
Rafli dan Ana kini pulang ke mansionnya , Ana begitu rindu dengan anak-anaknya yang ia tinggalkan semalaman demi suaminya tersebut. Rafli hanya istirahat sejenak dan langsung kembali ke kantor untuk menyelesaikan beberapa pekerjaannya yang cukup menggunung . Bianca dan seluruh pegawai yang lain di buat Rafli kelimpungan mengerjakan tugas yang harus kejar target . Bahkan Frans harus kembali pulang karena Rafli menutup pintu ruang kerjanya , demi bisa menyusul Ana dan anak mereka liburan Rafli membuat semua terkena imbasnya , apalagi Bianca jangan ditanyakan nasibnya.
Sedangkan dirumah kabar gembira di sambut oleh Laras dan Rahma karena mereka akan berpergian tanpa Rafli yang tumben mau berpisah dari sang istri , Gunawan sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah tiga wanita yang begitu ia sayangi.
'' Ayo mbak kita urus liburan keponakanku '' ucap Rahma yang paling bersemangat .
'' Ayo sama ibu saja , biarkan mbak mu istirahat '' sela Laras.
'' Oh ya .. mbak Ana habis kerja rodi semalam '' ucap Rahma tergelak dan segera berlari sebelum terkena pukulan Ana.
Ana berbicara dengan bi Jum untuk membantunya mengemas pakaian anak-anak nya , Bi Jum yang sudah terbiasa dengan keluarga ini pun memilih untuk ikut mereka jalan-jalan ke Milan .
'' Jova . Beritahu yang lainnya untuk bersiap . Lusa kita akan ke Milan '' ucap Ana .
'' Baik nona '' ucap Jova , ia dan lainnya telah bersiap kemarin malam karena Rafli telah memberitahukan mereka tentang keberangkatan Ana dan mereka harus ikut terbang ke Milan...
.
.
.
'' Mas , apa tak sebaiknya kita memberitahu Bunga tentang Geilo . Aku ingin masalah ini cepat selesai mas dan tertangkap siapa dalangnya '' ucap Ana dan di sisi Rafli berdiri Devan yang baru saja mengurus pekerjaan dengan suaminya .
'' Besok kita akan kesana dan malam ini orang mas akan membawa Geilo kemari '' ucap Rafli , ia tak akan mengulur waktu lagi .
'' Oh ya Dev , apa boleh kami mengajak Alex untuk ikut ke Milan '' tanya Ana dan di angguki Devan.
'' Kau memang ayah yang pengertian '' puji Ana membuat rahang Rafli mengeras.
'' Jadi maksud mu , pria yang duduk di hadapan mu ini bukan ayah yang pengertian '' ucap Rafii menatap Ana tajam.
'' Kau paling pengertian dari ayah yang ada di muka bumi ini '' ucap Ana tersenyum lebar.
" Ayah yang paling menyeramkan , iya " batin Ana.
" Mas , aku keluar dan kalian silahkan lanjutkan obrolan kalian " ucap Ana.
" Sayang , bersiaplah dua jam dari sekarang " ucap Rafli tersenyum penuh arti dan Ana sungguh dapat mengartikan senyuman itu .
" Jelita merengek ingin tidur denganku mas . Mas bisa tidur dengan bi Jum saja kalau mau " ucap Ana membuat Rafli memberengut kesal , sementara Devan hanya berwajah datar , semenjak kematian Alexa Devan menjadi pribadi yang begitu dingin . Sosok cantik Zizi pun tak mampu mengambil hatinya , Zizi juga belum ingin menggeser posisi Baco dengan siapapun.
" Bersiaplah kita akan ke Milan tiga hari lagi Devan " ucap Rafli di akhir obrolannya .
" Baik tuan " ucap Devan ...
.
.
.
Rafli menghadirkan seorang pelukis wajah yang tak di ragukan keahliannya . Bunga pun menyebutkan ciri-ciri orang yang selalu mengancamnya , setelah cukup lama memakan waktu Rafli sekilas melihat seseorang dalam lukisan tersebut .
'' Kau yakin ini orangnya Bunga " tanya Rafli memastikan .
'' Ia , sungguh itu memang wajah orang nya " jawab Bunga takut , wajah intimidasi Rafli membuat nyalinya menciut
'' Mas mengenalnya " tanya Ana .
