil. Dia, Daddy yang baik. Kak Zee, juga berbahagia dengan Kak Alex. Kak Al, aku merindukan dirimu," batin Vanya. Tak terasa air matanya mengalir begitu saja di wajah cantiknya.


Wiliem yang berjalan di samping Vanya pun menengok ke arah Vanya dan terkejut melihat Vanya yang menangis.


"You ok? Kau tak kenapa-napa kan?" tanya Wili cemas seraya melepas tangan Alya dan menarik tubuh Vanya.


Vanya begitu terkejut mendapat perilaku seperti itu dari Wiliem pun, begitu kaget.

__ADS_1


"Wil, aku baik-baik saja. Tidak apa-apa," jawab Vanya seraya menghapus air matanya.


Alya terlihat sedih dan takut melihat Vanya menangis. Membuat gadis kecil itu menangis lalu memeluk tubuh Vanya.


"Kak Anya kenapa, jangan menangis!" pinta Alya dengan menangis.


Wiliem pun sama begitu cemas. Entah kenapa, dirinya begitu khawatir hanya karena melihat Vanya menangis.


Vanya menatap sedih sang ponakan, mencium kepala Alya yang begitu cemas padanya.


"Kakak tidak apa-apa sayang. Hanya sedang rindu saja pada seseorang," jawab Vanya.


Tiba-tiba Wiliem menarik tubuh Vanya dan memeluknya. Vanya begitu terkejut, tapi entah kenapa pelukan itu rasanya begitu nyaman. Air mata Vanya mengalir deras.


"Jangan menangis! Katakan padaku, ada apa. Kau bisa ceritakan padaku!" pinta Wiliem.


Vanya hanya bisa mengangguk, seraya membalas pelukan dari Wiliem. Wil, begitu lega karena pelukannya tak di tolak oleh Vanya.


Setelah merasa lebih tenang, Vanya menghapus air matanya lalu melepas pelukannya.


Wajah Vanya dan Wil begitu dekat, keduanya mencoba tersenyum agar tak terasa canggung.


"Alya sayang. Jangan sedih yah! Kak Anya sudah tak apa-apa kok. Sekarang kita pulang?" tanya Vanya.


"Hemm, kita pulang!" balas Alya.


Wiliem menggendong Alya, tangannya pun mengandeng tangan Vanya begitu erat. Vanya hanya tersenyum sedangkan Wili hanya diam menatap ke depan.


Setelah mengantar Alya dan Vanya. Wiliem pun pulang ke mansion-nya, di dalam kamarnya Wiliem merebahkan tubuhnya dengan mengingat apa yang sudah dia lakukan pada gadis itu.


"Setelah beberapa minggu bersama dengan dirinya. Kenapa, aku memiliki perasaan ini? Rasa senang, nyaman saat bersamanya. Ciuman pertamanya adalah diriku!" seru Wiliem serah tersenyum tipis


Wajah tampan Wiliem semakin mempesona saat dia tersenyum seperti itu. Di usianya yang sudah 30 tahun tak melihatnya jika dia sudah tua. Akan tetapi semakin membuat dirinya smekain cool saja.


Tak berbeda jauh dengan Wili. Di dalam kamar itu terlihat sosok wanita muda yang sedang tersenyum dengan binar-binar di matanya.


Senyuman manis dari bibir tipisnya membuat wajahnya semakin cantik. Mengingat akan perhatian sosok lelaki yang dahulu membuat dirinya kesal. Bahkan dirinya sampai berani mengumpat pada lelaki tersebut, karena telah mencuri cuma pertamanya.


"Aahhh, sadarlah Anya. Kau itu siapa, dia itu siapa. Dan harus kau ingat, dia lelaki mapan dmega usia yang matang. Mana mungkin, dia mau dengan dirimu yang gadis biasa dengan usia yang masih muda," gumam Vanya.


Perasaan itu seperti angin yang berhembus ke segala arah tanpa tahu dia akan berhenti di tempat yang tinggi atau pun rendah. Kadang datang dan pergi sesuka hati. Seperti itu lah yang sekarang Vanya dan Wiliem rasakan.


Takdir cinta tak akan pernah salah, karena semuanya sudah tercatat akan bagaimana permualan itu terjadi dan akhir yang akan seperti apa, hanya Sang Kuasa lah yang tahu.


Malam itu terlihat banyak bintang yang terlihat, tapi berbeda saat Wiliem dan Vanya yang melihatnya. Karena disana hanya terlihat wajah keduanya.


"Astaga, kenapa wajah gadis itu terlihat jelas di atas langit?" seru Wiliem seraya mengucek matanya.


"Apa itu? Kenapa wajah Om itu terlihat tersenyum padaku? Astaga, Anya kau sudah gila!" seru Vanya seraya menepuk- nepuk pipi nya.

__ADS_1


Akan seperti apa kelanjutan kisah mereka, hubungan apa yang akan mereka jalani? Dneng usia mereka yang berbeda 10 tahun itu?


__ADS_2