'' Ya. Mas akan menghubungi orang suruhan mas dulu " ucap Rafli dan diangguki Ana.
Rafli terlibat obrolan serius melalui benda pipihnya dan ia menginginkan laporan secepatnya kurang dari satu jam untuk orang yang ia curigai.
Tiga puluh menit kemudian semua info yang Rafli inginkan sudah masuk kedalam email nya .
'' Apa sama " tanya Rafli pada pelukis wajah .
__ADS_1
'' Jelas sama tuan , hanya berbeda kaca mata saja dan tahi lalatnya " jawab sang pelukis membuat Rafli menggeram .
'' Bunga . Apa ini orangnya " tanya Rafli dan membuat tatapan Bunga menajam saat melihat gambar yang Rafli tunjukkan padanya .
'' Iya dia orangnya " lirih Bunga .
'' Mana mas , aku mau lihat " ucap Ana dan ia berfikir sejenak .
'' Mas , wajah ini begitu mirip dengan Viona. Berarti dia ada disini mas " ucap Ana.
'' Kita harus tenang Ana , kita akan segera menangkapnya " geram Rafli tangannya terkepal penuh amarah . Ia yakin Viona tak melakukan ini sendiri , Viona begitu licin bagaikan belut. Wanita yang pernah mengemis cinta padanya ternyata dalang penghambat kebahagiaan rumah tangganya .
'' Kak tolong balaskan kematian Willy " Isak Bunga .
'' Aku akan memberikan pelajaran yang cukup mengerikan untuknya , terutama untuk anak-anakku " gumam Rafli .
'' Lalu bagaimana dengan Geilo " tanya Bunga yang begitu rindu dengan anaknya .
'' Setelah ini selesai , kau dan Geilo bisa hidup bebas disana . Keluarga Willy telah menerimamu " ucap Rafli dan segera pergi dari ruang rawat Bunga sementara Ana masih berbincang dengan Bunga .
.
.
.
Kini hari keberangkatan menuju Milan di mulai , begitu banyak drama yang Rafli lakukan saat harus melepaskan kepergian orang terpentingnya terutama kepergian istrinya . Namun karena para anaknya begitu menggebu untuk liburan membuat Rafli terpaksa membiarkan mereka , dengan menumpangi jet pribadi milik keluarga Wijaya yang mampu menampung cukup banyak orang. Rafli mulai jalani harinya tanpa sosok Ana disisinya , sepi dan hampa itu sudah berada dalam pikiran Rafli .
'' Aku disini pasti merindukan kalian '' gumam Rafli yang merasa hidupnya hampa untuk beberapa hari . . .
Wajah kecut Rafli menjadi pemandangan pertama di lihat pegawai kantornya pagi ini , semuanya langsung bubar saat bergosip meski jam kerja atau masuk kantor belum di mulai . Bianca pun cukup gugup saat melihat sang bos sudah lebih dulu memasuki kantor .
'' Aduh , baru telat sekali. Semoga gak apes " rutuk Bianca .
Telepon di meja kerja Bianca berbunyi saat wanita itu baru saja hendak mendudukan bokongnya .
" Gila " umpat salah satu kepala di visi , karena ia masih mengerjakan tugas di bagian di visinya yang memang begitu sibuk dari pada divisi lain.
Para pegawai yang ikut meeting merasa jika neraka kini berpindah tempat di ruangan yang mereka gunakan untuk meeting saat ini . Persentasi di buat semaksimal mungkin dalam setiap divisi agar sang bos yang hatinya memburuk ini mau menerima hasil kerja mereka . Berapa kertas mulai berhamburan karena tak sesuai dengan keinginan Rafli .
" Jika kalian lelet dan bodoh dalam bekerja , keluar dari perusahaan ini " ucap Rafli tegas membuat kepala divisi yang hasilnya tak memuaskan membuat wajah mereka memucat , sudah lembur namun hasil harus semaksimal mungkin sesuai yang di inginkan Rafli .
" Perbaiki , setelah makan siang kita lanjut meeting " ucap Rafli sejenak membuat mereka bernafas lega...
" Bianca , kau harus lembur . Saya ingin meeting satu Minggu kedepan di mulai hari ini dan besok . Jika tak terlaksana saya tak segan memecatmu " tegas Rafli dan hal itu cukup membuat mereka tercengang kaget .
.
.
.
Ana dan anak-anaknya telah tiba di mansion Jimmy yang berada di Milan , setelah satu jam berada di dalam jet pribadi , mereka harus melanjutkan perjalanan darat dengan menggunakan mobil yang telah dipersiapkan dari subuh tadi. Jimmy tak ingin kecolongan kali ini . Ia yakin jika Zumi alias Viona punya dukungan orang tertentu , dan diyakini oleh Jimmy kemungkinan besar karena dendam karena rival bisnis Rafli masih dalam pengawasan orang terhebatnya tak menunjukkan pemberontakan.
Sementara Viona telah tiba di Roma dari kemarin malam setelah mengetahui jika Ana pergi tanpa Rafli disisinya , tujuannya bukan Milan lebih dahulu karena ia bertemu dengan sekelompok orang yang begitu membenci Devan. Jero seorang adik yang akan membalas kan dendam atas kematian Jerry . Eric sendiri sudah keluar dari organisasi mafia tersebut dan menyerahkan seluruhnya kepada Jero. Konflik yang terjadi antara Eric dan Jero cukup rumit , karena Eric menolak untuk membalas kematian Jerry kepada Devan karena hal itu akan membuat Rafli mengeluarkan semua koneksi yang ia punya dan dapat menghancurkan keluarga Permana hingga ke akarnya dalam waktu tak sampai satu hari .
'' Apa semua sudah disiapkan " tanya Viona memastikan .
'' Kau tenanglah Tante , kau jalankan saja rencanamu " kesal Jero karena Viona terus mendiktenya , seolah wanita itu lebih berkuasa dari pada dirinya .
'' Kurang ajar , jika aku tak membutuhkan mu maka sudah ku robek mulutmu , dasar bocah " batin Viona geram . Pergerakannya kini begitu susah karena dirinya tengah menjadi buronan saat ini , baik foto lama atau barunya tersebar dimana-mana , dengan imbalan yang cukup besar banyak warga yang mulai memburunya bahkan perusahan milik Viona yang diambil suaminya kini berada di bawah kendali RA group secara tiba-tiba.
" Ingat target mu adalah Devan , fokuskan padanya dan target ku adalah wanita sialan itu " decak Viona memilih merilekskan pikiran yang terasa ingin pecah . Jika gagal di pastikan ia akan terbunuh namun ia tak ingin sendiri , ia akan membawa Ana untuk tinggal di neraka bersamanya dan melanjutkan balas dendamnya disana.
Makan malam tersaji di meja makan dengan hidangan khas Indonesia , Jimmy yang kangen makanan Indonesia terlihat begitu lahap . Rasanya begitu terobati saat ibu mertuanya serta kakak iparnya berkunjung ke mansionnya , soalnya Rahma sendiri tak begitu pintar memasak makanan khas Indonesia yang kaya akan rempah tersebut .
'' Wah masakan nenek begitu hebat , mama payah gak bisa masak " ucap anak pertama Jimmy dan Rahma membuat Rahma tersedak kleo jengkol yang di buat Laras.
__ADS_1
'' Anak ini , selalu memusuhiku " batin Rahma , sempat ia berfikir bodoh jika anaknya tertukar bahkan Rahma sempat melakukan test DNA hingga bertengkar dengan Jimmy kala itu .
" Nanti mama belajar " ucap Rahma cemberut .
" Alasan.... a.... " ucap Joshua terhenti saat Jimmy menatapnya tajam .
.....
Rafli tak bisa lagi membendung rasa rindunya terhadap istri dan anak-anaknya , di tinggal dua hari berasa dua puluh tahun baginya membuat Rafli memutuskan untuk menyusul mereka ke Milan setelah Bianca menyanggupi pekerjaan kantor dan sesekali mama Lia membantu mengurus kantor dan tak ketinggalan anak bungsu paman Joe ikut membantu .
Rafli tak membawa apapun hanya berkas penting dan isi dompet yang nanti di permukaannya . Sebuah flashdisk terjatuh membuat nya segera mengambil flashdisk penting tersebut . Tatapan mata Rafli tak sengaja melihat selembar amplop yang berlogo rumah sakit milik keluarganya .
'' Ada apa dengan mama mertua ku " gumam Rafli namun matanya terbelalak kaget saat melihat tulisan dan angka disana membuat Rafli segera mengambil benda pipihnya untuk memperjelas apa maksud dari semua ini .
Rafli menerka-nerka siapa yang dimaksud Bu Laras . Apa yang disembunyikan Ana , siapa yang ia tes DNA . Rafli yang sungguh penasaran segera memerintahkan anak buahnya untuk mempersiapkan pesawat pribadi miliknya malam ini juga untuk menuju Milan .
Tok....tok...
ceklek
'' Bersiaplah malam ini , kita akan ke Milan " ucap Rafli lalu menutup pintu , Devan dengan wajah datarnya mendengus kesal karena ada hal yang ingin ia bicarakan saat pintu yang di ketuknya terbuka membuatnya berniat berbicara namun Rafli segera menyelanya , saat Rafli telah selesai malah pintunya segera di tutup dengan empunya.
Devan sendiri sedang mempersiapkan pasukannya dengan begitu matang dan teliti , jangan sampai ada anak buah satu pun yang akan tewas , ia tak akan terima , Devan meyakini akan ada yang menyambut kedatangannya saat berada di Italia nanti .
'' Aku hanya punya musuh cukup tangguh satu , bukan orangnya namun anggota nya " gumam Devan , ia akan menyelesaikan secepatnya. Terbunuh atau di bunuh itulah salah satu prinsip hidupnya .
.
.
.
Rafli , Devan serta beberapa orang terbaiknya telah tiba di Milan pukul empat subuh , ada beberapa hal dan kendala membuatnya baru bisa tiba . Rafli dan yang lainnya memilih untuk tinggal di vila sederhana miliknya namun dengan luas cukup besar dan beberapa kamar yang banyak agar mampu menampung seluruh orang yang ikut bersamanya , Rafli ingin istirahat sejenak agar esok pagi badannya segar bisa melepas rindu dengan anak dan istrinya. Ranjang empuk pun membuat mata
Rafli terpejam dengan nyenyak.
Pagi hari setelah sarapan bersama Rafli segera bergegas ke mansion Jimmy hanya ditemani oleh Devan seorang , penjagaan di mansion Jimmy tak seketat mansion milik Wijaya apalagi mansion Rafli yang begitu super ketat .
'' Devan stop " ucap Rafli yang dari jauh tanpa sengaja melihat sang istri , ibu mertuanya serta Rahma pergi keluar dengan di temani Jova yang memegang ahli kemudi serta di sisi lainnya ada para bodyguard pria yang ikut memasuki mobil lain . Rafli telah berada di wilayah mansion Jimmy yang sepanjang jalan berjarak satu kilometer tak bisa di lalui pengendara lainnya .
'' Kita ikuti mereka " ucap Rafli . Rasa penasarannya kini begitu menggebu bersamaan dengan rasa rindunya .
Didalam mobil Rahma menggerutu kesal karena sang kakak perempuannya begitu lama untuk pergi sedari tadi .
'' Aku ingin memberikan ini pada Ericana " ucap Ana dengan wajah tersenyum.
'' Ada apa sich Bu ... " tanya Rahma namun sang ibu hanya tersenyum tanpa menjawab membuat Rahma makin menggerutu kesal .
'' Kau akan tau nanti disana dan siapkan jantung mu " ucap Ana membuat Rahma semakin pusing .
" Mbak dan ibu harus melindungi ku jika Jimmy mengamuk padaku " ucap Rahma karena ia terpaksa berbohong dan berkata jika hanya ingin pergi jalan-jalan , namun saat ini pun Jimmy tau kemana arah perjalanan mereka .
" Kau tenang saja " ucap Ana dan Rahma hanya mencebikkan bibirnya.
" Kau tak salah alamat kan Rahma " tanya Bu Laras memastikan .
" Gak salah Bu , ibu tenang saja mbak Ana bisa kok CLBK dengan mas Eric " ucap Rahma ketus , perkataan Rahma membuat Jova susah untuk menelan saliva nya sendiri .
Sedangkan di mobil lain tangan Rafli terkepal erat saat tau mobil yang sedang mereka buntuti menuju arah Roma .
" Devan , apa mereka akan ke Roma saat ini " tanya Rafli memastikan bahwa pikirannya salah .
" Ini jelas arah ke Roma tuan " ujar Devan , sudah 300km lebih mereka menempuh perjalanan.
Jangan lupa like dan komentarnya .
Selamat membaca 😊
__ADS_1